Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Prasangka Dennis Yoe
"Benar begitu, Ibu Liana?"
Pertanyaan Lily Yao jatuh di antara bunyi gelas dan musik lembut ballroom seperti butir es yang masuk ke air panas. Tidak keras, tetapi cukup membuat orang-orang di sekitar mereka melambatkan gerak.
Liana masih berdiri di samping Edwin.
Tangannya yang memegang clutch kecil terasa dingin. Ia tahu nada seperti itu. Selama tiga puluh tahun di keluarga Phua, ia terlalu sering mendengar kalimat manis yang ujungnya menyayat. Bedanya, dulu ia hanya menunduk dan menelan.
Malam ini, ia memakai gaun burgundy, membawa kartu nama sendiri, dan berdiri bukan sebagai istri yang bisa disuruh diam.
Edwin menoleh sedikit. Wajahnya tidak berubah, bahkan suaranya tetap datar ketika ia menjawab lebih dulu.
"Ibu Liana adalah karyawan kepercayaan saya, itu saja."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak terlalu dekat, tidak pula menjauhkan. Namun kata "kepercayaan" diucapkan dengan jelas, seolah Edwin sengaja menaruhnya di tengah ruangan agar semua orang mendengar.
Senyum Lily tetap rapi.
"Wah, karyawan kepercayaan," katanya pelan. "Jarang sekali saya dengar Pak Edwin memakai kata itu untuk orang baru."
"Kalau seseorang memang layak dipercaya, masa kerjanya tidak selalu jadi ukuran," jawab Edwin.
Dennis, yang berdiri setengah langkah di belakang, mengangkat alis tipis.
Ia sudah mengenal Edwin bertahun-tahun. Temannya itu bisa menyebut seseorang kompeten, efektif, atau berguna. Tetapi dipercaya? Untuk Edwin, kata itu bukan hiasan sosial.
Lily mengalihkan pandangan pada Liana. Matanya menyapu wajah, gaun, lalu kartu nama yang tadi masih terselip di tangan Liana.
"Saya dengar Ibu Liana baru bergabung di Loh Group. Sebelumnya bekerja di bidang apa?"
Pertanyaan itu sopan, tetapi orang-orang yang hidup di lingkaran seperti ini tahu makna di baliknya. Siapa keluargamu? Sekolahmu di mana? Dari pintu mana kamu masuk ke ruangan ini?
Liana menarik napas pelan.
"Sebelumnya saya mengurus rumah tangga," jawabnya. "Sekarang saya membantu pekerjaan administrasi dan penerjemahan di Loh Group."
Sudut bibir Lily bergerak sedikit.
"Langsung dari rumah tangga ke acara bisnis internasional seperti ini? Berani sekali."
"Saya memang agak terlambat memulai lagi," kata Liana. Suaranya tetap tenang. "Tapi terlambat bukan berarti tidak bisa belajar. Selama tiga puluh tahun saya mengurus rumah, saya juga mengurus rekening, jadwal, sekolah anak, keluarga besar, tamu, sakit orang tua, sampai masalah yang sering tidak dianggap pekerjaan hanya karena tidak ada gajinya."
Beberapa perempuan di dekat mereka saling pandang.
Liana tidak meninggikan suara, tetapi setiap katanya jatuh jelas.
"Malam ini Pak Edwin memberi saya tugas menerjemahkan. Saya mengerjakan tugas itu. Kalau ada bagian yang kurang, saya bersedia dikoreksi."
Untuk sesaat, senyum Lily menipis.
Dennis menatap Liana lebih lama.
Ia tahu kasus perceraian perempuan itu rumit. Ia tahu Albert Phua memakai jalur hukum untuk membuat Liana terlihat sebagai istri yang meninggalkan keluarga. Ia tahu rekaman, bukti rumah tangga, dan apartemen yang sedang dipersoalkan. Namun di ruang sidang atau kantor hukum, orang bisa terlihat kuat karena harus bertahan.
Di ballroom seperti ini, di bawah tatapan konglomerat dan perempuan secantik Lily Yao, kekuatan seseorang biasanya retak lebih cepat.
Liana tidak retak.
Ia hanya berdiri dengan bahu lurus, tanpa meminta belas kasihan.
Lily tertawa kecil, suara yang cukup halus untuk tidak disebut mengejek.
"Menarik. Saya selalu kagum pada perempuan yang bisa membangun ulang hidupnya."
"Terima kasih," jawab Liana. "Saya juga masih belajar."
"Dan Pak Edwin membantu proses belajar itu?"
Kali ini Edwin yang memotong sebelum pertanyaan itu makin dalam.
"Lily," ucapnya. Nada itu pendek, tidak keras, tetapi cukup membuat beberapa orang berhenti pura-pura tidak mendengar. "Malam ini acara amal. Kalau kamu ingin membahas pekerjaan Ibu Liana, nanti bisa lewat HR Loh Group."
Lily menatap Edwin selama dua detik.
Liana bisa merasakan sesuatu yang dingin lewat di antara mereka. Bukan kemarahan terbuka, melainkan hak lama yang merasa terganggu oleh kehadiran orang baru.
