NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XX - Kesepakatan Tak Terduga

Sementara Kirana menghabiskan sore itu menenangkan diri lewat pesan-pesan singkat dengan Nadia, Dimas justru berada di ujung kota yang sama sekali berbeda—duduk berhadapan dengan Valerie Wijaya di sebuah restoran mewah, sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan terjadi, apalagi cuma berjarak beberapa jam setelah pertengkarannya dengan Kirana di kafe pagi tadi.

Ia menghabiskan sisa hari itu berjalan tanpa tujuan di sekitar area perkantoran, mencoba menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi kekecewaan. Beberapa kali ponselnya bergetar — pesan kerja dan jadwal — tapi ia mengabaikan itu semua, membiarkan langkahnya membawanya berkeliling tanpa tujuan.

Kirana, yang selama ini selalu jadi pusat dari setiap keputusan besar dalam hidupnya, baru saja menolak untuk menggunakan bukti yang telah ia berikan — bukti yang bisa membawa keadilan yang telah lama tertunda.

Dua tahun ia menyimpan rahasia itu sendirian, menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat, bagaimana cara paling lembut untuk menyampaikannya. Dan ketika akhirnya ia memberanikan diri, jawaban yang ia dapat bukanlah terima kasih — melainkan penolakan yang dibungkus alasan untuk melindungi Radit, pria yang keluarganya sendiri telah menghancurkan ayah Kirana.

Pesan itu datang tanpa diduga, tepat ketika ia masih berjalan gontai menjauhi kafe.

*Valerie**: Aku dengar kau kecewa pada Kirana. Sepertinya sekarang kita punya kepentingan yang sama. Bisa kita ketemu?*

Ia tidak tahu bagaimana Valerie bisa tahu soal pertengkarannya dengan Kirana secepat itu, tapi rasa penasaran membuatnya memutuskan menerima ajakan itu tanpa berpikir panjang.

Valerie sudah menunggu di salah satu meja di pojok restoran ketika Dimas tiba, mengenakan setelan kerja yang rapi, senyum di wajahnya sulit dibaca, apakah itu keramahan sungguhan atau sekadar topeng yang ia pakai.

“Makasih udah mau datang,” Valerie berkata, mengisyaratkan Dimas untuk duduk di seberangnya. “Aku tau ini terdengar aneh, mengingat kita belum pernah ngobrol sebelumnya.”

“Aku juga penasaran kenapa kamu tiba-tiba hubungin aku,” Dimas menjawab, duduk hati-hati, matanya menatap Valerie penuh waspada.

Valerie tersenyum tipis, menuangkan air ke gelas Dimas. “Aku udah lama merhatiin hubungan kamu sama Kirana. Dan aku juga udah lama merhatiin hubungan Radit sama Kirana — jauh lebih lama dari yang kamu kira.”

Nama itu membuat rahang Dimas mengeras. “Kalau kamu ngundang aku buat bahas Kirana, aku rasa aku nggak lagi ada di dalam posisi buat —”

“Aku ngundang kamu,” Valerie memotong, suaranya kini lebih tajam, “karena aku pikir kita berdua sama-sama capek jadi pihak kedua dalam hidup orang yang kita cintai. Aku lelah jadi tunangan yang tau, kalau Radit masih mikirin perempuan lain. Dan kamu, pasti lelah jadi sahabat yang selalu ada tapi nggak pernah ‘dipilih’.”

Kata-kata itu menghantam Dimas dengan menyakitkan, mengungkap luka yang baru saja ditambah akibat penolakan dari Kirana pagi ini. “Apa sebenernya yang kamu mau, Valerie?”

“Aku mau Radit fokus sama aku, tanpa bayang-bayang Kirana yang terus ganggu Pikiran dia,” Valerie menjawab, tidak ada lagi kepura-puraan dalam suaranya, cuma ketegasan yang selama ini tersembunyi di balik senyumnya. “Dan aku menduga kamu juga mau Kirana bener-bener liat kamu, tanpa bayang-bayang Radit yang terus menghalangi.”

Dimas terdiam, tidak bisa membantah kebenaran di dalam kata-kata Valerie. Ada sesuatu yang menakutkan dari cara perempuan itu membaca situasi, seolah ia sudah mempelajari setiap detail hidup Dimas sebelum pertemuan ini bahkan dimulai.

Ia teringat bagaimana Kirana berjuang sendirian, membangun kembali segalanya dari nol, ia membayangkan Kirana yang memiliki luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

“Kalau kita kerja sama,” Valerie melanjutkan, “kita bisa mastiin Radit dan Kirana nggak pernah punya kesempatan buat bersama. Aku punya akses ke banyak hal di Wibowo Group. Kamu punya akses ke banyak hal di kehidupan Kirana. Bareng-bareng, kita bisa misahin mereka jauh lebih efektif daripada bertindak sendirian.”

“Apa sebenernya yang kamu rencanain?” Dimas akhirnya bertanya, suaranya lebih tenang meski hatinya masih bergejolak antara keraguan dan godaan untuk melakukan sesuatu yang nyata setelah bertahun-tahun cuma menunggu dan berharap.

