Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Di sepanjang koridor, bisikan-bisikan itu terus berlanjut.
"Lihat deh. Irawan ngikutin dia."
"Kok kayak anak anjing gitu?"
"Apa dia... kena pelet?"
"Pelet apaan. Paling juga cinta beneran."
"Cinta apaan, mukanya aja kayak mayat hidup."
Tapi Irawan tidak mendengar. Atau lebih tepatnya, ia tidak peduli. Dunianya sudah menyempit. Yang ada di kepalanya hanyalah Lusi. Lusi. Lusi. Dan yang harus ia lakukan hanyalah mengikuti. Mengikuti. Mengikuti.
Lusi berjalan menuju kantin. Langkahnya tenang. Matanya lurus ke depan.
Beberapa bulan lalu, aku yang ngikutin dia kayak anak ayam kehilangan induknya, batinnya. Sekarang... giliran dia.
Ia teringat sesuatu. Teringat masa-masa di mana ia selalu menunggu Irawan di depan kelas Manajemen. Di mana ia selalu menyiapkan es teh manis untuk Irawan. Di mana ia selalu menunduk dan tersenyum malu-malu setiap kali Irawan memanggil namanya.
Dulu, aku yang jadi budak cinta. Sekarang... giliran dia yang jadi budakku.
Dan ini... ini baru permulaan.
Kantin kampus. Pukul 10.15.
Lusi duduk di meja sudut meja yang dulu selalu dipakai geng Irawan. Meja yang sama di mana ia pernah tertawa, pernah merasa diterima, pernah merasa punya teman. Meja yang sama yang sekarang kosong, hanya dihuni oleh dirinya dan bayang-bayang masa lalu.
Irawan berdiri di sampingnya. Tidak duduk.
"Duduk, Wan."
"Makasih, Lus." Irawan duduk dengan patuh. Kedua tangannya diletakkan di atas meja, seperti siswa SD yang menunggu perintah guru. Matanya menatap Lusi dengan tatapan yang dulu selalu membuat Lusi meleleh tatapan penuh perhatian, penuh kekaguman. Tapi sekarang, tatapan itu berbeda. Tatapan itu kosong. Seperti boneka yang matanya terbuat dari kaca.
"Kamu nggak makan, Wan?"
"Nggak. Gue... gue nggak laper."
"Kamu harus makan. Badan kamu kurusan." Lusi menatapnya. "Kamu sakit?"
"Nggak. Gue cuma... gue cuma butuh lo." Suara Irawan bergetar lagi. "Setiap kali gue jauh dari lo, badan gue sakit. Kepala gue pusing. Dada gue panas. Tapi begitu gue deket lo... semuanya ilang. Lo kayak... obat."
Lusi tersenyum tipis. Obat. Bagus. Berarti kecanduannya udah parah.
"Aku pesenin nasi goreng ya? Porsi besar. Biar kamu sehat lagi."
"Lo... lo perhatiin gue, Lus?"
"Tentu aja. Aku kan sayang sama kamu."
Kalimat itu keluar begitu saja. Ringan. Tanpa beban. Tapi dampaknya pada Irawan luar biasa. Wajahnya langsung berseri-seri, satu-satunya warna di wajahnya yang pucat. Matanya berbinar. Senyumnya lesung pipi yang dulu membuat Lusi meleleh muncul lagi.
"Lo... lo sayang sama gue, Lus?"
"Kenapa? Kamu nggak percaya?"
"Percaya! Gue percaya! Gue... gue juga sayang sama lo. Sayang banget. Lebih dari apa pun. Lebih dari siapa pun."
Lusi menatapnya lama. Lalu ia tersenyum lagi senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Bagus."
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Menatap langit-langit kantin yang dihiasi lampu-lampu gantung. Lalu menatap Irawan lagi.
Ia melanjutkan makannya, sementara Irawan terus menatapnya dengan mata penuh pujaan. Dan di dalam hati Lusi, ada dua perasaan yang bercampur jadi satu.
