Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
"Apakah kamu melakukan tugasmu dengan baik, Violet?" tanya Amarta, suara menggema di dinding-dinding ruang makan yang luas.
Violet merasa sejuk menerpa tulang belakangnya.
Di desa, nada bicara seperti itu biasanya pertanda kemarahan yang mendalam.
Violet berusaha keras untuk menelan ludah, 'Memangnya apa salahku?' pikirnya, rasa ketidaknyamanan menggelayut di benaknya.
Saat itu, Amarta melanjutkan, "Apakah kamu mau menjadi cucu menantuku?" Pertanyaan itu datang begitu saja, tanpa peringatan, membuat Violet tercengang.
Dia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.
Sejenak ruangan itu terasa begitu senyap sehingga suara detak jam di dinding terdengar seperti guntur.
Sementara itu suara gaduh nampak terdengar dari luar ruangan, suara langkah kaki nampak mendekat ke arah ruang makan dimana Violet dan nenek Amarta berada.
Kedatangan Felix yang tiba-tiba membuat suasana di ruang makan yang semula tenang menjadi tegang.
Langkah kakinya yang berat terdengar semakin mendekat.
Saat ia menerobos masuk, matanya langsung tertuju pada Violet yang terlihat canggung.
"Violet!!" serunya dengan nada tinggi, penuh kejut dan kebencian.
Sinar matanya menyala-nyala menatap gadis yang sampai sekarang masih singgah di hatinya itu.
Violet, yang kaget dengan kedatangan mendadak Felix, segera membuang muka, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang membanjiri dirinya.
Bibirnya bergetar, dan tangan yang semula tenang kini mengepal di sisi tubuhnya.
"Oh ternyata gosip di sekolah benar! Kalau sekarang ini kau itu mendekati paman ku Romeo," kata Felix dengan nada kasar, suaranya hampir terdengar seperti tuduhan.
Ia melupakan alasan mengapa ia datang ke sana semula, terfokus pada rasa sakit dan cemburu yang membara dalam dadanya.
Saat Felix berjalan mendekat ke arah Violet, Romeo yang melihat kedatangan Felix ingin mengusir bocah itu.
Felix dan Romeo saling pandangan dengan tatapan sengit.
"Romeo, memangnya apa yang kamu lakukan?" tanya nenek Amarta yang sudah sepuh dengan wajah penuh intimidasi.
Felix jarang sekali mengunjungi rumahnya, kalau tidak ada masalah mendesak.
Amarta sangat menyayangi Felix, mengingat dia adalah cicit satu-satunya Amarta.
Walaupun Amarta tidak menyukai sifat Samuel yang tamak, pemalas dan juga serakah.
Tapi bagaimana pun juga, Samuel adalah putra tunggal anaknya yang kedua.
Amarta tahu, semua adalah keturunannya, bagaimana pun juga, dia harus bersikap adil.
"Dan kamu Felix, kenapa datang ke rumah nenek buyutmu ini dengan cara tidak sopan? Bahkan masuk ke dalam rumah langsung marah tanpa mencium punggung tangan nenek," ucap Amarta dengan nada kesal.
Felix yang tahu kekuasaan penuh masih dipegang neneknya setelah Romeo, tentu saja dia tidak mau kalau sampai kehilangan dukungan.
Felix berjalan ke arah neneknya sesekali melirik ke arah Violet yang menunduk, dia benar-benar masih dibuat terkejut.
Tentang Violet yang berada dirumah utama keluarga Handoyo.
Felix mencium punggung tangan neneknya, tak lupa memeluk neneknya itu dengan manja terlebih dahulu.
Dengan wajah polos bak seorang anak kecil yang teraniaya, Felix berkata, "nenek Amarta, Romeo memasukkan ayahku ke dalam penjara!"
Tapi wajah Amarta terlihat tidak terkejut, bahkan dia sepertinya sudah tahu terlebih dulu.
"Kasihan ayahku Nek, dia di fitnah oleh paman Romeo melakukan korupsi," imbuh Felix dengan nada provokasi.
Tapi ekspresi wajah Amarta masih saja datar, tidak terpengaruh sama sekali.
Felix mulai merasa sangat kesal.
Sementara Romeo berjalan ke arah Violet.
"Ayo makan makananmu yang banyak! Biar kamu bertenaga," titah Romeo pada Violet dengan nada yang terdengar penuh perhatian.
Hal yang Romeo lakukan tidak luput dari tatapan tajam Felix.
