NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031: Rangga Kembali, dan Jatuh Lagi

"Kalau dia mau perang," katanya, "saya layani sampai akhir."

Kalimat Surya Pradana itu belum sempat berubah menjadi serangan.

Di Surabaya, malam turun dengan bau aspal basah dan lampu jalan yang memantul di kaca mobil. Ardi baru keluar dari RSUD Soetomo setelah ronde terakhir ketika ponselnya bergetar. Nama Hartono Harahap muncul di layar.

"Dokter Ardi, ada orang yang perlu Anda temui malam ini," kata Hartono tanpa basa-basi.

Ardi berhenti di bawah kanopi IGD. "Siapa?"

"Mayor Dimas Saputra. Purnawirawan. Saya minta dia melakukan asesmen keamanan setelah nama Pak Surya mulai menyentuh keluarga Anda."

Sebelum Ardi menjawab, sebuah Toyota hitam berhenti tidak jauh dari pos satpam. Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria berusia awal empat puluhan turun dengan tubuh tegap, rambut pendek, dan mata yang terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru datang tengah malam.

Ia tidak memakai seragam. Kemejanya abu-abu tua, celananya hitam, sepatu kulitnya sederhana. Namun cara ia berdiri membuat dua satpam otomatis merapikan posisi.

"Dokter Ardi Pratama?" tanyanya.

"Saya."

Pria itu mengangguk singkat. "Dimas Saputra. Mantan prajurit. Sekarang kerja profesional. Bang Hartono meminta saya menjaga jarak dulu, memetakan risiko tanpa mengganggu aktivitas Dokter."

Ardi menatapnya beberapa detik. "Anda sudah menemukan sesuatu?"

Dimas tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan tablet kecil dari tasnya. Di layar, ada rekaman dari kamera dasbor. Sebuah mobil sport putih melaju zig-zag di jalan sekitar Darmo. Nomor polisinya jelas. Lampu merah diterobos. Motor pengantar makanan nyaris terserempet. Lalu mobil itu menghantam pembatas rendah, berhenti miring, dan pintunya terbuka.

Seorang pria keluar dengan langkah goyah.

Rangga Pradana.

Wajahnya tampak lebih kusut daripada terakhir kali Ardi melihatnya di ruang sidang. Rambutnya berantakan. Kemejanya mahal, tetapi kancing atasnya terbuka, dan tangannya menggenggam botol kecil yang kemudian ia lempar ke got.

Mata Ardi menyipit.

Dimas menggeser video berikutnya. "Ini bukan penguntitan ilegal. Saya sedang survei rute apartemen Dokter dan sekolah anak-anak. Mobil ini muncul tiga kali di area yang sama dalam dua hari. Malam ini dia kehilangan kendali sendiri. Ada saksi, kamera jalan, dan rekaman dari warga."

"Korban?"

"Satu pengendara motor jatuh ringan. Sudah dibawa ke klinik terdekat. Tidak kritis."

Ardi mengembuskan napas pelan. Dulu, nama Rangga berarti jebakan, massa bayaran, fitnah, dan pintu penjara yang menutup di belakangnya. Malam ini, nama itu hanya terlihat seperti seseorang yang menggali lubang sendiri dengan tangan gemetar.

"Laporkan ke Polres," kata Ardi.

Dimas menatapnya. "Saya sudah hubungi piket lalu lintas. Tapi ada satu hal lagi."

Ia membuka foto yang lebih jelas. Petugas keamanan warga memotret botol kecil yang sempat dibuang Rangga sebelum hanyut. Labelnya sobek, tetapi di sisi plastik terlihat sisa serbuk putih.

"Dugaan narkotika?" tanya Ardi.

"Belum boleh disimpulkan sebelum tes. Tapi untuk orang yang sedang menjalani masa percobaan, DUI saja sudah cukup buruk. Kalau tes urine positif, masa percobaannya bisa runtuh."

Ardi tidak tersenyum.

Ia hanya menyimpan tablet itu kembali ke tangan Dimas. "Pastikan semua bukti masuk jalur resmi. Jangan ada satu pun celah untuk mengatakan saya menjebak dia."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Dimas bergerak tipis. Bukan senyum, lebih seperti persetujuan.