Yang pertama: kepuasan. Kepuasan melihat Irawan laki-laki yang dulu menghancurkannya sekarang duduk di hadapannya seperti anjing yang setia. Kepuasan melihat lesung pipi itu sekarang muncul bukan karena ejekan, tapi karena pemujaan.
Yang kedua: kekosongan. Anehnya, setelah semua ritual, setelah semua mantra, setelah semua perjuangan ia tidak merasakan apa yang ia kira akan ia rasakan. Kebahagiaan. Kelegaan. Kedamaian. Semuanya tidak ada. Yang ada hanyalah... hampa. Seperti lubang di dalam dadanya yang semakin besar, bukannya terisi.
Kenapa aku nggak ngerasa puas? tanyanya pada diri sendiri. Kenapa aku nggak ngerasa bahagia? Dia udah jadi budakku. Dia udah tunduk. Kenapa aku masih... kosong?
Tapi ia tidak membiarkan pertanyaan itu mengganggunya terlalu lama. Mungkin nanti. Mungkin setelah semuanya selesai. Mungkin setelah Dimas, Rendy, dan Bayu juga merasakan hal yang sama.
"Wan..."
"Iya, Lus?"
"Temen-temen kamu... Dimas, Rendy, Bayu... di mana mereka?"
Wajah Irawan sedikit berubah. Ada keraguan di sana. "Mereka... mereka lagi nggak di kampus. Kayaknya pada bolos."
"Kenapa? Mereka sakit?"
"Nggak... nggak tau juga." Irawan menunduk. "Sejak... sejak malam itu... mereka pada aneh. Dimas sering ngomong sendiri. Rendy jadi pendiem. Bayu... Bayu ngilang. Nggak ada yang tau dia ke mana."
Lusi mendengar ini dengan wajah datar. "Menarik."
"Menarik apanya, Lus?"
"Nggak apa-apa." Lusi menghabiskan sisa nasi gorengnya
"Wan."
"Iya, Lus?"
"Aku mau jalan-jalan ke taman. Temenin."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Irawan langsung berdiri, siap mengikuti. Lusi bangkit, meraih tasnya, dan berjalan keluar kantin. Irawan mengikuti di belakangnya.
Persis seperti yang ia inginkan.
Irawan langsung berdiri, siap mengikuti ke mana pun Lusi pergi. Tapi sebelum mereka sempat meninggalkan kantin, seseorang muncul di pintu masuk.
Dimas.
Wajahnya lebih pucat dari Irawan. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau habis menangis. Topi bisbolnya yang biasanya selalu rapi sekarang miring ke samping, seperti dipasang dengan tergesa-gesa. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Lusi dan Irawan dengan ekspresi ngeri.
"Wan... lo... lo ngapain sama dia?"
Irawan menatap sahabatnya. Tatapannya kosong. "Ngapain apanya, Mas? Ini Lusi. Pacar gue."
"Pacar lo?!" Dimas tertawa histeris. "Lo udah putusin dia dua bulan lalu! Lo yang rekam dia! Lo yang…"
"DIMAS."
Suara Lusi memotong. Bukan suara keras. Bukan teriakan. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Dimas langsung menutup mulutnya.
Lusi berjalan mendekatinya. Pelan. Tenang. Seperti kucing yang mendekati tikus. "Kak Dimas... Kakak kenapa? Kok mukanya pucet?"
Dimas mundur selangkah. "Gue... gue nggak..."
"Kakak sakit? Sama kayak Irawan? Nggak bisa tidur? Nggak bisa makan? Selalu kebayang-bayang sesuatu?" Lusi memiringkan kepalanya. "Selalu kebayang... aku?"
Ekspresi Dimas langsung berubah. Dari takut menjadi... ngeri. Ngeri yang luar biasa.
"LO! LO YANG NGELAKUIN INI KAN?! LO YANG…"
"Ssstt..." Lusi meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Jangan teriak-teriak, Kak. Banyak yang dengerin. Nanti Kakak malu."
