Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 02
Begitu tamu keluarga Pradipta pulang, Sinta menarik Nabila ke ruang duduk belakang.
Alya berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Ia tidak berniat menguping. Rumah ini hanya terlalu besar untuk menyimpan rahasia, tetapi terlalu kecil untuk menyembunyikan suara seorang ibu yang panik.
"Kamu gila?" tanya Sinta dengan suara tertahan.
Nabila tidak menangis.
Itu yang membuat Alya berhenti di sisi koridor.
Di depan orang banyak, adiknya itu selalu tahu kapan harus berkaca-kaca. Namun di depan Sinta, ketika merasa aman, nada suaranya berubah. Lebih yakin. Lebih tajam.
"Ma, aku tahu apa yang aku lakukan."
"Kamu tahu apa?" Sinta hampir tertawa karena marah. "Rafi itu siapa? Dia putra yang tidak dianggap. Dia tidak punya saham berarti. Dia tidak punya posisi. Bahkan Pak Bima jarang mengajaknya bicara."
"Sekarang belum."
"Jangan ulangi kata itu!"
"Ma," Nabila mendekat. "Mama percaya sama aku, kan?"
Sinta diam.
"Aku mimpi," lanjut Nabila.
Alya bersandar pada dinding. Matanya dingin.
Mimpi.
Alasan yang cukup aman. Tidak bisa dibuktikan, tetapi bisa membuat orang tua yang sayang anak mulai ragu.
"Mimpi apa?"
"Aku melihat masa depan." Suara Nabila mengecil, tetapi setiap katanya jelas. "Mas Rafi akan menjadi pemimpin Pradipta Group. Daren akan jatuh karena skandal. Arga tidak akan bertahan lama. Setelah Pak Bima sakit, semua orang akan mencari sosok baru. Dan orang itu Mas Rafi."
Sinta menarik napas tajam. "Jangan bicara sembarangan."
"Aku tidak sembarangan."
"Kalau ada orang dengar, kita bisa dianggap mendoakan buruk keluarga Pradipta."
"Tidak ada yang dengar."
Alya menunduk melihat kukunya.
Ada.
Hanya saja orang itu tidak lagi mudah terkejut.
Sinta terdengar berjalan mondar-mandir. "Mimpi tidak bisa dijadikan dasar pernikahan."
"Lalu perjanjian bisnis bisa?" Nabila membalas cepat. "Mama tadi tidak marah karena kami dijadikan alat. Mama marah karena aku memilih alat yang menurut Mama kurang menguntungkan."
"Nabila!"
"Maaf." Nabila menurunkan suaranya lagi. "Aku tidak bermaksud kurang ajar. Tapi Mama harus dengar. Dalam mimpiku, perempuan yang menjadi istri Rafi akan menikmati semuanya. Saham, rumah, posisi, nama besar. Dia akan duduk di sampingnya ketika semua orang membungkuk."
Sinta hening.
Itu bahasa yang ia pahami.
Nama besar.
Posisi.
Orang-orang membungkuk.
Sinta tidak jahat dengan cara yang berisik. Ia hanya perempuan yang sejak muda percaya bahwa hidup seorang wanita ditentukan dari keluarga mana ia diterima, siapa suaminya, dan apakah orang-orang memanggilnya dengan hormat.
"Lalu Alya?" tanya Sinta pelan.
Nabila tidak langsung menjawab.
Alya mengangkat alis.
Nah.
Bagian ini selalu menarik.
"Mbak Alya akan baik-baik saja," kata Nabila akhirnya. "Dia kuat. Mama sendiri sering bilang dia lebih mandiri daripada aku."
"Arga sakit."
"Justru karena itu." Nabila terdengar lebih lembut. "Mbak Alya pintar mengurus orang. Dia cocok dengan Mas Arga. Lagipula, keluarga Pradipta tidak akan membiarkan istri Arga kekurangan."
"Tapi Ratna tidak menyukai Arga."
"Itu urusan mereka."
Sinta menarik napas.
Kalimat itu seharusnya membuat seorang ibu terdiam karena malu. Namun Sinta hanya berkata, "Kamu yakin Rafi akan naik?"
Alya menutup mata sebentar.
Lucu.
Mereka benar-benar membahas hidupnya seperti memindahkan piring dari meja satu ke meja lain.
"Yakin," jawab Nabila. "Aku melihatnya, Ma. Aku melihat diriku memakai kebaya putih di acara pelantikan. Aku melihat semua orang memanggilku Nyonya Rafi. Aku melihat--"
Ia berhenti.
Alya tahu kenapa.
Dalam kehidupan lalu, yang berdiri di sisi Rafi dalam acara pelantikan bukan Nabila.
Itu Alya.
Nabila pasti melihatnya.
Mungkin mimpi itu tidak utuh. Mungkin ia hanya melihat Rafi menang, lalu melihat seorang perempuan di sampingnya. Karena wajah perempuan itu adalah Alya, Nabila menyimpulkan posisi itulah yang harus direbut.
Sayangnya, ia salah memahami bagian paling penting.
Rafi tidak mengangkat Alya.
Alya yang mengangkat Rafi.
"Kalau kamu salah?" Sinta bertanya.
"Aku tidak salah."
"Bagaimana kalau Arga sembuh?"
Tawa kecil Nabila terdengar. "Ma, Arga sudah sakit bertahun-tahun. Kalau bisa sembuh, dia sudah sembuh dari dulu."
Di koridor, senyum Alya menghilang.
Ia ingat laporan medis yang pernah ia lihat di kehidupan lalu. Arga meninggal beberapa tahun setelah hari ini. Saat itu semua orang menyebutnya penyakit lama. Rafi bahkan menggunakan kematian Arga sebagai alasan untuk menampilkan diri sebagai putra yang lebih berguna.
