Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Mimpi Buruk
Dan mata merah itu tidak mau pergi.
Keira menekan kedua telapak tangan ke telinga, tetapi suara dari mimpi masih merayap masuk dari sela-sela jarinya.
Keira.
Suara itu serak, patah, seperti seseorang memanggil dari dasar api.
Ia duduk di tengah ranjang besar Sayap Giok dengan napas tersengal. Kamar gelap. AC menyala pelan. Tirai bergerak sedikit oleh angin malam dari celah jendela. Semua benda di sekitarnya terlalu rapi, terlalu mahal, terlalu nyata.
Tetapi di hidungnya masih ada bau asap.
Di kulitnya masih ada panas.
Mimpi itu bukan sekadar potongan kali ini. Ia melihat semuanya lebih jelas. Aula besar di puncak sebuah gedung, mungkin Hendrawan Tower, dengan lampu kristal yang jatuh menghantam lantai. Kaca pecah di mana-mana. Musik berhenti di tengah nada. Orang-orang berlari, menjerit, saling dorong menuju pintu yang sudah dipenuhi api.
Di lantai marmer, beberapa tubuh tidak bergerak.
Keira dalam mimpi itu terbaring di dekat pilar yang hangus. Ada darah di bajunya. Ada rasa dingin di perutnya, aneh sekali di tengah panas yang hampir membakar udara.
Lalu pria itu muncul.
Setelan jasnya robek. Satu sisi wajahnya penuh darah. Tangannya gemetar saat ia mengangkat pecahan kayu yang menahan jalan. Matanya merah, bukan merah karena menangis. Merah seperti bara. Merah seperti sesuatu di dalam tubuhnya pecah dan membakar dari dalam.
Ia memanggil nama Keira berkali-kali.
Ketika menemukannya, pria itu jatuh berlutut. Ia mengangkat tubuh Keira seolah takut tulangnya akan hancur jika disentuh terlalu keras. Di jari tangannya ada cincin stempel gelap, tergores, panas oleh api.
Keira dalam mimpi itu tidak bisa bergerak.
Tetapi ia bisa merasakan tangan pria itu. Gemetar. Kuat. Putus asa.
Pria itu menunduk ke telinganya. Bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu yang tenggelam oleh suara api. Keira berusaha mendengar, tetapi hanya satu kalimat yang sampai.
Jangan pergi.
Lalu langit-langit runtuh.
Keira tersedak oleh udara kamar.
"Mbak Keira!"
Pintu terbuka. Ningsih masuk dengan kerudung miring dan wajah panik. "Mbak kenapa? Saya dengar suara Mbak!"
Keira menatapnya beberapa detik sebelum bisa bicara.
"Tidak apa-apa."
"Mbak pucat sekali."
"Mimpi buruk." Keira memaksa tangannya turun dari dada. "Aku cuma mimpi buruk. Kamu tidur lagi."
Ningsih jelas tidak percaya. "Saya ambil air hangat?"
"Tidak. Aku mau sendiri dulu."
"Tapi..."
"Ning." Suara Keira melembut, tetapi tetap tegas. "Tolong."
Ningsih menggigit bibir, lalu mengangguk. "Kalau Mbak butuh saya, panggil ya."
Setelah pintu tertutup, Keira tidak bisa bertahan di kamar itu lagi.
Ia turun dari ranjang tanpa menyalakan lampu. Lantai dingin menyentuh telapak kakinya. Ia tidak mengambil sandal. Tidak mengganti baju tidur. Hanya meraih cardigan tipis dari kursi, lalu keluar dari Sayap Giok dengan langkah cepat.
Compound pada dini hari terlihat seperti dunia yang berbeda.
Lampu taman redup. Pohon-pohon diam. Udara Jakarta lembap dan hangat, tetapi Keira menggigil seolah baru keluar dari lemari es. Batu pijakan di bawah kakinya kadang licin oleh embun. Satu kali ia hampir terpeleset, tetapi ia terus berjalan.
Ia tidak tahu ke mana harus pergi sampai tubuhnya memilih sendiri.
