"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Rania kembali
Galuh juga sudah datang, suasana kembali khidmat karena do'a mulai di lantunkan oleh Bintang, Herman kembali menitikkan air mata tapi dia terus berusaha kuat untuk Harsa anaknya yang juga merasa terpuruk bahkan Harsa tak di ijinkan keluar rumah sama sekali setelah dia hampir mengakhiri hidupnya karena mengikuti sosok Sumi yang membawanya ke arah jembatan kampung Curug.
"Bintang, Hala bilang dia melihat beberapa sosok yang tidak dia kenali berkeliaran di kampung ini, mungkin itu adalah pasukan Luca yang mulai dia turunkan untuk meneror warga dan membuat mereka ketakutan" ucap Galuh
"Maka dari itu kak, Bintang minta Gilang untuk mengumumkan pada warga supaya mereka tidak keluar rumah setelah jam sembilan malam" bisik Bintang
"Iya, makluk makhluk itu keluar pukul sebelas malam katanya" jawab Galuh
"Apa Harsa masih terus melihat Sumi di mana mana?" tanya Gading
"Iya kak, makanya mama dan Kania terus mengikuti Harsa saat di rumah ataupun di luar rumah, dia tidak di perbolehkan keluar dari area tempat ini" jawab Dimas
"Jangan sampai terjadi sesuatu pada Harsa karena aku yakin Radini juga mengincar Herman untuk tahu bagaimana cara kamu mengelola lahan kamu" ucap Galuh
"Radini bahkan secara terang terangan meminta Sigit juga untuk bergabung dengannya" ungkap Bintang kesal
"Itu karena mereka sudah kebakaran jenggot cah Bagus, mereka berurusan dengan orang yang salah dan mereka tidak bisa mundur karena mereka gengsi, gengsi si Rudin itu gede cah Bagus, sama gedenya dengan tetek nya" celetuk Sahara membuat Dimas terkekeh.
"Punya kamu kalah deh" ledek Dimas
"Gandra tidak suka katanya, sukanya yang sedang sedang saja, yang pas, pas di pegang, pas di emut dan pas di..."
"Stop jangan di lanjutkan" gerutu Bintang memberikan Sahara kue bolu pisang supaya Sahara diam.
"Hihihihi terima kasih cah Bagus, tahu saja kalau Sahara mengincar itu, minta nastar juga dong untuk Badaruddin...eh untuk Sigit " ucap Sahara tapi tangannya sudah memeluk satu toples kue nastar yang untungnya terpisah cukup jauh dari tempat para warga.
"Dasar hantu genit" gemas Dirga
Para warga sudah mulai bubar dan keluarga Galuh akan menginap di rumah Lingga setelah tadi Bintang sekaligus mendo'akan Lingga juga. Rania sebenarnya tidak mau ikut tapi dia juga takut kalau hanya di rumah Galuh bersama kedua anaknya, jadi dia ikut meskipun besok dia akan kembali pulang dengan Galuh.
"Liana, Lindu, kalian memangnya tidak mau tinggal di sini?" tanya Bintang
"Kami selalu ingat papa Om, terutama Lindu yang sudah sejak kecil dengan papa" ungkap Lindu yang sudah berusia tiga puluh tahun dan meneruskan usaha Lingga di showroom mobil miliknya di tempat itu.
"Liana masih trauma Om, papa meninggal di sini dan saat itu Liana lihat sendiri bagaimana papa meregang nyawa, dia di bunuh di depan mata Liana Om" jawab Liana anak kedua Lingga yang berusia dua puluh tiga tahun sama dengan Bimantara.
Lingga memang meninggal karena di bunuh di rumah itu, mantan istrinya yang dulu sengaja datang dengan alasan silaturahmi, tapi sebenarnya dia punya niat jahat karena iri pada kehidupan Lingga yang bahagia setelah bercerai dengannya, bahkan satu anak Lingga yang merupakan kakak dari Lindu juga meninggal setelah gagal menolong Lingga yang di tembak mantan istrinya itu.
