NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Hari Pertama Sekolah

Matahari mulai menyapa dengan lembut, menembus celah jendela kamar Lyra. Udara pagi terasa sejuk dan menyegarkan, dihiasi kicauan burung yang merdu.

Di rumah yang asri ini, hari baru yaitu Masa SMA dimulai dengan ketenangan, aroma bunga yang harum yang membuat aktivitas siapa saja yang tidak sengaja melewati rumah ini membuat lebih bersemangat.

Langit di luar jendela masih berwarna jingga kemerahan, perlahan mengusir sisa-sisa malam.

Kriiiing... (Suara alarm ponsel)

Suara alarm ponsel berdering nyaring tepat pukul 04.30 WIB.

Sinar matahari pagi yang menyelinap masuk menyentuh pipi Lyra, memberikan kehangatan alami yang membuat Lyra tersenyum.

Lyra langsung terbangun, mematikan alarm, dan bergegas mandi. Setelah Lyra Mandi, lalu ia merapikan selimut dan sprei tempat tidurnya.

___________________

Setelah salat Subuh, ia mengenakan seragam putih-biru SMP-nya yang masih bersih dan rapi.

Setelah itu, ia melangkah menuju jendela dan ia membuka gordennya lebar-lebar.

Kriet... sssst...

Suara derit cincin gorden yang bergeser memecah keheningan pagi, disusul desau kain yang tersapu angin.

Hembusan angin sejuk langsung menyeruak ke dalam kamar, membawa aroma embun dan wangi bunga melati yang ditanam sang ibu di halaman depan.

Deg... deg.. deg... (sensasi jantung berdebar)

Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat pantulan dirinya di cermin—hari ini ia resmi menjadi siswi SMA. Tepat pukul 06.00 WIB, bel rumah Lyra berbunyi.

Ting-tong!... (Suara bel rumah berbunyi)

Lyra bergegas melangkah ke depan dan segera membuka pintu rumah.

kriet.... (Suara pintu terbuka)

Amel dan Minda sudah berdiri di depan teras dengan wajah semi-tegang dan mengantuk.

"Masuk dulu, yuk! Ini pita kuning kunyitnya sudah aku potongin," kata Lyra sambil menyerahkan potongan pita.

Mereka bertiga sibuk saling membantu mengikatkan pita di lengan kanan seragam masing-masing di ruang tamu, sementara Ibu Lyra menyiapkan roti bakar untuk bekal di jalan.

___________________

Vroom.... (Suara mesin mobil)

Pukul 06.15 WIB, Ayah Lyra memanaskan mesin mobil.

Mereka bertiga berpamitan kepada Ibu Lyra dan langsung masuk ke dalam mobil.

Deru mesin mobil yang perlahan keluar dari garasi rumahku. Aroma khas kabin mobil yang bersih berpadu sempurna dengan wangi parfum kopi yang digantung di dekat AC.

Lyra duduk di depan menemani Ayahnya, sementara Amel dan Minda duduk di kursi tengah.

Dari pengeras suara mobil, mengalun lembut lagu L-O-V-E milik Nat King Cole yang diputar oleh ayah—menjadi pengiring setia setiap kali kami membelah jalanan menuju pusat kota.

Jendela mobil sedikit kuturunkan, membiarkan angin sejuk menyapa wajahku. Di luar, suasana jalanan mulai hidup.

Anak-anak berseragam putih-biru dan putih-abu-abu tampak bergerombol di halte bus, tas ransel mereka terlihat berat menanggung tumpukan buku.

Sementara itu, para pedagang gerobak sarapan mulai sibuk melayani pembeli di pinggir jalan. Asap tipis mengepul dari kukusan kue basah dan wajan gorengan, menggoda perut yang mulai keroncongan.

Di kursi pengemudi, Ayah tampak tenang mengendalikan setir. Sesap kopi dari termos stainless steel miliknya menjadi jeda di antara obrolan ringan kami di dalam mobil. Ayah Lyra sesekali menunjuk ke arah papan reklame besar di perempatan jalan dan membahas berita yang kami dengar sekilas di radio pagi.

"Gimana nih calon anak SMA? Sudah siap mental menghadapi kakak kelas OSIS yang galak-galak?" tanya Ayah Lyra, Ayah Lyra menggoda sambil melirik dari spion tengah.

"Aduh, Om! Jangan ditakut-takutin dong. Ini dari semalam Amel sudah mules mikirin atribut MOS-nya." balas Amel

"Iya nih, Om. Tapi untung barang bawaan teka-tekinya sudah lengkap semua di tas. 'Air Kehidupan' sama 'Roti Berdarah' aman!" balas Minda menghela napas lega.

