Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Menyesuaikan Diri
Pagi berikutnya, Rina datang bekerja dengan mata sembap tetapi wajah lebih tenang.
Dia membawa kotak kecil berisi kue lapis buatan ibunya. Sebelum menyerahkannya kepada Senja, dia menoleh gugup ke arah Pak Hadi.
"Tidak pakai kacang, Nyonya. Ibu saya sudah pastikan. Tapi kalau Nyonya ragu, tidak perlu dimakan."
Senja menerima kotak itu dengan hati-hati. "Terima kasih. Bagaimana anakmu?"
"Panasnya turun. Semalam bisa tidur."
"Syukurlah."
Rina menunduk terlalu dalam. "Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Nyonya bagaimana."
"Tidak perlu membalas." Senja tersenyum. "Kalau anak sakit lagi, jangan menunggu gajian."
Rina mengangguk, matanya kembali berkaca-kaca.
Adegan kecil itu seharusnya selesai di sana.
Namun di rumah besar, hal kecil jarang benar-benar kecil.
Menjelang siang, ketika Senja turun untuk mengambil air, dia mendengar dua pelayan berbisik di dekat pantry.
"Katanya Nyonya kasih uang langsung ke Rina."
"Banyak?"
"Entah. Ada fotonya juga. Di grup vendor sudah ramai."
"Mungkin biar dibilang baik."
Langkah Senja berhenti di balik dinding.
Salah satu dari mereka melanjutkan, lebih pelan tapi masih terdengar, "Orang kaya baru biasanya begitu. Baru jadi Nyonya, langsung mau punya orang kepercayaan."
Darah Senja terasa turun ke ujung kaki.
Dia menatap kotak air mineral di tangannya, lalu perlahan mundur. Tidak ada gunanya masuk dan menjelaskan. Penjelasan hanya akan membuat mereka panik, menunduk, meminta maaf, lalu membicarakannya di tempat lain.
Di tangga, dia berpapasan dengan Pak Hadi.
"Nyonya?"
"Aku lupa sesuatu di kamar."
Pak Hadi menatap wajahnya. "Ada masalah?"
Senja menggeleng. "Tidak."
Dia naik ke kamar, menutup pintu, lalu membuka ponsel. Benar saja, Serena mengirim pesan baru.
Serena: Wah, sudah mulai beli loyalitas staf?
Di bawahnya ada foto buram dari sudut taman dalam. Senja sedang menyerahkan ponsel kepada Rina kemarin, tampak seperti sedang melakukan transaksi diam-diam.
Serena: Hati-hati. Di rumah sebesar Wijaya, semua orang punya mata.
Senja duduk di tepi ranjang.
Kali ini dia tidak menangis. Mungkin karena air matanya sudah terlalu sering dipakai minggu ini. Yang tersisa hanya rasa lelah, tebal dan berat, menekan bahu sampai sulit bergerak.
Dia mengetik balasan, lalu menghapusnya.
Mengetik lagi, menghapus lagi.
Akhirnya dia meletakkan ponsel tertelungkup.
Di lantai bawah, Pak Hadi sudah menemukan sumber keganjilan itu sebelum Senja bercerita. Seorang vendor bunga yang biasa mengirim rangkaian ke rumah Liem ternyata punya kenalan di bagian dekorasi Wijaya Mansion. Foto itu diambil dari jauh ketika pintu belakang terbuka. Dari sana, foto menyebar ke grup kecil, lalu masuk ke beberapa ponsel staf.
Pak Hadi melaporkan semuanya kepada Rayhan siang itu.
Rayhan mendengarkan tanpa menyela. Dia sedang berada di mobil menuju kantor, laptop terbuka di pangkuan. Ketika Pak Hadi selesai, suara Rayhan di telepon terdengar lebih dingin daripada kaca mobil.
"Nama vendor."
Pak Hadi menyebutkannya.
"Putus kontrak."
"Baik, Tuan muda."
"Staf yang menyebarkan?"
"Dua orang pelayan baru dan satu helper dekorasi."
"Pelayan baru dipindah dari area dalam selama evaluasi. Helper dekorasi tidak perlu masuk rumah lagi."
"Baik."
Ada jeda sejenak.
"Nyonya tahu?"
Pak Hadi melihat ke arah tangga. "Sepertinya sudah mendengar."
Rayhan menutup mata sebentar. Ketika membukanya, wajahnya kembali datar.
"Jangan panggil dia untuk dimintai penjelasan. Dia tidak melakukan kesalahan."
"Baik, Tuan muda."
"Dan Pak Hadi."
"Ya?"
"Mulai sekarang, semua tamu layanan luar masuk lewat sisi timur. Tidak ada akses pandang ke taman dalam."
"Saya mengerti."
Telepon ditutup.