"Ikhlaskan Rania, kamu pasti sering memimpikan Lingga kan?" tanya Bintang
"Iya kak, mas Lingga terus menangis dan mengatakan kalau dia kesakitan" jawab Rania
"Itu karena Tante belum mengikhlaskan almarhum, coba Tante ikhlas, Om Lingga di sana juga insya Allah akan tenang dan tidak kesakitan" ungkap Dirga
"Apakah begitu?" tanya Rania ragu
"Tentu saja Rania" jawab Bintang dan Galuh.
"Kalau begitu Rania dan anak anak akan pindah lagi ke sini setelah rumah kak Bintang selesai di perbaiki, dan untuk sementara Rania akan tetap tinggal di rumah kak Galuh" jawab Rania
"Alhamdulillah, kalian juga harus mulai berdamai, penjahat itu sudah mati" ucap Dimas menepuk bahu Lindu
"Insya Allah kak" jawab Lindu
Mereka tidak langsung tidur, Bintang memeriksa setiap sudut rumah Lingga, Rania menempati kamarnya bersama Liana, sementara Lindu tidur bersama Dirga dan Dimas karena para perempuan akan tidur terpisah di lantai dua rumah Lingga yang letaknya memang ada di area tanah Bagaskara.
"Aman?" tanya Galuh
"Aman kak" jawab Bintang karena memang setelah pagar gaib baru terpasang, tidak ada gangguan apapun lagi datang ke sana, Uyung dan Rukmini juga tidak menemukan apapun setelah keliling lahan Bagaskara itu.
"Bintang lupa bertanya, apa tanah kak Galuh juga di pagar ulang?" tanya Bintang
"Iya, untuk berjaga jaga dan lima raja itu memagari rumahku setelah dari rumah kamu keesokan harinya" jawab Galuh
"Galuh" panggil Sahara yang tiba tiba sudah ada di punggung Dirga.
"Apa?" tanya Galuh
"Kata Badaruddin dia menemukan setitik darah di rumah Sigit, Hala di minta datang ke sana untuk diskusi, nenek Rukmini dan Gandra juga" jawab Sahara
"Aku akan ke sana, saya pamit tuan" ucap Hala yang keluar dari tubuh Galuh.
"Iya, hati hatilah" jawab Galuh
"Sahara malas sebenarnya karena mau bobo sama Dirga, Dimas dan Lindu, tapi ini tugas negara jadi Sahara harus pergi, maaf ya Dirga" ucap Sahara memelas.
"Iya, pastikan kamu tidak pulang cepat karena aku ingin tidur nyenyak" jawab Dirga terkekeh
"Jaga Harsa, jangan sampai dia sendirian, Sahara lihat Sumi palsu kembali muncul di depan jalan rumah cah Bagus" ucap Sahara membuat Galuh dan Bintang saling lirik.
"Bisakah kamu usir dia dulu? Harsa pasti akan mendengar panggilan sosok itu meskipun tempat ini di pagari, kang Herman juga mungkin akan terpengaruh" ucap Bintang
"Iya, nanti akan bahaya kalau Harsa dan Herman berada di luar rumah ini dengan pengaruh sosok itu" ucap Galuh
"Baiklah, Sahara akan usir dia karena dia juga nggak kasih Sahara pajak, dia tidak seperti Sumi yang baik pada Sahara, ngobrol saja tidak dan di tidak kenal Sahara" jawab Sahara lalu pergi setelah mengecup pipi Bintang dan Dirga.
"Semoga Sahara bisa mengusir sosok itu" ucap Bintang
"Dirga intip di dekat bengkel kak Dimas ya pa" ucap Dirga penasaran.
"Jangan, kamu istirahat karena besok kita akan sibuk untuk mulai mengurus lahan lagi, semuanya akan kita tanami lagi dan kita garap lagi" jawab Bintang
"Baiklah" jawab Dirga pamit ke kamar Lindu setelah mencium tangan Bintang dan Galuh.
"Anak kamu yang satu itu beda sekali, dia bahkan tidak berniat pacaran, hanya menunggu jodoh dari Abah yai" ungkap Galuh
"Bintang saja sudah pusing kak meminta dia menikah, usianya bahkan sudah kepala tiga lebih.