Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Begitu Rena tidak lagi terlihat dari halaman, suasana di ruang tengah berubah seketika. Topeng kesopanan yang tadi dipakai kini dilepas tanpa sisa. Bu Broto mengembuskan napas panjang, bersandar di sofa sambil menatap menantu idamannya.
"Aduh, Linda... Tante, maksud Ibu—benar-benar minta maaf ya atas kelakuan si Rena tadi. Kamu lihat sendiri kan betapa kurang ajarnya dia sekarang?" adu Bu Broto dengan nada ketus.
Ternyata Bu Broto memang sudah tahu semuanya. Sejak empat tahun yang lalu, wanita tua itu sudah mengetahui dan merestui pernikahan siri Aris dengan Linda hingga mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Amel yang kini berusia tiga tahun. Bu Broto sangat membanggakan Linda yang terlihat jauh lebih cantik, modis, dan terurus daripada Rena yang terlihat kusam, tak terurus, dan kini sikapnya sangat menyebalkan.
Linda tersenyum manis, mengusap lengan Bu Broto. "Tidak apa-apa, Ibu. Aku mengerti kok. Tapi apa Mas Aris tidak keterlaluan membiarkan dia mogok kerja begitu? nggak ngelakuin apa-apa, padahal mas kan kepala rumah tangga disini."
"Kamu itu jauh lebih pantas jadi istri Aris daripada si Rena yang lebih mirip pembantu itu," puji Bu Broto sumringah. "Iya Aris, kenapa si Rena bisa mendadak berubah jadi pembangkang begitu, sih? Kamu harus lebih tegas lagi sama dia biar nggak makin ngelunjak."
Aris mengacak rambutnya dengan frustrasi, menunduk dalam. "Seperti yang aku katakan kemarin, sepertinya Rena sudah tahu kalau aku selingkuh, Bu. Beberapa hari lalu, dia menemukan beberapa bukti struk ATM dan nota hotel di saku celanaku. Karena itulah sikapnya langsung berubah total. Bahkan dia juga mengacuhkan aku dan terlihat jijik memandangku."
Bu Broto langsung melotot dan menepuk meja. "Kamu ini bagaimana, sih, Aris?! Terlalu ceroboh! Gara-gara kecerobohanmu, kita sekarang sulit untuk melawan Rena. Kamu lihat sendiri kan, dia makin berani melawan kita dengan sikap acuhnya yang keterlaluan itu! Bahkan dia berani mengacuhkanmu. Istri macam apa itu, pantas aja kalau kamu selingkuh."
Linda yang mendengar itu justru tersenyum sinis di dalam hati. Dia merasa berada di atas angin karena ternyata di rumah ini, Rena sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari siapa pun. Posisi Linda sangat aman untuk tinggal di sini.
"Sudahlah, Mas, Ibu... tidak perlu diributkan," sela Linda dengan nada manja. "Mbak Rena mungkin lagi sedang sensitif dan marah aja. Kita beri dia waktu, mungkin dia bakal berubah. "
Linda lalu melirik ke arah lorong kamar Rena yang sepi. "Daripada pusing memikirkan Mbak Rena, lebih baik Mas Aris antar aku ke dalam kamar dulu untuk menaruh barang-barang."
Aris mengangguk, lalu menuntun Linda masuk ke dalam kamar tidur utama yang biasanya ditempati Aris dan Rena. "Tapi ini bukan kamarmu Linda, kamarmu ada di depan, kamar tamu. Kalau kamu minta kamar ini Rena akan marah. "
"Aku tau mss, aku hanya ingin berdua denganmu. Aku kangen banget sama kamu. " kata Linda manja.
"Baiklah, kita lakukan sebentar sebelum Rena datang."
Di dalam kamar yang pintunya tertutup itu, Aris dan Linda memanfaatkan situasi. Mereka bahkan sempat bercumbu di dalam kamar sebentar, melepaskan rindu sebelum Rena datang.. Dan tanpa mereka sadari sedikit pun, semua percakapan busuk di ruang tengah hingga suara kemesraan mereka di dalam kamar terekam dengan sangat jelas ke dalam ponsel Rena yang tersembunyi di balik pintu.
