NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030

Napas yang Terlalu Cepat

Tapi yang keluar dari tubuh Sekar hanya napas pendek, dingin, dan terlalu cepat.

Kevin langsung mendekat.

"Sekar. Lihat gue."

Ia tidak bisa.

Lampu hijau di atas meja biliar berubah menjadi cahaya tepi atap. Suara bola yang berbenturan menjadi bunyi pagar besi di belakang punggungnya. Tommy masih berada beberapa meter dari sana, tertawa bersama temannya, tetapi di kepala Sekar yang terdengar adalah suara Om Budi.

Keluarga harus saling bantu.

Lalu tangan di bahunya.

Lalu kosong.

"Sekar."

Suara Kevin lebih rendah, lebih dekat.

Tangan hangat menyentuh sisi lengannya, tidak mengguncang, hanya menahan agar ia tidak jatuh. Sekar akhirnya bisa melihat wajah Kevin. Rambut hitamnya basah oleh keringat tipis, matanya tajam tetapi suaranya pelan.

"Ikut gue keluar."

Sekar mengangguk, meski kakinya belum terasa benar.

Kevin mengambil tasnya dari bahu Sekar, menggenggam pergelangan tangannya dengan hati-hati, lalu menuntunnya melewati meja-meja biliar. Tommy bersiul pelan dari belakang.

"Baru datang sudah pulang?"

Kevin berhenti.

Sekar merasakan tubuh Kevin menegang. Untuk satu detik ia takut Kevin akan berbalik dan menghajar Tommy di tempat itu juga. Tapi Kevin hanya menoleh sedikit, wajahnya dingin.

"Jangan panggil dia lagi."

Tommy mengangkat tangan pura-pura menyerah. "Santai. Keluarga sendiri."

"Gue bilang jangan."

Nada itu membuat meja terdekat berhenti bicara.

Tommy tersenyum, tetapi matanya mengeras. "Oke, Bro. Jaga baik-baik sepupu gue."

Kevin tidak menjawab. Ia membawa Sekar keluar.

Udara sore di luar tempat biliar lebih panas, tetapi Sekar tetap menggigil. Kevin membawanya ke sisi bangunan, jauh dari pintu, dekat warung kecil yang belum ramai. Ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas warung, membayar cepat, lalu membuka tutupnya.

"Minum sedikit."

Sekar memegang botol itu dengan dua tangan. Airnya dingin menyentuh bibir, tetapi tenggorokannya seperti terlalu sempit.

"Pelan," kata Kevin. "Tarik napas dari hidung. Lihat gue. Jangan lihat pintu."

Sekar mengikuti.

Satu tarikan.

Gagal.

Dua tarikan.

Masih pendek.

Kevin tidak memaksa. Ia berdiri di depannya, memotong pandangannya dari pintu tempat biliar. Tangan kirinya terangkat sedikit, punggung tangan dengan bekas gigitan terlihat jelas.

"Hitung sama gue," katanya. "Satu. Dua. Tiga."

Sekar menatap bekas gigitan itu.

Tanda yang ia buat sendiri.

Tanda bahwa malam hujan sudah lewat, Kevin ada di sini, ia tidak sedang jatuh dari atap.

Napasnya perlahan kembali.

Kevin menunggu sampai bahunya tidak lagi naik turun terlalu cepat. Baru setelah itu ia bertanya, "Dia pernah ngapa-ngapain lo?"

Sekar memejamkan mata.

Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya tidak.

"Dia anak Om Budi," kata Sekar akhirnya.

"Om yang tadi disebut?"

"Iya. Tommy sepupuku."

"Lo takut sama sepupu lo sampai kayak tadi?"

Sekar memegang botol lebih erat.

Kevin langsung mengubah nada. "Lo nggak harus jawab sekarang."

Justru karena itu, Sekar hampir menangis.

Ia menarik napas lagi. "Aku tidak suka keluarga mereka."

"Karena?"

"Mereka suka meminta uang pada Oma. Dulu... sering. Om Budi selalu membawa kata keluarga, budi, utang, kasihan. Kalau Oma menolak, Tante Rina menangis. Kalau tetap tidak diberi, Tommy datang dengan cara lain."

Kevin mengingat wajah Tommy, senyum licin, langkah yang terlalu dekat. Rahangnya bergerak.

"Cara lain?"

"Mengganggu. Menekan. Membuat Oma merasa bersalah."

"Dan lo?"

Sekar diam terlalu lama.

Kevin tidak bertanya lagi, tetapi matanya tidak pergi dari wajahnya.

"Aku cuma..." Sekar menelan. "Aku tidak ingin mereka mendekati Oma."

Kevin mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. "Telepon Oma sekarang."

Sekar menatapnya.

"Bukan buat bikin panik. Buat pastikan."

Ia benar.

