NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

2

Pesawat yang membawa mereka akhirnya mendarat di Swiss. Raka melangkah dengan perasaan terpaksa, mengikuti semua rencana yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan, ia tetap bersikap dingin dan menjaga jarak setiap kali Laras mencoba memulai percakapan.

Tak jarang, kata-kata tajam dan menusuk keluar dari mulutnya. Dalam hati, Raka berharap sikap dingin dan ketusnya itu akan membuat Laras cepat menyerah, sehingga ia bisa lepas dari pernikahan yang dianggapnya tidak diinginkan.

Namun harapannya tak kunjung terwujud. Sebaliknya, Laras justru makin gigih berusaha menarik perhatiannya, sama sekali tak menghiraukan setiap ucapan kasar yang ditujukan padanya.

Setelah menempuh perjalanan darat singkat, mereka tiba di sebuah hotel mewah yang dipesankan khusus oleh Bima. Lokasinya sangat strategis, tepat di tepi Danau Jenewa, dengan latar belakang pegunungan Alpen yang menjulang gagah.

Hotel ini bergaya arsitektur Eropa klasik yang dipadukan sentuhan modern, tampak elegan dan bersih. Dindingnya didominasi warna putih dan krem, dengan jendela besar yang membuka langsung ke pemandangan luar. Koridornya tertata rapi, dihiasi ornamen kayu dan tanaman hias yang menambah kesan hangat. Kamar yang mereka tempati berada di lantai paling atas, dengan pemandangan luas ke permukaan danau yang tenang dan puncak gunung yang kadang tertutup kabut tipis.

Tempat ini memang sangat cocok untuk pengantin baru. Malam hari, cahaya lampu kota memantul di atas air danau, dan puncak gunung terlihat samar diterangi cahaya rembulan.

Karena tiba saat hari mulai gelap, Laras langsung terpesona melihat keindahan itu.

“Kak, tempat ini sungguh menakjubkan. Lihat saja danau dan gunung di sana, rasanya tak percaya aku bisa berdiri di sini. Ini tempat yang sudah lama aku impikan, tapi Papa dan Mama tak pernah mengizinkan aku berlibur ke sini, selalu saja khawatir aku tersesat, padahal aku sudah cukup dewasa,” ujarnya dengan mata berbinar.

“Itu karena mereka sadar kau tak bisa hidup mandiri. Kau hanyalah gadis yang terbiasa dilindungi, tak mampu berbuat apa-apa tanpa bantuan orang lain. Aku penasaran, bagaimana jadinya hidupmu jika suatu hari nanti mereka tak ada lagi?” jawab Raka dengan nada dingin.

“Kak, tolong jangan bicara begitu. Sama saja kau mendoakan hal buruk menimpa mereka. Sungguh kejam sekali ucapanmu itu,” balas Laras, matanya mulai berkaca-kaca.

Suasana hati yang tadinya gembira seketika suram. Ia pun segera masuk ke kamar mandi, meninggalkan Raka sendirian.

Keesokan harinya, Laras sudah bersiap sejak dini hari. Ia sangat antusias menjelajahi tempat impiannya, bahkan sampai membangunkan Raka berulang kali karena tak sabar ingin segera berangkat.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah sebuah kafe terkenal di pinggir Danau Jenewa, tak jauh dari taman kota yang rindang. Di sana, mereka bisa mencicipi makanan khas Swiss, keju leleh, roti gandum renyah, sosis asap, dan cokelat berkualitas tinggi yang menjadi kebanggaan negeri tersebut.

Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan menyeberangi Mont Blanc, lalu berjalan santai menyusuri tepi danau sambil menikmati udara segar yang turun dari pegunungan. Pemandangan air danau yang jernih dengan latar puncak Alpen yang tertutup salju terasa sangat menenangkan, meski suasana di antara keduanya masih terasa kaku.

Tepat di ujung jembatan, terlihat Air Mancur Jenewa yang menjadi ikon kota itu, menjulang tinggi menyemburkan air hingga ratusan meter ke udara. Laras meminta Raka memotretnya di sana, dan lelaki itu pun melakukannya dengan malas dan setengah hati.