Satu jam kemudian, Rena pulang bersama Dio. Wajahnya datar seperti biasa. Tanpa menyapa siapa pun di ruang tengah, dia langsung menuntun Dio masuk ke dalam kamar.
Saat Dio sedang diganti bajunya oleh Rena dengan pakaian santai, pintu kamar mendadak dibuka dari luar. Aris melangkah masuk sambil menggandeng Amel yang sedang memegang boneka barunya. Pria itu menatap Dio dengan senyuman yang dipaksakan.
"Dio, ke sini sebentar, Nak," panggil Aris dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Dia mendorong pelan tubuh Amel ke depan. "Ini Amel. Dia ini adikmu. Mulai sekarang, panggil dia Adik Amel, ya? Ayo, ajak adikmu ini bermain bersama di kamar."
"Nggak mau, yah. Aku ngantuk, capek mau tidur aja. Biar Amel main sama yang lainnya aja. " kata Dio malas.
"Ya sudah kamu istirahat aja dulu, nanti kalau capeknya sudah hilang kamu main sama amel ya. "
Dio tidak membalas dan menatap ibunya dengan penuh tanya dan rasa penasaran di dalam hatinya.
Melihat pemandangan di depannya, Rena menghentikan gerakannya yang sedang memakaikan kaos Dio. Dia berdiri tegak, menatap Aris dengan pandangan yang teramat tajam dan menusuk. Dadanya bergemuruh hebat menahan rasa muak. Selama ini, Rena tidak pernah sekalipun melihat Aris bersikap manis atau selembut itu kepada anak kandungnya sendiri. Tapi sekarang, demi anak haramnya, pria itu mendadak berakting menjadi ayah yang baik dan penuh kasih sayang.
Saat Dio sudah bersiap naik ke tempat tidurnya, suara Bu Broto dari arah dapur kembali melengking memecah ketegangan di dalam kamar.
"Rena! Jam berapa ini?! Cepat keluar dari kamar dan masak untuk makan siang! Kita semua sudah kelaparan! Lagian kamu juga nggak kerja kan. Jangan jadi pemalas. " teriak Bu Broto dari luar dengan nada memerintah.
Rena menarik napas dalam-dalam. Dia melangkah menuju ambang pintu kamar, lalu dengan enteng menjawab lantang agar suaranya terdengar sampai ke dapur.
"Mungkin sekarang Linda bisa membantu memasak di dapur, Bu! Lagipula dia kan tinggal gratis di rumah ini bersama anaknya. Jadi, setidaknya dia harus berguna sedikit untuk rumah ini dengan cara membantu mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci dan lainnya, bukan cuma menumpang tidur!" sindir Rena dengan volume suara yang sengaja dikeraskan.
Mendengar ucapan menohok dari Rena itu, wajah Aris dan Linda yang berada di dekatnya langsung berubah menjadi merah padam karena malu sekaligus marah.
Sementara dari arah dapur, terdengar suara denting panci yang digeser kasar. Ucapan frontal dari Rena itu sukses membuat Bu Broto seketika naik pitam dengan wajah yang berkerut menahan amarah yang meledak-ledak.
"Kamu ini ya, benar-benar menantu tidak tau diri. Sudah tidak mau masak, belanja dan kerja. Sekarang kamu malah meminya Linda untuk menggantikan semua pekerjaan mu. Ingat, dia itu tamu. "
"Yang dimaksud tamu itu hanya datang berkunjung lalu pergi, pulang ke rumah nya. Tapi yang aku tau dan dengar dari Mas Aris dia akan tinggal sementara dirumah ini. Jadi wajarlah kalau dia ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Ingat ini rumah, bukan hotel. "
Setelah mengatakan itu, Rena masuk kedalam kamar dengan menutup pintu dengan keras. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana, meski ocehan ibu mertuanya masih terdengar.