Kolam Teratai.
Tempat ia terbangun. Tempat semua ini dimulai.
Air kolam tampak hitam di bawah langit malam. Daun-daun teratai mengambang seperti bayangan bundar. Beberapa bunga masih tertutup, menunggu pagi. Suara air mancur kecil terdengar pelan, stabil, seolah dunia tidak pernah terbakar.
Keira berhenti di tepi kolam.
Lalu ia melihat Darren.
Pria itu duduk di bangku batu dekat air, tidak memakai jas, tidak memakai wajah CEO yang membuat orang menunduk. Hanya kaus hitam longgar dan celana rumah gelap. Rambutnya sedikit berantakan. Di tangannya ada botol obat kecil yang belum dibuka.
Wajahnya pucat.
Di bawah matanya ada bayangan gelap yang bahkan malam tidak bisa menyembunyikan. Ia tampak seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur, atau tidak berani tidur.
Darren menoleh ketika mendengar langkahnya.
Mata mereka bertemu.
Cokelat gelap.
Normal.
Tetapi ingatan tentang mata merah itu menghantam Keira begitu keras sampai lututnya hampir lemas.
"Keira?"
Suara Darren rendah, sedikit serak.
Itu cukup.
Keira berlari.
Ia tidak berpikir. Tidak menghitung untung rugi. Tidak mengingat bahwa pria ini jarang disentuh orang, bahwa ia harus menjaga jarak, bahwa gadis seperti dia tidak seharusnya memeluk pemilik rumah pada dini hari di pinggir kolam.
Ia hanya menabrak dada Darren dan memeluknya sekuat yang ia bisa.
Tubuh Darren langsung kaku.
Tangannya terangkat di udara, tidak tahu harus diletakkan di mana. Botol obat kecil jatuh ke bangku batu dan menggelinding pelan sebelum berhenti di dekat pahanya.
Keira menempelkan wajah ke dadanya.
Jantung Darren berdetak lambat. Terlalu lambat untuk seseorang yang tubuhnya sedingin ini.
"Kamu jangan mati," bisik Keira.
Darren diam.
Keira menggenggam kain kausnya lebih erat. Seluruh tubuhnya gemetar sekarang, bukan hanya karena takut, tetapi karena kata-kata itu keluar sebelum bisa ditahan. "Jangan mati. Jangan masuk ke api itu. Jangan..."
Ia tidak tahu apa yang ia katakan.
Ia hanya tahu ia tidak sanggup melihat pria bermata merah itu memeluk mayatnya lagi.
Malam menahan napas.
Satu detik.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Lalu tangan Darren turun.
Sentuhannya pertama-tama ragu, hampir tidak terasa, di punggung Keira. Seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang bisa hilang jika ditekan terlalu keras. Kemudian telapak tangannya menetap di sana, hangat dan berat, menahan gemetar tubuhnya.
"Aku tidak akan mati," kata Darren.
Keira memejamkan mata.
Kalimat itu tidak terdengar seperti janji besar. Tidak ada sumpah, tidak ada kata manis, tidak ada alasan. Hanya suara rendah seorang pria yang mungkin bahkan tidak tahu dari mana ketakutannya berasal.
Tetapi untuk Keira, kalimat itu menjadi pegangan.
"Benar?"
"Benar."
"Jangan bohong."
"Saya jarang bohong."
Keira hampir tertawa, tetapi yang keluar justru isak pendek.
Darren tidak bertanya apa yang ia lihat. Tidak bertanya kenapa ia tahu api, kenapa ia bicara mati, kenapa ia datang dengan kaki telanjang dan tubuh basah keringat dingin. Ia hanya duduk diam ketika Keira akhirnya melepas pelukan sedikit, lalu menarik cardigan di bahu Keira agar menutup lebih rapat.
"Duduk."
Keira menurut.
Mereka duduk berdampingan di bangku batu menghadap Kolam Teratai. Jarak antara tubuh mereka tidak jauh. Bahu Keira menyentuh lengan Darren setiap kali ia masih gemetar. Tangan Darren tetap berada di bahunya, tidak erat, tetapi tidak pergi.
