"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 28
"Aku lupa sesuatu, kamu harus membawa beberapa setel pakaian, bukan?"
"Gara tak perlu repot-repot, antar saja aku ke kos!"
Gara lekas mencibir tak terima, "biar bisa leluasa bertemu dengan mantanmu?"
"Kamu benar-benar ya, Ga?" Sikapnya ini tak mungkin juga aku artikan Sagara cemburu, lagi pula tak semudah itu membuatku ge-er hanya dengan perlakuan manis dan pengakuan sukanya.
"Nin?"
"Ya?"
"Tinggal di apartemenku, ya? Bukan karena apa-apa, tapi aku takut kamu kenapa-napa. Kos-an itu rawan kejahatan, apalagi gerbang kos-mu itu tak lebih tinggi dari badanmu!"
Tuh kan, dia tak mungkin cemburu...
Lagi pula, selera Sagara spek bidadari kaya Mbak Alina, bukan spek mak lampir sepertiku.
Tuk!
"Mikir apa, malah melamun?" Tanya Sagara. Aku mengusap-usap kening, beraninya dia menyentil keningku yang lebar ini.
"Mikir, bisa-bisanya kamu yang pernah suka Mbak Alina seleranya turun drastis!" Aku mencibir, pura-pura meledeknya. Padahal aslinya deg-degan, kalau ternyata jawaban Sagara cukup mengecewakan, aku pasti akan mengumpatinya habis-habisan.
"Wanita kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing!" jawab Sagara, dan aku baru sadar kalau sekarang sedang menuju ke kos.
"Maksudmu?" Aku memicing, jangan bilang dia mau membandingkanku dengan Mbak Alina?
"Alina itu cantik, tapi cantik aja gak cukup bikin aku berani maju kan? Seleranya duda!" kelakar Sagara. Aku ingat, aku ingat laki-laki yang kepergok satu kamar dengan Mbak Alina setelah pernikahan Mbak Wina.
"Jadi pacar Mbak Alina itu duda?" Heh, rasanya aku ingin merutuk mulutku yang kepo ini. Masalahnya, Mas Kenaan itu idaman banget, masa laki-laki seganteng dan seperfect dia itu 'DUDA'?
"Kenapa jadi bahas Alina, hm?"
"Entah."
"Sampai," beritahu Sagara dan aku bergegas turun.
"Hanin, astagaaa!" Siska merangsek dan langsung memelukku erat.
"Astaga!" Aku bergumam, lalu melirik Sagara yang garuk-garuk kepala.
"Nin, kamu kemana aja? Kenapa gak pulang, hm? Aku khawatir tau!" Siska sampai membolak-balikkan badanku, seolah memastikan badanku baik-baik saja.
"I'm oke, udah, ya? Sis, ini Gara udah nunggu lho," ujarku pelan agar Siska berhenti.
"Garaaa! Waittt..." Siska tampak terkejut.
"Hehehehe..." Aku hanya bisa tertawa tanpa niat menjelaskan apapun.
"Siska, sorry tapi aku harus pergi sementara waktu!" Siska mengikutiku ke kamar kos pun dengan Sagara yang mulai tak sabaran melihat aku dan Siska saling tukar cerita.
"Nin, buruan!"
"Ish, perusak suasana!" cibir Siska membuatku tertawa.
"Nin, janji besok senin cerita banyak-banyak sama aku!" rajuk Siska seraya membantuku membawa koper.
"Iya, nanti aku cerita. Kamu sih pake ngasih tau alamatku ke Mas Harsa, jadi gini deh!"
"Lah bukanya dia Mas-mu, Nin?" Siska menggaruk kepala, lalu menatapku memelas.
"Aku ngerasa bersalah jadinya, kamu nggak cerita apa-apa."
"Sorry, Sis. Janji kalau nanti waktunya pas aku cerita."
***
Gilaaa, aku merasa dapat jackpot begitu sampai di apartemen yang cukup luas dengan satu kamar itu. Desainnya keren, dan sesuai lah dengan Sagara yang cool.
Sayangnya, begitu mengantarku tadi Sagara langsung pulang. Meski ia berjanji akan datang lagi pas makan malam.
Segera aku membersihkan diri dan memakai dress rumahan. Sebaiknya, sebelum Sagara datang lebih baik aku menikmati waktu sendiriku sebaik mungkin.
"Ahh, ponselku!" Aku baru teringat ponselku layarnya retak. Jadilah mumpung belum disibukkan kerja lebih baik aku ke gerai counter untuk memperbaikinya.
"Jadi kamu tinggal di daerah sini? Apa orang kaya itu yang menampungmu dan memberikanmu salah satu apartemen di gedung itu!"
Aku menegang, suara itu suaranya Mas Harsa.
Namun, terlambat untuk mundur, ia sudah menarik tanganku dan menatapku dengan tatapan...
"Tunggu!"
KACAU !!!