Dulu Alya tidak punya hubungan dengan Arga. Ia tidak peduli.
Sekarang lelaki itu akan menjadi suaminya.
Jika hidupnya bisa diselamatkan, maka ia akan hidup.
Bukan karena Alya tiba-tiba menjadi malaikat.
Karena Arga hidup berarti Ratna gelisah. Daren terancam. Rafi kehilangan jalan pintas. Nabila kehilangan mimpi.
Itu sudah cukup.
"Alya tidak boleh curiga," kata Sinta.
"Mbak Alya tidak akan curiga." Suara Nabila kembali manis. "Dia dari dulu begitu. Diam. Menurut. Lagipula, dia tahu diri. Mama membesarkannya. Dia tidak akan melawan keluarga."
Alya membuka mata.
Tahu diri.
Kata itu dulu sangat ampuh membuatnya diam.
Karena ia anak pungut.
Karena ia makan di meja keluarga Wiratama.
Karena ia punya kamar, pendidikan, nama belakang, semua dari belas kasihan Hadi dan Sinta.
Dulu ia percaya utang budi harus dibayar dengan kepatuhan.
Setelah hidup terlalu panjang, ia belajar satu hal.
Utang budi tidak memberi siapa pun hak untuk menjual hidup orang lain.
Langkah kaki terdengar.
Alya tidak bergerak.
Pintu ruang duduk terbuka. Sinta keluar lebih dulu, wajahnya masih tegang. Begitu melihat Alya berdiri di koridor, ia tersentak.
"Alya."
Nabila muncul di belakangnya.
Wajah manis itu memucat sedetik, lalu segera berubah lembut.
"Mbak, kamu di sini?"
"Iya."
Sinta menatapnya tajam. "Sejak kapan?"
"Sejak Mama bilang aku kuat."
Sinta menahan napas. Nabila menunduk, seolah malu.
"Kamu salah paham," kata Sinta cepat. "Mama hanya khawatir."
"Khawatir pada Nabila," jawab Alya.
"Tentu Mama juga khawatir padamu. Arga bukan suami yang mudah. Kondisinya--"
"Sakit, tidak punya masa depan, dan mungkin akan mati?" Alya membantu menyelesaikan kalimat itu.
"Alya!" Sinta menegur.
"Bukankah itu yang semua orang pikirkan?"
Nabila maju setengah langkah. "Mbak, jangan bicara seperti itu. Mas Arga tetap calon suamimu."
Alya menatapnya.
"Kamu benar. Karena itu mulai hari ini, kamu tidak perlu terlalu sering menyebut dia akan mati."
Bibir Nabila terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.
Sinta mengerutkan kening. "Nabila tidak bermaksud begitu."
"Aku juga tidak bermaksud apa-apa." Alya tersenyum tipis. "Aku hanya mengingatkan. Kalau suatu hari Arga benar-benar sembuh, ucapan seperti itu bisa terdengar tidak enak."
"Sembuh?" Nabila keceplosan.
Suaranya terlalu cepat. Terlalu tajam.
Alya melihatnya.
Nabila segera menunduk. "Maksudku, tentu kami berharap Mas Arga sembuh."
"Bagus."
Hening turun.
Untuk pertama kalinya, Sinta seperti tidak tahu harus memakai nada apa kepada Alya. Biasanya cukup dengan satu kalimat tentang budi, Alya akan menunduk. Hari ini, Alya berdiri di depannya seperti orang asing.
"Mama akan menyiapkan pernikahan kalian dengan baik," kata Sinta akhirnya.
"Tidak perlu berlebihan." Alya melangkah melewati mereka. "Aku hanya butuh semua dokumen medis Arga yang bisa diakses keluarga Wiratama dari pihak Pradipta."
Sinta terkejut. "Untuk apa?"
"Aku akan menjadi istrinya. Aku perlu tahu obat apa yang diminumnya."
Nabila menggigit bibir. "Mbak, keluarga Pradipta punya dokter sendiri."
"Justru karena itu aku perlu tahu."
"Kamu tidak percaya dokter mereka?"
Alya berhenti dan menoleh.
"Aku belum menikah dengannya, tapi kamu sudah takut aku memeriksa obatnya?"
Wajah Nabila berubah.
Sinta memotong cepat. "Alya, jangan menuduh adikmu."
"Aku bertanya."
"Nada bicaramu tidak enak."
"Mama terbiasa mendengar aku diam. Mungkin sekarang semua nada terdengar tidak enak."
Sinta terpaku.
Alya tidak menunggu jawaban. Ia berjalan menuju tangga.
Di belakangnya, Nabila memanggil pelan, "Mbak."
Alya berhenti.
"Aku hanya ingin kita berdua bahagia," kata Nabila.
Kalimat itu lembut.
Seandainya Alya masih gadis dua puluh dua tahun yang lapar kasih sayang, mungkin ia akan percaya.
Sekarang tidak.
Ia menoleh sedikit. "Kalau begitu, urus kebahagiaanmu sendiri."
Nabila memucat.
Alya naik ke kamarnya tanpa menoleh lagi.
Di bawah, Sinta mulai memarahi Nabila dengan suara rendah. Nabila menjawab sambil menangis kecil.
Alya menutup pintu kamar.
Air matanya tidak jatuh.
Di meja belajar, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
`Nona Alya, saya perawat yang pernah ditugaskan di kediaman Tuan Arga. Jika Anda benar akan menikah dengannya, hati-hati dengan obat malamnya.`
Alya menatap layar.
Lalu ia tersenyum.
Jadi, pintu pertama sudah terbuka.