Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 - Cerai yang Sunyi
Putusan itu tidak dibacakan seperti adegan besar di televisi.
Tidak ada musik sedih. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang berdiri sambil menangis.
Hanya ruang sidang yang dingin, suara hakim yang datar, dan Ratna yang duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuan.
Hendra duduk beberapa kursi di sebelah kiri. Wajahnya kaku. Pengacaranya berbisik pelan, tapi Hendra tampak tidak benar-benar mendengar.
Setelah beberapa kali mediasi gagal, setelah bukti hubungan dengan Clara tidak bisa lagi dibantah, setelah aliran dana ke apartemen dan rekening lain mulai dibuka, Hendra akhirnya menyetujui perceraian. Bukan karena ikhlas.
Karena ia terpojok.
Siska duduk di samping Ratna.
"Bu, tarik napas," bisiknya.
Ratna baru sadar ia menahan napas.
Hakim menyatakan pernikahan itu berakhir. Urusan pembagian harta bersama masih berjalan dalam proses terpisah, tapi status mereka tidak lagi sama.
Ratna Prameswari bukan lagi istri Hendra Prasetyo.
Kalimat itu seharusnya membuatnya lega.
Namun yang datang lebih dulu justru kosong.
Dua puluh delapan tahun hidupnya selesai dalam beberapa kalimat.
Ratna menatap meja hakim. Ia teringat hari akad dulu. Hendra yang muda, gugup, menggenggam tangannya dengan janji akan menjaganya. Ia teringat warung kecil, motor tua, hujan bocor di atap kontrakan, Raka lahir, toko pertama buka, Mama Sulastri pindah ke rumah mereka, semua pelan-pelan menjadi rutinitas.
Lalu ia teringat Clara.
Alif.
Apartemen.
Kebohongan.
Kosong itu berubah menjadi dingin.
Setelah sidang selesai, Hendra menunggunya di lorong.
"Ratna."
Siska langsung bersiap, tapi Ratna mengangkat tangan.
"Tidak apa-apa."
Hendra menatapnya. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau amarah yang lama ditahan.
"Sekarang kamu puas?"
Ratna menatap laki-laki yang dulu menjadi pusat hidupnya.
"Tidak."
Jawaban itu membuat Hendra terdiam.
"Aku tidak puas. Tidak senang. Tidak menang. Aku cuma selesai."
Hendra menelan ludah.
"Kita tidak harus seperti ini."
"Kita memang tidak harus seperti ini. Tapi kamu memilih jalan ini bertahun-tahun."
"Aku akan tetap bertanggung jawab pada Raka dan Bima."
"Bagus. Lakukan sebagai ayah dan kakek, bukan sebagai cara menarikku kembali."
Hendra mengeraskan rahang.
"Kamu berubah karena mereka."
"Aku berubah karena akhirnya melihat kamu."
Ratna melangkah melewatinya.
Di luar gedung pengadilan, udara Jakarta terasa panas. Bu Laras menunggu di mobil, walau dokter sebenarnya melarangnya banyak keluar. Hanif berdiri di samping pintu. Arga tidak terlihat.
Ratna masuk ke mobil.
Bu Laras langsung memegang tangannya.
"Selesai?"
Ratna mengangguk.
"Selesai."
Bu Laras tidak mengucapkan selamat. Ia hanya memeluk Ratna pelan.
Pelukan itu membuat air mata Ratna akhirnya jatuh.
Bukan tangis histeris.
Hanya air mata lelah.
"Aku cerai, Bu."
"Iya."
"Aku benar-benar cerai."
"Iya, Nak."
Ratna menangis di bahu Bu Laras seperti anak yang baru pulang setelah tersesat terlalu lama.
Setelah itu, Bu Laras memaksa mereka mampir ke sebuah restoran kecil yang punya ruang privat. Di sana sudah ada kue sederhana dengan tulisan: Hidup Baru Bu Ratna.
Ratna menatap tulisan itu dan tertawa sambil menangis.
"Bu, ini apa?"
"Perayaan."
"Perceraian dirayakan?"
"Yang dirayakan bukan perceraiannya. Yang dirayakan adalah kamu tidak mati di dalam pernikahan itu."
Hanif bertepuk tangan kecil.
Siska ikut tersenyum.
Ratna duduk. Ia memotong kue dengan tangan masih gemetar.
Saat suapan pertama masuk ke mulut, ponselnya bergetar.
Maya mengirim pesan.
"Ma, aku dengar sudah putusan. Aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi kalau Mama butuh apa pun, aku ada."
Pesan kedua menyusul.
Foto Bima memegang kertas bertuliskan: Nenek semangat.
Ratna tersenyum sambil menghapus air mata.
"Cucu?" tanya Bu Laras.
Ratna menunjukkan foto itu.
Bu Laras langsung meleleh.
"Anak pintar. Nanti ajak ke rumah. Aku mau kenal."
"Bu Laras mau mengadopsi semua orang?"
"Kalau orangnya lucu, kenapa tidak?"
Ratna tertawa.
Untuk beberapa menit, ia lupa rasa kosong itu.
Namun ketika malam tiba dan ia kembali ke kamar kecil yang disediakan sementara oleh Bu Laras di rumah sakit, Ratna duduk sendirian. Ia melepas kerudung, menatap cermin, dan menyadari tidak ada lagi nama Hendra yang melekat secara hukum pada dirinya.