Setelah itu, Raka mengajak Laras ke Museum Seni Rupa Jenewa, tempat yang menyimpan koleksi lukisan dan karya seni terkenal dari berbagai zaman. Ia sendiri memang tertarik mengamati karya-karya yang dipajang di dalamnya.

Laras hanya mengikuti dari belakang, meski sebenarnya ia sudah tak sabar ingin segera melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Namun ia tetap menunggu sampai Raka puas melihat-lihat.

Setelah cukup lama di museum, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Taman Bastions. Jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga mereka memilih berjalan santai sambil menikmati udara segar dan pemandangan indah di sepanjang tepi danau.

Sesampainya di taman itu, Laras kembali meminta berfoto. Tempat itu adalah salah satu lokasi paling populer di Jenewa, dengan pohon-pohon rindang dan pemandangan langsung ke danau serta pegunungan.

“Kak, tolong photo aku ya,” pinta Laras sambil menyerahkan ponselnya.

“Dasar undik, dimana-mana minta difoto. Seperti orang yang baru pertama kali keluar kampung,” jawab Raka dengan nada kesal.

“Kak, kita ini sedang berbulan madu lho. Foto ini nanti bisa jadi kenangan indah untuk kita, bahkan untuk anak-anak kita kelak. Dari tadi Kakak belum berfoto sama sekali. Ayo kita ambil gambar bersama,” ajak Laras dengan senyum tak luntur.

“Siapa yang mau punya anak darimu?” balas Raka ketus.

Tanpa memedulikan ucapan pedas itu, Laras langsung meminta bantuan wisatawan lain untuk memotret mereka. Setelah itu, ia menarik tangan Raka agar berdiri lebih dekat dan menggenggamnya erat, seolah-olah mereka adalah pasangan yang sangat mesra. Raka hanya bisa mengikuti saja, tak ingin memperpanjang perdebatan.

Mereka juga sempat naik ke atas bukit di tengah taman untuk melihat pemandangan kota dari ketinggian. Perlu menaiki sekitar 50 anak tangga untuk sampai ke puncaknya.

Sore harinya, setelah puas berkeliling, Laras mengajak suaminya berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan terkenal. Ia masuk ke berbagai toko barang bermerek, yang membuat Raka makin kesal karena semua biaya ditanggung olehnya.

“Dasar gadis manja, hidupnya cuma tahu menghabiskan uang saja,” gerutunya.

Mendengar itu, hati Laras terasa perih, tapi ia segera mengingat janjinya sendiri untuk tetap sabar dan meluluhkan hati lelaki dingin itu.

“Tidak apa, Kak. Lagipula uang yang Kakak habiskan untuk istrimu sendiri itu lebih baik, daripada nanti dipakai untuk wanita lain, kan sayang kalau terbuang sia-sia,” balasnya dengan nada santai namun tetap menusuk.

Setelah seharian beraktivitas, mereka kembali ke hotel dan segera bergantian membersihkan diri. Malam ini mereka sudah merencanakan makan malam di restoran terbaik dengan pemandangan indah. Raka pun terpaksa mengikuti, karena Laras mengancam akan mengadukannya ke ayahnya jika ia menolak.

Laras mengenakan gaun malam dengan potongan sederhana namun elegan, berbahan lembut dengan warna soft yang menonjolkan kulitnya. Penampilannya tampak anggun dan memikat.

Saat melihat istrinya keluar dari kamar ganti, Raka yang tadinya sibuk dengan ponselnya pun tertegun sejenak. Selama ini ia hanya melihat Laras sebagai gadis polos dan manja, tapi malam ini penampilannya berubah total menjadi wanita dewasa yang berwibawa.

“Kak, ayo berangkat. Kenapa melamun? Aku terlihat cantik kan? Pasti Kakak jadi terpesona melihatku,” kata Laras dengan percaya diri.

“Terpesona? Jangan bermimpi. Aku cuma tak menyangka kau berani memakai baju seperti ini. Kira-kira kau mau memancing perhatian siapa? Jangan harap aku tergoda dengan trik murahanmu ini,” ejek Raka sambil menyembunyikan rasa takjubnya.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!