Di dekat mereka, botol obat kecil tergeletak.
Keira menatapnya.
"Pak Darren sakit?"
"Tidak."
Jawaban itu terlalu cepat.
Keira menoleh. "Kalau tidak sakit, kenapa bawa obat jam segini?"
Darren mengambil botol itu dan memasukkannya ke saku. "Untuk tidur."
"Obat tidur?"
"Semacam itu."
Keira tahu ketika seseorang menutup pintu pembicaraan. Ia sudah terlalu sering melihatnya. Kevin melakukannya saat menyerahkan dia ke compound. Bu Wati melakukannya saat donatur bertanya kenapa kaki anak-anak penuh bekas pukulan.
Tapi Darren bukan Bu Wati. Dan malam ini, Keira belum punya hak untuk memaksa.
Maka ia diam.
Angin lewat di atas kolam. Perlahan, napasnya mulai stabil. Ia bisa mendengar suara serangga malam, gemericik air, dan detak jantungnya sendiri yang tidak lagi berlari.
"Aku mimpi api," katanya akhirnya, sangat pelan.
Darren tidak menoleh, tetapi tangannya di bahu Keira tidak bergerak.
"Di mimpi itu..." Keira menatap air. "Ada seseorang yang kehilangan semuanya."
"Kamu takut?"
"Iya."
"Karena orang itu?"
Keira menggigit bibir. "Karena rasanya aku pernah gagal menyelamatkannya."
Darren diam lebih lama.
"Mimpi hanya mimpi."
Keira menatap profil wajahnya. Garis rahangnya keras. Matanya menghadap kolam, tetapi pikirannya jelas berada di tempat lain.
Mimpi hanya mimpi.
Mungkin bagi orang lain begitu. Tapi tubuh Keira tahu rasa api itu. Telinganya tahu suara Darren di dalam kobaran. Dadanya tahu rasa terlambat.
Tidak.
Ini bukan sekadar mimpi.
Ini peringatan.
Keira menggenggam ujung cardigan di depan dadanya. Di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini hanya berupa naluri mulai berubah menjadi keputusan.
Ia tidak akan pergi.
Bukan hanya karena ada nasi. Bukan hanya karena ada atap. Bukan hanya karena Liontin Giok di sakunya terasa seperti kunci rahasia.
Ia akan tinggal karena pria di sampingnya punya akhir yang mengerikan di suatu tempat yang belum ia pahami.
Dan jika Tuhan, takdir, atau apa pun yang menyeretnya kembali ke Kolam Teratai memberi kesempatan kedua, maka Keira tidak akan menggunakannya hanya untuk bertahan hidup.
Ia akan mengubah akhir itu.
"Pak Darren."
"Hmm."
"Besok Pak Darren kerja?"
Darren meliriknya. "Kenapa?"
"Jawab saja."
"Tergantung."
Keira mengingat layar berita merah dalam mimpinya, kantor kosong, dan nama Yuwono yang ia dengar di telepon.
"Kalau ada rapat penting, jangan bolos."
Darren menatapnya lebih lama. "Kamu sekarang mengatur jadwal saya?"
Keira masih pucat. Matanya masih merah. Tapi untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak gemetar.
"Kalau tidak ada yang mengatur, Pak Darren bisa mati."
Darren menatapnya.
Lalu, sangat pelan, ia berkata, "Kamu aneh."
"Saya tahu."
Keira bersandar sedikit, membiarkan bahunya tetap berada di bawah tangan Darren. Untuk saat ini, itu cukup.
Ketika langit mulai memucat, ia sudah tidak menggigil lagi.
Namun di kepalanya, satu keputusan berdiri semakin jelas.
Mulai besok, ia harus mencari tahu.
Jadwal Darren. Rapatnya. Orang-orang yang membuatnya lelah. Nama Yuwono yang membuat suaranya berubah.
Dan terutama, rahasia tanggal lima belas.