"Itu sebabnya Bang Hartono memilih saya, Dokter. Saya bukan orang yang suka membuat masalah. Saya memastikan masalah yang sudah ada tidak bisa kabur."

Di Polres Surabaya, suara Rangga memenuhi ruang pemeriksaan bahkan sebelum Ardi tiba.

"Kalian tahu saya siapa?" teriaknya. "Telepon pengacara saya! Telepon keluarga saya!"

Dua petugas berdiri di dekat pintu. Seorang penyidik duduk di meja dengan wajah lelah, tetapi matanya dingin. Di atas meja ada berkas laporan kecelakaan, salinan rekaman kamera dasbor, keterangan saksi, dan formulir pemeriksaan awal.

Rangga duduk dengan borgol di tangan. Aroma alkohol masih tajam. Saat melihat Ardi masuk bersama Hartono dan Dimas, wajahnya berubah merah.

"Kamu!" Rangga menghentak kursi. "Ini kerjaan kamu, kan? Mantan napi sok suci!"

Penyidik mengetuk meja sekali.

"Saudara Rangga, jaga ucapan."

Ardi berdiri di sisi ruangan. Jas dokternya sudah dilepas, hanya tersisa kemeja putih lengan digulung. Ia tidak perlu berteriak. Dalam ruangan yang penuh bau kopi dan kertas lembap itu, suaranya justru terdengar lebih berat karena tenang.

"Saya tidak menyuruh kamu mabuk. Saya tidak menyuruh kamu menerobos lampu merah. Saya tidak menyuruh kamu membuang botol di depan kamera warga."

Rangga tertawa kasar. "Kamu pikir bisa menjatuhkan saya dengan laporan lalu lintas?"

Hartono meletakkan satu dokumen di depan penyidik. "Pak, klien saya hanya menyerahkan bukti tambahan. Perkara utama tetap di tangan penyidik. Kami juga mencatat bahwa Saudara Rangga sedang menjalani pidana percobaan atas perkara kerusuhan terorganisasi di rumah sakit."

Wajah Rangga menegang.

Penyidik membuka dokumen itu. "Betul. Putusan sebelumnya sudah kami konfirmasi. Tiga tahun pidana dengan masa percobaan dua tahun."

"Itu kasus lama!" bentak Rangga.

"Masa percobaannya belum selesai," jawab penyidik.

Pintu ruangan terbuka. Seorang petugas lain masuk membawa map hasil pemeriksaan awal. Ia menyerahkannya kepada penyidik, lalu berbisik singkat.

Penyidik membaca. Wajahnya tidak berubah, tetapi jarinya berhenti di satu baris.

"Saudara Rangga," katanya, "tes urine awal menunjukkan hasil positif zat terlarang. Sampel akan dikirim untuk pemeriksaan lanjutan sesuai prosedur."

Ruangan itu langsung menjadi sunyi.

Rangga, yang sejak tadi seperti api liar, mendadak kehilangan suara. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada kalimat yang keluar.

Dari lorong, terdengar langkah tergesa. Dewi muncul dengan wajah pucat, satu tangan memegang perutnya yang mulai terlihat. Ibu Sumiati tidak bersamanya. Tidak ada rombongan keluarga, tidak ada pengacara mahal yang siap menyelamatkan. Hanya Dewi, sandal datar, rambut diikat asal, dan mata yang tampak belum tidur.

"Rangga..." suaranya kecil.

Rangga menoleh, lalu langsung membuang muka. "Kenapa kamu datang?"

Dewi berhenti di ambang pintu. Matanya jatuh pada borgol di tangan Rangga, lalu pada berkas di meja. "Mereka bilang kamu kecelakaan. Mereka bilang ada... tes..."

"Diam!" Rangga memotong. "Jangan bikin malu di sini."

Ardi melihat punggung Dewi menegang. Dulu perempuan itu datang ke rumah sakit dengan dagu tinggi, membawa nama Rangga seperti kartu kemenangan. Sekarang kartu itu basah, robek, dan dipegang oleh polisi.

Dewi menoleh kepada Ardi. Untuk sesaat, wajahnya seperti ingin meminta sesuatu. Bantuan. Penjelasan. Mungkin bahkan belas kasihan.

