Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31 - Senyum yang Tidak Bisa Disembunyikan
"Gue nggak mau jadi yang paling sabar. Tapi buat lo, gue bisa coba."
Kalimat itu ternyata bukan janji kosong.
Pagi harinya, Jayden masih berada di sisi kanan ranjang, satu lengan melingkar di pinggang Felicia dengan tekanan yang sangat ringan. Tidak terlalu dekat dengan rusuk. Tidak menyentuh bahu kiri. Bahkan saat tidur, tubuhnya seperti mengingat aturan yang diberikan Felicia.
Masalahnya, wajahnya tidak bisa menyembunyikan apa pun.
Begitu matahari masuk lewat tirai tipis, Jayden membuka mata, melihat Felicia sudah bangun, lalu tersenyum begitu lebar sampai seluruh citra bad boy Akademi Bintang Mulia runtuh dalam satu detik.
"Pagi, Sayang."
Felicia menatapnya. "Kamu terlihat bodoh."
"Gue bahagia."
"Itu alasannya."
"Iya."
Tidak ada pembelaan. Tidak ada gengsi. Ia hanya tersenyum lagi.
Pintu diketuk.
Jayden langsung berbisik, "Kalau mereka lihat muka gue, gue habis."
"Terlambat."
"Sayang."
"Masuk," kata Felicia.
Nathan masuk dengan map, Calvin dengan kopi susu untuk dirinya sendiri dan air putih untuk Felicia, Sebastian dengan tablet medis. Ketiganya berhenti hampir bersamaan.
Jayden masih tersenyum.
Calvin mengangkat alis. "Wah."
Nathan menatapnya satu detik terlalu lama, lalu membuka map seolah tidak melihat apa pun. "Selamat pagi."
Sebastian berkata datar, "Ekspresi euforia berlebihan. Star movement mungkin stabil."
"Lo bertiga iri," kata Jayden.
"Tentu," jawab Calvin.
"Tidak perlu dibahas," kata Nathan, yang justru membuatnya terdengar sangat perlu dibahas.
Felicia tertawa kecil. Kali ini rusuknya tidak menusuk seburuk kemarin. Itu kabar baik.
Sebastian langsung melihat. "Nyeri berkurang?"
"Sedikit."
"Skala?"
"Enam menjadi lima."
Sebastian mengetik. "Kemajuan."
Jayden menatapnya. "Lo bahkan bikin momen romantis jadi laporan."
"Kalau laporan menjaga dia tidak masuk IGD lagi, aku akan terus melakukannya."
Jayden diam.
Felicia melihat itu dan menyukai cara anak liar itu menelan balasan karena alasan yang benar.
Sarapan pagi ini lebih sederhana: bubur, buah, air putih, dan obat sesuai jadwal. Nathan memeriksa dokumen keamanan. Calvin mengatur tirai agar cahaya tidak menusuk mata Felicia. Sebastian mengecek suhu. Jayden, yang biasanya tidak bisa duduk diam, duduk di tepi ranjang dan memegang gelas air tanpa menumpahkan setetes pun.
Sis muncul di kepala Felicia dengan suara puas. "Data Jayden stabil di 4%. Tidak menyala. Tapi tingkat kepatuhan naik drastis."
"Catat sebagai mukjizat kecil."
"Sudah, Tuan Rumah."
Ponsel Nathan berbunyi. Ia melihat layar. "Hana dan Ningrum mengirim laporan."
Calvin tertawa pelan. "Mereka benar-benar menjadi tim media."
Nathan membuka pesan di layar bersama. Hana mengirim daftar akun yang semalam mencoba menertawakan julukan "Ratu Kursi Roda" tetapi justru kalah oleh komentar siswa yang mengunggah video lengkap. Ningrum menambahkan folder rapi berisi bukti: waktu unggah, akun sumber, tautan video, dan catatan apakah konten dipotong.
Jayden bersiul. "Dua anak itu rajin juga."
"Karena diberi tugas yang jelas," kata Felicia.
Di bagian bawah pesan, Hana menulis:
Kalau ada yang bilang Kak Felicia cari perhatian, aku balas atau simpan bukti?
Ningrum membalas di bawahnya:
Simpan dulu. Jangan emosional.
Felicia menatap dua baris itu. "Ningrum lebih cepat belajar."
Calvin menyesap kopi. "Hana butuh tali kekang."
"Beri dia pekerjaan yang membuat mulutnya sibuk," kata Felicia. "Suruh rangkum komentar publik dalam tiga kategori."
Nathan mengetik instruksi itu.
Jayden menoleh. "Lo benar-benar bikin mereka kerja."
