Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: IkanKertas
Yu tidak menulis karena hidupnya mudah.
Ia menulis justru karena hidup sering terlalu penuh untuk disimpan di tubuh sendiri.
Malam itu, setelah tugas algoritma akhirnya terkirim, Yu membuka dashboard NovelMe dengan akun yang tidak diketahui siapa pun di kampus. Nama penanya muncul di sudut layar.
IkanKertas.
Nama itu ia buat pada tahun pertama kuliah, saat ia masih terlalu malu mengakui bahwa ia lebih suka menyusun adegan daripada menyusun kode. Ikan, karena sejak kecil Yu merasa dirinya selalu bergerak di air yang tidak dilihat orang lain. Kertas, karena hanya di atas halaman kosong ia bisa bernapas tanpa harus menjelaskan.
Di dunia nyata, Chua Yulin adalah mahasiswi Fasilkom UI.
Di dunia rahasia, IkanKertas menulis kisah cinta yang dibaca ribuan orang setiap malam.
Bab yang sedang ia tulis malam itu seharusnya sederhana. Tokoh perempuan bertengkar dengan mantannya, pulang dengan hujan, lalu bertemu laki-laki dingin yang meninggalkan makanan hangat di depan pintu.
Yu menatap kalimat terakhir.
Terlalu dekat.
Ia menghapus satu paragraf.
Menulis ulang.
Menghapus lagi.
Di luar kamar, unit sudah sunyi. Burger mungkin tidur di dekat sofa. Zhen, entah sedang tidur atau bekerja, tidak terdengar. Jam di laptop menunjukkan 01.18. Yu tahu ia harus tidur. Besok ada kelas pagi. Tapi komentar pembaca sudah menumpuk sejak sore.
Kak, update dong.
Tokoh cowoknya jangan terlalu baik, nanti aku jatuh cinta.
Kenapa adegan makanan hangat ini terasa real banget?
Yu menutup wajah dengan kedua tangan.
"Karena memang real," bisiknya, lalu panik sendiri meski tidak ada yang mendengar.
Ia kembali mengetik.
Laki-laki itu tidak banyak bicara. Ia hanya menaruh semangkuk bubur di depan pintu, seolah perhatian bisa disamarkan sebagai kebiasaan. Namun bagi perempuan yang terlalu lama menahan lapar, kehangatan itu lebih berbahaya daripada rayuan apa pun.
Yu berhenti.
Jantungnya berdetak terlalu pelan dan terlalu keras sekaligus.
Ia menyimpan draft, lalu berdiri untuk mengambil air. Begitu membuka pintu kamar, ia melihat Zhen di ruang tengah.
Pria itu duduk di sofa dengan laptop di pangkuan. Lampu kecil menyala di meja samping. Wajahnya diterangi layar, lebih pucat dari biasanya. Di meja ada satu gelas kopi hitam yang tinggal setengah.
Zhen mengangkat mata. "Kamu belum tidur."
"Kamu juga."
"Aku ada kerjaan."
"Aku juga."
"Tugas?"
Yu hampir menjawab iya, tapi kalimat itu tersangkut.
"Semacam itu."
Zhen menatapnya beberapa detik, lalu berkata, "Semacam tugas yang membuatmu mengetik seperti dikejar debt collector?"
Yu membeku. "Kedengeran?"
"Dari ruang tengah, iya."
"Maaf."
"Aku tidak bilang terganggu."
Yu berjalan ke dispenser, mengisi gelas. Tangannya masih sedikit kaku karena terlalu lama mengetik. Zhen memperhatikan, lalu menutup laptopnya.
"Tanganmu sakit?"
"Nggak."
"Jawaban cepat."
"Tolong jangan jadikan itu slogan hidupmu."
Zhen berdiri. Yu langsung waspada, bukan takut, lebih karena tubuhnya terlalu cepat mengantisipasi kedekatan. Namun Zhen hanya masuk dapur, membuka lemari, dan mengeluarkan satu sachet jahe instan.
"Minum ini."
Yu melihatnya menyeduh air panas. "Kamu punya jahe instan?"
"Mama kirim satu dus."
"Kenapa?"
"Katanya aku terlalu sering begadang dan terlalu dingin."
Yu hampir tersenyum. "Mama kamu benar."
Zhen meliriknya. "Bagian mana?"
"Dingin."
"Aku sedang membuatkan minuman."
"Dingin tapi bisa nyeduh jahe."
"Kamu mau minum atau debat?"
"Minum."
Ia meletakkan mug di meja. Kali ini mug itu tidak didorong memakai bolpoin atau tisu. Zhen meletakkannya cukup dekat sehingga Yu bisa mengambil tanpa menyentuhnya.
Terlalu sadar.
Terlalu hati-hati.
Yu mengambil mug dengan dua tangan. Uap jahe menyentuh wajahnya, hangat dan pedas.
"Makasih."
"Jangan tidur terlalu pagi."
Yu mengerutkan kening. "Terlalu pagi?"
"Kalau sudah lewat jam satu, itu bukan malam lagi. Itu pagi."
"Aku sedang diceramahi orang yang juga belum tidur."
"Bedanya, aku tidak terlihat seperti ikan kering."
Yu nyaris menyemburkan jahe.
Ikan.
Kata itu membuatnya spontan menatap Zhen. Tentu saja Zhen tidak tahu apa-apa. Ia hanya memilih hinaan sembarangan, dan kebetulan menusuk tepat ke nama penanya.
"Apa?" tanya Zhen.
"Nggak."
"Kamu aneh malam ini."
"Aku memang aneh setiap malam."
"Setidaknya kamu sadar."
Yu membawa mug kembali ke kamar dengan wajah panas.
Di balik pintu, ia menaruh mug di sebelah laptop dan kembali membuka draft. Entah karena jahe, entah karena percakapan barusan, kalimat-kalimat yang macet mulai bergerak lagi.
Ia menulis sampai pukul dua lewat.
Tokoh laki-laki di naskahnya masih dingin, masih menyebalkan, tapi kali ini perempuan itu tahu, di balik cara bicaranya yang tajam, ada tangan yang menaruh gelas hangat tepat saat ia membutuhkannya.
Yu mengunggah bab baru.
Dalam lima menit, komentar masuk.
Kak Ikan, cowok ini kok makin hidup?
Jangan-jangan Kakak lagi jatuh cinta?
Yu menatap komentar itu lama.
Tidak.
Tentu saja tidak.
Ia hanya butuh sentuhannya. Butuh ketenangan yang datang dari telapak tangannya. Butuh alasan medis yang belum punya nama resmi di kepalanya.
Bukan jatuh cinta.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
Tok.
Yu hampir menjatuhkan laptop.
"Yu," suara Zhen terdengar dari luar. "Lampumu masih nyala."
Ia menatap komentar di layar.
Jangan-jangan Kakak lagi jatuh cinta?
Di luar, Zhen menunggu.
Yu menutup laptop terlalu cepat, seolah komentar itu bisa memancar menembus pintu.
Di telapak tangannya, sisa hangat mug jahe masih tertinggal, sama berbahayanya dengan komentar itu.