Aderson yang sering dipanggil Derson adalah laki-laki yang sangat kejam, suka kekerasan dan juga sangat membenci yang namanya perempuan.
Olivia yang kerap disebut Via datang kekehidupan Derson, Via mampu mengobrak abrik hati Aderson yang dingin dan sangat susah untuk dijangkau.
Jangan lupa dukung karya ini dengan tinggalkam jejak kalian ya, cukup dengan like, komen, vote, kasih hadiah mawarnya.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linasolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Buat kalian yang baca bab ini jangan lupa kasih setangkai mawar dulu ya.....
Terimakasih sudah mau mampir
🌛🌛🌛
"Jadi kakak jatuh cinta sama siapa? sama kak Via?" Tanya Lily penasaran.
"Hah? nggak ada, kakak nggak ada jatuh cinta sama siapa-siapa" jawab Derson gugup nggak tau mau jawab apa.
"Yahh..... sayang sekali ada orang cantik dirumah tapi dianggurin, diambil orang baru tau" pancing Lily pelan sambil memakan cemilan diatas meja.
Derson yang mendengar itu hanya diam saja tidak mau memperpanjang untuk membahas tengtang Via lagi, James yang ada didepan Lily hanya bisa tersenyum saat melihat wajah Derson yang berubah saat Lily mengatakan Via akan diambil orang.
****
Hari ini karena Derson dan James tidak ada kerjaan yang mendadak keduanya menghabiskan waktu ditempat Lily, ketiga orang itu menghabiskan waktu seperti memasak, dan bermain-main.
"Kak kita Main ludo yuk" ajak Lily lagi setelah selesai satu permainan.
"Achhh..... nggak sekalian kita main kelereng, kalau ludo itu kebanyakan anak-anak yang memainkan" ucap James dengan malas.
"Kak Derson ayok, ajak kak James juga" rengek Lily bersandar dibahu Derson.
"James ayok main ludo, jangan membantah" perintah Derson.
"Yaudah ayok-ayok dasar manja" omel James sambil melihat kesal kearah Lily tapi Lily tidak memperdulikannya, Lily langsung mengambil hpnya dan membuka aplikasi untuk bermain ludo.
"Kak aku warna merah kalian warna apa, nanti siapa yang kalah akan dikasih hukuman jadi jangan sampai tidak serius" ucap Lily sambil fokus pada layar hpnya.
"Aku warna hijau".
"Aku warna apa saja yang penting warna" ucap James.
"Ok kita mulai, sini mendekat" Ajak Lily.
Permainan kali ini banyak dimenangkan oleh Lily dan James hingga permainan terakhirnya Derson betul-betul kalah.
"Apa hukumannya yang cocok untuknya dek Ly?" Tanya James tidak sabar mengerjai bossnya itu lagi.
"Kita kasih make-up saja" ucap Lily dan langsung ditolak oleh Derson, lain halnya dengan James yang sudah berlari kekamar Lily mengambil alat make-up Lily.
"Nggak boleh melawan kakak, sini memdekat Lily yang kasih make-up" kali ini Lily sudah memegangi tangan Derson.
Saat Lily ingin memulai memekapi Derson tiba-tiba suara HP disaku James membuat Lily menghentikan aksinya.
"Ada apa James" Tanya Derson saat James sudah selesai menelfon dengan wajah yang tegang.
"Kita harus pergi sekarang, nanti aku jelaskan, Lily kami pamit pergi dulu ya ada urusan mendadak" kini James sudah mulai berjalan kearah pintu dan diikuti oleh Derson.
Sesampainya didalam mobil kedua laki-laki itu duduk dengan tenang sebelum berbicara, James mulai menjalankan mobilnya berlahan hingga mobil itu sudah mulai membelah jalanan kota.
"Ada apa James kok sangat buru-buru" Tanya Derson yang memang belum tau akar permasalahannya.
"Markas kita di serang para penyusup, dan mereka belum mengetahui siapa dalang dari semua itu, tadi sengaja aku tidak mengatakannya karena ada Lily" jawab James yang masih fokus pada setir mobilnya.
"Bagaimana kondisi markas sekarang?" Tanya Derson dingin.
"Saat ini markas sedang adu baku tembak, tapi barang senjata yang akan kita kirim malam ini sudah diamankan mereka".
"Kita langsung kebandara saja, apa helikompter kita sudah siap brangkat?".
"Sudah, kita tinggal berangkat dan urusan disini aku akan kembali besok kalau disana sudah aman" jawab James.
