Pada suatu ketika, terlihat seorang pemuda dengan pakaian yang tak layak pakai sedang berjalan. Pemuda tersebut terlihat keletihan, entah mengapa pemuda itu seperti seorang yang belum makan berhari-hari. Karena dari tubuhnya, sudah terlihat sangat kurus kering, membuat siapa saja yang melihatnya merasa kasihan.
"mah, pah. Aku telah dewasa, ternyata benar apa yang kalian katakan dulu. Dewasa sangat tidak menyenangkan, banyak masalah yang ku pendam sendiri, dan aku sangat kesepian sekarang, tak ada teman maupun keluarga yang mau membantuku disaat susah kini," ucap pemuda tersebut didalam hati.
Berjalan tidak tentu arah, pemuda bernama asli Rifki Edrea kini singgah sebentar, dia berhenti sejenak untuk melepaskan rasa lelah habis perjalanan jauh. Walaupun dia tidak memiliki uang sekarang, tetapi rifki masih memiliki persediaan air dikantung celana nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RST, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rifki Pergi Ke Mansion Warn.
Sesampai di mansion keluarga Warn. Kini ia semua turun dari dalam mobil, tentu dengan pakaian serba mewah, mereka melangkahkan kaki memasuki mansion.
"Kalian lanjut ke kamar saja. Kami ingin ada yang di obrolan-kan!" ucap Tyron sembari menatap Rifki dan Sabrena.
"Benar, kalian harus satu kamar! Ingat, tadi di perjanjian kalian itu ialah harus miliki 1 anak, maka jika selesai semua hutang saya dan itu perjanjian kamu rif baru hilang!" ucap Bella mengingatkan.
"Baik tuan, nyonya! Maaf kalau saya terlihat tidak sopan, saya pergi ke kamar nyonya, tuan, tuan muda!" ucap Rifki sambil menatap lantai.
"Ya, tidak apa-apa!" ucap Tyron.
"Aku ke kamar dad, mom!" ucap Sabrena sambil melenggang pergi.
"Huhh, anak itu terlalu kebiasaan!" ucap Bella sambil geleng-geleng kepala.
"Biarkan saja mom, memang kakak begitu bukan dari dulu?" ucap Tyron sambil tersenyum masam.
Jika keluarga Warn sedang bersiap diskusi di ruang keluarga. Berbeda dengan Rifki dan sang istri, mereka saat ini sudah berada di dalam kamar tanpa berbicara sedikit pun, ia bagaikan 2 orang pria yang asik dengan dunia masing-masing.
"Kau sudah membawa pakaian?" tanya Sabrena tanpa melihat.
"Belum, nanti mungkin baru akan mengambil di kost!" ucap Rifki datar.
"Oke, apa perlu bantuan?" ucap Sabrena di ranjang besar.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri!" ucap Rifki.
Sabrena lantas terdiam. Ia terkejut akan suatu perubahan Rifki sekarang ini, padahal kala itu di kantor hingga perusahan Fraswa, Rifki tidak terlihat dingin dengan semuanya.
Ia sangat tau betul sifat Rifki tadi. Namun apa yang terjadi, ia tidak memusingkan hal yang di tawarkan olehnya, apalagi Rifki sudah tolak secara mentah-mentah pada dirinya.
"Bagaimana profesimu? Apa kerja atau masih dalam perkembangan kuliah?" tanya Rifki.
"Kuliah! Ada apa memang?" tanya Sabrena sambil mencaritahu apa yang di inginkan oleh Rifki.
"Tidak, cuma bertanya aja!" ucap Rifki sambil tersenyum masam.
Setelah bertanya, Rifki lalu melenggang untuk pergi ke balkon kamar. Suasana saat ini, sore tidak terlalu panas atau dingin, cuaca begitu bagus untuk melakukan aktifitas apapun.
Melihat banyaknya tanaman bunga, Rifki kali ini tersenyum sumringah. Apalagi tanaman tersebut, bahwa kini di miliki hanya oleh sang pemilik mansion bersama keluarga.
"Hmm, cukup baik infrastuktur dan alam di mansion ini," gumam Rifki sambil tersenyum.
"Semoga, ini adalah hari pertama dan akan jadi bersejarah dalam hidup!" gumam Rifki selanjutnya.
...----------------...
"Dia sedang apa?" gumam Sabrena di atas ranjang sambil melirik Rifki yang terlihat kini sedang senyam-senyum di balkon.
"Apa sudah tidak waras karena di paksa oleh tuan muda Hux untuk menikah?" gumam lagi Sabrena diam-diam.
Kala ingin turun dan mencoba mencaritahu. Tidak sengaja, ia pun mendengar sebuah notifikasi dari ponsel miliknya.
(Sab, hari ini free gak lu?): Tasya.
(No, ada apa tas memang?): Sabrena.
(Enggak, kami mau main kesana. Apa bisa di bantu untuk nunggu di luar?): Tasya.
"Sial, kenapa mereka mau kemari?" gumam Sabrena sambil memegang dada dengan dua tangannya.
Panik, risau, bingung. Sekarang sudah wanita tersebut rasakan, jika tadi kala pernikahan itu ia tidak merasakan apapun, tapi kini ia sangat merasakan hatinya berdegup kencang.
Ya, ia tidak ingin bahwa sahabatnya tau. Akan tetapi, ia juga kebingungan untuk menutupi hal yang sangat kontroversial untuk masa depan miliknya.
Ketika sedang di gencar oleh kebingungan. Ia pun melihat Rifki sedang bersender pada satu pagar balkon.
Terlihat Rifki sangat tampan dengan pakaian formal dan tubuh gagahnya sangat cocok di badannya.
"Huhh, tidak apa lah. Jika di lihat juga Rifki tidak terlalu jelek atau gembel," ucap Sabrena di dalam hati.
(Oke, di tunggu di pintu masuk guys): Sabrena.
lanjut thor