Valerie tersenyum tipis, mengeluarkan ponselnya, menunjukkan beberapa tangkapan layar yang sudah ia siapkan. “Aku udah punya beberapa langkah. Pertama, kita perlu mastiin proyek gabungan itu jalan dengan baik, buat bikin Radit dan Kirana makin menjauh secara tidak langsung, dipaksa untuk terus-terusan bersikap profesional. Kedua, aku butuh info soal pergerakan Kirana — jadwalnya, rencana-rencananya, apa pun yang bisa mastiin mereka nggak punya kesempatan berduaan.”

“Kamu mau aku mata-matain Kirana,” Dimas berkata, sesuatu di dalam dirinya menolak gagasan itu meski kata-kata Valerie sebelumnya masih terngiang di kepalanya.

“Aku lebih suka sebut itu… menjaga,” Valerie menjawab ringan, “Kamu mau Kirana akhirnya liat kamu, kan? Cara terbaik buat itu adalah mastiin bayang-bayang Radit bener-bener hilang dari pikirannya.”

“Aku nggak mau nyakitin Kirana,” Dimas berkata cepat, keraguan mulai menyelinap ke suaranya sendiri.

“Aku juga nggak berencana nyakitin dia,” Valerie menjawab tenang, ada sesuatu di matanya yang membuat Dimas tidak bisa percaya pada kata-katanya. “Aku cuma mau mastiin dia dan Radit nggak pernah nemuin jalan buat kembali ke satu sama lain. Itu aja.”

“Gimana aku bisa yakin kamu bakal nepatin janji buat nggak nyakitin Kirana?” Dimas bertanya, matanya menyipit. “Kita bahkan baru pertama kali ketemu.”

“Kamu pasti nggak akan bisa yakin,” Valerie menjawab, mengejutkan Dimas dengan keterusterangannya. “Tapi kita berdua sama-sama butuh sesuatu yang cuma bisa dicapai kalau kita kerja sama. Itu udah cukup jadi alasan buat saling percaya, setidaknya buat sekarang.”

Dimas duduk diam untuk waktu yang cukup lama, mempertimbangkan tawaran itu dengan pikiran yang yang masih kacau, kemarahan yang telah lama terpendam atas ketidakadilan yang menimpa keluarga Pradipta, dan sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif, yang selama ini ia coba sembunyikan.

Ia juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Valerie sedang menawarkan sesuatu yang selama ini tidak pernah bisa ia lakukan sendirian — kekuatan dan akses untuk mengubah keadaan, bukan cuma jadi penonton di pinggir lapangan sementara Kirana terus memilih kembali pada Radit.

“Baiklah,” Dimas akhirnya berkata, suaranya pelan, mengulurkan tangan menyeberangi meja untuk menjabat tangan Valerie yang sudah menunggu dengan senyum kemenangan.

Ini bukan soal cinta lagi, Dimas berkata dalam hati, merasakan genggaman tangan Valerie yang begitu kuat, penuh dengan percaya diri. Ini soal keadilan untuk keluarga Kirana… Dan keluargaku.

Ia melepaskan genggaman itu. Bayangan Kirana yang begitu keras kepala untuk melindungi Radit, bayangan ayah Kirana yang meninggal tanpa pernah mendapat keadilan, membuat keraguan itu perlahan tenggelam di bawah tekad yang jauh lebih kuat.

“Aku akan hubungin kamu lagi buat bahas langkah selanjutnya,” Valerie berkata, berdiri dari kursinya dengan senyum puas yang tidak lagi ia sembunyikan. “Senang bisa kerja sama sama kamu, Dimas.”

Dimas mengangguk, menonton Valerie melangkah pergi meninggalkan restoran itu dengan langkah percaya diri, seolah kemenangan sudah berada dalam genggamannya. Ia duduk diam beberapa saat, menatap meja yang kini kosong, sembari mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang baru saja ia buat adalah langkah yang benar.

Bukan balas dendam yang dibungkus dengan keadilan.

Ia meraih ponselnya, menatap nama Kirana yang masih tersimpan di kontak favoritnya, ibu jarinya melayang di atas layar. Bagian dari dirinya masih ingin menghubunginya, meminta maaf, dan membatalkan semua yang baru saja ia sepakati dengan Valerie.

Tapi ia menggeser layar itu, mengunci ponselnya, dan memasukkannya kembali ke saku jasnya.

Di luar jendela restoran, Jakarta sore itu tampak beraktifitas seperti biasa, orang-orang berlalu-lalang tanpa tahu kesepakatan apa yang baru saja terjalin di salah satu meja di restoran mewah itu. Dimas menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca, mencoba mencari sosok yang selama ini ia kenal — sahabat setia sekaligus partner bisnis yang selalu bisa diandalkan — tapi, yang bayangannya terlihat asing di matanya sendiri, ia adalah seseorang yang baru membuat pilihan berat, yang tidak lagi bisa ia tarik kembali.

Mungkin, nanti ia akan menyesal. Tapi, penyesalah itu tidak akan datang sekarang. Belum waktunya.

1
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
Wawan
Clue nya menarik 👍
Cilia: Terimakasih, kak! Bab-bab berikutnya akan lebih menarik! Ditunggu, ya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!