Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 03
"Hai! Maaf, ya, aku telat," sapaku dengan nada sesantai mungkin pada mereka berdua.
Mendengar suaraku, mereka hanya menoleh sekilas. Tatapan mereka sempat turun, menilai pakaian pendek yang kukenakan, sebelum akhirnya kembali fokus pada piring masing-masing.
"Cepatlah duduk, Elsa. Kau itu bukanlah tuan putri yang harus ditunggu semua orang," sindir Andini, nadanya terdengar tenang namun menusuk.
Aku mengangguk cepat tanpa minat berdebat. Dengan gerakan gesit, aku langsung mengambil tempat duduk tepat di samping Juragan Tama. Begitu melihat hidangan di atas meja, mataku langsung berbinar.
'Wah, makanannya enak-enak banget! Buatan koki rumah ini memang enggak main-main,' batinku bersorak.
Tanpa sungkan, aku mulai mengambil lauk satu per satu. Sambal goreng, rendang, ayam goreng—semuanya kupindahkan ke piring sampai isinya penuh menggunung.
"Kamu kecil-kecil rakus juga, ya!" ucap Andini sinis, menatap piringku dengan pandangan jijik.
Aku mendelik, menghentikan suapan pertamaku lalu menatapnya balik dengan berani. "Emang kenapa? Anda tidak suka?" tanyaku santai, sengaja menekankan kata 'Anda'.
Andini sempat terkejut dengan kelancanganku, namun dia dengan cepat menyembunyikannya di balik senyum mencibir.
"Sudah, habiskan makanan kalian," sela Tama, memutus ketegangan di antara kami dengan suara beratnya yang berwibawa. Dia menoleh pada istri pertamanya. "Andini, nanti malam kita mau menghadiri acara pesta anak Pak Desa. Apa kamu bisa temani Mas?"
Pertanyaan Tama sontak membuatku menghentikan kunyahan. Dahiku mengkerut.
"Bisa, Mas. Emang acaranya jam berapa?" tanya Andini, seketika berubah manis di depan suaminya.
Aku masih menyimak, terus mengunyah sambil memperhatikan interaksi mereka.
"Jam enam sudah siap-siap, ya. Jam tujuh nanti kita berangkat," ucap Tama.
"Oke, nanti aku siapkan baju yang mau Mas pakai," sahut Andini sembari tersenyum penuh kemenangan ke arahku.
Merasa tidak dianggap, aku langsung menyambar percakapan mereka. "Emangnya pesta apa? Aku kok enggak diajak?" tanyaku menuntut.
Andini melihatku dengan tatapan tajam dan dingin. Sedangkan Tama? Pria tampan berwibawa itu hanya terdiam, mengabaikan pertanyaanku seolah aku hanyalah angin lalu.
"Mas sudah selesai. Mas mau langsung ke peternakan dulu, mau lihat ternak," ucap Tama pada Andini. Dia bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Andini, lalu mengecup kening wanita itu dengan lembut.
Aku memperhatikan adegan romantis itu tanpa berkedip. Dalam hati, aku refleks bersiap-siap dan berharap dia akan melakukan hal yang sama kepadaku sebelum pergi. Namun rupanya, ekspektasiku terlalu tinggi. Tama melangkah melewatiku begitu saja, bahkan tanpa melirik seujung kuku pun ke arah tempat dudukku. Pria itu langsung melenggang pergi keluar dari ruang makan.
Aku menahan napas, menatap punggung tegapnya yang menjauh. Ketika aku menoleh ke arah Andini, wanita itu sedang tersenyum puas, memandangku dengan tatapan mengejek yang teramat kentara.
"Sadar diri, El... kamu itu hanya bocah yang dijual ke suamiku oleh orang tuamu," ucap Andini dengan nada merendahkan. Dia lantas bangkit berdiri, merapikan pakaiannya yang anggun, lalu dengan cepat berlalu pergi meninggalkanku sendirian di meja makan.
Suasana ruang makan mendadak hening. Aku terdiam di tempatku, tanganku meremas erat sendok makan di genggaman hingga buku-buku jariku memutih. Rasa kesal dan tertantang bergejolak hebat di dadaku.
'Dasar manusia-manusia jahat! Lihat saja nanti, Juragan...' batinku bergolak penuh amarah sekaligus ambisi. 'Akan kubuat kamu jatuh cinta setengah mati sama aku. Apapun caranya, posisi Istri pertamamu akan jadi milikku!'