Di kamar, Senja memaksa dirinya turun untuk makan siang. Dia tidak ingin terlihat kalah. Tidak ingin membuat Pak Hadi atau Rina semakin cemas. Tetapi begitu duduk di meja makan, aroma sup ayam yang biasanya ringan membuat perutnya mual.
Rina berdiri jauh di belakang, matanya merah lagi.
Senja mengambil sendok dan memaksa satu suap.
"Enak," katanya.
Rina hampir menangis di tempat.
Pak Hadi memberi isyarat halus agar Rina kembali ke dapur. Setelah itu, dia berdiri di dekat meja tanpa terlalu dekat.
"Nyonya, mengenai pembicaraan staf tadi..."
Senja meletakkan sendok. "Pak Hadi tidak perlu menjelaskan."
"Tuan muda sudah mengambil tindakan."
Senja mengangkat wajah.
"Rayhan tahu?"
"Saya wajib melaporkan hal seperti itu."
Ada rasa malu yang naik lagi. "Aku tidak ingin urusan sekecil ini sampai ke dia."
"Bagi Tuan muda, keamanan dan nama baik Nyonya bukan urusan kecil."
Senja tidak tahu apakah harus percaya. Rayhan bisa membuat kalimat seperti itu terdengar masuk akal jika keluar dari mulut Pak Hadi, tapi ketika berhadapan langsung dengannya, yang muncul biasanya hanya perintah.
Sore harinya, dia tetap pergi ke sanggar. Latihan berjalan berat. Tubuhnya terasa lebih lemas daripada biasa, mungkin karena kurang makan, kurang tidur, dan terlalu banyak menahan. Pada bagian putaran ketiga, pandangannya sedikit menggelap.
Lara yang berada di dekatnya langsung menangkap siku Senja.
"Senja!"
Musik berhenti.
Ko Jefri datang cepat. "Duduk."
"Aku tidak apa-apa," kata Senja otomatis.
"Kalimat itu mulai terdengar seperti penyakitmu sendiri," balas Lara tajam.
Senja duduk di bangku, menerima air putih. Tangannya gemetar halus.
Ko Jefri menatapnya serius. "Kamu makan?"
"Sedikit."
"Tidur?"
Senja diam.
Lara mengusap wajah. "Aku tahu kamu sedang kacau, tapi tubuhmu bukan musuh yang bisa kamu paksa diam."
Kalimat itu mengingatkannya pada sesuatu yang mungkin akan dikatakan Ko Jefri, tetapi kali ini Lara yang mengatakannya. Ada marah di sana, juga khawatir.
Retakan di antara mereka terasa menutup satu milimeter lagi.
Malamnya, ketika Senja kembali ke Wijaya Mansion, Rayhan sudah di ruang makan. Ini pertama kalinya dalam beberapa hari mereka duduk di meja yang sama tanpa tamu, tanpa dokumen, tanpa orang lain kecuali Pak Hadi di kejauhan.
Senja duduk diam.
Rayhan melihat piringnya. "Makan."
Dia mengambil sendok. "Iya."
"Jangan hanya bilang iya."
Tangan Senja berhenti.
Rayhan menatap wajahnya yang pucat. "Kalau tidak bisa makan, bilang. Kalau pusing, bilang. Kalau ada orang di rumah ini membuatmu tidak nyaman, bilang."
Senja menatapnya, tidak siap mendengar kalimat sepanjang itu.
"Aku tidak ingin membuat masalah."
"Masalah sudah terjadi saat kamu memilih diam."
Kata-kata itu masih tajam, tetapi kali ini tidak ditujukan untuk menyalahkannya. Setidaknya, Senja ingin percaya begitu.
"Besok pagi," lanjut Rayhan, "Tante Lian datang."
"Siapa?"
"Sinse keluarga. Dia akan memeriksamu."
Senja berkedip. "Aku tidak sakit."
Rayhan meletakkan sumpitnya. "Kamu hampir pingsan di sanggar."
Senja menoleh ke Pak Hadi tanpa sadar.
Pak Hadi menunduk sopan, jelas telah melaporkan.
Rayhan berkata datar, "Kali ini, jangan membantah."
Senja ingin mengatakan bahwa tubuhnya miliknya sendiri. Ingin protes karena semua orang melaporkan keadaannya seolah dia anak kecil.
Namun di balik kalimat keras Rayhan, ada fakta yang tidak bisa dia hindari: dia memang hampir jatuh.
Jadi dia menunduk ke sup hangat di hadapannya.
"Baik," katanya pelan.
Rayhan memandangnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Di antara mereka, bantal panjang memang tidak ada di meja makan. Tetapi jarak itu tetap terasa ada, hanya bentuknya berubah menjadi mangkuk sup, laporan Pak Hadi, dan seorang sinse yang akan datang besok pagi.