NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Deadline

Naomi akhirnya keluar.

Ia tidak langsung duduk di sebelah Kelvin. Ia berdiri dulu di belakang sofa, melihat punggung laki-laki itu yang tampak tenang di bawah cahaya televisi.

Kelvin tidak menoleh.

Seolah ia tahu Naomi sudah ada di sana.

Seolah ia sengaja memberi Naomi waktu untuk memilih sendiri.

Naomi berjalan memutar ke sisi sofa, lalu duduk di ujung yang biasa ia tempati. Jarak di antara mereka masih ada, tetapi tidak lagi terasa seperti tembok.

Di layar, acara memasak entah sedang membuat sup apa. Tidak ada yang benar-benar menonton.

Kelvin mengambil remote dan mengecilkan suara.

Naomi memeluk lutut. Matanya masih sedikit bengkak.

"Besok kamu ada kelas pagi?" tanya Kelvin akhirnya.

Pertanyaan itu biasa.

Terlalu biasa.

Justru karena biasa, Naomi hampir menangis lagi.

Ia mengangguk. "Jam sembilan."

"Aku antar."

Tidak ada apakah kamu masih tinggal di sini.

Tidak ada jadi kontraknya bagaimana.

Tidak ada pembicaraan tentang koper kosong di kamar.

Hanya aku antar.

Naomi menunduk, menatap ujung jarinya. "Iya."

Malam itu, mereka tidak membahas apa pun yang penting. Mereka duduk sampai hujan berhenti, lalu Kelvin berdiri lebih dulu dan berkata ia masih harus membalas email. Naomi kembali ke kamar yang barang-barangnya sudah rapi seperti semula.

Ia tidur dengan lampu hangat menyala.

Kali ini bukan karena takut gelap.

Melainkan karena ia ingin melihat, sekali lagi sebelum tidur, bahwa kopernya tidak berada di tengah lantai.

***

Keesokan paginya, tidak ada yang berbeda.

Kelvin tetap membuat komentar singkat tentang rambut Naomi yang belum kering sempurna.

Naomi tetap menjawab dengan wajah memerah bahwa ia sudah mengeringkannya.

Felix tetap menghalangi jalan di depan meja makan, seolah tubuh besar itu berhak menjadi pajak sarapan.

Bubur diganti roti panggang dan telur. Air hangat tetap ada di sisi Naomi. Kopi Kelvin tetap hitam dan terlalu pahit untuk dibayangkan.

Semuanya sama.

Namun tidak satu pun benar-benar sama.

Naomi duduk di kursi makan dan menyadari kontrak mereka sudah lewat.

Kemarin adalah hari terakhir.

Hari ini seharusnya ia sudah tidak punya alasan berada di sini.

Tapi Kelvin meletakkan selai jeruk di dekat tangannya, membuka tutupnya lebih dulu karena tutup botol itu selalu keras.

"Jangan pakai terlalu banyak," katanya. "Nanti kemanisan."

Naomi menatap botol itu.

"Kamu yang beli."

"Karena kamu suka."

Naomi mengoleskan selai ke roti. Tangannya hampir salah gerak karena kalimat itu.

Karena kamu suka.

Dulu kalimat seperti itu terasa seperti kemewahan. Sekarang Kelvin mengucapkannya sambil mengambil kopi, seolah merawat kesukaan Naomi sudah masuk jadwal pagi.

"Kelvin."

"Hm?"

Naomi ingin berkata sesuatu.

Tentang kontrak.

Tentang koper.

Tentang fakta bahwa ia masih duduk di meja makan ini, memakai sandal rumah yang Kelvin belikan karena lantai apartemen terlalu dingin.

Namun Kelvin mengangkat mata, dan semua keberaniannya berubah menjadi kalimat kecil.

"Terima kasih untuk sarapannya."

Kelvin menatapnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya naik sedikit.

"Itu saja?"

Pipi Naomi panas. "Memangnya kurang?"

"Banyak yang masih kurang."

Jantung Naomi meloncat.

Kelvin menyuap roti dengan tenang, seperti tidak baru saja membuat kalimat itu hidup liar di kepala Naomi.

"Makan. Nanti telat."

Mereka berangkat bersama seperti biasa.

Tidak.

Naomi mengoreksi dirinya sendiri saat masuk lift.

Tidak seperti biasa.

Biasanya ia duduk di mobil Kelvin dengan perasaan sedang meminjam kehidupan orang lain. Biasanya ia menghitung sampai kapan ia boleh memakai kursi penumpang itu, sampai kapan Felix boleh menganggapnya Mommy, sampai kapan Kelvin boleh memanggilnya Baby tanpa konsekuensi.

