"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Akhirnya Kutemukan Kamu
Lalu ia memilih yang kedua.
Gagang pintu bergerak tanpa suara.
Kamar REYN tidak sepenuhnya gelap. Lampu meja kecil di samping ranjang masih menyala, membuat satu lingkaran cahaya hangat di atas meja. Di sana ada segelas air yang belum habis, jam tangan hitam yang biasa menutup pergelangan kirinya, dan ponsel yang layarnya menghadap ke bawah.
Tirai balkon terbuka sedikit.
Angin malam masuk dari celah pintu kaca, membawa dingin Bandung dan aroma tanah basah setelah hujan. Di luar, bulan menggantung rendah, cukup terang untuk membuat garis perak di lantai kamar.
Wenny melangkah masuk.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
REYN tidak sedang tidur di ranjang.
Ia berdiri di dekat pintu balkon, membelakangi Wenny, satu tangan menahan bingkai kaca, tangan lainnya menggenggam pergelangan kiri. Bahunya naik turun tidak teratur. Rambutnya sedikit berantakan, kemeja tidurnya kusut, dan untuk pertama kalinya, Wenny melihatnya tanpa lapisan apa pun.
Tidak ada panggung.
Tidak ada kamera.
Tidak ada REYN yang dingin dan tidak tersentuh.
Hanya seseorang yang baru saja bangun dari mimpi buruk dan masih memanggil nama kecilnya seolah itu satu-satunya tali yang membuatnya tidak jatuh.
"Wen-Wen..." suaranya keluar lagi, hampir tidak berbentuk. "Jangan pergi."
Langkah Wenny terhenti.
Air matanya langsung jatuh.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Ia menatap tangan kiri REYN. Tanpa jam, pergelangan itu terlihat jelas. Di sana, melingkar erat pada kulitnya, ada benang warna-warni yang sudah pudar. Simpulnya tidak rapi seperti baru. Ada bagian yang tipis, ada warna yang hampir hilang, tetapi bentuknya masih sama.
Gelang itu masih ada.
Gelang yang ia ikat dengan tangan kecilnya di kamar rumah sakit.
Gelang yang ia pikir mungkin sudah terbuang bersama barang-barang lama.
Gelang yang ternyata bertahan lebih lama daripada ingatannya sendiri.
Wenny menutup mulut, tetapi isaknya tetap lolos.
REYN mendengar.
Tubuhnya kaku.
Ia berbalik sedikit, seperti baru sadar ada orang masuk. Namun sebelum ia sempat melihat wajah Wenny sepenuhnya, sebelum ia sempat memakai kembali topengnya, Wenny sudah bergerak.
Ia berjalan cepat melewati garis cahaya bulan.
Lalu memeluk REYN dari belakang.
Kedua lengannya melingkar di pinggangnya. Pipinya menempel pada punggung REYN yang masih tegang. Tubuhnya gemetar, tetapi pelukannya kuat, seolah jika ia sedikit saja mengendur, anak laki-laki itu akan hilang lagi ke belakang set, ke dalam mobil produksi, ke tahun-tahun yang tidak bisa ia kejar.
"Akhirnya kutemukan kamu," bisiknya.
REYN berhenti bernapas.
Wenny merasakan seluruh tubuhnya membatu.
Untuk satu detik, dua detik, tiga detik, ia tidak bergerak sama sekali. Lalu getaran kecil mulai muncul dari bahunya. Bukan gerakan marah. Bukan gerakan menolak.
Ia gemetar.
Pelan-pelan, seperti seseorang yang menahan runtuh terlalu lama.
"Wenny..." Suaranya parau. "Kamu..."
"Aku tahu," Wenny memotong dengan suara basah. "Aku sudah tahu."
REYN mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh lengan Wenny yang memeluknya. Namun jarinya berhenti di udara. Ia tampak takut, bahkan untuk menerima pelukan yang sudah menahannya dari belakang.
"Jangan," katanya hampir tanpa suara.
Wenny menempelkan kening ke punggungnya. "Jangan apa?"
"Jangan karena kasihan."
Kalimat itu membuat hati Wenny seperti diremas sampai nyeri.
Ia menggeleng, meski REYN belum melihatnya. "Aku datang bukan karena kasihan."
"Kamu tidak tahu semuanya."
"Memang belum." Wenny menelan tangisnya. "Tapi aku tahu kamu."
REYN tertawa pendek, pecah dan pahit. "Kamu tahu REYN."
"Aku tahu anak laki-laki yang memegang kotak bekal kuningku seperti benda paling berharga di dunia."
Tubuh REYN kembali kaku.
Wenny melanjutkan, suara makin gemetar, tetapi tidak berhenti. "Aku tahu anak yang berdiri di pintu kamar rumah sakit karena takut masuk. Aku tahu anak yang menyodorkan pergelangan kiri, lalu membiarkan aku mengikat gelang persahabatan di sana. Aku tahu anak yang menoleh ketika aku memanggil nama baru."
REYN menunduk.
Tangan yang menggenggam pergelangan kirinya melemah.
