Judul sebelumnya "Pacar Halu Aesthetic"
Alina dikirim oleh ibunya ke desa Eyangnya yang jauh dari kota karena sebuah kesalahan yang tak di sengaja. Banyak hal yang tak terduga terjadi disana.
Di sana dia bertemu dengan Jordan yang kebetulan sedang shooting sebuah Film di desa itu.
Yang lebih menariknya, Alina yang notabenenya seorang penulis novel menemukan sebuah komputer di ruang bawah tanah, Saat ia gunakan komputer itu untuk menulis novelnya hal aneh pun terjadi.
Dimana peran pria dalam novelnya yang bernama Luhan datang menemuinya setiap malam dalam wujud nyata. Dan Luhan akan menghilang saat pagi datang.
Tanpa sadar Alina jatuh cinta pada Luhan. Sementara itu disisi lain Jordan mulai menyukai Alina.
Bagaimana kisah mereka,? Ikuti terus kisah mereka. Jangan lupa beri dukungan kalian..
Dan tanpa sadar Alina jatuh cinta dengan karakter yang di buatnya sendiri.
Bagaimana kisah cinta mereka,? Yuk mulai baca...
Yuk dukung karya Author dengan memberi like, komentar, vote serta tambahkan ke daftar favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 32
Sepanjang perjalanan pulang Alan tak bicara sepatah kata pun. Dia kesal dengan sikap Alina saat menariknya pergi saat bertemu Jordan.
" Apa kau marah karena tak bisa mendapatkan tanda tangan artis itu?" tanya Alina ketika mereka sampai di depan ruko.
Alan tak menjawab, dia hanya menunjukan wajah tak senangnya.
" Astaga, aku bisa mendapatkan tanda tangannya untukmu, bahkan aku bisa membuatnya datang kesini," ujar Alina memberi harapan.
" Kau pikir aku akan percaya dengan kata - katamu itu?" sinis Alan.
" Terserah, hanya gara - gara itu kau marah padaku, aku jadi menyesal menemanimu ke acara itu bahkan sampai harus berpura - pura menjadi pacarmu," sungut Alina seraya turun dari mobil.
Alina tak henti menggerutu sambil terus melangkah masuk ke dalam ruko. Alan kembali menjalankan mobilnya ketika Alina sudah hilang dibalik pintu kaca.
Restoran begitu ramai, Kedua orang tuanya sangat sibuk melayani semua pelanggan. Tanpa mengganti baju Alina langsung turun tangan membantu.
" Biar aku antar, meja mana ?" Alina mengambil alih nampan dari tangan ibunya. Ibu Alina menunjuk pada meja paling pojok. Dimana duduk dua orang pria disana.
Alina segera mengantar pesanan itu.
" Permisi, " Alina memindahkan makanan dari nampan ke atas meja.
Kedua pria itu tampak memperhatikan Alina.
" Karyawan baru ya mbak?" tanyanya salah satu dari mereka.
Alina melirik sekilas, lalu tersenyum.
" Silahkan dinikmati," Alina berbalik dan pergi.
Alina kembali ke dapur, kini matanya tertuju pada westafel dimana piring kotor menumpuk menunggu untuk dicuci. Sementara ayahnya sibuk menggoreng ayam dan ibunya melayani pelanggan.
" Kau naik saja, biar ayah nanti yang cuci," Ujar Ayah Alina melihat Alina mencuci piring.
Alina tak menggubris dan tetap mencuci piring - piring itu.
" Ayah, apa aku begitu berbeda dengan penampilan seperti ini?" tanya Alina.
Ayah Alina menoleh sesaat, menatap putri semata wayangnya dari samping. Pria paruh baya itu tersenyum.
" Tidak, bagi ayah kau sama saja, tetap cantik bagaimana pun penampilanmu" jawab Ayah tulus.
Alina tak menjawab atau bertanya lagi. Seulas senyum tergambar diwajahnya. Tentu saja ayahnya akan berkata begitu, dia bertanya pada orang yang salah.
Restoran tutup lebih awal karena semua ayam sudah terjual habis. Pendapatan mereka hari ini lumayan besar. Ibu Alina menghitung semua uang dengan wajah senang. Alina dan Ayahnya hanya memperhatikan.
" Nah ini untuk membayar kembali uangmu," Ibu Alina memberikan semua uang itu pada Alina. Gadis itu tertegun.
" Segitu dulu ya, ibu janji akan segera melunasi sisanya," imbuhnya.
Tenggorokan Alina tercekat, sejujurnya dia tak mempermasalahkan uang itu. Mata Alina berkaca - kaca.
" Aku, tak bisa mengambilnya. Aku tak menganggap uang yang ibu pakai itu sebagai hutang." jawab Alina.