Dimas menelan ludah. Ia melihat ke arah Irawan yang berdiri di belakang Lusi seperti patung. "Wan... Wan, sadar! Lo kena ilmu! Lo kena pelet! Ini cewek nggak bener!"
Irawan hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Dimas, lo ngomong apa sih? Lusi itu pacar gue. Lo jangan ngatain dia."
"WAN, GUE TEMEN LO! GUE SAHABAT LO! PERCAYA SAMA GUE!"
"Cukup, Mas." Irawan melangkah maju, berdiri di antara Lusi dan Dimas. Tubuhnya melindungi Lusi seperti perisai. "Lo pergi sekarang. Jangan ganggu Lusi."
Dimas mundur lagi. Wajahnya sekarang campuran antara ngeri, marah, dan putus asa. "Lo... lo udah nggak bisa ditolongin, Wan. Lo udah jadi boneka."
Dan sebelum Irawan bisa menjawab, Dimas berbalik dan lari. Kabur dari kantin seperti dikejar hantu.
Lusi menatap punggungnya sampai menghilang. Senyum tipis masih tercetak di bibirnya.
Lari aja terus, Kak Dimas. Tapi sejauh apa pun Kakak lari... Kakak nggak akan bisa sembunyi. Semar Mesem ini bukan cuma buat Irawan. Ini buat kalian semua.
Malam harinya. Kamar kost Lusi. Pukul 21.00.
Lusi duduk di tepi kasur, kitab Semar Mesem terbuka di pangkuannya. Ia membaca bagian yang belum sempat ia baca sebelumnya bagian tentang "Efek Samping" dan "Konsekuensi".
"Pengirim Semar Mesem harus memahami bahwa ikatan ini bekerja dua arah. Meskipun target yang paling menderita, pengirim juga akan merasakan efeknya: kekosongan emosional, hilangnya kemampuan untuk mencintai secara tulus, dan keterasingan dari manusia normal. Semakin banyak target yang diikat, semakin besar kekosongan yang dirasakan."
Lusi menatap kalimat itu lama.
Hilangnya kemampuan untuk mencintai secara tulus.
Itu yang ia rasakan hari ini. Kekosongan. Kehampaan. Ketidakmampuan untuk merasakan apa pun selain kepuasan sesaat yang langsung lenyap.
Keterasingan dari manusia normal.
Ia sudah merasakannya. Sejak ritual selesai, ia merasa seperti ada dinding kaca antara dirinya dan dunia luar. Ia bisa melihat orang lain, mendengar mereka, berbicara dengan mereka tapi ia tidak bisa benar-benar terhubung. Ada jurang yang tidak bisa diseberangi.
Semakin banyak target yang diikat, semakin besar kekosongan yang dirasakan.
Ia masih punya tiga target lagi. Dimas. Rendy. Bayu.
Apakah ia sanggup menanggung kekosongan yang lebih besar?
Tapi pertanyaan itu hanya bertahan sebentar di kepalanya. Karena begitu ia mengingat wajah-wajah itu wajah Dimas yang tertawa di video, wajah Rendy yang menari dengan botol vodka, wajah Bayu yang tersenyum tipis semua keraguan itu lenyap.
Aku nggak peduli. Aku nggak peduli sama kekosongan. Aku nggak peduli sama keterasingan. Yang aku mau... mereka semua ngerasain apa yang aku rasain.
Ia menutup kitab. Besok, ia akan memulai ritual baru. Ritual yang sama. Semar Mesem. Tapi kali ini untuk tiga orang sekaligus.
Ia menatap lilin-lilin di depannya yang sudah siap dinyalakan. Ia menatap foto-foto yang sudah ia kumpulkan: Dimas, Rendy, Bayu. Foto-foto yang ia ambil diam-diam dari media sosial mereka.
"Giliran kalian sekarang," bisiknya.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