NovelToon NovelToon
Janji Om Jangan Ngomong

Janji Om Jangan Ngomong

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Ryri

Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.

Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rina Cuma Teman, Tidak Lebih

"Tidak usah kau cemaskan aku," ucap Adrian dengan nada lirih yang nyaris tenggelam oleh deru angin lorong apartemen. Matanya menatap Darma sejenak sebelum beralih memandang Rina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku hanya teman Rina, tidak lebih."

Setelah mengucapkan kata-kata yang begitu dingin dan asing itu, Adrian memutar badannya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Punggungnya menjauh menyusuri lorong yang sepi, meninggalkan jejak kekosongan di hati Rina.

Rina menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di satu sisi, ada desah lega yang berhembus di dadanya. Adrian tidak membongkar rahasia mereka. Pria itu tidak mengatakan pada Darma bahwa mereka pernah memiliki hubungan yang begitu intim di masa lalu. Namun, di sisi lain, kepedihan yang menyengat mendadak merayapi relung hatinya. Rina merasa sangat kesal dan teriris karena Adrian kini secara terang-terangan hanya menganggapnya sebagai seorang teman biasa, tidak pernah lebih dari itu.

Darma yang berdiri di samping Rina memperhatikan perubahan raut wajah wanita itu. Ia memegang lengan Rina pelan, mencoba memecah keheningan yang canggung di antara mereka.

"Kamu enggak apa-apa, Rin?" tanya Darma lembut.

Rina buru-buru mengatur napasnya dan memaksakan sebuah ukiran senyum tipis di bibirnya. "Enggak apa-apa, aku baik kok."

"Tapi kok tadi dia pakai narik-narik tanganmu segala?" tanya Darma lagi, keningnya berkerut.

Rina mengibaskan tangannya pelan, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal demi menutupi kepanikannya. "Biasa... dia mau pinjam uang, tapi aku enggak kasih."

Darma mengangguk-angguk paham, merasa lega mendengar penjelasan tersebut. "Jangan, ah. Jangan dikasih kalau caranya memaksa begitu. Ya sudah, kalau kamu memang enggak apa-apa, aku pulang sekarang ya?"

"Oke, bye," jawab Rina singkat, menyunggingkan senyum formal.

Tanpa menunggu Darma berjalan jauh, Rina melangkah cepat menuju depan pintu lift. Pintu denting besi itu terbuka, dan Rina melangkah masuk ke dalamnya.

Setelah Adrian dan Darma pergi meninggalkan tempat itu, tinggallah Rina yang tertegun sendirian di dalam kubikel lift yang tertutup rapat.

Bayangan dirinya terpantul di dinding cermin yang dingin. Entah ia harus merasa senang atau sedih atas pertemuannya yang tak terduga dengan Om Adrian, pria yang telah menyita pikirannya dan menumpuk rindu berbulan-bulan lamanya.

Namun, di tengah kecamuk emosi itu, ada satu fakta pahit yang baru saja disadarinya. Paling tidak, kini Rina sudah tahu dengan pasti bahwa Adrian tidak lagi sekaya dulu.

Denting!

Pintu lift terbuka di lantainya. Rina melangkah keluar dengan helaan napas berat. Ia berjalan menuju pintu unit apartemennya, menekan beberapa digit kode keamanan, lalu mendorong pintunya pelan.

Di dalam ruangan, Rina mengukir senyum palsu di wajahnya yang lelah. Ia menyapa Tina, ibunya, yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu.

"Bu... belum tidur?" tanya Rina dengan suara yang diusahakan seceria mungkin.

Tina menoleh dari layar ponselnya, menyunggingkan senyum hangat melihat kepulangan putrinya. "Belum, Rin. Ibu masih main HP. Kamu sudah pulang? Gimana kencanmu sama Mas Darma?"

"Baik, Bu," jawab Rina singkat seraya melepas sepatu dan meletakkannya di rak.

Tina mematikan layar ponselnya, lalu menopang dagu seraya mengingat-ingat sesuatu. "Eh, Rin... tadi ada bapak-bapak ketok pintu unit kita. Tapi pas Ibu buka pintu, dia enggak ngomong apa-apa. Tau-tau cuma bilang salah kamar terus langsung pergi."

Langkah Rina seketika terhenti di tengah ruangan. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak. "Oh... ada tamu, Bu?"

"Bukan tamu," sahut Tina menggelengkan kepala. "Dia bilang cuma nyari temannya, habis itu langsung jalan pergi gitu aja."

Rina memegang dadanya yang mendadak berdebar tidak karuan, berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan ibunya. "Oh... mungkin emang orang salah kamar aja, Bu. Nggak usah dipikirin."

"Iya kali, ya?" pangkas Tina seraya tertawa kecil. "Ya sudah sih kalau memang salah kamar, hehehehe. Ibu tadi cuma takut kalau ternyata itu temannya kamu."

Rina mengangguk perlahan, berpura-pura sibuk merapikan tasnya agar sang ibu tidak melihat raut wajahnya yang mendadak pucat pasi.

Ia membalikkan badan membelakangi ibunya, lalu menarik napas panjang. Bayangan sosok Adrian yang tadi berdiri di lorong kembali membayang jelas di ingatan Rina.

"Oh... jadi tadi dia dari sini..." bisik Rina sangat lirih di dalam hatinya, begitu pelan hingga tak terdengar sedikit pun oleh Tina.

1
Raudhatul Zannah
Rina Jangan sampai ketahuan ya kamu..
Cilia
Waduh, gimana tuh kalau ketauan si Rina??
mbak Shaka
mati aja
mbak Shaka
awal ceritanya bikin kasihan sama prof Eliza tp ternyata justru prof Eliza menunjukkan taringnya dia tidak lemah
Raudhatul Zannah
waduh jebakan..
Cilia
Sugar daddy ternyata si adrian wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!