"Rahmat," panggil Wenny.
Nama itu jatuh di kamar sunyi seperti sesuatu yang akhirnya pulang ke tempatnya.
REYN memejamkan mata.
Kali ini, seluruh tubuhnya bergetar.
"Jangan..." katanya lagi, tetapi kata itu tidak punya tenaga.
Wenny mengeratkan pelukannya. "Aku mencarimu."
"Aku yang seharusnya mencarimu."
"Kita sama-sama terlambat."
Kalimat itu membuat REYN mengeluarkan napas yang terdengar seperti isak pertama.
Ia akhirnya menurunkan tangan dan menyentuh lengan Wenny. Sentuhannya ragu, lalu menggenggam. Bukan untuk melepaskan. Untuk memastikan.
Seolah ia perlu bukti bahwa pelukan ini nyata.
Wenny merasakan jemarinya dingin.
"Kenapa kamu diam selama ini?" tanyanya pelan.
REYN menunduk lebih dalam. "Karena aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu mengingatku sebagai anak yang menyedihkan." Suaranya pecah di akhir kalimat. "Takut kamu datang karena merasa bersalah. Takut setelah kamu tahu, semua caramu melihatku berubah."
Wenny melepas pelukan sedikit, lalu berjalan ke depannya.
REYN tidak segera mengangkat wajah.
Ia berdiri di bawah cahaya bulan, tetapi matanya menghindar, bahunya masih menahan sesuatu yang lebih berat daripada malam. Wenny melihat garis wajah yang selama ini dikenali jutaan orang, rahang tegas, mata dingin, bibir yang selalu tampak tahu cara menolak dunia.
Namun malam ini, wajah itu terlihat seperti anak laki-laki yang terlalu lama berdiri di luar ruangan, menunggu seseorang membuka pintu.
Wenny mengangkat tangan.
Ia tidak menyentuh wajahnya dulu. Ia berhenti beberapa sentimeter dari pipi REYN, memberi ruang untuk menolak.
REYN melihat tangannya.
Lalu, pelan sekali, ia menundukkan wajah ke telapak tangan Wenny.
Tangis Wenny pecah.
Ibu jarinya menyentuh pipi REYN. Kulitnya dingin. Di bawah sentuhan itu, REYN memejamkan mata seperti seseorang yang akhirnya boleh lelah.
"Caraku melihatmu memang berubah," kata Wenny.
REYN membuka mata.
Wenny tersenyum di antara air mata. "Dulu aku melihatmu sebagai REYN, orang yang jauh di panggung. Sekarang aku melihatmu sebagai orang yang selama ini berjalan jauh sekali untuk kembali. Itu bukan lebih buruk, Rahmat. Itu membuatku semakin tidak bisa pergi."
Napas REYN bergetar.
Matanya memerah.
Selama bertahun-tahun, ia mungkin bisa mengendalikan ribuan penonton hanya dengan satu tatapan. Ia bisa menghadapi kamera, skandal, rumor, fans yang menjerit, perusahaan yang menghitung hidupnya sebagai kontrak. Tetapi di depan satu perempuan yang dulu berusia tujuh tahun dan memberinya nama, semua pertahanannya tidak berguna.
Air mata pertama jatuh dari sudut matanya.
REYN cepat menunduk, seperti malu.
Wenny mengusapnya dengan ibu jari.
"Jangan sembunyikan dari aku," bisiknya.
"Aku tidak tahu caranya," kata REYN.
"Kalau begitu, belajar pelan-pelan."
REYN menatapnya lama.
Lalu ia mengangkat pergelangan kiri.
Gelang warna-warni itu kini berada di antara mereka. Wenny menyentuhnya dengan ujung jari. Benangnya kasar, tua, dan rapuh, tetapi simpulnya masih bertahan. Satu sentuhan itu membuat lima belas tahun terasa menekuk, membawa mereka kembali ke kamar rumah sakit dengan selimut putih dan tangan kecil yang belum tahu betapa besar arti sebuah nama.
"Kamu masih menyimpannya," Wenny berbisik.
REYN tertawa kecil, tetapi suaranya basah. "Aku tidak pernah tahu cara melepaskannya."
"Rahmat..."
Ia menelan ludah.
Mata mereka bertemu.
Kali ini, REYN tidak menghindar.
Sesuatu di wajahnya berubah. Bukan menjadi lebih kuat. Justru menjadi lebih jujur. Topeng terakhir yang selama ini ia pakai di depan Wenny runtuh tanpa suara.
"Namaku Rahmat," katanya.
Suara itu pelan.
Bergetar.
Tetapi jelas.
"Kamu yang memberiku nama itu."
Untuk beberapa detik, Wenny tidak bisa menjawab.
Nama itu sudah ia tulis semalam berkali-kali. Ia sudah mengucapkannya dalam bisik. Ia sudah mengikat semua petunjuk pada nama itu sampai tidak ada ruang untuk ragu. Namun mendengarnya dari mulut REYN sendiri terasa berbeda. Seperti kunci terakhir benar-benar diputar dari dalam.
