Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah Kuasa Jeslyn
Malam sudah larut, jarum jam dinding di aula utama mansion telah menunjuk angka dua belas. Pintu besar mansion terbuka, menampilkan sosok Keith yang tampak lelah namun tetap terlihat tajam dengan setelan jas hitamnya yang masih rapi. Begitu kakinya melangkah masuk, ia mendapati Jeslyn sudah berdiri di sana.
Wanita itu tidak menyapanya dengan senyum manis atau tumpukan pertanyaan klise seperti biasanya. Jeslyn berdiri dengan kedua tangan bersedekap di depan dada, menatap Keith dengan tatapan menghakimi yang membuat sang tuan rumah mengernyitkan dahi.
Keith mengabaikannya. Ia melangkah melewati Jeslyn menuju lantai dua, namun ia menyadari sesuatu, langkah kaki Jeslyn yang tergesa-gesa mengikutinya dari belakang dengan ritme yang konstan. Keith terus berjalan, tetapi Jeslyn tidak berhenti. Ia terus membuntuti Keith hingga pria itu masuk ke dalam kamar pribadinya.
Keith akhirnya berbalik, menatap Jeslyn dengan sorot mata dingin yang mengintimidasi.
"Sudah cukup, Jeslyn. Sebenarnya apa mau kamu? Sejak tadi tidak bicara sepatah kata pun, dan sekarang kamu mengikutiku seperti anjing yang sedang membuntuti majikannya."
Jeslyn tidak goyah sedikit pun. Bibirnya mengerucut, ia terlihat sangat kesal.
"Lucian sakit, Keith! Dia sakit parah!"
Keith menatap datar, seolah berita itu hanyalah laporan cuaca yang tidak penting.
"Lalu? Seseorang jatuh sakit itu hal yang lumrah dan biasa. Aku pun pernah sakit, dan aku mampu melaluinya dengan baik tanpa perlu membuat kegaduhan di rumah ini. Kenapa kamu bersikap seberlebihan ini?"
Kata-kata itu meluncur dengan tajam, dingin, dan tanpa empati sedikit pun. Bagi Keith, ketangguhan adalah segalanya, dan ia mengharapkan hal yang sama dari anaknya. Namun bagi Jeslyn, mendengar itu membuat amarahnya meledak seketika. Hati nuraninya berteriak tidak terima melihat bagaimana seorang ayah bisa begitu tidak peduli pada anaknya yang baru saja muntah-muntah hebat hingga lemas.
"Oh, jadi buat kamu ini biasa?" Jeslyn maju satu langkah, menatap mata biru tajam Keith tanpa berkedip.
"Kamu bilang kamu bisa melaluinya dengan baik? Tentu saja, karena kamu punya segalanya! Kamu punya kekuatan, punya uang, dan yang paling penting, kamu tidak punya trauma masa kecil yang dibuang oleh keluargamu sendiri!"
"Jaga bicaramu, Jeslyn!" potong Keith dengan nada rendah yang berbahaya.
"Nggak! Aku nggak akan jaga bicara!" Jeslyn tanpa rasa takut sedikit pun langsung menarik tangan Keith dengan kasar.
"Ayo ikut aku!"
Keith sempat tersentak. Ia sudah bersiap untuk menghempaskan tangan wanita itu, namun saat kulit telapak tangan Jeslyn yang hangat menyentuh pergelangan tangannya, pria itu justru mematung. Ada sensasi aneh yang menjalar ke sekujur tubuhnya, sebuah dorongan untuk diam dan menurut.
"Apa aku sudah tidak waras?" pikir Keith dalam hati. Ia membiarkan wanita yang biasanya ia anggap sebagai pengganggu itu menariknya keluar dari kamar, menyusuri koridor yang sunyi menuju kamar Lucian.
Setibanya di depan pintu kamar Lucian, Jeslyn membukanya dengan pelan karena takut mengganggu tidur Lucian.
"Lihat sendiri! Lihat apa yang terjadi pada putramu karena dia kekurangan perhatian dari ayah yang sok tangguh ini!"
Keith melangkah masuk, langkahnya terhenti di samping tempat tidur. Di sana, Lucian terbaring pucat dengan handuk kompres di keningnya. Wajah remaja itu tampak sangat kurus dan ringkih dalam tidurnya yang tidak tenang. Napasnya terdengar berat dan sedikit terputus-putus.
