"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Bukti Di Depan Singgasana Merah
Sinar matahari pagi menyinari Paviliun Utama Perkemahan Utara. Di balik tirai sutra merah berhias sulaman emas, duduk Pimpinan Tertinggi Klan Teratai Darah, Mu Tianchou.
Pria paruh baya berambut panjang kelabu dengan tingkat kekuatan Grandmaster Tahap 2 itu memancarkan wibawa dingin yang membuat seluruh tetua di sekelilingnya menunduk hormat. Dialah guru sekaligus ayah angkat yang membesarkan Mu Qingxue sejak kecil.
"Di mana Wakil Ketua Gao Tianhao dan Qingxue?" suara berat Mu Tianchou bergema di dalam paviliun. "Rombongan kita harus segera bergerak meninggalkan lembah sebelum matahari naik tinggi."
Sebelum salah satu tetua sempat menjawab, kain pintu paviliun terbuka lebar.
Dua sosok melangkah masuk ke dalam paviliun utama.
Memimpin di depan adalah Mu Qingxue tanpa cadar hitamnya. Di sebelah kirinya, berjalan Wei Changqing dengan jubah abu-abu tenang. Dan di kedua tangan mereka, terseret dua tubuh yang terikat oleh sabuk sutra: Wakil Ketua Klan Gao Tianhao yang lumpuh kaku, serta utusan Bayangan Gerhana yang gemetar ketakutan.
Sring! Sring! Sring!
Puluhan pengawal elite dan tetua klan di dalam paviliun serentak menghunus kan pedang lengkung mereka, mengarahkan mata pisau tajam ke leher Wei Changqing!
"Lancang!" bentak salah satu tetua. "Qingxue! Apa arti kelakuan gila ini?! Berani-beraninya kau membawa pemuda sekte luar masuk dan menawan Wakil Ketua Klanmu sendiri layaknya seorang penjahat?!"
Dari atas singgasana kayu merah, Mu Tianchou bangkit berdiri.
Jdharrr!
Gelombang penindasan hawa tenaga dalam tingkat Grandmaster menyapu ruangan paviliun bagaikan badai salju berdarah! Lantai kayu bergetar hebat. Udara terasa begitu padat hingga membuat napas para tetua tersumbat.
"Mu Qingxue," suara Mu Tianchou terdengar dingin dan menusuk tulang. "Jelaskan tindakanmu dalam tiga kalimat. Jika alasanmu tidak masuk akal, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu dan bocah Lembah Bambu Biru itu!"
Menghadapi tekanan aura seorang Grandmaster, Mu Qingxue berlutut dengan satu kaki di lantai paviliun. Namun wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Ketua Klan!" seru Qingxue lantang. "Wakil Ketua Gao Tianhao telah berkhianat! Dia bekerja sama dengan komplotan Bayangan Gerhana memalsukan cap stempel darah klan kita untuk menyebar dua surat palsu guna memicu perang saling bantai dengan Sekte Pedang Langit pagi ini!"
Qingxue mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, menyodorkan gulungan Surat Palsu Pertama, Surat Palsu Kedua, serta Buku Besar Catatan Sinshe Wu ke depan singgasana.
Mu Tianchou mengerutkan dahi. Ia melambaikan tangannya, menarik ketiga bukti tertulis itu melayang ke dalam telapak tangannya dengan tenaga dalam Grandmaster.
Saat mata tua Mu Tianchou membaca isi surat pertama yang menyuruh pembantaian penginapan utara, dan surat kedua yang menyatakan kematian palsu Mu Qingxue, wajah sang Ketua Klan berubah gelap.
"Cap stempel pada kedua surat ini... terlihat identik dengan cap stempel darah rahasia milikku," kata Mu Tianchou dingin sambil menatap Qingxue. "Bagaimana kau bisa membuktikan bahwa ini adalah cap palsu buatan Gao Tianhao?"
"Izinkan saya yang membuktikannya, Ketua Klan Mu."