"Mereka ingin berdiri dekatku."
"Dan syaratnya kerja?"
"Syaratnya berguna."
Tidak ada yang membantah.
Menjelang siang, Mama Wenny datang sebentar dengan kabar bahwa Tante Lina memilih tinggal di paviliun tamu lain dan Om Charles belum kembali ke rumah utama. Hendrick ingin bicara, tetapi Felicia menolak. Tidak ada energi untuk drama ayah biologis sebelum makan siang.
"Nanti," katanya.
Mama Wenny menerima tanpa memaksa.
Itu juga kemajuan kecil.
Sore hari, dokter datang untuk kontrol singkat. Bahu kiri stabil. Memar rusuk masih butuh istirahat. Gegar ringan membaik, tetapi layar ponsel dan keributan harus dibatasi.
Setelah dokter pergi, Sebastian tetap berdiri di sisi ranjang lebih lama daripada biasanya. Ia merapikan obat, mengecek jadwal, lalu mengambil gelas air dari tangan Felicia ketika ia selesai minum.
Jari mereka bersentuhan.
Gerakan itu hanya sepersekian detik, tetapi Sebastian berhenti.
Dulu, kontak sekecil itu akan membuat tubuhnya menegang, napasnya kacau, dan tangannya mencari sanitizer seperti orang tenggelam mencari udara. Sekarang ia hanya menatap ujung jarinya sendiri.
Felicia melihat. "Sakit?"
"Tidak."
"Kamu kecewa?"
"Bukan." Sebastian menurunkan gelas ke meja. "Aku sedang menghitung."
"Tentu saja."
"Dalam dua hari terakhir, aku menyentuhmu atau hampir menyentuhmu tiga belas kali. Saat mengatur bantal, memberi termometer, memeriksa pupil, mengambil gelas, dan satu kali ketika kamu hampir jatuh saat duduk."
"Dan?"
"Tidak ada reaksi nyeri. Tidak ada dorongan mencuci tangan yang tidak terkendali. Ada rasa ingin menjaga jarak, tapi itu kebiasaan, bukan serangan tubuh."
Felicia menatapnya. "Berarti tubuhmu mulai belajar."
Sebastian diam sebentar. "Atau tubuhku berhenti berbohong."
Kalimat itu keluar sangat pelan.
Jari Sebastian masih terbuka, tidak mencari sanitizer sama sekali.
Jayden, yang biasanya cepat menyela, kali ini tidak bicara. Nathan menutup map lebih perlahan. Calvin menatap Sebastian dengan senyum kecil yang tidak mengejek.
Felicia menyimpan kalimat itu.
Malam nanti, ia ingin melihat apa yang terjadi kalau Sebastian tidak diberi kesempatan bersembunyi di balik angka.
Felicia melihat empat pria di kamar.
"Dengar? Keributan dibatasi."
Jayden langsung menunjuk Calvin. "Dia yang sering bikin."
Calvin tersenyum. "Aku bahkan belum mulai."
Sebastian menutup catatan dokter. "Malam ini harus lebih tenang daripada dua malam sebelumnya."
Jayden, yang masih terlalu bahagia, langsung berkata, "Berarti bukan gue."
"Benar," kata Felicia.
Senyumnya jatuh.
Nathan menunduk untuk menyembunyikan ekspresi. Calvin tertawa tanpa suara.
Felicia memandang Sebastian.
Sebastian berhenti mengetik.
Untuk sepersekian detik, wajahnya yang selalu terkendali kosong. Bukan kosong karena tidak merasa. Kosong karena terlalu banyak hal naik sekaligus dan otaknya belum memilih label yang tepat.
Felicia ingat tangan Sebastian yang dulu gemetar setelah sepuluh detik sentuhan. Ingat sanitizer yang tidak dipakai. Ingat cara ia menyebut rasa takutnya seperti membaca hasil eksperimen.
Sekarang, eksperimen berikutnya tidak perlu timer sepuluh detik.
"Malam ini," kata Felicia, "Sebastian."
Tablet di tangan Sebastian hampir jatuh.
Jayden langsung protes, "Gue baru sekali!"
"Semua baru sekali."
Calvin tersenyum, tetapi garisnya lebih tajam. "Ci menyisakan aku paling akhir?"
Felicia menatapnya. "Kamu keberatan?"
Calvin diam, lalu tertawa pelan. "Aku menunggu. Tapi jangan terlalu lama."
Sebastian masih belum bicara.
Felicia mengangkat alis. "Kamu tidak mau?"
Ia akhirnya menatapnya.
Suara Sebastian sangat tenang, terlalu tenang.
"Aku mau. Justru itu masalahnya."