NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012

Udara di meja mereka berubah lagi.

Kotak putih itu tidak besar, tetapi cukup untuk membuat setengah kantin lupa pada bakmi, es teh, dan kelas siang. Nama Kho Yanting di kartu kecil lebih efektif daripada bel istirahat.

Meiran tidak langsung membukanya.

Ia menatap petugas kampus. "Terima kasih."

Petugas itu mengangguk, lalu pergi dengan langkah cepat, jelas tidak ingin ikut terseret drama yang sekarang punya sponsor konglomerat.

Chiko mencondongkan badan. "Buka dong, Bu Lim. Demi kepentingan publik."

Hafeng menatapnya. "Kamu tidak punya kelas?"

"Aku punya rasa ingin tahu."

"Itu bukan mata kuliah."

Meiran membuka pita abu-abu.

Di dalam kotak ada satu set drawing pen profesional, pisau maket presisi, lembar material sample kecil, dan sebuah buku tipis tentang ruang publik mikro di kota padat. Tidak ada bunga. Tidak ada cokelat. Tidak ada kalimat manis yang murahan.

Justru itu membuatnya lebih berbahaya.

Hadiah ini berkata: aku melihat cara berpikirmu.

Meiran mengambil kartu di atas buku.

`Untuk proyek ruang jeda yang berani memberi tempat pada kekosongan. Jika butuh diskusi material, saya siap membantu.`

`Kho Yanting.`

Chiko mengeluarkan suara pelan. "Wah. Ini bukan sekadar kirim barang. Ini kirim perhatian intelektual."

Hafeng menatapnya.

"Aku diam," kata Chiko cepat, tetapi wajahnya sama sekali tidak diam.

Meiran menutup kartu itu.

**【Sistem Predator】Respons target meningkat: fokus visual pada hadiah, rahang menegang, frekuensi tatapan ke Host bertambah.**

Meiran hampir ingin menyuruh Sisi menambahkan musik latar.

Hafeng menyilangkan tangan. "Kamu menerima hadiah dari reviewer?"

"Kenapa tidak?"

"Itu bisa dianggap tidak profesional."

Meiran mengangkat salah satu material sample. "Review sudah selesai. Nilai sudah keluar. Dan ini bukan jawaban ujian, ini sampel material."

"Tetap saja."

"Kamu keberatan sebagai apa?"

Pertanyaan itu jatuh ringan.

Terlalu ringan sampai Hafeng tidak bisa menjawab cepat.

Chiko menutup mulutnya dengan gelas. Gagal. Bahunya tetap bergetar.

Hafeng menatap Meiran. "Sebagai orang yang tahu dunia profesional tidak sesederhana itu."

"Menarik." Meiran memasukkan kembali material sample ke kotaknya. "Asisten pribadiku ternyata peduli pada etika profesionalku."

"Aku peduli pada keributan yang akan kamu buat."

"Tapi yang membuat keributan sekarang kamu."

Hafeng diam.

Beberapa mahasiswa di meja sebelah langsung menunduk, pura-pura sibuk makan.

Meiran mendorong kotak itu ke arah Hafeng.

"Instruksi hari ini. Bawa kotak ini ke studio maket."

Ekspresi Hafeng berubah.

Chiko menepuk meja sekali, tidak kuat menahan tawa. "Brutal."

Hafeng menatap kotak itu seperti benda itu baru saja menghinanya secara pribadi. "Kamu menyuruhku membawa hadiah dari pria lain?"

"Aku menyuruhmu membawa kotak berisi alat kerja."

"Pengirimnya Kho Yanting."

"Kartu namanya tidak membuat kotak itu lebih berat."

Hafeng menatap Meiran. "Kamu sengaja."

"Tentu."

Jawaban jujur itu membuat Chiko nyaris tersedak.

Meiran bersandar sedikit. "Kamu bisa menolak. Tapi hari ini kamu sudah melihat sendiri, aku tidak melanggar perjanjian."

Hafeng mengambil kotak itu.

Gerakannya terlalu cepat, terlalu kasar, sampai pita abu-abunya hampir jatuh. Meiran mengulurkan tangan untuk menahan pita yang lepas, dan jari mereka bersentuhan di atas tutup kotak.

Kali ini Hafeng tidak langsung menarik tangan.

Matanya turun ke jari Meiran.

Lalu ke kartu kecil bertanda nama Yanting.

Baru setelah itu ia menarik tangan dan berdiri.

"Studio maket, kan?"

"Ya."

"Ayo."

Meiran berkedip.

