NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:540.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Pak Arman

Klinik hotel itu terlalu rapi untuk luka sekecil lutut Ratna.

Ruangan berbau alkohol medis dan pewangi mahal. Perawat muda membersihkan lukanya dengan hati-hati, sementara Arman Wibisana berdiri tidak jauh dari pintu, menelepon seseorang dengan suara rendah.

"Saya ingin laporan dalam sepuluh menit. Tas warna cokelat, tali putus. Di dalamnya ada ponsel dan dokumen. Jangan ribut dengan polisi sebelum barang diamankan."

Ratna menoleh.

"Pak Arman."

Ia menutup telepon dan menghampiri.

"Ya?"

"Tidak perlu sampai begitu. Saya bisa lapor polisi sendiri."

"Tentu. Tapi orang saya sedang mengejar pelakunya. Kalau bisa ditemukan cepat, lebih baik."

"Bapak selalu memberi perintah seperti itu?"

Arman tampak berpikir sebentar. "Sepertinya iya."

Ratna tidak tahu harus menanggapi apa.

Perawat menahan senyum.

Luka Ratna tidak parah. Hanya lecet cukup dalam di lutut kanan dan memar di telapak tangan. Perawat memberi salep dan perban. Ratna hendak turun dari ranjang periksa, tetapi Arman lebih dulu mengulurkan tangan.

Ia menatap tangan itu.

Tangan laki-laki itu besar, uratnya jelas, kulitnya sedikit keriput tetapi terawat. Bukan tangan pekerja lapangan. Bukan juga tangan orang malas. Tangan itu terbiasa menandatangani sesuatu, menunjuk arah, mungkin menepuk meja rapat.

Ratna tidak menyambutnya.

"Saya bisa turun sendiri."

Arman menarik tangannya kembali tanpa tersinggung.

"Silakan."

Ratna turun pelan. Lututnya nyeri, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Arman berkata, "Ibu menginap di mana?"

Ratna menyebut nama hotel kecilnya.

Alis Arman bergerak sedikit. "Sendiri?"

"Iya."

"Keluarga?"

"Ada. Tapi tidak ikut."

Ratna sengaja menjawab pendek. Ia sudah cukup lelah menjelaskan hidupnya pada orang-orang.

Arman menangkap batas itu. Ia tidak bertanya lagi.

Seorang pria muda masuk, mengenakan kemeja putih basah oleh hujan. Ia membungkuk kecil pada Arman.

"Pak, tasnya ditemukan. Pelakunya jatuh di lampu merah karena dikejar warga. Sekarang diamankan satpam hotel dan polisi sektor sedang menuju lokasi."

Ratna terkejut. "Secepat itu?"

Pria muda itu tersenyum sopan. "Kebetulan ada mobil tim kami di dekat sana, Bu."

Arman berkata, "Bawa tasnya ke sini. Pastikan semua isi lengkap."

"Baik, Pak."

Pria itu keluar lagi.

Ratna menatap Arman. "Bapak siapa sebenarnya?"

"Tadi saya sudah bilang. Arman."

"Maksud saya, pekerjaan Bapak."

"Pengusaha."

"Pengusaha apa?"

"Macam-macam."

Ratna menatapnya datar.

Arman tersenyum sedikit. "Properti, logistik, rumah sakit, sedikit kawasan industri. Hal-hal membosankan."

Ratna akhirnya mengerti kenapa orang-orang di sekelilingnya bergerak secepat itu.

Nama Wibisana mulai terasa samar di ingatannya. Wibisana Group. Ia pernah membaca di berita tentang pembangunan rumah sakit swasta di Jakarta dan kawasan industri di Jawa Barat. Tetapi ia tidak pernah benar-benar memperhatikan. Hidupnya terlalu penuh dengan pasien batuk, cucu demam, dan harga cabai.

"Oh," katanya.

Arman tampak menunggu reaksi lebih besar. Ketika tidak ada, ia justru terlihat tertarik.

"Hanya oh?"

"Saya harus bilang apa?"

"Biasanya orang bertanya lebih banyak."

"Saya sedang kehilangan tas dan lutut saya sakit. Rasa ingin tahu saya sedang tidak aktif."

Untuk pertama kalinya, Arman tertawa.

Tawanya pendek, tidak keras, tetapi membuat wajahnya tampak lebih muda.