Keith menatap anaknya tanpa ekspresi, namun matanya memindai keadaan kamar, mangkuk bubur yang tidak tersentuh, botol obat-obatan di meja, dan bau samar antiseptik yang memenuhi ruangan.
"Dokter Morgan sudah ke sini," ujar Jeslyn dengan nada yang masih penuh amarah.
"Diagnosanya? Stres berat dan lambung rusak. Tahu kenapa? Karena dia tidak makan dengan benar dan pikirannya tertekan. Kamu tahu apa yang dia butuhkan, Keith? Bukan ceramah tentang bagaimana kamu dulu bisa bertahan hidup, tapi perhatian dari satu-satunya orang yang seharusnya dia jadikan pelindung!"
Keith masih diam. Ia menatap tangan Lucian yang terlihat kurus. Ia tidak pernah menyangka anaknya akan jatuh seburuk ini.
"Kamu pikir hidup itu tentang memenangkan kompetisi, tentang siapa yang paling kuat bertahan dalam kesakitan?" Jeslyn tertawa sinis, matanya berkaca-kaca.
"Lucian bukan kamu. Dia anak yang hatinya sudah hancur sejak lama. Dan kalau sampai terjadi sesuatu padanya malam ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Keith. Aku tidak akan memaafkan pria dingin yang mengaku sebagai ayah tapi tidak tahu cara memeluk anaknya sendiri!"
Keith menoleh, menatap Jeslyn yang kini tampak begitu lelah namun tetap teguh.
"Kamu marah sekali, ya?"
"Aku bukan cuma marah, aku kecewa!" seru Jeslyn.
"Aku sadar kamu mungkin tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus, tapi jangan biarkan kutukan itu terus berlanjut ke anakmu. Dia butuh ayahnya, bukan seorang atasan yang selalu menuntut!"
Keith tidak menjawab. Ia berbalik dan duduk di kursi kayu di samping ranjang Lucian. Tangannya perlahan terangkat, merapikan selimut Lucian dengan gerakan yang sangat kaku, namun menunjukkan keraguan di dalamnya.
"Aku tidak pernah mengabaikannya," ucap Keith dengan suara rendah, hampir seperti gumaman.
"Aku hanya... tidak tahu caranya."
Jeslyn tertegun. Kalimat jujur yang keluar dari mulut pria yang selalu tampak sempurna dan kaku itu membuatnya sedikit melunak.
"Kalau tidak tahu caranya, belajar! Belajarlah dari hal kecil. Sentuh dia, tanyakan keadaannya, jangan selalu melihatnya sebagai target yang harus kamu didik jadi mesin!"
Keith memandang Lucian yang masih terlelap. "Tadi siang, apa dia... apa dia menanyakan keberadaanku?"
Jeslyn menggeleng pelan. "Dia tidak pernah menanyakan apa pun. Dia sudah terlalu terbiasa berharap tanpa hasil."
Kalimat itu seolah menampar Keith lebih keras daripada umpatan Jeslyn tadi. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, memijat pelipisnya yang mendadak terasa sakit. Keheningan menyelimuti ruangan. Jeslyn berdiri di dekat pintu, memperhatikan Keith yang kini tampak jauh lebih berbeda dari biasanya.
"Kamu bisa tinggal di sini sebentar," ucap Jeslyn pelan.
"Aku akan ambilkan air hangat untuknya."
Jeslyn berbalik, berniat meninggalkan ruangan agar Keith memiliki waktu berdua dengan anaknya. Namun, sebelum ia melangkah jauh, sebuah tangan besar menarik ujung gaunnya. Jeslyn berhenti dan menoleh, mendapati Keith yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, ada sedikit kebingungan, ada sedikit rasa terima kasih, dan ada sisi manusiawi yang selama ini ia kunci rapat.
"Terima kasih," ucap Keith sangat pelan, hampir tak terdengar.
Jeslyn tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan kepada suaminya. "Jangan berterima kasih padaku. Berterimakasihlah pada putramu yang masih mau menunggumu pulang, meskipun dia tidak pernah mengatakannya."
Jeslyn pun keluar, menutup pintu perlahan dan meninggalkan Keith di dalam kamar yang temaram, membiarkan sang ayah belajar bagaimana cara menebus waktu yang telah lama terbuang. Di luar, Jeslyn menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menghela napas panjang. Perutnya terasa berat, tapi hatinya merasa sedikit lebih ringan. Ia tahu, meskipun malam ini masih terasa pahit, sebuah perubahan kecil telah dimulai.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.