Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengomel
Jeremy terus memijat lembut bagian pangkal rambut Claire. Ia lalu meraih botol sampo di rak samping wastafel, memeras sedikit busa ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya perlahan ke seluruh helai rambut Claire yang sudah basah.
Gerakannya masih terlihat canggung dan hati-hati sekali, karena ini adalah pertama kalinya ia mencuci rambut orang lain selain dirinya sendiri. Claire yang tadinya sudah tenang, mulai merasakan sensasi nyaman dari pijatan lembut itu, hingga tanpa sadar matanya terpejam sesaat menikmati pijatan suaminya di kepalanya. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebentar.
Saat Jeremy memiringkan sedikit kepalanya untuk membilas busa, tiba-tiba air yang bercampur sisa samphoo itu mengalir turun dan tak sengaja masuk ke sudut mata Claire.
"Aduh! Sakit! Perih banget!" seru Claire seketika, matanya terasa pedih dan panas seolah terbakar. Ia langsung memejamkan mata rapat-rapat, menguceknya dengan tangan secara refleks sambil merengek dengan suara melengking.
"Mata aku! Kenapa harus masuk ke mata sih? Rasanya seperti disiram air cuka!"
Jeremy segera menahan kedua pergelangan tangan Claire agar tidak mengucek matanya terlalu keras, karena justru akan membuat iritasi makin parah.
"Jangan diucek. Itu akan membuatmu makin sakit. Tahan sebentar, aku bilas lagi dengan air bersih."
Ia segera menyiram air bersih yang mengalir lembut ke wajah Claire, membilas sisa busa yang masih menempel di sekitar mata. Namun Claire tidak berhenti merengek, suaranya terdengar semakin manja dan panjang.
"Tapi tetap periiih! Rasanya seperti ada pasir halus yang masuk ke dalam. Kamu ini ceroboh sekali sih mister Jem, mencuci rambut saja nggak bisa dengan benar. Kalau sampai mata aku rusak dan nggak bisa lihat wajah ganteng kamu lagi, gimana? Aku kan masih butuh mataku untuk melihat wajah tampan kamu setiap hari!"
Jeremy menghela napas panjang, merasa kepalanya mulai berdenyut pelan. Sudah cukup dari kemarin ia dihadapkan dengan tingkah istrinya yang tak terduga, sekarang ditambah lagi dengan rengekan yang tak kunjung reda.
"Sudah, diamlah sebentar. Hanya perih sebentar saja, tidak akan buta. Jangan membesar-besarkan hal kecil."
'Hal kecil katamu? Bagi aku mata adalah harta paling berharga! Kalau sampai ada apa-apa, kamu yang bertanggung jawab seumur hidup!" balas Claire cepat, meski rasa perihnya sudah mulai mereda seiring dibasuhnya air bersih berulang kali.
Setelah yakin tidak ada lagi sisa samphoo, Jeremy mengambil handuk lembut dan membungkus kepala Claire, lalu mengusapnya perlahan untuk menyerap air berlebih. Ia kemudian mengajak Claire kembali ke tengah kamar, mendudukkan gadis itu di tepi tempat tidur, lalu meraih pengering rambut dari lemari penyimpanan.
'Duduk diam, jangan banyak bergerak," perintahnya datar, lalu menyalakan alat itu. Suara dengungan pelan mulai terdengar, disertai hembusan udara hangat yang menyapu rambut Claire.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Begitu Jeremy mulai menggerakkan alat itu, mulut Claire kembali terbuka dan tak mau diam sama sekali.
"Seharian ini kamu ke mana saja? Pagi pergi, malam baru pulang, padahal aku sudah menunggu sejak tadi. Apa pekerjaanmu itu sampai nggak ada waktu sebentar saja buat menengok istri di rumah? Kalau bukan karena aku yang sabar dan karena wajah kamu yang ganteng, mungkin aku sudah kabur cari suami lain yang lebih perhatian! Sayangnya, kita di jodohin... Kamu itu menantu pilihan orangtua!" gerutunya panjang lebar, matanya yang masih sedikit merah melirik ke arah Jeremy sesekali.