"Masuk akal."

Tas Ratna dibawa beberapa menit kemudian. Tali selempangnya putus, bagian sampingnya kotor, tetapi isinya lengkap. Dompet, KTP, kartu ATM, ponsel, salinan dokumen. Ratna memeriksa satu per satu dengan teliti.

Ketika ia melihat map kecil berisi salinan gugatan dan bukti, wajahnya berubah sedikit.

Arman memperhatikan, tetapi tidak bertanya.

Polisi datang untuk mencatat laporan. Ratna menjelaskan kejadian dengan ringkas. Arman berdiri di sampingnya, tidak ikut bicara kecuali diminta. Anehnya, kehadirannya membuat semua orang lebih cepat bergerak.

Setelah urusan selesai, hujan sudah mereda.

Ratna berdiri di lobby hotel besar itu, memegang tas yang talinya rusak. Ia merasa terlalu lusuh di antara lantai marmer, lampu gantung, dan orang-orang berpakaian rapi.

"Terima kasih, Pak Arman," katanya.

"Saya antar Ibu ke hotel."

"Tidak perlu. Saya bisa pesan mobil online."

"Lutut Ibu masih sakit."

"Masih bisa dipakai."

"Saya tidak meragukan itu."

"Lalu?"

"Saya hanya menawarkan bantuan."

Ratna menatapnya.

Bantuan sering datang dengan harga. Ia baru saja keluar dari hidup di mana bantu-membantu dipakai untuk menutupi pengkhianatan. Bambang membantu Sari. Sari menerima bantuan. Semua orang punya alasan.

Arman tampaknya membaca keraguannya.

"Mobil saya dan sopir saya akan mengantar Ibu ke depan lobby hotel Ibu. Setelah itu selesai. Tidak ada kewajiban berbasa-basi."

Ratna mempertimbangkan.

Lututnya memang sakit. Hotel kecilnya tidak jauh, tetapi hujan membuat jalan licin.

"Baik. Terima kasih."

Mobil yang datang adalah hitam besar, bersih, dengan aroma kulit mahal. Sopir membukakan pintu. Ratna sempat ragu sebelum masuk. Arman duduk di sisi lain, memberi jarak cukup jauh.

Perjalanan hanya sepuluh menit.

Di dalam mobil, Arman tidak banyak bicara. Itu membuat Ratna sedikit lega.

Namun ketika mobil berhenti di depan hotel kecil Ratna, Arman berkata, "Bu Ratna."

Ratna menoleh.

"Ya?"

"Besok pagi, sebaiknya luka diperiksa lagi. Kalau Ibu tidak keberatan, saya bisa minta dokter hotel datang."

"Saya dokter."

"Betul. Tapi dokter juga bisa punya luka."

Ratna diam.

Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa mengenai tempat lain. Bukan lututnya.

Ia membuka pintu mobil.

"Saya akan periksa sendiri."

Arman mengangguk. "Baik."

Ratna turun. Sebelum menutup pintu, ia berkata, "Terima kasih sudah membantu tanpa banyak bertanya."

"Saya bisa bertanya lain kali."

Ratna menatapnya.

Arman tampak serius, tetapi matanya menyimpan sedikit humor.

"Kalau ada lain kali," tambahnya.

Ratna tidak menjawab. Ia menutup pintu mobil dan masuk ke hotel.

Malam itu, ia membersihkan diri, mengganti perban, lalu duduk di ranjang. Ponselnya penuh pesan dari anak-anak karena tadi sempat tidak bisa dihubungi.

Dimas: Bu, kenapa ponsel mati?

Raka: Ibu jawab.

Melati: Bu, jangan bikin kami panik.

Ratna mengirim pesan singkat di grup keluarga.

Ratna: Tas Ibu sempat dijambret, tapi sudah kembali. Luka sedikit di lutut. Ibu aman.

Telepon langsung masuk dari Raka.

Ratna mengangkat, menjauhkan ponsel dari telinga sebelum anaknya meledak.

"Ibu! Aku bilang apa? Jangan pergi sendiri!"

"Raka, Ibu aman."

"Aman apanya sampai dijambret?"

"Tas kembali. Orangnya ditangkap."

"Siapa yang bantu?"

Ratna terdiam sebentar.

"Orang lewat."

"Namanya?"

