Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Impas
Setelah membuat teh untuk semuanya dan mama kembali ke atas untuk menemui papa. Dimas membuat susu untuk Neva.
Pelan, ia mengetuk pintu kamar Neva. Vano yang membuka pintunya. Dia terkejut karena ternyata Dimas yang mengetuk pintu kamarnya. Dia berfikir jika itu adalah Mama Arin.
“Pagi, Kak,” sapa Vano sopan.
Dimas tersenyum. “Pagi,” jawabnya.
Vano mempersilahkannya untuk masuk.
“Tuan putri apa kau sudah bangun?!” Dimas berseru sambil melangkah masuk membawa segelas susu. Neva yang melihat keberadaan Dimas langsung melebarkan matanya.
“Aaaa … Kak Dim kesini,” serunya. Ia merentangkan kedua tangannya dengan tatapan yang manja. “Astaga, kakak sangat sibuk hingga ku pikir kakak melupakanku. Hhhh coba ingat, kapan terakhir kakak kesini. Calon boss besar yang sombong,” gadis itu mengomelinya.
Setelah meletakkan gelas itu di atas meja. Dimas membungkuk untuk memeluk adik kecilnya yang cantik. Dia tidak pernah membenci Neva. Saat Neva lahir, dia sudah mulai bisa sedikit menerima kehadiran Mama Arin. Dan Neva adalah perempuan diantara mereka berdua, jadi dia suka dengan gadis kecil ini.
Mana yang harus Dimas salahkan? Tidak ada. Dia menerima banyak cinta di rumah ini. Dia sangat dihormati sebagai kakak tertua.
🍃🍃
Pagi yang sama di rumah Leo.
Setelah Leo selesai mandi. Kali ini, laki-laki itu hanya memakai sepotong handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Rambutnya basah dan berantakan.
Yuna langsung memeluknya, mengendus-endus aroma tubuh Leo yang menentramkan, juga memabukkan.
“Hmm. Daddy kau sangat wangi,” ujarnya dengan memejamkan mata. Dan tiba-tiba ia mengingat adegan siang di sofa kantor. Yuna bergidig. Ia segera membuka matanya. Benar-benar mendebarkan.
Leo melirik ke arah jam. Hari ini, dia harus berangkat lebih pagi karena Dion mengabarkan jika Dimas mengambil libur.
“Jadwal hari ini apa Momm? Apa ada kelas kehamilan lagi?” Tanya Leo sambil mengusap punggung Yuna.
Yuna menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya akan melakukan olahraga ringan di rumah. Lalu aku akan ke yayasan sebentar. Setelah itu … umm, sudah tidak ada lagi. Umm boleh aku ke kantor, Dadd? Apa kau sibuk hari ini?”
Leo menunduk mencium pucuk kepala Yuna. “Iya. Hari ini Kak Dimas mengambil libur jadi hari ini akan sedikit lebih sibuk,” jawab Leo.
Yuna mendongak menatapnya. Dia ingat tentang Nora.
“Daddy, kemarin aku sempat berbincang dengan Kak Nora,” ucap Yuna. Dia ingin memberitahu Leo.
“Hmm. Tentang apa?"
“Dia berencana untuk jujur sama Kak Dimas jika dulu dia sempat mencintaimu,” jelas Yuna. Ada rasa yang tidak nyaman dalam hatinya saat mengucapkan kalimat terakhir, ‘dia sempat mencintaimu.’ Yuna merasa menjadi sangat cemburuan sekarang.
Leo Diam. Ia masih menatap Yuna. “Kenapa tiba-tiba dia ingin jujur? Apa ada sesuatu?” tanyanya.
“Dia hanya tidak ingin ada rahasia yang ia sembunyikan. Kak Nora takut jika seseorang membuka rahasia itu, bukankah itu akan membuat Kak Dimas lebih kecewa.”
“Tidak ada yang tahu tentang itu selain Kiara dan kamu,” ucap Leo. Ucapan yang membuat Yuna langsung melepaskan pelukannya dan ia menatap Leo dengan kesal.
“Siapa? Siapa yang tahu rahasia itu selain aku?” tanyanya dengan nada yang tidak suka.
