NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18: Tatapan Mata yang Melelehkan Es

Cengkeraman Adrian pada pergelangan tangan Gisella tidak mengendur sedikit pun, namun intensitasnya telah berubah.

Itu bukan lagi cengkeraman seorang investigator yang sedang menginterogasi tersangka, melainkan jangkar dari seorang pria yang ego dan dunianya sedang diombang-ambingkan oleh badai ketidakpastian.

Di ruang tengah yang kini hanya diterangi oleh temaram lampu dinding otomatis dan sisa-sisa semburat jingga dari jendela, napas keduanya memburu, saling berkejaran di udara yang mendadak terasa tipis.

Gisella bisa merasakan panas yang menjalar dari telapak tangan Adrian, menembus kulitnya, lalu naik merayapi pembuluh darahnya hingga berpusat di dada.

Kata-kata Adrian—"Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah kau mengacaukan detak jantungku"—terus terngiang, meruntuhkan sisa-sisa ketenangan profesional yang selalu dia banggakan.

"Adrian..."

Suara Gisella keluar dalam bentuk bisikan yang hampir tidak terdengar, serak oleh gelombang emosi yang tiba-tiba menyumbat tenggorokannya.

"Lepaskan. Kau keterlaluan."

"Keterlaluan dalam hal apa, Gisella? Dalam hal menuntut tanggung jawab atas apa yang sudah kau mulai di rumah ini?"

Adrian justru memajukan wajahnya satu sentimeter lagi.

Di balik lensa kacamata peraknya, sepasang mata elang yang biasanya sedingin es kutub kini tampak... meleleh.

Ada binar yang sangat cair, sebuah kombinasi antara kerentanan, rasa frustrasi, dan gairah intelektual yang telah bergeser menjadi gairah emosional yang murni.

Es yang selama enam bulan ini membekukan pernikahan mereka, hancur berkeping-keping bukan karena kemarahan, melainkan karena tatapan mata yang menuntut kebenaran hati.

Gisella tidak lagi mencoba menarik tangannya.

Dia tahu itu sia-sia. Alih-alih menghindar, dia memilih untuk menantang tatapan itu.

Dia mendongak, membiarkan sepasang mata cokelat jernihnya menatap langsung ke dalam manik mata hitam Adrian.

Jika dalam cerita aslinya Adrian Arthur adalah sosok yang tak tersentuh dan penuh kalkulasi, maka Gisella di duniaku adalah seorang wanita yang terlatih untuk membaca manusia di bawah tekanan tertinggi.

Dan saat ini, yang dia lihat di depan matanya bukanlah seorang profesor yang kejam, melainkan seorang pria kesepian yang sedang ketakutan setengah mati karena menyadari dirinya mulai peduli pada seseorang yang berniat meninggalkannya.

"Kau meminta tanggung jawab?"

tanya Gisella, suaranya kini melunak, kehilangan nada defensifnya.

"Tanggung jawab untuk apa? Aku memasak untukmu agar kau tidak mati muda karena penyakitmu. Aku menahanmu di ruang makan tadi pagi agar kau tidak hancur di jalanan maut itu. Aku memainkan piano ini karena aku tahu otakmu yang jenius itu butuh istirahat. Apakah menawarkan kemanusiaan di rumah yang dingin ini adalah sebuah kesalahan yang harus ku tanggung dengan menyerahkan kebebasanku?"

Mendengar rentetan pertanyaan itu, perlahan-lahan, ketegangan di bahu Adrian merosot.

Tatapan matanya yang tajam melunak, digantikan oleh ekspresi tidak berdaya yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini—bahkan tidak pada ibunya sendiri.

Ibu jari Adrian bergerak perlahan, mengusap pergelangan tangan Gisella yang berada di dalam genggamannya dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti sebuah permintaan maaf yang tak terucapkan.

"Itu bukan kesalahan, Gisella,"

bisik Adrian, suaranya terdengar berat dan lelah.

"Tapi itu adalah candu. Kau memberikan semua kenyamanan itu kepada pria yang terbiasa hidup dalam penolakan dan keheningan. Kau membuatku melihat bagaimana rasanya memiliki rumah yang sesungguhnya. Dan sekarang, kau berdiri di sini, memegang kertas sialan itu, dan menyuruhku menghitung mundur hari sampai kau berjalan keluar dari pintu itu?"

Adrian melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Gisella, namun dia tidak menjauh.

Kedua tangannya perlahan naik, hinggap di kedua sisi wajah Gisella, membingkai pipi wanita itu dengan telapak tangannya yang hangat.

Sentuhan itu begitu protektif, seolah jika dia melepaskannya sedikit saja, jiwa di dalam tubuh ini akan menguap kembali ke dimensi asalnya.