Sekar menelepon Oma Lien dengan tangan masih sedikit gemetar. Panggilan tersambung setelah nada ketiga.

"Halo, Cucu Oma?"

Suara Oma Lien yang hangat membuat mata Sekar langsung panas.

"Oma di rumah?"

"Di rumah. Kenapa suaramu begitu? Kamu sakit?"

"Tidak, Oma. Sekar cuma... mau tanya, hari ini ada yang datang?"

"Siapa?"

"Om Budi. Atau Tommy."

Di ujung sana ada jeda.

Jeda itu cukup untuk membuat dada Sekar kembali menegang.

Namun Oma Lien menjawab tenang, "Tidak ada. Kenapa tiba-tiba tanya mereka?"

Sekar memandang Kevin. Kevin mengangguk kecil, menyuruhnya tetap stabil.

"Sekar tadi ketemu Tommy."

"Di mana?"

"Tempat biliar. Dia bilang Om Budi mungkin akan datang."

Oma Lien menarik napas panjang. Ketika berbicara lagi, suaranya masih lembut, tetapi ada keras yang Sekar kenal dari masa kecil. "Kalau mereka datang, Oma tidak akan buka pintu sebelum telepon kamu. Jangan takut."

"Oma jangan sendirian kalau mereka datang."

"Oma sudah tua, bukan bodoh."

Sekar hampir tertawa, tetapi suaranya pecah. "Oma."

"Pulang saja dulu. Kamu dengan Kevin?"

Sekar melirik Kevin. "Iya."

"Bilang pada Kevin, antar kamu baik-baik."

Kevin mendengar namanya dan langsung berdiri lebih tegak, meski Oma tidak bisa melihat. "Iya, Oma," katanya mendekat ke ponsel.

Oma Lien terdiam sebentar. "Kevin?"

"Iya, Oma. Saya antar Sekar pulang."

"Terima kasih."

"Iya, Oma."

Panggilan berakhir.

Sekar memegang ponsel di dada. Napasnya sudah lebih teratur, tetapi dingin di jari belum hilang.

Kevin mengambil helm dari motor. "Gue antar lo pulang sekarang."

"Jaket Bryan?"

Kevin mengangkat jaket yang masih tersampir di lengannya. "Udah ada. Urusan selesai."

Ia membantu Sekar memakai helm. Gerakannya hati-hati, lebih lembut dari biasanya. Sekar ingin mengatakan ia baik-baik saja, tetapi kalimat itu akan menjadi bohong yang terlalu mudah dibaca.

Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Sekar membuka pesan itu.

Tommy: Sepupu, jangan tegang begitu. Salam buat Oma Lien. Papa bilang Minggu kami mampir. Keluarga saja, nggak perlu bawa pacar anak motor kamu.

Sekar menatap layar sampai huruf-hurufnya kabur.

Kevin melihat wajahnya berubah.

"Dari siapa?"

Sekar tidak bisa menyembunyikannya lagi.

Ia menyerahkan ponsel itu.

Kevin membaca pesan tersebut sekali. Lalu sekali lagi.

Jempolnya bergerak, tetapi bukan untuk membalas.

"Screenshot," katanya.

Sekar masih menatap wajahnya.

"Sekar, screenshot dulu."

Nada itu membuatnya sadar. Ia mengambil ponsel kembali, menekan tombol, menyimpan tangkapan layar. Kevin mengawasi sampai gambar itu masuk galeri.

"Jangan hapus pesan. Jangan blokir dulu."

"Kenapa?"

"Kalau dia kirim lagi, biar ada bukti. Nomornya juga simpan, tapi jangan pakai nama Tommy. Pakai sesuatu yang gampang dicari."

Sekar menatap layar dengan jari kaku. "Bukti?"

"Kalau mereka cuma ngomong keluarga, orang lain bisa bilang kita berlebihan. Kalau dia nulis begini, lain cerita."

Kevin mengambil ponselnya sendiri, mengetik nomor Tommy dari layar Sekar ke catatan, lalu mengirim pesan ke Bryan.

Kevin: Simpan nomor ini. Jangan chat. Punya Tommy.

Bryan membalas hampir langsung.

Bryan: Kenapa?

Kevin: Nanti gue jelasin. Jangan bacot dulu.

Bryan: Kalau lo bilang jangan bacot, berarti serius.

Kevin mengunci ponsel.

"Lo ngelakuin hal yang benar," katanya pada Sekar. "Kasih lihat gue, bukan balas sendiri."

Sekar baru sadar betapa kuat keinginannya tadi untuk membalas dengan marah. Tangannya masih gemetar.

"Aku takut mereka datang ke Oma."

"Mereka boleh datang," kata Kevin pelan. "Tapi kali ini, mereka nggak datang ke rumah yang nggak siap."

Ketika ia mengangkat wajah, matanya sudah dingin sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!