1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 sekolah yang tak pernah ada
Asap hitam mengepul memenuhi halaman sekolah.
Bau kayu terbakar bercampur dengan aroma besi yang menyengat hidung. Sirene terus meraung di kejauhan, tetapi tak terlihat satu pun mobil pemadam kebakaran.
"Ini... sekolah apa?" bisik Naya.
Mereka melangkah keluar dari lift dengan hati-hati.
Begitu kaki Alea menyentuh tanah, pintu lift menutup sendiri.
Ding...
Saat mereka menoleh kembali...
Lift itu telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah tembok bata tua yang dipenuhi retakan.
"Kita... terjebak?" tanya Dimas.
Keanu mencoba tetap tenang.
"Kita cari jalan keluar dulu."
Di gerbang sekolah tergantung papan nama yang nyaris hangus. Beberapa hurufnya sudah hilang.
Yang masih bisa dibaca hanya:
...SYA HARAPAN
"Nama sekolah ini sengaja dihapus," gumam Liora.
Saat mereka memasuki halaman, suasana terasa semakin aneh.
Api masih menyala di beberapa sudut bangunan.
Namun daun-daun pohon tetap hijau.
Kaca-kaca yang pecah tidak mengeluarkan suara saat diinjak.
Seolah mereka berada di tempat yang tidak sepenuhnya nyata.
Tiba-tiba Mira menarik ujung baju Alea.
"Kak..."
Alea menoleh.
Mira menunjuk ke arah gedung utama.
"Mereka masih di dalam."
"Siapa?"
Mira tidak menjawab.
Air mata mengalir di pipinya.
"Teman-temanku..."
Tanpa menunggu lagi, Mira berlari masuk ke dalam gedung.
"Tunggu!" teriak Alea.
Mereka berenam mengejarnya.
Lorong sekolah dipenuhi asap tipis.
Di dinding tergantung foto-foto siswa yang sudah menghitam karena terbakar.
Saat Alea menyinari salah satu foto dengan senter ponselnya, ia membeku.
Di foto itu berdiri enam siswa.
Maya,Rio,Doni,Sinta,Arga,Niko.
Foto yang sama seperti di artikel koran.
Namun ada satu orang lagi di barisan belakang.
Seorang pria dewasa mengenakan jas.
Di dadanya tergantung kartu identitas bertuliskan:
Guru Pendamping – Bima Prasetyo.
Alea langsung menoleh ke arah teman-temannya.
"Itu..."
"Pak Bima..." bisik Raka.
Jantung mereka serasa berhenti.
Bagaimana mungkin wajah Pak Bima yang sekarang sama persis dengan guru dalam foto yang seharusnya diambil dua puluh tahun lalu?
Belum sempat mereka mencerna kenyataan itu, terdengar suara bel sekolah.
Teng... Teng... Teng...
Suara itu menggema di seluruh gedung.
Pintu-pintu kelas terbuka sendiri.
Dari setiap ruang kelas, puluhan siswa berseragam muncul perlahan.
Wajah mereka pucat.
Seragam mereka dipenuhi abu.
Mereka berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lalu...
Secara bersamaan, seluruh siswa itu menoleh ke arah Alea dan teman-temannya.
Salah seorang di antaranya mengangkat tangan dan berkata dengan suara pelan,
"Pelajaran terakhir akan segera dimulai."
Mata Alea membelalak.
"Apa maksudnya...?"
Belum ada yang sempat menjawab.
Di ujung lorong, seorang pria memegang lonceng sekolah.
Saat ia mengangkat wajahnya...
Raka langsung memucat.
Pria itu adalah...
Pak Bima.
Namun kali ini, seragamnya berlumuran darah dan sisi kiri wajahnya hangus terbakar.
Ia tersenyum.
"Lima menit lagi."
"Lalu..."
"...tidak ada seorang pun dari kalian yang bisa pulang."
