Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Menara Takdir Tercemar
Kabut hitam perlahan mulai menyelimuti seluruh langit Kota Para Pewaris, menciptakan suasana yang sangat mencekam dan juga menakutkan.
Namun, untuk pertama kalinya seberkas cahaya keemasan menembus awan merah yang tebal, membawa harapan baru bagi kota yang mati.
Cahaya itu sangat tipis, tetapi sudah cukup untuk membuat seluruh bangunan di kota bergetar pelan seolah sedang terbangun kembali.
Di balik jendela-jendela tua, beberapa penghuni mulai mengangkat wajah pucat mereka untuk melihat secercah harapan yang baru muncul.
Lin Yuan memperhatikan setiap perubahan itu dengan saksama, menyadari bahwa tindakannya telah memberikan dampak besar bagi seluruh penduduk kota.
Putusnya benang hitam bukan hanya membebaskan gadis kecil, melainkan juga memicu reaksi berantai yang luar biasa di seluruh penjuru.
Di hadapannya, boneka kain perlahan kehilangan warna hitam pekatnya, berubah menjadi abu-abu kusam yang terlihat sangat rapuh dan lemah.
Tatapan merahnya yang semula penuh kegilaan kini mulai memudar, menyisakan sisa-sisa kesedihan yang mendalam dari masa lalu yang sangat panjang.
Boneka itu memandang gadis kecil di pelukannya cukup lama, seolah dia ingin merekam wajah itu untuk yang terakhir kalinya.
"Aku... akhirnya bisa beristirahat dengan tenang sekarang," bisiknya dengan nada suara yang sangat lirih dan juga penuh rasa lega.
Senyum kecil yang tulus muncul di wajah pucat milik gadis kecil tersebut saat menatap boneka kesayangannya yang mulai menghilang.
"Terima kasih banyak... karena kau sudah setia menemaniku selama ribuan tahun ini," ucapnya dengan nada suara yang sangat lembut.
Boneka kain itu mengangguk pelan, lalu seluruh tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran cahaya putih yang sangat indah dan menawan.
Tidak ada jeritan ataupun rasa kebencian yang tersisa, yang ada hanyalah ketenangan abadi yang akhirnya berhasil dicapai oleh sang penjaga.
Gadis kecil itu menoleh kepada Lin Yuan dengan mata yang kini kembali terlihat sangat bening seperti langit musim semi.
"Kakak... terima kasih banyak atas bantuanmu," ucapnya tulus sambil mengangkat kedua tangan kecilnya yang terlihat sangat rapuh dan halus.
Di telapak mungilnya muncul sebuah lonceng perak kecil dengan ukiran simbol kuno yang sangat rumit dan penuh misteri.
Lonceng itu tidak mengeluarkan suara meskipun tertiup angin kencang, seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk benar-benar berbunyi.
Gadis kecil itu menyodorkan lonceng perak tersebut kepada Lin Yuan dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kepercayaan tinggi.
"Ini adalah milik Ayahku dahulu kala sebelum bencana besar itu datang menghancurkan seluruh kebahagiaan yang kami miliki di kota."
"Dulu beliau berkata, jika ada orang yang mau mendengar tangisan kota ini, maka berikanlah lonceng ini kepadanya sebagai penunjuk jalan."
Lin Yuan menerima lonceng itu dengan kedua tangannya, merasakan logam dingin yang mendadak membuat Pecahan Kenangan Jiwa miliknya bergetar hebat.
Suara sistem segera bergema di dalam kepalanya, memberikan laporan mengenai identitas dari artefak kuno yang baru saja dia terima.
[Artefak terdeteksi: Lonceng Kenangan! Fungsi utama: Beresonansi dengan Kenangan Jiwa yang belum sepenuhnya tercemar oleh kekuatan kegelapan jahat!]
[Status: Aktif! Artefak ini kini dapat digunakan sepenuhnya oleh Tuan sebagai penunjuk jalan di dalam Kota Para Pewaris!]
Tatapan Lin Yuan sedikit berubah saat menyadari bahwa artefak ini bukan sekadar hiasan, melainkan kunci penting untuk menyelamatkan jiwa-jiwa lain.