Ardi hanya berkata pelan, "Dewi, ini bukan urusan anak-anak. Jangan bawa Gatra dan Sari ke dalam masalah ini."

Kalimat itu lebih dingin daripada kemarahan.

Dewi menunduk. "Aku tahu."

Rangga mendengus. "Hebat. Sekarang kamu juga tunduk sama dia?"

Tidak ada yang menjawab.

Penyidik menutup map. "Dengan pelanggaran lalu lintas berat, dugaan penggunaan narkotika, korban luka, dan status masa percobaan, kami akan koordinasi dengan kejaksaan untuk permohonan pencabutan pidana percobaan. Saudara Rangga ditahan untuk proses lanjut."

Kata ditahan jatuh seperti palu.

Rangga berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser keras. "Ayah saya akan menghabisi kalian semua!"

Dimas bergerak setengah langkah. Tidak menyentuh, tidak mengancam, hanya berdiri di antara Rangga dan Ardi. Tubuhnya seperti garis batas.

Penyidik memberi isyarat kepada petugas. "Bawa."

Saat petugas menariknya keluar, Rangga masih menatap Ardi dengan mata merah. "Ini belum selesai!"

Ardi membalas tatapan itu tanpa emosi. "Untuk kamu, justru ini baru selesai."

Di lorong, Dewi berdiri kaku ketika Rangga lewat. Rangga tidak menatapnya. Tidak menanyakan kandungannya. Tidak menanyakan di mana ia akan tinggal. Tidak menanyakan bagaimana besok.

Pria itu hanya berteriak kepada petugas.

Dewi memegang perutnya lebih erat.

Malam itu, kabar penahanan Rangga sampai ke Jakarta sebelum fajar.

Di lantai tinggi gedung Surya Perkasa, Surya Pradana berdiri di depan kaca. Layar ponsel di tangannya memperlihatkan laporan singkat: kecelakaan, DUI, tes urine awal positif, masa percobaan terancam dicabut.

Asisten yang berdiri di belakangnya tidak berani bernapas keras.

"Saya minta dia dibuat berguna," kata Surya pelan.

Tidak ada jawaban.

"Bukan dibuat bodoh."

Tangannya menutup ponsel. Untuk orang lain, gerakan itu biasa. Bagi asistennya, itu lebih menakutkan daripada teriakan.

"Cabut semua bantuan langsung. Jangan biarkan nama grup terseret. Siapkan pengacara hanya untuk menjaga jarak, bukan menyelamatkan dia."

"Baik, Pak Surya."

Surya menatap pantulan dirinya di kaca. Di luar, Jakarta belum terang. Di layar lain, grafik saham Surya Perkasa masih merah. Bronkosol diselidiki. Kardiofix muncul. Anak kandungnya sendiri baru saja memberi Ardi satu kemenangan hukum gratis.

"Ardi Pratama," gumamnya.

Nama itu terasa seperti serpihan kaca di mulutnya.

Di Surabaya, Ardi keluar dari Polres menjelang subuh. Udara dingin menempel di kulit. Hartono sudah pergi mengurus salinan berita acara. Dimas berdiri di samping mobil, menunggu tanpa bertanya.

"Mulai besok," kata Ardi, "anak-anak saya berangkat sekolah dengan rute berbeda. Tidak mencolok. Tidak menakuti mereka."

"Sudah saya siapkan," jawab Dimas.

Ardi menatap langit yang mulai pucat. Dalam hidupnya, banyak orang mengira kemenangan berarti membalas dengan tangan sendiri. Mereka salah.

Kadang kemenangan berarti membiarkan musuh berlari, lalu memastikan semua lampu menyala ketika ia jatuh.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Kevin masuk.

Dokter Ardi, izin BPOM untuk jalur uji Kardiofix bergerak lebih cepat dari perkiraan. Tapi ada masalah lain. Industri estetika mulai membicarakan saham Pesona Anda. Ada orang bernama Chandra Supriyadi yang ingin bertemu. Katanya, kalau Dokter serius membangun Mutiara, dia punya tempat yang tepat.

Ardi membaca pesan itu dua kali.

Di belakangnya, sirene Polres berbunyi pendek ketika mobil tahanan bergerak keluar dari halaman.

Rangga dibawa pergi.

Dan pintu berikutnya terbuka.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!