Seketika Leo tahu di mana letak salahnya. Dia menyebut nama Kiara di depan Yuna.
“Aku minta maaf,” ucap Leo segera. Dia tidak ingin ada perdebatan pagi ini. Dia harus segera berangkat ke kantor.
“Sepertinya kau tengah merindukannya, makanya kau sengaja menyebut namanya didepanku.”
“Aku tidak sengaja, Mom."
“Oh, tidak sengaja? Bagus. Itu artinya jauh di dalam dirimu tidak menyadari jika sebenarnya kau merindukannya.”
“Simpan pikiranmu yang tidak benar,” sahut Leo segera. Dia berjalan ke lemari pakaian dan segera mengganti baju.
“Mana yang tidak benar? Kau jelas menyebut namanya di depanku. Aku sudah bilang jika jangan pernah sekalipun kau menyebut namanya didepanku, aku tidak suka.”
“Suami Neva siapa namanya?” Leo bertanya.
“Vano,” jawab Yuna.
“Oke. Impas. Kau juga menyebut namanya.”
Yuna berkacak pinggang dengan kesal. Mana bisa begitu. Licik.
“Tidak ada hubungannya dengan Vano,” kata Yuna. Dia masih ingin marah karena Leo menyebut nama Kiara.
Leo membalik badan menatap Yuna. “Nah, kau menyebut namanya lagi. Aku hanya sekali, kau dua kali. Jadi, kau yang harus dihukum,” ucap Leo dan langsung memeluk pinggang Yuna lalu mencium pipinya penuh tekanan. Karena sebenarnya Leo ingin memakannya.
Yuna memukul dada Leo pelan. “Kau bertanya, jadi aku menjawabnya."
“Sama. Kau bercerita, aku menjawabnya,” ucap Leo tak mau kalah.
“Itu masalah yang beda,” Yuna melebarkan matanya. Mata bulat seperti mata burung hantu. Dan Leo semakin mencium pipinya.
“Sama. Sama-sama menyebut nama,” jawab Leo.
“Beda, Daddy,” Yuna masih tidak terima.
“Sama, Mommy.”
“Beda.”
“Sama, mmuach,” Leo mencium bibir Yuna dan kemudian ia melepaskannya. “Aku harus segera berangkat, Sayang,” ucap Leo. Dia kembali memakai pakaiannya.
“Daddy kau sangat menyebalkan,” ucap Yuna kesal.
“Huum. Jadi tunggulah aku pulang, Sayang,” jawab Leo. Dan Yuna langsung melangkah untuk masuk kedalam pelukannya. Leo menepuk bokongnya pelan.
“Padahal seharusnya aku marah tapi kau selalu menggemaskan. Itu sangat membuatku kesal,” ucap Yuna.
Leo menepuk bokongnya lagi dan kemudian menunduk untuk mencium bibirnya. “Wanita hamil tidak boleh kesal,” ucapnya. Ia mencium bibir Yuna lagi. Lagi dan lagi. “Apa sudah cukup?” tanyanya.
Yuna menggeleng.
Leo kembali menunduk dan mencium bibir Yuna lagi. “Tunggu aku, oke."
Kali ini Yuna mengangguk. “Cepat pulang. Jangan kemalaman,” pinta Yuna dengan suaranya yang manja.
“Baik.”
Setelah pamit pada Yuna. Leo pamit pada si kecil. Dia meminta maaf karena tidak bisa mengantarnya sekolah.
“Hmm, cium Daddy,” pinta Leo. Dia memberikan pipinya dan si kecil dengan patuh mencium pipinya.
“Apa Daddy pulang malam lagi?” tanya si kecil sedih.
“Daddy akan berusaha untuk tidak pulang malam,” jawab Leo.
Si kecil mengangguk dan ia mencium pipi Leo lagi.
“Minggu depan kita liburan ke rumah Kakek, setuju?” kata Leo.
Wajah Arai langsung berbinar. “Setuju,” ucapnya dengan bahagia.
“Stttt, tapi ini rahasia kita berdua, oke,” ucap Leo.
“Oke,” si kecil setuju.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..