Tapi Felix hanya bisa diam menahan amarah dan juga rasa cemburunya, bagaimana pun dia tidak boleh bertindak gegabah dan membuat onar didalam rumah utama.
Felix, dengan napas yang masih tersengal karena amarah, memandang nenek buyutnya dengan rasa hormat namun juga kekecewaan.
"Nenek buyut, kenapa Romeo bisa dengan damai berada di sini sementara ayahku yang juga cucu nenek, malah dibuang ke penjara oleh Romeo?" suaranya keras, penuh dengan tudingan.
Merasa sbelumnya terus diabaikan oleh Amarta, Felix merasa kesal.
Dia tetap harus meminta keadilan pada Amarta.
Suaranya terdengar keras, dia berharap agar semua orang bisa mendengar ucapannya.
Romeo, yang sejak tadi hanya diam, kini membalas tatapan Felix dengan tatapan yang sama kerasnya.
"Felix, kamu tidak tahu apa-apa! Keputusan itu diambil karena alasan yang kuat, dan bukan urusanmu untuk campur tangan!" balasnya, suara bergetar karena emosi yang ia coba untuk kendalikan.
Nenek Amarta menghela napas, kedua tangan terkulai lemah di samping tubuhnya.
"Cukup!" teriaknya, suara yang sudah rapuh itu mendadak keras dan berwibawa.
"Tidak seharusnya keluarga ini terpecah karena masalah yang bisa kita selesaikan dengan kepala dingin."
Romeo dan Felix sama-sama menundukkan kepala, merenung atas kata-kata nenek Amarta.
Walaupun masih ada bara kemarahan di hati masing-masing, mereka tahu nenek buyut mereka benar.
"Tapi nenek, kalau masalahnya mau dibicarakan dengan kepala dingin. Harusnya ayahku tidak dipenjara, semua bisa dibicarakan terlebih dahulu!" kilah Felix, dia merasa ayahnya tidak bersalah dan hanya dijebak.
Romeo melirik ke arah neneknya sebentar, lalu dia berkata dengan santai kepada Felix.
"Bocah ... Lebih baik kita makan bersama dulu, setelah ini kau bisa ikut ke ruang kerjaku! Akan aku tunjukkan semua bukti kejahatan yang dilakukan oleh ayahmu."
Ucapan Romeo langsung membuat Felix terdiam membisu.
Bahkan ekspresi wajahnya lambat laun langsung berubah.
'Kejahatan? Memangnya apa yang dilakukan oleh ayahku?' pikir Felix dalam hatinya.
Otaknya sebenarnya juga tidak sebodoh orang pada umumnya, tentu saja di masih bisa berpikir dengan normal.
Kalau memang ayahnya tidak melakukan kejahatan, gak mungkin juga ayahnya akan di tahan.
Dan berita itu? Gak mungkin juga Romeo akan mengada-ada.
Walaupun Felix sebenarnya tidak menyukai Romeo karena hasutan ayahnya, tapi dia tentu saja tahu dengan jelas bagaimana sepak terjang Romeo.
Romeo bukanlah orang sembarangan yang akan memasukkan orang ke penjara kalau memang orang itu tidak bersalah.
Itu bukanlah watak seorang Romeo Alson Handoyo pamannya.
"Baiklah paman, aku akan makan dengan baik!" kata Felix dengan nada patuh.
Violet sendiri merasa sedikit terkejut setelah melihat ekspresi Felix yang berubah begitu cepat.
Tapi, karena dia memang tidak memiliki power apa-apa dirumah mewah ini.
Violet hanya diam seraya melanjutkan makannya.
Di tengah ruangan yang semula dipenuhi ketegangan, kini terasa ada benih-benih rekonsiliasi yang mulai tumbuh, perlahan namun pasti.
"Seharusnya dari tadi kan begini! Semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Kenapa harus dengan marah-marah dipagi hari," kata Amarta dengan nada suara penuh wibawa.
"Maaf nenek! Aku terlalu emosi, karna ayah sama sekali tidak bisa dihubungi," kata Felix mengadu.
"Gak papa, kamu tahu sendiri-kan! Pamanmu itu orang tegas, dia gak akan memenjarakan orang tanpa alasan, nanti setelah makan, kamu bisa ikut ke ruangannya untuk melihat kesalahan apa saja yang dilakukan oleh ayahmu."
"Bahkan bisa membuat seluruh keluarga Handoyo menjadi rugi," jelas Amarta dengan suara penuh kasih.