"Saya cuma ingin mengenal," kata Lily akhirnya. "Tidak apa-apa kan, Ibu Liana?"
Liana menatapnya langsung.
"Tidak apa-apa. Senang berkenalan dengan Ibu Lily."
Jawaban itu pendek. Tidak menyerang, tidak membungkuk.
Edwin menurunkan pandangan pada Liana. "Kamu butuh udara?"
Liana baru sadar dadanya agak sesak. Aroma parfum, makanan, bunga, dan pendingin ruangan bercampur menjadi terlalu pekat.
"Sedikit," katanya.
"Ikut saya."
Ia tidak menyentuh lengan Liana di depan orang banyak. Hanya berjalan setengah langkah di depan, membuka jalan dengan kehadirannya sendiri. Orang-orang otomatis memberi ruang. Liana mengikuti, punggungnya masih terasa ditempeli tatapan.
Di belakang mereka, Dennis tidak langsung bergerak. Ia melihat Lily tetap berdiri di tempat semula, senyumnya kembali sempurna, tetapi tangan kirinya menggenggam batang gelas lebih kuat dari sebelumnya.
Terrace Grand Hyatt lebih sepi. Udara malam Jakarta tidak benar-benar dingin, tetapi setelah ballroom yang padat, angin lembap di luar terasa seperti pertolongan kecil. Dari bawah, lampu jalan dan deretan mobil membentuk garis emas. Suara musik dari dalam menjadi samar.
Liana berdiri dekat pagar kaca, menarik napas lebih panjang.
"Maaf, Pak Edwin," katanya. "Saya membuat suasana jadi canggung."
Edwin menoleh. "Kamu yang ditanya. Kenapa kamu yang minta maaf?"
"Kebiasaan lama," jawab Liana, lalu langsung menyesal karena kalimat itu keluar terlalu jujur.
Edwin diam sebentar.
"Kebiasaan lama bisa diganti."
Angin mengangkat sedikit ujung rambut Liana. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa izin.
"Tidak semudah mengganti file di komputer, Pak."
"Kalau begitu, kita jangan pakai komputer."
Liana mengangkat wajah, bingung.
Edwin menatapnya dengan wajah masih sangat serius. "Pakai sempoa. Kamu lebih cepat."
Untuk pertama kalinya malam itu, Liana tertawa pelan.
Tawanya tidak besar, hanya keluar sebentar seperti napas yang lama tertahan. Namun Edwin melihatnya. Sorot matanya melunak tipis, hampir tidak terlihat jika orang tidak memperhatikan.
"Pak Edwin bisa bercanda juga rupanya," kata Liana.
"Jarang."
"Saya harus merasa terhormat?"
"Seharusnya begitu."
Liana menutup mulut dengan punggung jari. Wajahnya menghangat. Beberapa minggu lalu, ia masih duduk di ruang tamu Jessy dengan berkas perceraian dan koper kecil. Sekarang ia berdiri di teras hotel bintang lima, berbicara dengan pria paling dingin di Loh Group tentang sempoa seolah hidup tidak pernah pecah.
Mungkin hidup memang pecah.
Tetapi pecahan itu tidak selalu harus melukai. Ada yang bisa memantulkan cahaya.
Dari pintu kaca yang sedikit terbuka, Dennis melihat semuanya.
Ia tidak mendengar semua percakapan, hanya menangkap tawa Liana dan cara Edwin berdiri. Tidak terlalu dekat, tetapi seluruh tubuhnya jelas menghadap perempuan itu. Edwin yang ia kenal biasanya berbicara dengan perempuan seperti membaca kontrak. Sopan, efisien, tanpa ruang untuk salah paham.
Malam ini berbeda.
Dennis melipat tangan di dada, senyumnya hilang. Dalam kepalanya, prasangka lama bergeser tempat.
Mungkin Liana Liem bukan sekadar klien cerai yang kebetulan bekerja untuk Edwin.
Dan mungkin Edwin bukan sekadar CEO yang sedang melindungi pegawai berguna.
"Wah," gumam Dennis nyaris tanpa suara. "Gawat juga kalau begini."
Di dalam ballroom, Lily menurunkan gelas yang belum diminumnya. Seorang asisten muda mendekat setelah melihat isyarat dari matanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Lily?"
Lily memandang ke arah terrace. Dari balik kaca, ia bisa melihat profil Edwin dan Liana berdiri berdampingan. Jarak mereka sopan, tetapi justru itu yang membuat dadanya terasa panas. Edwin tidak pernah butuh jarak untuk menolak orang. Kalau ia tidak peduli, ia akan pergi begitu saja.
Kepada Liana, ia bertahan.
"Cari tahu semua tentang Liana Liem," kata Lily pelan. "Latar belakangnya, keluarganya, kasus perceraiannya... semuanya."
Asisten itu mengangguk cepat.
Lily tersenyum lagi, kali ini tanpa kehangatan.
"Saya ingin tahu perempuan seperti apa yang bisa membuat Edwin Loh berhenti bersikap seperti patung."
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/