Jeremy tetap diam, tangannya terus bergerak mengatur arah hembusan udara, memastikan rambut kering merata tanpa membuat kulit kepala terlalu panas. Ia tidak menghiraukan celotehan Claire.
"Sudah tahu istrimu sendirian di rumah, malah dibiarin begitu saja. Untung saja aku pandai menyibukkan diri dengan sahabat-sahabat aku, kalau nggak mungkin sudah mati karena bosan." lanjut Claire lagi, suaranya makin lantang seolah sedang mengadukan kesalahan besar.
Jeremy hanya mengerutkan kening, menahan diri sekuat tenaga agar tidak membalas dengan nada dingin yang biasanya membuat orang lain diam ketakutan. Ia tahu, kalau ia membalas, Claire justru akan makin bersemangat berdebat dan berceramah panjang lebar. Karena gadis ini sama sekali tidak takut padanya. Lebih baik diam saja dan mendengarkan sampai puas.
"Kamu ini memang keras kepala, dingin, dan nggak peka! Apa susahnya sekadar mengirim pesan kalau pulang terlambat? Atau jangan-jangan kamu nggak simpen nomor aku? Atau jangan-jangan kamu makan enak sendirian di luar sana? Kalau beneran, kamu tega banget nggak ajak istrii ..."
Ucapan Claire terus mengalir tanpa jeda, membahas hal-hal sepele sampai hal yang dibuat-buat. Sementara Jeremy, dengan kesabaran yang hampir habis, terus mengeringkan rambutnya hingga helai demi helai terasa lembut dan kering sempurna.
Begitu suara pengering rambut dimatikan, Jeremy segera bertindak cepat. Sebelum Claire sempat membuka mulut lagi untuk melanjutkan omelannya, ia membungkuk, menyelipkan satu lengan di bawah lutut dan satu lagi di punggung Claire, lalu mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah.
Tubuh Claire yang mungil terasa ringan di gendongan Jeremy, terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan postur tubuh pria itu yang tinggi dan kekar. Claire terkejut seketika, mulutnya terbuka lebar hendak bertanya apa-apa, tapi belum sempat suaranya keluar, Jeremy sudah menjatuhkannya perlahan ke atas kasur empuk.
Ia segera merentangkan selimut tebal, membungkus seluruh tubuh Claire rapat-rapat hingga hanya bagian wajahnya saja yang terlihat, lalu menarik ujung selimut hingga menutupi sebagian dahi gadis itu.
"Tidurlah, jangan bawel lagi," katanya dengan nada datar, dingin, dan tegas, tanpa memberi ruang bagi Claire untuk membantah atau melanjutkan omelannya.
Claire tertegun sejenak, menatap wajah Jeremy yang tampak lelah namun tetap gagah di hadapannya. Mulutnya masih terbuka hendak memprotes, tapi melihat tatapan tajam namun lembut yang terbalut dalam ketegasan itu, kata-kata di tenggorokannya seolah terhenti begitu saja. Ia hanya bisa mendengus pelan, memalingkan wajah sambil tetap menyimpan senyum kecil yang tak terlihat di balik selimut.
"Baiklah… aku tidur dulu. Selamat tidur suamiku terganteng." gumamnya pelan tapi masih dengan nada ceria. Tak lama kemudian ia akhirnya memejamkan mata, menikmati kehangatan selimut tebal itu.
Jeremy akhirnya bisa bernafas lega. Ia lalu duduk di sisi tempat tidur, menatap istrinya yang mulai terlelap. Di dalam hatinya, ia mengakui satu hal, meski Claire sangat bawel, cerewet, dan sering membuat pusing kepala, kehadirannya justru membuat rumah ini terasa seperti rumah yang sesungguhnya, bukan sekadar bangunan kosong yang dingin dan sunyi.
Jeremy tersenyum kemudian, setengah mendengus.
"Bisa-bisanya aku berinisiatif sendiri mencuci rambut si bawel itu." gumamnya pelan seakan tak percaya pada apa saja yang baru dia lakukan.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