NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Bisikan dari Kegelapan

Lance kemudian menjelaskan seluruh hasil pengamatannya selama berbulan-bulan. Ia menceritakan bagaimana Empire Krusador terus memindahkan pasukan dan logistik ke wilayah perbatasan secara diam-diam, membangun jalur suplai perang, hingga akhirnya melancarkan invasi besar yang dipimpin langsung oleh Pangeran Lucien Krusador.

Alfaro tidak menyela sedikit pun.

Ia mendengarkan setiap laporan dengan wajah yang semakin suram.

Setelah Lance selesai, Ryosuke melangkah maju.

Ia masih mengingat dengan jelas pemandangan yang baru saja mereka tinggalkan.

"Aku melihatnya sendiri."

Suara Ryosuke terdengar berat.

"Pangeran Lucien memimpin langsung pasukannya."

"Mereka tidak hanya menyerang tentara."

"Mereka membantai penduduk desa."

"Wanita..."

"Anak-anak..."

"Orang tua..."

"...tidak ada yang mereka ampuni."

Kedua tangan Ryosuke perlahan mengepal.

"Itu bukan perang."

"Itu pembantaian."

Alfaro menutup kedua matanya sejenak.

Beberapa saat kemudian ia membuka mata dan memandang seluruh anggota yang berada di dalam tenda.

"Kalau laporan ini benar..."

"...maka Green Continent sedang menghadapi perang terbesar dalam sejarahnya."

Tidak ada seorang pun yang membantah.

Semua menyadari bahwa sejak hari itu, kehidupan mereka sebagai tentara bayaran tidak akan pernah sama lagi. Di luar barak, semakin banyak pengungsi mulai berdatangan mencari perlindungan, sementara dari kejauhan asap hitam masih tampak membumbung di langit utara, menjadi pertanda bahwa langkah invasi Empire Krusador baru saja dimulai.

Keheningan menyelimuti tenda utama setelah Ryosuke menyelesaikan laporannya.

Tidak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata.

Di atas meja kayu, peta perbatasan Green Continent terbentang dengan beberapa penanda yang menunjukkan desa-desa di sekitar Benteng Vargan. Alfaro Perez menatap peta itu lama sekali. Apa yang selama ini ia khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi.

Puluhan ribu pasukan.

Dipimpin langsung oleh Pangeran Lucien Krusador.

Itu bukan lagi sekadar bentrokan di perbatasan.

Itu adalah invasi.

Alfaro mengembuskan napas panjang sebelum menatap Lance.

"Berapa lama menurut perkiraanmu sebelum mereka mencapai Benteng Vargan?"

Lance menjawab tanpa ragu.

"Jika mereka tidak berhenti untuk mengamankan desa-desa yang telah direbut, paling lambat tiga atau empat hari."

"Tetapi melihat cara mereka bergerak..."

"...mereka kemungkinan akan membersihkan seluruh wilayah perbatasan terlebih dahulu agar jalur suplai mereka aman."

Alfaro mengangguk pelan.

Analisis itu sesuai dengan apa yang ada di benaknya.

Pasukan sebesar itu tidak mungkin bergerak tanpa persiapan logistik yang matang.

Mereka datang bukan untuk menyerbu sesaat.

Mereka datang untuk menduduki.

Alfaro menggulung peta di atas meja.

"Kita tidak punya waktu."

Ia mengambil mantel panjangnya yang tergantung di dekat pintu tenda.

"Lance."

"Ya."

"Aku akan pergi ke Benteng Vargan."

Lance mengangkat wajahnya.

"Aku harus menyampaikan laporan ini langsung kepada komandan benteng."

"Kalau mereka terlambat bersiap..."

"...seluruh garis pertahanan bisa runtuh."

Lance mengangguk.

"Aku mengerti."

Alfaro kemudian memandang seluruh anggota Shugo Ryu.

"Kalian sudah melakukan tugas dengan baik."

"Mulai sekarang, serahkan urusan ini kepadaku."

Ia melangkah keluar dari tenda.