Tiba-tiba, lonceng kecil tersebut berbunyi pelan dengan sendirinya, mengeluarkan dentingan lembut yang gemanya menyebar ke seluruh penjuru jalanan kota.
Di kejauhan, beberapa titik cahaya putih mulai bermunculan di antara bangunan tua, seperti bintang kecil yang bersembunyi di kegelapan.
Lin Yuan mengikuti arah cahaya itu dan melihat banyak penghuni kota yang masih terbelenggu oleh benang hitam yang sangat kuat.
Meskipun tubuh mereka masih dililit kegelapan, di dada masing-masing masih tersisa setitik cahaya putih yang belum padam sepenuhnya.
"Itukah yang disebut sebagai Kenangan Jiwa?" gumam Lin Yuan sambil terus berjalan melewati lorong-lorong kota yang sunyi dan mencekam.
Suara lembut gadis kecil terdengar untuk terakhir kalinya di telinganya. "Selama cahaya itu belum padam, mereka semua masih bisa diselamatkan."
Tubuh gadis kecil itu pun mulai berubah menjadi butiran cahaya putih yang berterbangan memenuhi udara di sekitar Lin Yuan.
Sebelum benar-benar menghilang, dia perlahan mengangkat tangannya menunjuk lurus ke arah menara hitam yang menjulang tinggi di pusat kota.
"Semua penderitaan ini... berasal dari sana," ucapnya dengan nada suara yang dipenuhi oleh rasa ketakutan yang sangat besar.
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, tubuh gadis kecil tersebut sepenuhnya berubah menjadi cahaya dan menghilang bersama embusan angin yang lembut.
Lin Yuan berdiri memandang menara tinggi yang puncaknya tersembunyi di balik kabut hitam pekat yang sangat menekan jiwa siapa pun.
Semakin lama dia memperhatikannya, semakin kuat pula tekanan aura yang memancar dari menara tersebut, membuat dadanya terasa sangat sesak.
Api putih di dalam Lentera Jiwa kembali bergoyang hebat, sementara setitik warna hitam di ujung nyalanya mulai membesar dengan cepat.
Suara sistem kembali muncul memberikan pembaruan mengenai misi utama yang harus segera diselesaikan oleh Lin Yuan di tempat yang berbahaya.
[Misi utama diperbarui: Temukan sumber utama Takdir Tercemar di Menara Takdir Tercemar! Harap selalu waspada terhadap segala ancaman!]
[Peringatan! Semakin dekat menuju menara, maka semakin besar pula kemungkinan bagi Tuan untuk kehilangan kesadaran diri sendiri!]
Lin Yuan menarik napas panjang untuk menguatkan tekadnya, lalu tanpa ragu sedikit pun dia melangkah menuju jalan utama menara.
Di saat yang sama, jauh di puncak menara, sepasang mata merah perlahan terbuka menembus kabut hitam dan menatap lurus ke arahnya.
Jalan menuju menara terasa sangat sunyi tanpa adanya suara apa pun selain suara langkah kaki Lin Yuan yang menggema di jalan.
Namun, setiap beberapa langkah sekali, lonceng di pinggangnya berbunyi pelan, memicu kemunculan titik-titik cahaya putih di antara reruntuhan bangunan tua.
Lin Yuan menyadari bahwa lonceng itu sedang merespons jiwa-jiwa yang masih berjuang melawan kegelapan di dalam hati mereka masing-masing.
Semakin jauh dia melangkah, semakin banyak pula sosok penghuni kota yang muncul di sepanjang jalan dengan tatapan mata yang kosong.
Seorang ibu, pandai besi tua, hingga anak kecil terlihat diam membisu dengan setitik cahaya putih yang berkedip lemah di dada.
Lin Yuan mengepalkan tangannya dengan penuh tekad. "Aku akan kembali dan membebaskan kalian semua dari belenggu yang sangat menyiksa ini," janjinya.
Begitu janji itu terucap, beberapa penghuni kota perlahan mulai mengangkat kepala mereka seolah mereka benar-benar mendengar suara tulus dari Lin Yuan.