Biasanya Hafeng akan menunggu instruksi lengkap, menggerutu, atau mencari celah untuk membalas. Kali ini ia justru berjalan lebih dulu, membawa kotak Yanting di satu tangan dan nampan makannya yang belum habis di tangan lain.

Chiko menatap punggung Hafeng, lalu menatap Meiran.

"Dia kesal."

"Aku punya mata."

"Bukan kesal biasa."

"Aku juga punya sistem," batin Meiran, tetapi tentu saja ia tidak mengatakannya.

Di koridor menuju studio, Hafeng berjalan cepat. Meiran harus mempercepat langkah agar sejajar. Kotak putih itu sesekali membentur sisi pahanya, tetapi ia tetap memegangnya seperti barang bukti.

"Kalau kamu tidak suka, letakkan saja di meja," kata Meiran.

"Aku tidak bilang tidak suka."

"Wajahmu bilang."

"Kamu terlalu sering membaca wajah orang."

"Wajahmu terlalu sering membocorkan rahasia."

Hafeng berhenti di depan pintu studio.

Meiran hampir menabrak punggungnya.

Ia berbalik. Jarak mereka dekat, tetapi kali ini bukan karena kecelakaan. Hafeng sendiri yang menciptakan jarak itu.

"Sejak kapan kamu sedekat itu dengan Kho Yanting?"

Kalimat itu keluar begitu saja.

Setelah keluar, Hafeng tampak seperti ingin menariknya kembali.

Meiran menatapnya.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia tersenyum.

"Kenapa? Itu bagian dari laporan asisten pribadi juga?"

Hafeng mengalihkan pandangan. "Aku cuma bertanya."

"Tidak. Kamu cemburu."

"Jangan mengarang."

**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**

Nilai Cinta: -47.

**【Sistem Predator】Catatan: kecemburuan awal terdeteksi, disangkal secara verbal.**

Meiran menahan senyum lebih dalam.

Hafeng membuka pintu studio terlalu keras.

"Masuk. Aku mau menaruh kotak ini."

Meiran berjalan melewatinya.

Di dalam studio, Hafeng meletakkan kotak itu di meja maket, tetapi tidak langsung menjauh. Ia membuka kembali lembar material sample, mengambil satu potongan kecil bertekstur kasar, lalu mengetuknya dengan kuku.

"Ini bagus untuk render, buruk untuk perawatan."

Meiran menutup pintu studio. "Kamu baru saja mengkritik hadiah Yanting?"

"Aku mengkritik material."

"Dengan nada pribadi."

"Material tidak punya perasaan."

"Tapi kamu punya."

Hafeng menatapnya tajam, lalu mengambil sample lain. "Kalau kamu memakai ini untuk area duduk luar ruang, dua minggu kena hujan warnanya berubah. Pakai komposit yang lebih matte. Tidak secantik ini, tapi lebih tahan."

Meiran berjalan ke meja dan membuka catatan di tabletnya.

"Ulangi."

"Apa?"

"Aku mau catat. Asisten pribadi sedang memberi konsultasi gratis."

Hafeng baru sadar ia sudah membantu. Wajahnya langsung mengeras.

"Lupakan."

"Terlambat." Meiran sudah menulis. "Komposit matte, tahan hujan, kurang cantik tapi lebih jujur. Bagus."

Hafeng mengulurkan tangan hendak mengambil tabletnya, tetapi Meiran mengangkatnya lebih dulu. Mereka bergerak terlalu dekat. Ujung jarinya hampir menyentuh pinggang Meiran sebelum ia menarik tangan.

Hafeng menatap tangannya sendiri, kesal pada refleks yang makin sulit diatur.

Meiran menurunkan tablet. Saat mengambil kotak dari tangannya, ia berkata pelan, "Baik, asistenku yang tidak cemburu."

Hafeng menatapnya tajam.

Namun kali ini, ia tidak membantah secepat biasanya.

Ia hanya merapikan kembali material sample yang tadi ia kritik, menaruh pisau maket presisi di sisi yang jauh dari tepi meja, lalu mendorong kotak itu sedikit ke tengah agar tidak mudah tersenggol.

Gerakannya kecil.

Tapi Meiran melihatnya.

Orang yang benar-benar tidak peduli tidak akan memikirkan posisi sebuah kotak.

Saat Hafeng keluar, pintu studio tertutup pelan, jauh lebih pelan daripada saat ia membukanya.

Itu juga data.

**【Sistem Predator】Data disimpan: cemburu tidak selalu bersuara.**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!