Mobil itu dikendari oleh James dengan kecepatan tinggi, keduanya sudah tidak sabar untuk memberi perhitungan kepada orang yang berani bermain-main dengan mereka, tapi bagaimana pun mereka marahnya karena jarak begitu jauh hingga sampai kemarkas dan memerlukan waktu 21 Jam penerbangan hanya bisa menenangkan diri saja tanpa bisa berbuat apa-apa.
Mobil itu sudah sampai dilapangan khusus untuk helikopter milik Aderson, kedua laki-laki itu dengan tampang dinginnya berjalan memasuki halikopter yang akan dikemudikan oleh Pilot pribadi Derson.
Kedua laki-laki itu sudah duduk dikursi masing-masing, dan pilot dari helikopter itu mulai menjalan helikopternya kala pintu sudah dikunci oleh orang-orang Derson.
Selama perjalanan kedua orang itu hanya diam saja, dan terbang dalam pikiran masing-masing, sampai helikopter itu mendarat dimarkas milik Aderson. dari luar dapat dilihat markas milik Derson sudah sangat berantakan pintu dan jendela sudah pecah dan juga para bawahan James ada yang sedang membereskan beberapa orang yang sudah mati.
Derson dan James mulai memasuki markas itu, terlihat didalamnya sudah seperti kapal pecah yang biasanya sangat rapi kini keadaannya sudah berbanding terbalik.
"Apa kalian mendapatkan satu orang yang hidup, yang menyusup kemarkas ini?" Tanya James sambil tangannya masuk kedalam kantong celana.
"Kami tidak mendapatkannya, serangan mendadak ini membuat kami kewalahan, dan masih untung dari kami tidak ada yang terluka dan kami juga bisa mengamkan semua barang yang akan kita kirim dalam minggu ini" jawab orang-orang Derson yang mengendalikan markas ini dan menjadi kepercayaan james.
"Kalau begitu kalian bereskan ruangan ini, dan mayat-mayat penyusup itu segera bereskan, aku dan bos akan segera mengambil tindakan" Jemes mulai berjalan setelah selesai bicara dengan bawahannya, menuju arah Derson yang saat ini melihat-lihat keadaan markas itu.
"Bagaimana apa kamu sudah mendapat orang yang membuat kerusuhan ini?".
"Tidak ada, kita pulang kerumah dahulu kita bicara disana biar lebih aman" James mengajak Derson pulang karena disini terus pun tidak ada guna.
"Baiklah kita akan kembali kerumah tapi sebelum pulang kumpulkan dahulu semuanya anak buahmu, aku merasa ada yang berhianat lagi dengan ku" wajah seram dan kejam itu kembali muncul setelah sekian lama tidak diperlihatkan lagi, dengan sigap James langsung mengumpulkan anak buahnya jangan sampai singa kelaparan ini mengamuk.
Dalam hitungan detik semua anak buah mereka, sudah berkumpul disana dan bediri dengan tegap.
"Kalian semua tatap kearah saya, dan dengarkan saya baik-baik bicara kalau kalian masih ingin hidup tenang" ucap Derson pelan tapi menusuk ketulang-tulang mereka.
"Saya sudah tau siapa yang berhianat dengan saya jadi sebelum saya marah bagi kalian yang merasa telah berhianat dibelakang saya maka silahkan berkumpul kesisi kiri saya" derson bicara pelan lagi tapi ucapan kali ini membuat jantung dari beberapa orang disana bekerja lebih cepat dari biasanya.
"Saya hitung sampai tiga kalau tidak ada yang maju maka terima akibatnya. satu..... dua..... tiga..... " dalam hitungan ketiga tidak ada satu orang pun yang Bergerak dari posisinya membuat derson murka.
"James ambilkan aku pist*l yang biasa aku pakai untuk memb*nuh orang secara mengenaskan" ucap Derson dingin kepada James yang berdiri disampingnya.
James mengambil pistol yang ada disaku jasnya langsung menyerahkannya kepada Derson tanpa ekspresi.
Dor.... dor.....dor..... Derson langsung menebak orang setelah pistol itu ada ditangannya dengan ringan tangan tanpa beban atau ragu sedikit pun.
Tiga kali tembakan mengenai tiga kepala orang yang berani berhianat kepada mereka, ketiga orang itu tidak meti mendadak tapi mengerang kesakitan sebelum ajal menjemput, begitulah yang dilakukan oleh Derson orang yang ia bunuh tidak langsung mati tapi menderita terlebih dahulu.
🌛🌛🌛
Jangan lupa
Like
Komen
Favorite
Vote dan juga kasih hadiah setangkai mawar biar authornya semangat buat up