Lonceng Kenangan kembali berdering nyaring, dan suara sistem muncul memberikan laporan mengenai adanya peningkatan sinkronisasi jiwa yang sangat penting baginya.
[Terdeteksi Resonansi Harapan! Sinkronisasi dengan Pecahan Kenangan Jiwa meningkat menjadi 37%! Kekuatan Tuan kini sedang mengalami penguatan secara bertahap!]
Lin Yuan sedikit terkejut menyadari bahwa harapan dari jiwa-jiwa yang menderita ternyata mampu memperkuat hubungannya dengan Pecahan Kenangan Jiwa miliknya.
Namun sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, tanah di depannya tiba-tiba bergetar hebat akibat munculnya sebuah jembatan batu dari balik kabut.
Jembatan itu menghubungkan kota dengan menara hitam, sementara di bawahnya hanya terlihat lautan kabut hitam tanpa dasar yang sangat mengerikan.
Lin Yuan melangkah menuju jembatan tersebut, namun baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara berat terdengar menggelegar dari arah seberang jembatan.
"Segeralah kembali ke tempat asalmu!" teriak suara itu. Kabut hitam di ujung jembatan perlahan terbelah menyingkapkan sosok pria berjubah hitam.
Pria itu memegang tombak panjang yang dipenuhi retakan hitam, sementara seluruh tubuhnya dililit oleh benang-benang hitam yang sangat banyak.
Tatapannya terlihat kosong namun masih menyimpan sisa ketegasan seorang pendekar hebat yang pernah berjaya di masa lalu yang sudah lama.
Suara sistem segera berbunyi memberikan identitas dari sosok yang baru saja muncul menghalangi jalan Lin Yuan menuju ke arah menara.
[Target teridentifikasi: Penjaga Menara Pertama! Status: Mantan Pewaris Kota Para Pewaris yang kini telah tercemar oleh Takdir Tercemar sebesar 82%!]
[Peringatan! Kesadaran asli dari target masih bertahan di dalam tubuhnya, harap berhati-hati dalam menghadapi serangan dari target tersebut!]
Tatapan Lin Yuan berubah menjadi sangat serius saat menyadari bahwa dia kembali berhadapan dengan korban lain dari kekuatan kegelapan tersebut.
Penjaga Menara Pertama menancapkan tombaknya ke jembatan hingga bergetar hebat. "Aku telah menjaga tempat terkutuk ini selama waktu yang sangat lama."
"Jika kau ingin melangkah lebih jauh, buktikan-lah bahwa keyakinanmu jauh lebih kuat daripada rasa keputusasaan yang menyelimuti seluruh kota ini sekarang."
Begitu kalimat itu selesai, kabut hitam meledak dari tubuhnya dan ribuan bayangan tombak mulai bermunculan di belakang sosok sang penjaga menara.
Lonceng Kenangan berdering semakin cepat dan nyaring, sementara Lin Yuan tetap tenang mengamati setiap gerakan yang dilakukan oleh lawannya tersebut.
Naluri Tempur mulai bekerja menganalisis serangan lawan, dan Lin Yuan menyadari bahwa setiap bayangan tombak itu sebenarnya mengincar kesadaran jiwanya sendiri.
Pria berjubah hitam itu mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. "Lulusi-lah ujian berat ini, atau kau akan berakhir menjadi bagian dari keputusasaan abadi kami."
Detik berikutnya, ribuan bayangan tombak melesat serempak ke arah Lin Yuan dengan kecepatan yang sangat luar biasa dan juga sangat mematikan.
Pada saat yang sama, Lonceng Kenangan di pinggangnya berbunyi sangat nyaring, dan muncul bayangan pria muda berjubah putih di belakang penjaga.
Bayangan itu tersenyum tipis ke arah Lin Yuan sambil menggelengkan kepalanya perlahan seolah dia sedang memberikan sebuah isyarat yang sangat penting.
"Jangan pernah mencoba untuk melawan tombaknya, tetapi cobalah untuk menyelamatkan orang yang berada di balik tombak tersebut," bisik suara misterius.
...........
Bersambung...