NovelToon NovelToon
Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Bluetherine

Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.

"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jiwa Baru Di Istana Dingin

Hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Di atas ranjang kayu yang lapuk di sudut Istana Dingin, tempat pembuangan bagi para wanita kekaisaran yang tak lagi diinginkan, tubuh kurus Shen Ran terbaring kaku. Napas terakhirnya baru saja berembus beberapa detik yang lalu, membawa pergi jiwa rapuh sang Permaisuri yang mati dalam kesendirian dan penghinaan. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.

Uhuk! Uhuk!

Dada yang tadinya diam tiba-tiba naik turun dengan liar. Sepasang kelopak mata yang indah terbuka lebar. Sepasang manik mata yang biasanya redup dan penuh ketakutan, kini berkilat tajam, sedingin es di puncak gunung.

"Sial... dingin sekali," bisik suara itu, serak namun sarat akan ketegasan yang asing.

Clara, atau yang kini berada di tubuh Shen Ran, menyentuh lehernya. Ia mencoba duduk, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ingatan terakhirnya adalah sebuah kecelakaan mobil tragis di pusat kota Jakarta. Setelah ia memenangkan kasus korporat bernilai miliaran rupiah. Dan sekarang? Aliran memori asing tiba-tiba menghantam kepalanya.

Shen Ran. Permaisuri Kekaisaran Yan yang malang. Dinikahi hanya untuk memperkuat takhta Kaisar, lalu dibuang dan difitnah oleh selir kesayangan Kaisar, Selir Agung Chu. Ia dikurung di istana bobrok ini tanpa makanan yang layak, sementara keluarganya sendiri menutup mata demi keselamatan posisi mereka. Clara memandangi jemarinya yang kurus dan pucat.

"Tidak mungkin!" teriak Clara, menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Meskipun kepalanya masih berdenyut nyeri akibat hantaman memori ganda, antara ingatan hukum korporat modern dan penderitaan tak berkesudahan milik Shen Ran, fakta yang terpampang di depan matanya terlalu nyata untuk dibantah.

Clara memandangi sekeliling ruang kamar yang menyedihkan ini. Dinding-dinding kayu yang mulai berjamur, tirai brokat compang-camping yang tak lagi mampu menghalau angin malam, dan aroma debu bercampur kayu basah. Ini adalah deskripsi tepat dari Istana Dingin dalam novel roman-sejarah berjudul Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang, yang sempat ia baca untuk membunuh waktu di sela-sela jadwal sidangnya yang padat.

Di dalam novel itu, Shen Ran adalah tokoh figuran tragis. Permaisuri tanpa kekuatan yang mati mengenaskan di bab-bab awal hanya untuk menjadi batu loncatan bagi sang tokoh utama wanita, Selir Agung Chu, untuk naik takhta.

"Jadi..." Clara menyentuh dahi tubuh barunya yang terasa demam, lalu menghela napas panjang. "...aku benar-benar bertransmigrasi ke dalam novel picisan ini? Dan aku menjadi umpan peluru yang ditakdirkan mati konyol?"

Clara terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar serak di ruangan yang sunyi itu, namun perlahan berubah menjadi tawa dingin yang penuh dengan kepercayaan diri.

Sebagai pengacara korporat papan atas di London yang terkenal tak kenal ampun di meja hijau, Clara sudah biasa menghadapi situasi paling buntu sekalipun. Baginya, kalah sebelum bertarung adalah penghinaan terbesar terhadap kecerdasannya.

"Jika penulis novel ini mengira aku akan mengikuti naskah bodoh dan mati mengenaskan demi melancarkan jalan cinta Kaisar dan selirnya, mereka salah besar."

Clara melirik ke arah pintu kayu yang reyot. Mengingat alur cerita aslinya, sesaat setelah Shen Ran sadar dari pingsannya akibat kedinginan, pelayan pribadi Selir Agung Chu akan datang untuk mengantarkan makanan sisa sebagai bentuk penghinaan harian.

Sambil meluruskan gaun putihnya yang tipis dan kotor, Clara menyandarkan punggungnya ke tiang ranjang yang berderit. Kedua tangannya bersilang di dada. Tatapan matanya yang dulu rapuh kini telah berganti dengan sorot tajam seorang predator yang sedang menyusun strategi perang.

"Baiklah, Kekaisaran Yan," gumam Clara dengan senyum miring yang mematikan. "Mari kita lihat seberapa kuat kalian bisa bertahan saat hukum modern dan taktik kotor korporat mulai bermain di istana kuno ini. Sekarang panggil aku Shen Ran, bukan Clara."

Brak!

Sesuai dengan tebakan Clara, atau yang kini harus membiasakan diri dengan nama Shen Ran, pintu kayu Istana Dingin yang rapuh itu ditendang kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya. Aroma dingin malam yang menusuk langsung menyeruak masuk, membawa serta langkah kaki yang angkuh.

"Astaga, ternyata wanita sialan ini belum mati!"

Sebuah suara melengking bernada mengejek memecah keheningan. Seorang pelayan senior berpakaian sutra hijau, Qiao’er, tangan kanan Selir Agung Chu, melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Di belakangnya, dua kasim bertubuh kekar mengikuti dengan senyum meremehkan yang kentara. Di tangan Qiao'er, bertengger sebuah mangkuk porselen retak berisi bubur dingin yang sudah berbau masam.