Lonceng di tangan Pak Bima berbunyi sekali lagi.
Teng...
Suara itu menggema ke seluruh lorong sekolah.
Puluhan siswa yang tadi berdiri diam mulai berjalan serempak menuju aula utama. Langkah mereka pelan, kepala tertunduk, tanpa suara sedikit pun.
Alea memperhatikan wajah mereka satu per satu.
Tak ada ekspresi.
Tak ada kehidupan.
Hanya tatapan kosong.
"Mereka seperti... sedang dikendalikan," bisik Liora.
Pak Bima tersenyum tipis.
"Kenapa kalian tidak ikut?"
"Kelas akan segera dimulai."
Keanu maju selangkah.
"Siapa Bapak sebenarnya?"
Pak Bima tidak langsung menjawab.
Ia hanya memutar lonceng kecil di tangannya.
"Guru."
"Penjaga."
"Dan seseorang yang melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya."
Kalimat terakhir diucapkannya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Namun sebelum Alea sempat bertanya lebih jauh, Mira menarik lengannya.
"Kak..."
"Jangan dengarkan dia."
"Ikut aku."
Mira berlari menuju tangga darurat di ujung lorong.
Alea dan teman-temannya saling berpandangan, lalu segera mengikutinya.
"Berhenti!"
teriak Pak Bima.
Namun anehnya...
Ia tidak mengejar mereka.
Ia hanya berdiri di tempat sambil menundukkan kepala.
Seolah ada batas yang tidak bisa ia lewati.
Tangga darurat itu sempit dan dipenuhi debu.
Semakin ke atas, udara semakin dingin.
Di lantai paling atas, Mira berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.
Pintu itu memiliki plakat kecil yang sudah berkarat.
RUANG ARSIP SEKOLAH
Mira menoleh kepada Alea.
"Semua jawaban ada di sini."
Dengan hati-hati, Keanu memutar gagang pintu..
Ruangan itu dipenuhi lemari besi dan tumpukan dokumen yang sudah menguning.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu.
Di atasnya...
Terletak sebuah buku bersampul hitam pekat.
Tidak ada judul.
Tidak ada nama penulis.
Hanya sebuah lambang angka 13 berwarna perak.
Raka langsung teringat ucapan Rio.
"Carilah Buku Hitam."
"Itu pasti buku yang dia maksud," ucapnya.
Begitu Alea menyentuh sampul buku itu...
Ruangan mendadak bergetar.
Semua lemari besi terbuka sendiri.
Ratusan lembar kertas beterbangan memenuhi udara.
Di setiap lembar hanya tertulis satu nama.
Beberapa nama sudah dicoret dengan tinta merah.
Beberapa lainnya belum.
Liora menangkap salah satu kertas.
Wajahnya langsung pucat.
"Itu..."
"Ada apa?" tanya Dimas.
Dengan tangan gemetar, Liora menunjukkan kertas itu.
Di sana tertulis:
Alea Pramesti.
Di bawahnya tertulis tanggal hari itu.
Namun nama Alea...
Belum dicoret.
Keanu segera mengambil lembar lain.
Isinya:Raka Mahendra Belum dicoret.
Naya, Dimas, Liora, dan Keanu juga menemukan nama mereka masing-masing.
Semuanya ada di dalam ruangan itu.
Semuanya...Belum dicoret.
Mira mulai menangis.
"Kalian terlambat..."
Alea menoleh.
"Maksudmu?"
Mira menunjuk halaman pertama Buku Hitam yang perlahan terbuka sendiri.
Di sana tertulis satu kalimat dengan tinta merah yang masih tampak basah.
«"Enam nama baru telah dipilih untuk menggantikan enam korban lama."»
Seketika...
Bel sekolah berbunyi keras.
TENGGGGGG!!
Pintu ruang arsip menutup sendiri.
Dan dari balik pintu...
Terdengar suara langkah kaki puluhan orang yang berjalan mendekat.