Wei Changqing melangkah maju satu langkah mensejajari posisi sujud Qingxue. Ia tidak berlutut, melainkan berdiri tegak menatap langsung ke mata Grandmaster Mu Tianchou dengan ketenangan yang setara.
Changqing mengambil secangkir arak teh panas dari atas meja hidangan tetua di dekatnya, lalu meneteskan air arak panas itu tepat ke atas cap merah stempel di surat kedua.
Srrr...
Seketika itu juga, reaksi ajaib terjadi! Warna merah darah pada cap stempel surat itu mendadak luntur dan berubah warna menjadi hitam legam pekat beraroma bau busuk teratai kering!
"Tinta stempel asli Klan Teratai Darah dicampur dengan sari bunga merah suci yang tidak akan luntur oleh arak panas," jelas Changqing dengan suara jernih yang terdengar oleh seluruh tetua di paviliun. "Namun cap pada surat ini berubah hitam... karena menggunakan campuran Bunga Teratai Hitam racikan pasar gelap komplotan Bayangan Gerhana."
Changqing menunjuk ke arah utusan Bayangan Gerhana yang terikat di lantai. "Dan jika Ketua Klan masih ragu... silakan periksa tato lambang gerhana hitam di balik lidah utusan kurir yang disewa oleh Gao Tianhao ini."
Dua tetua klan langsung melompat memeriksa mulut utusan tersebut. "Benar, Ketua! Ada tato komplotan Bayangan Gerhana di balik lidahnya!"
Seluruh paviliun mendadak meledak dalam kegaduhan luar biasa! Bukti asli, bukti dokumen, dan saksi hidup telah terpampang begitu nyata tanpa bisa disangkal lagi.
Mu Tianchou menatap Wakil Ketua Gao Tianhao yang berlutut kaku di lantai. Pria yang selama ini berambisi merebut takhtanya itu kini menundukkan mata dengan wajah pucat pasi terbukti berkhianat.
"Gao Tianhao..." desis Mu Tianchou dengan amarah seorang Grandmaster. "Kau rela mengorbankan nyawa anak angkatku Qingxue dan ribuan murid klan hanya demi merebut kursi ketua...?"
Wuuush! PLAK!
Mu Tianchou mengayunkan telapak tangannya dari jarak sepuluh langkah. Satu pukulan angin Grandmaster menghantam telak dada Gao Tianhao hingga tulang rusuknya remuk dan muntah darah hitam, menghancurkan seluruh sirkulasi tenaga dalamnya secara permanen sebelum diseret ke penjara besi klan oleh pengawal.
Setelah pengkhianat itu diamankan, suasana paviliun kembali hening.
Mu Tianchou turun dari singgasananya, berjalan mendekati Wei Changqing dan Mu Qingxue.
Grandmaster yang terkenal dingin dan angkuh di seluruh benua Xuanhuang itu menatap Changqing lama sekali, lalu perlahan... ia menundukkan kepalanya, membungkuk hormat kepada pemuda berusia sembilan belas tahun tersebut!
"Wei Changqing dari Lembah Bambu Biru," ucap Mu Tianchou dengan suara rasa terima kasih yang mendalam. "Kau tidak hanya memenangkan turnamen di atas arena kemarin... malam ini kau telah menyelamatkan Klan Teratai Darah dari kehancuran perang yang sia-sia, dan menyelamatkan nyawa putri angkatku."
Mu Tianchou menengok kepada para tetua klannya. "Batalkan seluruh rencana siaga tempur di jalan raya! Kita pulang ke perbatasan dengan damai tanpa menyentuh satu pun murid Sekte Pedang Langit!"
Akar perang kedua resmi dibatalkan. Saat Changqing dan Qingxue melangkah keluar dari paviliun di bawah sinar matahari pagi yang cerah, Mu Qingxue menoleh menatap pemuda di sampingnya. Mata dingin gadis itu kini sepenuhnya telah berubah—dipenuhi oleh rasa hormat, rasa percaya yang tak tergoyahkan, dan ikatan aliansi yang siap mendampingi langkah Changqing di perjalanan selanjutnya.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