"Pak Arman."

"Arman siapa?"

Ratna menatap jendela kamar hotel. Di luar, lampu gang memantul di genangan hujan.

"Arman Wibisana."

Di seberang telepon, Raka terdiam.

Lalu suaranya berubah.

"Bu... Arman Wibisana yang mana?"

"Entahlah. Katanya pengusaha."

"Wibisana Group?"

"Mungkin."

"Ya Allah, Bu."

"Kenapa?"

Raka seperti menarik napas panjang. "Tidak apa-apa. Ibu istirahat. Besok aku cari tahu."

"Tidak perlu."

"Perlu."

Ratna menutup telepon setelah meyakinkan Raka tiga kali bahwa ia tidak pingsan, tidak patah tulang, dan tidak perlu dijemput malam itu juga.

Ia meletakkan ponsel.

Nama Arman Wibisana kembali muncul di pikirannya.

Bukan karena mobilnya. Bukan karena orang-orangnya. Bukan karena kemungkinan ia orang penting.

Tetapi karena kalimatnya.

Dokter juga bisa punya luka.

Ratna mematikan lampu.

Dalam gelap kamar hotel, ia menyentuh perban di lututnya.

Lukanya perih.

Tapi untuk pertama kalinya, ada orang asing yang melihat luka itu tanpa menyuruhnya sabar.

Keesokan paginya, sebelum Ratna check-out, resepsionis hotel kecil mengetuk pintu kamarnya.

"Bu, ada titipan."

Ratna membuka pintu dan menerima kantong kertas putih. Di dalamnya hanya ada perban steril, salep antiseptik, dan selembar catatan.

Periksa luka dua kali sehari. Kalau bengkak, jangan keras kepala.

Tidak ada tanda tangan, tetapi Ratna tahu dari siapa.

Ia menatap catatan itu lama.

Bambang selama bertahun-tahun sering berkata ia cerewet kalau mengingatkan obat. Arman, orang yang baru ia kenal, mengingatkan tanpa membuatnya merasa merepotkan.

Ratna memasukkan salep ke tas.

Catatannya ia lipat kecil, lalu tanpa sadar disimpan di dompet.

Saat kereta pulang bergerak meninggalkan Yogyakarta, Ratna membuka dompet untuk mengambil KTP saat pemeriksaan tiket. Catatan itu ikut terlihat.

Ia hampir membuangnya.

Untuk apa menyimpan tulisan laki-laki asing?

Namun tangannya berhenti. Catatan itu bukan janji, bukan rayuan, bukan bukti apa pun. Hanya kalimat pendek yang mengingatkan luka harus dirawat.

Ratna menyimpannya kembali.

Mungkin beberapa hal kecil boleh disimpan sebelum ia tahu artinya.

1
ika
Bu Rini skrg di apartemen???
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
Ida Yudiawati
bagus banget ceritanya
Tismar Khadijah
untuk menjadi penguat diri
ika
Bambang ma bu Ratna udah resmi cerai kah?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ika
gagal paham dech
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ika
ntar ntar...
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
Annisa
sedih nangis bombay/Sob//Sob//Sob/
Rika Yudesni
emosi oii
emosiiii akuuuuu
Annisa
bukannya ayah nya Arman sudah meninggal?
Bernadette Ivonne
😍💪Bu Ratna bina keluarga baru penu kebahagiaan
tris tanto
bisa move on gk aku dr nopel ini
tris tanto
sari gimn ituu
tris tanto
part dimana akan direal kehidupan kita dan semoga diusia senja kita sll ingat ALLAH SWT
santi suryaatmaja
😁😁 kadang agak membingungkan jalannya cerita, meskipun begitu masih dg bahasa yg tertata.
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan
santi suryaatmaja
katanya di rmh sewa, tp bu Rini koq masih bisa dengar dn pak Mahfud jg bisa langsung keluar dr pagar 😵‍💫
Bernadette Ivonne
👍
arniya
tetangga pada kepo
santi suryaatmaja
kalimat terakhir itu semua sama persis, dn sdh 33 th,, sakit memang meskipun semua bukan soal selingkuh 😔
Anita Tanjung
luarr biasa.. memberi batasan... itu penting. terimakasih author.. ini bagus sekali
Sri Supriatin
Say setuju alur ceritany bagus 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!