NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retaknya Dinding Yang Angkuh

Malamnya, hujan lebat mengguyur kota, menghantam kaca jendela ruang ICU dengan bising. Petir sesekali menyambar, menghasilkan kilatan cahaya yang menerangi wajah kaku Adrian. Malam ini, suhu ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.

Adrian bangkit dari kursinya. Ia mengambil selimut wol tambahan yang disediakan perawat, lalu membentangkannya di atas tubuh Kirana, menutupinya hingga sebatas dada. Saat merapikan ujung selimut di dekat leher Kirana, Adrian berhenti. Ia menatap bibir tipis Kirana yang biasanya selalu melengkung penuh kemenangan menantang egonya.

Perlahan, seolah dituntun oleh rasa rindu yang sudah tidak terbendung, Adrian menundukkan tubuhnya. Ia mengecup kening Kirana dengan lembut dan lama, untuk pertama kalinya membiarkan bibir itu merasakan dinginnya kulit gadis ini.

"Kau memenangkan taruhan kita di kamar lantai tiga, Kirana," bisik Adrian di dekat telinga Kirana, napas hangatnya menerpa kulit wajah gadis itu. "Aku mengakuinya. Aku merindukanmu. Aku merindukan caramu memanggilku 'Tuan Muda yang menggemaskan'. Maka dari itu, bangunlah dan ejek aku sesukamu."

---

Waktu terus merayap dengan kejam. Minggu ketiga berganti, dan mesin ventilator masih setia memompa oksigen ke dalam paru-paru Kirana. Tubuh gadis itu mulai tampak sedikit lebih kurus, dan warna kulitnya semakin memucat, membuat Adrian hampir frustrasi berat.

Pada suatu sore di hari ke-23, Adrian mengalami puncak emosinya. Dokter kepala baru saja keluar setelah melakukan pemindaian otak gelombang terbaru dan menyatakan bahwa aktivitas neurologis Kirana masih sangat minim.

Brakk!

Adrian menghantamkan tinjunya ke dinding koridor rumah sakit hingga semen putih itu retak dan buku jarinya mengeluarkan darah segar. Pengawal yang berjaga di sepanjang koridor langsung menundukkan kepala, tidak ada yang berani menatap mata Adrian yang memerah karena amarah dan keputusasaan yang hebat.

"Sialan!" umpat Adrian, napasnya memburu.

Ia kembali masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat, menghampiri ranjang Kirana. Ia meraih kedua tangan Kirana, menggenggamnya erat-erat, hampir berlutut di tepi ranjang.

"Kau bilang kau pelayan yang patuh, Kirana! Tapi mengapa kau mengabaikan perintahku?!" suara Adrian meninggi, bergetar hebat menahan badai emosi di dadanya. "Aku memerintahkanmu untuk bangun! Buka matamu, Kirana! Jangan berani-berani meninggalkanku sendirian di dunia yang penuh kepalsuan ini!"

Darah dari buku jari Adrian menetes, menodai seprai putih rumah sakit tepat di samping tangan Kirana. Adrian menempelkan wajahnya di atas kasur, bahunya yang kokoh tampak berguncang hebat.

Untuk pertama kalinya, sang penguasa dunia bawah menumpahkan air matanya dalam diam, tenggelam dalam rasa sedih yang teramat dalam yang telah menghancurkan seluruh dinding keangkuhannya. Hati yang dulunya sekeras batu hitam kini telah terbuka sepenuhnya, hancur berkeping-keping demi seorang pelayan.

---

Tepat tiga puluh hari telah berlalu sejak malam berdarah di pabrik tua distrik barat. Satu bulan yang terasa seperti satu abad bagi Adrian. Penampilannya kini jauh dari kata rapi; rambutnya sedikit berantakan, dan bayangan janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya yang tegas, mempertegas gurat kelelahan dan kesedihan yang mendalam.

Malam itu, suasana rumah sakit sangat sunyi. Adrian baru saja selesai membersihkan wajah Kirana dengan waslap hangat—sebuah ritual baru yang selalu ia lakukan sendiri setiap malam tanpa mengizinkan perawat menyentuh pelayannya.

Setelah meletakkan waslap, Adrian duduk kembali di tempat biasanya. Ia menyelipkan jemari tangannya di sela-sela jemari Kirana, mengunci tangan mereka dalam genggaman yang protektif.

"Hari ini sudah satu bulan, Kirana," ucap Adrian lembut, suaranya kini terdengar tenang, sebuah ketenangan dari seseorang yang telah menyerahkan seluruh jiwanya pada takdir. "Hendra bilang bunga mawar putih di taman samping Bukit Permai sudah mekar seluruhnya. Kamar barumu di lantai tiga juga sudah dirapikan oleh Ibu Maya. Semuanya sudah siap... hanya kau yang belum pulang."

Adrian mendekatkan tangan Kirana ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu berulang kali dengan penuh perasaan. "Aku tidak akan kembali ke rumah itu tanpamu. Jika kau harus tidur seperti ini selamanya, maka aku akan tetap duduk di sini, menjagamu dari dunia luar."

Tepat saat kata-kata terakhir itu terucap dari bibir Adrian, keheningan malam itu terusik oleh sebuah suara yang sangat halus.

Pip... pip... pip...

Grafik pada monitor ECG tiba-tiba berfluktuasi dengan cepat, mengubah ritme malasnya menjadi lebih bertenaga.

Adrian tersentak, matanya langsung terfokus pada jemari Kirana yang berada di dalam genggamannya. Jantung pria itu seakan berhenti berdetak selama satu detik ketika ia merasakan ujung jari telunjuk Kirana bergerak pelan—sebuah kedutan halus yang sangat nyata, mencoba membalas remasan tangannya.

"Kirana...?" bisik Adrian, suaranya tercekat di tenggorokan, matanya melebar menatap wajah gadis itu dengan harapan murni yang mendadak membubung tinggi menembus langit malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!