Pagi ini, ia duduk di kursi yang sama.

Namun sabuk pengaman yang dipasang Kelvin setelah ia terlalu lambat menariknya tidak lagi terasa seperti bagian dari sandiwara.

Jari Kelvin sempat menyentuh bahunya saat menarik sabuk.

"Sudah."

Naomi menunduk. "Aku bisa sendiri."

"Aku tahu."

Jawaban yang sama.

Tetapi sekarang artinya berbeda.

Mobil melaju ke Universitas Nusantara. Jakarta setelah hujan terlihat sedikit lebih bersih, meski macet tetap tidak punya belas kasihan. Kelvin tidak banyak bicara. Naomi juga tidak.

Di antara mereka, diam terasa penuh.

Tidak nyaman, tetapi juga tidak kosong.

Saat mobil masuk area kampus, beberapa mahasiswa menoleh. Naomi sudah mulai terbiasa dengan tatapan itu, walau belum sepenuhnya kebal.

Kelvin memarkir mobil di dekat gedung fakultas.

"Pulang jam berapa?" tanyanya.

"Sekitar tiga."

"Aku jemput."

Naomi memegang tali tas. "Kamu tidak sibuk?"

"Sibuk."

"Lalu?"

"Aku jemput."

Naomi menahan senyum. "Itu tidak menjawab."

"Menjawab cukup jelas."

Ia turun dari mobil dengan pipi hangat.

Kelvin ikut turun, bukan untuk mengantar sampai kelas, hanya berdiri di sisi mobil dan memastikan Naomi merapikan tasnya. Gerakan kecil itu sudah cukup menarik perhatian beberapa orang.

Danny muncul dari arah parkiran motor gede dengan gelas kopi di tangan.

Matanya langsung menyipit melihat mereka.

"Pagi," sapanya terlalu cerah.

Kelvin meliriknya. "Kamu berisik bahkan sebelum bicara."

"Aku belum bicara apa-apa."

"Wajahmu sudah."

Danny melihat Naomi, lalu Kelvin, lalu Naomi lagi.

Senyumnya makin lebar.

"Jadi kalian..."

Naomi langsung menunduk.

Kelvin menatap Danny datar. "Apa?"

Danny mengangkat dua tangan, pura-pura menyerah. "Gak. Gak apa-apa."

"Bagus."

"Aku cuma mau bilang, cuaca hari ini cerah sekali."

Langit masih mendung.

Naomi hampir tertawa.

Kelvin tampak ingin melempar sesuatu, tetapi hanya memasukkan tangan ke saku.

Danny menyesap kopi, matanya masih penuh tanda seru yang tidak jadi diucapkan.

Ia sudah mengerti.

Naomi tahu dari cara Danny tidak lagi menggoda keras. Justru karena ia tidak melanjutkan, rasanya lebih jelas.

Kontrak itu sudah lewat.

Namun ia tetap datang dari apartemen Kelvin, diantar Kelvin, dengan air hangat di tubuhnya dan selai jeruk manis masih tertinggal di lidah.

Tidak ada yang palsu dari pagi itu.

"Masuk," kata Kelvin pada Naomi.

"Iya."

"Nanti kabari kalau selesai lebih cepat."

Naomi mengangguk.

Langkahnya menuju gedung terasa ringan dan berat sekaligus.

Di pintu lobi, ia menoleh sebentar. Kelvin masih berdiri di dekat mobil, Danny di sampingnya berbicara dengan gerakan tangan berlebihan. Kelvin tidak menanggapi, tetapi matanya mengikuti Naomi sampai ia masuk ke dalam.

Naomi menggenggam tali tas.

Senyum kecil muncul tanpa bisa ia tahan.

Hari itu, setelah kelas terakhir selesai dan Kelvin belum datang menjemput, Naomi membuka planner kecil di tasnya.

Di halaman bulan itu, ada tanda kecil yang ia buat sendiri.

Lingkaran merah di tanggal kemarin.

Deadline.

Naomi menatapnya lama.

Lalu ia mengambil penghapus dari tempat pensil dan menghapus lingkaran itu pelan-pelan.

Kertasnya sedikit kusut.

Tidak apa-apa.

Tanda itu hilang.

Ia menutup planner, menekannya ke dada beberapa detik.

Ada rasa lega yang diam-diam mekar.

Namun di balik rasa lega itu, satu masalah baru berdiri dengan sabar.

Kelvin sudah mengatakan banyak hal tanpa kata.

Naomi masih belum berani mengatakan satu hal paling sederhana.

Aku suka kamu.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!