"Jadi `Lesung Pipi`..."
REYN menatapnya dengan mata yang masih basah.
Ia tidak perlu menyelesaikan pertanyaan itu.
REYN mengangguk sangat pelan.
"Untukmu."
Satu kata itu membuat dada Wenny bergetar.
Lagu yang pernah ia putar saat hujan. Lagu yang ia dengarkan lewat earphone sendirian di mobil. Lagu yang membuat akun @bunga.pagi menulis terlalu banyak caption malu-malu. Selama ini bukan lagu dari panggung untuk jutaan orang.
Itu surat dari anak laki-laki yang kehilangan jalan pulang.
"Dan semua panggung itu?" Wenny bertanya dengan suara hampir hilang. "Semua tahun itu?"
REYN menelan ludah.
"Aku pikir kalau aku berdiri cukup tinggi, suatu hari kamu bisa melihatku."
Wenny menutup mata.
Ia ingat kalimat penghargaan masa kecilnya, `Bertemu di Puncak`. Dulu ia mengatakannya kepada kamera dengan senyum anak yang tidak benar-benar mengerti betapa berat sebuah puncak untuk didaki. Ternyata ada seseorang yang memegang kalimat itu seperti janji hidup.
"Aku melihatmu," bisiknya. "Aku cuma terlalu lama sadar bahwa itu kamu."
REYN menggeleng, air matanya jatuh lagi. "Kamu akhirnya sadar. Itu sudah lebih dari cukup."
Wenny menutup mulut dengan satu tangan. Isaknya keluar lagi, lebih dalam, lebih bebas, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan tempat jatuh.
REYN mengangkat tangan, kali ini tidak berhenti di udara. Ia menyentuh bahu Wenny, lalu menariknya pelan ke dalam pelukannya.
Wenny masuk tanpa ragu.
Pelukan itu berbeda dari semua pelukan mereka sebelumnya.
Bukan pelukan karena kamera.
Bukan karena permainan.
Bukan karena ia hampir jatuh, hampir takut, hampir menangis.
Pelukan itu adalah dua orang yang telah menghabiskan separuh hidup berjalan di jalan berbeda, lalu menemukan bahwa tujuan mereka selalu satu titik.
Wenny membenamkan wajah di dada REYN. Ia bisa merasakan detak jantungnya. Cepat. Tidak stabil. Hidup.
REYN menunduk, pipinya menyentuh rambut Wenny. Napasnya terputus-putus. Tangannya di punggung Wenny awalnya ragu, lalu semakin erat, seolah tubuhnya akhirnya percaya bahwa ia boleh memeluk balik.
"Aku pikir kamu lupa," katanya.
"Aku memang lupa terlalu banyak." Wenny menangis lebih keras. "Maaf."
"Jangan minta maaf."
"Aku terlambat menemukanmu."
"Kamu sudah datang."
Kalimat itu membuat Wenny mengangkat wajah.
REYN menatapnya dengan mata basah, senyum kecil yang tidak lagi berusaha terlihat kuat. "Itu cukup."
Mereka berdiri begitu lama sampai dingin malam masuk semakin dalam ke kamar. REYN lalu menarik selimut tipis dari kursi dan menyampirkannya ke bahu Wenny tanpa melepas tangannya terlalu lama.
"Kamu tidak pakai sandal," katanya, suara masih serak.
Wenny baru sadar telapak kakinya benar-benar dingin.
Di tengah tangis, ia hampir tertawa. "Aku lupa."
"Kamu selalu seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Datang dulu, pikir belakangan."
Wenny menatap gelang di pergelangan kirinya. "Kalau aku berpikir lebih lama, kamu mungkin keburu menutup pintu lagi."
REYN tidak membantah.
Ia hanya menggenggam tangannya.
Mereka keluar ke balkon kecil. Udara dingin menyentuh wajah basah Wenny, tetapi tangan REYN hangat di sela jarinya. Bulan masih menggantung di atas perbukitan Bandung. Di bawah sana, villa tertidur. Tidak ada yang tahu bahwa di balkon kecil itu, satu rahasia terbesar mereka akhirnya berhenti menjadi rahasia di antara dua orang yang paling berhak mengetahuinya.
REYN berdiri di hadapan Wenny, masih memegang tangannya.
"Aku tidak tahu harus mulai cerita dari mana," katanya.
Wenny menggeleng pelan. "Tidak perlu malam ini semuanya. Malam ini cukup satu hal."
"Apa?"
Wenny menggenggam tangannya lebih erat, menyentuh gelang pudar itu dengan ibu jarinya.
"Kamu sudah pulang."
REYN menatapnya.
Air mata kembali memenuhi matanya, tetapi kali ini ia tidak menunduk. Ia membiarkannya jatuh.
Wenny menariknya ke dalam pelukan lagi.
Di bawah cahaya bulan, bayangan mereka bertumpuk di lantai balkon.
Seperti dua anak kecil di sudut set lima belas tahun lalu yang akhirnya menemukan jalan pulang.