NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Lorong Rahasia

Raven menyalakan senter dan mengarahkan cahayanya ke lorong yang baru terbuka.

Tangga batu yang lembap memanjang ke bawah tanah. Udara dingin berembus dari dalam, membawa aroma kayu tua dan debu yang telah mengendap selama puluhan tahun.

"Leo, bawa beberapa orang bersamaku," perintah Raven.

"Siap, Tuan."

Aurora melangkah maju.

"Aku ikut."

Raven langsung menggeleng.

"Tidak."

Aurora menatapnya kesal.

"Aku sudah ikut sejauh ini."

"Di bawah sana mungkin berbahaya."

"Aku tetap ikut."

Luca tersenyum kecil melihat mereka berdebat.

"Aku rasa tidak ada yang bisa menghentikannya."

Raven menghela napas panjang.

"Baik. Tapi jangan jauh dariku."

Aurora mengangguk puas.

Mereka berlima mulai menuruni tangga.

Semakin ke bawah, lorong itu semakin gelap. Dinding batu dipenuhi ukiran burung phoenix dan simbol mahkota hitam yang tampak saling berhadapan.

"Kenapa ada dua simbol?" gumam Elena.

Black King yang pernah mereka temui selalu menggunakan lambang mahkota hitam, sementara burung phoenix adalah lambang keluarga Valerio.

Seolah-olah kedua kelompok itu memiliki hubungan yang belum mereka pahami.

Di ujung lorong, mereka menemukan sebuah pintu besi besar.

Raven mendorongnya perlahan.

Pintu itu terbuka dengan suara berderit panjang.

Di baliknya terdapat ruangan luas yang dipenuhi rak-rak buku, peti kayu, dan berbagai dokumen tua.

"Tempat apa ini?" tanya Aurora pelan.

Leo memeriksa salah satu rak.

"Sepertinya ruang penyimpanan rahasia."

Luca berjalan ke sebuah meja kayu yang tertutup debu tebal.

Di atas meja terdapat sebuah buku kulit hitam.

Saat ia membukanya, sebuah foto jatuh ke lantai.

Aurora mengambil foto itu.

Di dalam foto terlihat Matteo Alvaro, Adrian Valerio, Vittorio De Luca... dan seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip dengan Black King saat masih muda.

Di belakang foto tertulis:

"Empat sahabat. Bersumpah menjaga keseimbangan dunia bawah."

Semua saling berpandangan.

"Jadi..." bisik Elena.

"Mereka dulu bukan musuh."

Raven mengepalkan tangan.

"Kalau begitu, apa yang membuat mereka saling membunuh?"

Belum sempat ada yang menjawab, Luca menemukan sebuah kotak besi kecil yang terkunci.

Di atas tutupnya terukir simbol phoenix.

Raven mencoba membukanya, tetapi tidak berhasil.

Tiba-tiba Luca mengeluarkan kalung phoenix yang diberikan Black King di makam Adrian.

Saat liontin itu ditempelkan pada ukiran di kotak, terdengar bunyi klik.

Kotak itu terbuka.

Di dalamnya hanya ada sebuah kaset suara kecil dan secarik surat.

Raven menekan tombol pemutar.

Suara Adrian Valerio terdengar memenuhi ruangan.

"Jika kalian mendengar rekaman ini, berarti perang yang kami takutkan benar-benar terjadi."

Semua terdiam.

"Black King bukan musuh kita."

"Musuh yang sebenarnya adalah..."

Tiba-tiba suara rekaman terputus.

Lampu di ruangan mendadak padam.

Brak!

Pintu besi di belakang mereka tertutup dengan keras.

"Siapa di sana?" teriak Leo sambil mengangkat pistol.

Dari balik kegelapan terdengar suara tepuk tangan yang pelan.

Tok... Tok... Tok...

Suara itu semakin mendekat.

Sesosok pria keluar dari bayangan dengan senyum tipis di wajahnya.

Damian.

Ia memandang Raven dengan penuh ejekan.

"Kalian akhirnya menemukan tempat ini."

Raven mengarahkan pistolnya.

"Kali ini kau tidak akan lolos."

Damian tertawa pelan.

"Aku memang tidak berniat kabur."

"Aku datang..."

"...untuk menghabisi seluruh pewaris keluarga Valerio sekaligus."

Di belakang Damian, belasan pria bersenjata mulai bermunculan dari lorong-lorong gelap, menutup semua jalan keluar.

Pertempuran besar di ruang rahasia pun tak lagi dapat dihindari.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!