Tidak lama kemudian suara derap kuda terdengar dari luar barak. Beberapa tentara bayaran melihat Alfaro memacu kudanya menuju jalan utama yang mengarah langsung ke Benteng Vargan.

Suasana barak perlahan berubah.

Kabar mengenai invasi Empire Krusador menyebar jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan siapa pun.

Para tentara bayaran yang semula masih bercanda di sekitar gudang senjata mulai menghentikan aktivitas mereka. Beberapa segera memeriksa pedang dan zirah masing-masing, sementara yang lain membantu memindahkan peti-peti perbekalan ke tempat yang lebih mudah dijangkau apabila sewaktu-waktu mereka harus bergerak.

Lance mengambil alih komando sementara.

Suara peluitnya menggema di seluruh barak.

"Semua berkumpul di lapangan!"

Dalam beberapa menit, ratusan tentara bayaran telah berdiri membentuk barisan.

Mereka saling bertukar pandang, mencoba menebak apa yang sedang terjadi.

Lance berdiri di depan mereka.

Wajahnya lebih serius daripada biasanya.

"Dengarkan baik-baik."

"Empire Krusador telah melancarkan invasi besar ke wilayah Green Continent."

Kalimat itu langsung membuat suasana menjadi gaduh.

"Apa?"

"Perang?"

"Jadi kabar itu benar?"

Lance mengangkat tangannya.

Suasana kembali tenang.

"Mulai hari ini tidak ada lagi anggota yang meninggalkan barak tanpa perintah."

"Periksa senjata kalian."

"Pastikan perbekalan untuk beberapa hari ke depan telah siap."

"Rawat kuda-kuda."

"Dan bersiaplah."

Ia berhenti sejenak.

"Kita mungkin akan berangkat kapan saja."

Tidak ada lagi suara bercanda setelah pengumuman itu selesai.

Semua orang segera bergerak menjalankan tugas masing-masing.

Di sudut barak, Hector membantu memindahkan peti-peti berisi makanan kering ke gudang logistik. Melinda memeriksa busur, anak panah, serta perlengkapan berburu yang biasa ia gunakan, sementara Amanda bersama beberapa penyihir tentara bayaran mulai menghitung persediaan Crystal Rune yang tersimpan di gudang.

Hana ikut membantu para tabib menyiapkan obat-obatan dan perban untuk menghadapi kemungkinan datangnya korban luka dalam jumlah besar.

Barak yang biasanya dipenuhi tawa kini berubah menjadi tempat yang sibuk oleh persiapan perang.

Namun di tengah kesibukan itu...

Satu orang menghilang tanpa disadari siapa pun.

Ryosuke.

Sejak keluar dari tenda Alfaro, ia berjalan seorang diri meninggalkan barak tanpa tujuan yang jelas.

Langkahnya membawanya menyusuri tepian hutan yang berada tidak jauh dari Benteng Vargan. Semakin jauh ia berjalan, suara para tentara bayaran perlahan menghilang, berganti dengan desir angin yang menerpa dedaunan.

Ia berhenti di sebuah bukit kecil.

Dari tempat itu, sebagian wilayah perbatasan masih terlihat.

Asap hitam masih membumbung di kejauhan.

Entah berasal dari desa mana.

Ryosuke memejamkan mata.

Bayangan para penduduk yang dibantai pasukan Krusador kembali memenuhi pikirannya.

Wajah anak kecil yang menangis.

Jeritan para wanita.

Rumah-rumah yang dilalap api.

Semuanya bercampur dengan kenangan tentang desanya sendiri.

Ia perlahan menundukkan kepala.

"Aku..."

"...masih terlalu lemah."

Tangannya tanpa sadar menggenggam gagang katana di pinggang kirinya.

Tenkū Matō.

Pedang hitam yang ia temukan beberapa waktu lalu itu tetap terdiam seperti biasanya.

Namun...

Untuk pertama kalinya...

Ryosuke merasakan sesuatu.

Bukan hawa dingin.

Bukan pula aliran mana.

Melainkan sebuah suara.

Sangat pelan.

Nyaris tidak terdengar.

("...Lemah...")