Ia bebas.
Tapi kebebasan ternyata tidak langsung terasa ringan.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Sebuah foto Clara dan Alif di depan sekolah. Di bawahnya ada tulisan:
"Mas Hendra tetap akan menjadi milik kami."
Ratna menatap pesan itu lama.
Dulu kalimat itu akan membuatnya sakit.
Sekarang ia hanya lelah.
Ia mengetik balasan.
"Ambil saja. Aku sedang mengurus hidupku sendiri."
Pesan terkirim.
Ratna mematikan ponsel.
Di luar jendela, lampu kota masih menyala. Hidup orang-orang berjalan. Begitu juga hidupnya.
Besok ia akan bekerja.
Besok ia akan belajar lagi.
Besok ia tidak perlu bangun untuk memasak bagi Hendra.
Ratna menatap cermin.
"Selamat tinggal," bisiknya.
Ia tidak tahu apakah kalimat itu untuk Hendra, rumah lama, atau dirinya yang dulu.
Mungkin untuk semuanya.
Keesokan paginya, Ratna bangun sebelum alarm. Kebiasaan lama masih ada. Ia hampir bangkit terburu-buru untuk memasak, lalu teringat tidak ada dapur besar yang menunggunya. Tidak ada Mama Sulastri yang berteriak minta teh. Tidak ada Hendra yang mencari kemeja.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Sunyi itu mula-mula terasa asing.
Lalu pelan-pelan terasa seperti ruang.
Ratna membuat teh untuk dirinya sendiri. Hanya satu cangkir. Ia menambahkan sedikit gula sesuai seleranya, bukan selera orang lain. Hal kecil itu membuat matanya panas lagi.
Di meja, ada map kerja dari Wijaya Group dan map perkara harta bersama.
Hidup barunya tidak mudah. Bahkan mungkin lebih rumit dari sebelumnya.
Namun saat ia mengangkat cangkir teh, Ratna sadar satu hal: tidak ada yang menyuruhnya cepat-cepat.
Untuk pertama kalinya, pagi itu miliknya.
Di kantor, Dita membawa sebungkus nasi uduk.
"Bu, sarapan?"
Ratna terkejut.
"Untuk saya?"
"Iya. Kemarin Ibu bilang sering lupa makan kalau banyak kerja."
Ratna menerima bungkus itu dengan perasaan aneh. Selama ini ia yang mengingatkan semua orang makan. Ia yang menaruh bekal di tas Raka, menyiapkan bubur untuk Mama Sulastri, memotong buah untuk Bima.
Jarang ada yang membawakannya sarapan.
"Terima kasih, Dit."
Dita tersenyum.
"Hari ini ada banyak dokumen gala. Kita butuh tenaga."
Ratna membuka bungkus nasi uduk di pantry. Aromanya sederhana, akrab, menenangkan. Ia makan pelan, menikmati setiap suap tanpa harus berdiri di depan kompor.
Arga masuk mengambil kopi dan berhenti saat melihatnya.
"Sudah sarapan?"
Ratna mengangkat bungkus nasi.
"Seperti yang Bapak lihat."
"Bagus."
Dulu Hendra hanya bertanya masakan mana. Arga bertanya ia sudah makan atau belum. Perbedaannya kecil, tapi tubuh Ratna mengenalinya.
Setelah Arga keluar, Dita berbisik, "Pak Arga jarang masuk pantry."
"Mungkin kopinya habis."
"Mesin kopi ada di ruang beliau."
Ratna pura-pura sibuk makan.
Hari itu, status janda barunya masih terasa asing. Namun di tengah pekerjaan, nasi uduk, dan pertanyaan sederhana, ia mulai merasa hidup tidak hanya berisi putusan pengadilan.
Ada pagi-pagi kecil yang bisa disusun ulang.
Sore harinya, Ratna menerima salinan awal jadwal sidang harta bersama dari Siska. Tanggalnya tertera jelas. Dadanya kembali tegang, seolah pengadilan menariknya lagi ke rumah lama.
Ia hampir menutup dokumen itu, tapi Arga lewat di depan pantry dan melihat wajahnya.
"Ada kabar buruk?"
"Bukan buruk. Jadwal sidang aset."
"Takut?"
Ratna tertawa pendek.
"Bapak selalu bertanya langsung."
"Karena jawaban berputar biasanya melelahkan."
Ratna memandang dokumen di ponsel.
"Iya. Saya takut."
Arga mengangguk, tidak memberi ceramah.
"Kalau takut, siapkan lebih rapi. Ketakutan yang diberi persiapan biasanya lebih mudah diajak jalan."
Ratna menatapnya.
"Itu nasihat bisnis lagi?"
"Mungkin."
Anehnya, nasihat itu menenangkan.
Ratna mengirim pesan pada Siska: "Saya siap bahas dokumen besok."
Takut masih ada.
Tapi ia tidak lagi berjalan tanpa peta.
Saat kembali ke mejanya, Ratna membuka kalender kerja dan menandai tanggal sidang dengan warna merah. Dulu warna merah berarti tagihan jatuh tempo atau obat hampir habis.
Sekarang warna itu berarti ia sedang menagih kembali hidupnya.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