"Permaisuri," panggil Qiao’er dengan nada yang sama sekali tidak menaruh hormat. Tanpa aba-aba, ia menjatuhkan mangkuk itu ke lantai tanah di dekat kaki ranjang, membuat bubur dingin itu terciprat ke mana-mana.

"Selir Agung Chu berbaik hati mengirimkan makanan ini untuk Anda. Habiskan, lalu bersujud-lah ke arah Istana Barat untuk berterima kasih atas kemurahan hati beliau!"

Jika ini adalah Shen Ran yang asli, dia pasti sudah gemetar ketakutan, menangis, dan mungkin akan memakan bubur basi itu sambil memohon belas kasihan agar tidak disiksa lebih jauh. Namun, Clara hanya menatap cipratan bubur di lantai dengan pandangan datar. Detik berikutnya, ia mengalihkan sepasang manik mata hitamnya yang tajam langsung ke arah Qiao’er.

Aura dingin yang tiba-tiba menguar dari tubuh kurus di atas ranjang itu membuat kata-kata Qiao'er tertahan di tenggorokan. Bulu kuduk pelayan itu mendadak berdiri. Untuk sesaat, ia merasa tidak sedang berhadapan dengan wanita penyendiri yang rapuh, melainkan seekor pemangsa yang tengah mengunci targetnya.

"Apa yang kau lihat?! Cepat makan dan bersujud!" teriak Qiao’er, mencoba menutupi rasa ngeri yang tiba-tiba menyerang dadanya.

Shen Ran perlahan menurunkan kakinya dari ranjang. Gerakannya begitu anggun, seolah gaun putihnya yang kotor dan robek adalah jubah kebesaran sutra terbaik. Ia berdiri tegak, membiarkan postur tubuhnya yang tinggi mendominasi ruangan sempit itu.

"Siapa namamu?" tanya Shen Ran. Suaranya rendah, jernih, dan sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang berada di ambang kematian.

"Q-Qiao'er! Pelayan pribadi Selir Agung Chu!" jawab pelayan itu, buru-buru membawa nama majikannya sebagai tameng.

"Qiao'er," Shen Ran mengulang nama itu dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Sebagai seorang pelayan di Istana Yan, apakah kau pernah membaca aturan hukum kekaisaran?"

Qiao’er mengernyit duga, merasa asing dengan kosakata itu. "Hukum kekaisaran apa? Jangan membual! Anda hanyalah Permaisuri terbuang yang..."

PLAK!

Suara hantaman keras menggema di dalam ruangan yang sunyi. Tamparan itu begitu cepat, presisi, dan bertenaga hingga tubuh Qiao’er terhuyung dan jatuh tersungkur di atas lantai tanah yang kotor. Sudut bibirnya langsung pecah dan mengeluarkan darah segar. Dua kasim di belakangnya terbelalak, membeku di tempat seperti patung lilin.

"Satu tamparan untuk kelancangan mulutmu," kata Shen Ran dingin. Ia menarik selembar kain lusuh dari meja terdekat, menyeka jemarinya yang baru saja menampar Qiao'er seolah-olah ia baru saja menyentuh sampah menjijikkan, lalu membuang kain itu ke wajah Qiao'er.

"K-kau... beraninya kau menyentuhku?! Aku adalah pelayan kesayangan Selir Agung Chu! Kaisar akan..."

"Kaisar?" Shen Ran memotong ucapan itu dengan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.

Ia melangkah maju, lalu tanpa ragu menginjak jemari tangan Qiao’er yang menopang tubuhnya di lantai. Ia menekan tumitnya dengan kekuatan penuh.

"Aaaakh! Sakit!" Qiao’er menjerit histeris saat merasakan tulang jarinya seolah hendak remuk.

"Dengar baik-baik, budak," Shen Ran membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Qiao’er yang kini dipenuhi ketakutan murni. "Di bawah hukum Kekaisaran Yan Pasal 4 tentang Tata Tertib Istana Belakang. Barang siapa pelayan rendahan yang dengan sengaja menghina, menyerang, atau memerintahkan Ibu Negara Kekaisaran untuk bersujud, hukumannya adalah potong lidah dan hukuman mati dengan cara dipukuli."

Shen Ran memperdalam injakannya, membuat jeritan Qiao'er semakin melengking. "Bahkan jika aku dibuang ke Istana Dingin sekalipun, namaku masih tercatat di kuil leluhur sebagai Permaisuri yang sah. Selama kepalaku masih memakai mahkota ini, majikanmu, Selir Agung Chu, tetaplah seorang selir. Di hadapanku, dia tidak lebih dari sekadar pelayan kelas atas yang naik ranjang."

Shen Ran menarik kakinya kembali, lalu menatap dua kasim yang kini sudah pucat pasi di dekat pintu.

"Kalian berdua," panggil Shen Ran dengan nada memerintah. "Seret anjing menggonggong ini keluar dari istanaku. Dan sampaikan pesan pada majikan kalian..."

Shen Ran menjeda kalimatnya, kilat kejam melintas di matanya yang indah. "...jika dia ingin bermain-main denganku, katakan padanya untuk menyiapkan peti mati yang bagus. Karena drama ini baru saja dimulai."

1
Emily
keren ceritamu thour
Fajar Fathur rizky
cepat bantai long tianqi
Fajar Fathur rizky
bikin shen ran sendiri yang membunuh long tianqi
Fajar Fathur rizky
tidak sabar long tianqi mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!