Ryosuke membuka matanya.

Ia menoleh ke kanan.

Tidak ada siapa pun.

Ke kiri.

Tetap kosong.

Suara itu kembali terdengar.

Lebih jelas daripada sebelumnya.

("...Kau ingin melindungi mereka...")

("...tetapi kau bahkan tidak mampu menyelamatkan siapa pun...")

Tubuh Ryosuke menegang.

Ia langsung mencabut Tenkū Matō dan menatap bilah hitam itu.

"Siapa?"

Keheningan kembali menyelimuti bukit itu.

Namun beberapa detik kemudian...

Suara yang sama kembali berbisik.

Kali ini terdengar seolah berasal dari dalam pedang yang berada di tangannya.

("...Menjadi lebih kuat...")

("...atau terus menyaksikan semua yang ingin kau lindungi direnggut darimu...")

Ryosuke memandang Tenkū Matō tanpa berkedip.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Untuk pertama kalinya sejak menemukan pedang legendaris itu...

Tenkū Matō menjawab pemiliknya.

Ryosuke tetap memegang Tenkū Matō dengan erat.

Tatapannya tidak pernah lepas dari bilah hitam yang memantulkan cahaya matahari senja itu.

Angin yang semula berembus perlahan mendadak berhenti.

Seluruh hutan berubah sunyi.

"...Siapa kau?" tanya Ryosuke sekali lagi.

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Ryosuke mengernyitkan dahi.

"Kalau ini hanya ilusiku..."

"...keluarlah."

Beberapa saat kemudian suara itu terdengar kembali.

Lebih jelas.

Lebih berat.

Seolah bergema langsung di dalam kesadarannya.

("...Aku selalu berada di sini...")

Ryosuke terdiam.

Tangannya refleks menggenggam gagang pedang lebih kuat.

("...Sejak pertama kali kau menyentuhku...")

Suara itu bukan suara manusia.

Tidak dapat ditebak tua atau muda.

Laki-laki ataupun perempuan.

Yang terasa hanyalah hawa dingin yang perlahan menyelimuti tubuh Ryosuke.

"Apa kau..."

"...roh pedang ini?"

Suara itu tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian...

("...Manusia selalu membutuhkan nama...")

("...Padahal kekuatan tidak membutuhkan nama...")

Ryosuke menarik napas panjang.

Ia mulai menyadari bahwa suara itu memang berasal dari Tenkū Matō.

Namun ia tidak merasakan niat membunuh.

Yang ia rasakan justru tekanan yang luar biasa besar.

Seolah pedang itu sedang mengamatinya.

Menilai dirinya.

("...Kau marah...") bisik suara itu.

("...Kau menyesal...")

("...Kau membenci kelemahanmu sendiri...")

Ryosuke menutup mata.

Bayangan desa yang terbakar kembali muncul.

Jeritan para penduduk.

Tangisan anak-anak.

Lalu wajah kedua orang tuanya.

Semuanya bercampur menjadi satu.

"Aku..."

"...tidak ingin melihat itu lagi."

Jawabannya keluar hampir seperti bisikan.

..._BERSAMBUNG _...

1
Tosari Agung
krusador ini mau nguasain satu dunia ya hebat juga bahkan pasokan makanannya gak habis habis
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: karena persiapan memang sudah di lakukan sejak lama sebelum perjanjian damai Krusador dengan green continent di rusak oleh putra mahkota Lucien Krusador dan setiap pergerakan garnisun Krusador melakukan penjarahan di desa desa sekitar yg di lalui nya.desa Ryosuke Kagawa sebagai uji coba senjata rune Cannon sekaligus rencana Lucien menghancurkan perjanjian damai berdalih green continent melakukan Serangan ke wilayah Krusador
total 1 replies
mary dice
setelah sekian lama tenku mato mengeluarkan kesaktiannya sampai bikin tuannya 😱
Anisa Nur Afifah
sampai sini duluuu Kak, nantii ku lanjut bacaaa
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: thanks sudah mampir 🙏🏻
total 1 replies
HikmahToo
semangat lanjut thorr👍
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!