" Tapi tetap saja itu uangmu, ambilah"
Alina menggeleng, dia kembali meletakkan uang itu ke tangan ibunya.
" Uang itu tak akan sebanding dengan semua jerih payah dan keringat ibu dan ayah yang telah membesarkan ku, Aku tak bisa menerima uang itu," Alina bangkit dan bergegas meninggalkan restoran dan naik ke lantai atas.
Ibu dan Ayah Alina saling pandang. Keduanya tertegun. Mereka tak menyadari kalau putri kecil mereka kini sudah dewasa.
" Aku jadi semakin bersalah padanya," ucap Ibu Alina tertunduk. Ayah Alina mengusap punggung tangan istrinya. Hatinya juga pilu.
Alina tersenyum sambil menyeka air matanya yang jatuh, hatinya merasa bahagia. Akhirnya dia bisa membuktikan pada orangtuanya kalau dia bisa jadi anak yang berguna.
Badannya terasa sangat lengket, Baru saja Alina akan membuka bajunya hendak mandi, tiba - tiba ponselnya berdering.
Alina melihat Jordan meneleponnya. Gadis itu mengabaikan. Alina meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Saat Alina keluar dari kamar mandi hari sudah mulai gelap. Gadis itu teringat kejadian di rumah eyangnya dimana Luhan melihatnya hanya memakai handuk. Alina dengan cepat mengambil baju dan kembali masuk ke kamar mandi takut nanti pria itu muncul.
Alina tersenyum getir saat keluar dari kamar mandi. Ternyata Luhan tak datang , Alina merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Bayangan Luhan tersenyum setiap kali dia membuka pintu kamar kembali memenuhi kepalanya.
" Apa kau marah padaku,?" Alina menatap komputer tua yang ditempatkannya disebelah komputernya.
" Aku rasa aku sudah cukup memikirkannya, kembalilah, aku merindukanmu," Alina memperhatikan sekelilingnya berharap Luhan akan muncul.
Alina menghela nafas panjang, lalu berjalan gontai ke meja dan menghidupkan komputer dan mulai mengetik, melanjutkan novelnya.
Tapi hingga matanya mengantuk pun Luhan tak kunjung menampakan batang hidungnya. Alina tak melanjutkan lagi menulis novelnya, pikirannya buntu. Rasa rindu itu membuatnya tak bisa berkonsentrasi. Alina beranjak dari meja kerjanya dan merebahkan badannya di ranjang, matanya menatap langit - langit kamarnya. Pikirannya menerawang. Tanpa sadar ia terlelap.
Sebuah tangan menyibak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Alina melakukan pergerakan kecil tapi tak membuka matanya.
" Aku datang," ujar Luhan pelan menatap kedua mata yang tertutup rapat itu.
Pria itu menarik selimut sampai menutupi leher Alina.
" Kenapa kau selalu lupa melepas kacamatamu ,hem," dengan perlahan Luhan melepaskan kacamata Alina dan meletakkannya di atas nakas.
Luhan melihat komputer Alina masih menyala, lalu mematikanha. Dia menarik kursi, duduk dengan menumpu wajahnya dengan kedua tangan sambil menatap Alina yang tidur lelap.
Alina sama sekali tak merasa terganggu.
Luhan terkejut ketika Alina bergumam tak jelas. Dia mendekatkan telinganya. Menajamkan pendengarannya.
"Luhan, aku merindukanmu," dengan jelas Luhan mendengar kata - kata itu. Pria itu tersenyum senang. Dia kembali menatap wajah Alina yang tampak teduh ketika tidur.
" Aku juga merindukanmu," bisik Luhan. Lalu dia mengecup sekilas bibir Alina. Setelah itu dia menghilang.
Matahari sudah memancarkan sinarnya. Alina terbangun karena suara alarm dari ponselnya. Gadis itu meraba wajahnya. Tapi tak menemukan kacamatanya. Dia menyibak selimut dan memeriksa sekitar kasurnya.
" Mana kacamataku," Alina segera bangkit memeriksa di lantai barangkali benda itu terjatuh.
Alina terkejut ketika mendapati kacamatanya terletak di atas meja. Dahinya berkerut, semalam dia tak melepaskannya, tapi kenapa benda itu sekarang nangkring di atas meja. Di tambah lagi dengan komputernya yang sudah mati.
Alina membekap mulutnya sendiri. Tak percaya dengan apa yang dipikirkannya.
" Apa jangan - jangan Luhan semalam datang," gumam Alina.
" Berarti semalam itu bukan mimpi," Alina meraba bibirnya, wajahnya jadi bersemu.
...----------------...
Tinggalkan jejaknya...