"Aku tidak peduli dari mana asalmu,"

ucap Adrian lagi, kali ini dengan penekanan yang begitu dalam hingga getarannya terasa di dada Gisella.

"Aku tidak peduli jika kau harus membohongi seluruh dunia tentang siapa dirimu. Tapi di depan mata ini... di hadapanku... jangan pernah sebutkan lagi tentang kepergianmu."

Gisella terpaku.

Sentuhan tangan Adrian di pipinya terasa begitu nyata, begitu mengikat.

Di duniaku yang dulu, dia selalu menjadi orang yang mengendalikan situasi, orang yang mengatur strategi di balik layar.

Namun di sini, di bawah tatapan mata Adrian yang telah melelehkan seluruh egonya, Gisella menyadari bahwa dialah yang sekarang sedang dikendalikan oleh perasaan asing bernama keterikatan.

Dia ingin egois.

Dia ingin mengatakan bahwa dia harus kembali atau setidaknya menyelamatkan dirinya sendiri dari akhir cerita novel ini.

Namun, menatap mata Adrian yang begitu penuh harap, kata-kata itu tertahan di ujung lidah.

"Bagaimana jika... keberadaanku di sini justru akan membawamu pada akhir yang buruk, Adrian?"

tanya Gisella lirih, merujuk pada plot novel aslinya di mana kehancuran keluarga Arthur selalu berputar di sekitar sosok Gisella.

Adrian menatapnya, seulas senyuman tipis—senyuman tulus pertama yang benar-benar menghiasi wajah tampannya—muncul perlahan.

"Aku adalah seorang ilmuwan, Gisella. Tugas keberadaanku adalah memecahkan anomali dan mengubah prediksi buruk menjadi hasil eksperimen yang sukses. Kita sudah mengubah takdir di jalanan maut tadi pagi. Apa yang membuatmu berpikir kita tidak bisa mengubah sisa takdir lainnya?"

Gisella tertegun.

Logika Adrian kali ini tidak bisa dibantah.

Pria ini baru saja menggunakan pendekatan ilmiahnya untuk memvalidasi hubungan mereka.

Sebelum atmosfer di antara mereka menjadi semakin intens dan berbahaya bagi kewarasan kompas jantung mereka, suara dehaman pelan dari arah koridor belakang memecah keheningan.

"Ehem."

Adrian dan Gisella tersentak bersamaan.

Dengan canggung namun berusaha tetap terlihat tenang, Adrian menurunkan tangannya dari wajah Gisella dan melangkah mundur satu langkah, sementara Gisella pura-pura merapikan gaun rajutnya yang tidak kusut.

Valerie berdiri di dekat pilar pembatas ruang tengah, memegang sebuah buku catatan kuliah dengan ekspresi wajah yang campur aduk—antara canggung karena merasa mengganggu momen intim kakaknya, dan rasa ingin tahu yang besar.

"Maaf... aku tidak bermaksud mengganggu," ucap Valerie, wajahnya sedikit memerah.

"Tapi Ibu menyuruhku memanggil kalian untuk makan malam. Makanan di meja sudah siap."

Adrian berdeham sekali lagi, membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak bergeser.

"Ya. Kami akan segera ke sana."

Valerie mengangguk cepat, lalu berbalik dan setengah berlari kembali ke ruang makan, meninggalkan kedua orang dewasa itu dalam sisa-sisa ketegangan yang mendebarkan.

Gisella melirik Adrian, dan entah mengapa, melihat sang profesor yang biasanya kaku dan tak tersentuh kini tampak salah tingkah, sebuah tawa kecil spontan lolos dari bibirnya.

Adrian menoleh, menatap Gisella yang sedang menahan tawa dengan mata yang kembali berbinar jenaka.

"Kenapa kau tertawa?"

"Tidak apa-apa,"

sahut Gisella, berjalan melewati Adrian menuju ruang makan.

Namun, saat posisinya sejajar dengan pria itu, dia berhenti sebentar dan berbisik,

"Tatapan matamu tadi... hampir membuatku lupa kalau kau adalah seorang dosen yang galak, Profesor."

Gisella melangkah pergi dengan senyuman kemenangan yang tertinggal di bibirnya, meninggalkan Adrian yang berdiri terpaku di depan piano.

Adrian menatap punggung Gisella yang menjauh, lalu menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang dengan ritme yang sepenuhnya baru.

Es di dalam hatinya telah mencair sepenuhnya malam ini, dan di atas tanah yang baru mencair itu, benih takdir yang baru telah mulai berakar, menantang apa pun alur cerita yang tertulis dalam buku nasib mereka.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!