"Yah, jangan digodain terus ih. Oh iya, kalian bawa payung lipat enggak? Tadi aku lihat di berita ramalan cuaca, siang nanti agak mendung." tanya Lyra kepada teman-temannya.

"Wah, aku enggak bawa! Tapi enggak apa-apa deh, nanti kalau hujan kita lari bareng-bareng atau neduh di koridor sekolah." balas Amel lupa.

"Aku bawa kok, nanti kita bisa pakai berdua kalau terpaksa, Mel. Eh, lihat deh jalanan ke arah sekolah baru kita, macet banget ya ternyata banyak motor anak sekolah lain." ucap Minda.

Brum, jleb (Suara berhenti diiringi mematikan mesin mobil)

Mobil Ayah Lyra berhenti sekitar 50 meter dari gerbang sekolah karena jalur di depan sudah sangat padat oleh kendaraan dan kerumunan murid baru.

"Nah, sudah sampai. Kalian turun di sini saja ya supaya tidak makin telat. Belajar yang benar, jangan lupa berdoa!" ucap Ayah Lyra mengingatkan.

"Siap, Yah! Terima kasih banyak ya, Ayah hati-hati di jalan." balas Lyra.

Mereka bertiga menyalimi tangan Ayah Lyra bergantian.

Begitu turun dari mobil, hawa menegangkan langsung terasa.

___________________

Di seberang jalan, berdiri sebuah gapura megah dengan tulisan mencolok berukir nama institusi bergengsi, tempat di mana mereka akan menimba ilmu selama tiga tahun ke depan.

Deg... deg.... deg...

Jantung mereka berdegup lebih kencang seiring laju kendaraan yang perlahan merapat ke bahu jalan, tepat di depan trotoar kawasan sekolah.

Mereka mendongak secara bersamaan. Di hadapan mereka terbentang kompleks bangunan dengan arsitektur modern yang dipadukan dengan sentuhan klasik, terlihat begitu megah dan mengintimidasi sekaligus memukau.

Dinding-dindingnya didominasi warna krem dan abu-abu yang bersih, dikelilingi pepohonan rindang yang menjulang tinggi, memberikan kesan sejuk dan berwibawa.

"Wow," gumam Amel pelan, matanya berbinar menatap tiang bendera di tengah lapangan utama yang tampak berkibar megah diterpa angin.

Di ujung lapangan, deretan ruang kelas berdinding kaca memperlihatkan aktivitas belajar-mengajar yang mulai sibuk.

Minda dan Lyra mengangguk takjub, merasakan atmosfer yang sangat berbeda dari sekolah menengah pertama mereka dulu.

Kompleks ini terasa seperti sebuah dunia baru yang lebih luas, tempat di mana impian-impian besar dirajut.

Di sudut kiri, terpampang papan pengumuman digital yang menyala terang, menampilkan jadwal Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan denah kelas.

Di sebelah kanan, sebuah selasar panjang menghubungkan aula utama dengan laboratorium.

Meskipun sedikit ciut melihat keramaian siswa-siswi senior yang berlalu-lalang dengan seragam rapi dan berbagai macam atribut organisasi, ada semangat yang membuncah di dalam dada mereka.

Mereka sadar, langkah kecil di titik ini adalah awal dari pendewasaan diri.

Mereka kemudian melangkah beriringan meninggalkan area parkir.

Tuk... tuk.. tuk...

Suara sepatu mereka beradu dengan konblok trotoar yang bersih, menciptakan ritme langkah yang seirama dengan detak jantung mereka.

Udara pagi terasa semakin segar ketika aroma embun bercampur wangi dedaunan menyapa penciuman.

Di depan mata, gerbang utama yang terbuat dari besi abu-abu yang menjulang tinggi, beberapa pengurus OSIS dengan almamater merah maroon dan ban lengan hitam bertuliskan "PANITIA" sudah berdiri tegap.

Tatapan mata mereka tajam, memeriksa setiap murid yang lewat.

"Ayo yang baru datang langsung merapat ke lapangan! Jangan ada yang jalannya lambat! Topi dan atributnya langsung dipakai!" seru Kakak Osis.

Amel berbisik sangat pelan sambil memegang lengan Lyra, "Ly, lihat deh Kakak yang tinggi itu, mukanya judes banget. Aku merinding."

Minda ikut berbisik, "Ssst, jangan keras-keras, Mel. Lihat ke depan aja, jangan tatap matanya nanti kita kena tegor."

"Ayo cepat jalannya, kita ikuti barisan di depan itu menuju lapangan utama." ajak Lyra.

Mereka bertiga berjalan dengan langkah cepat namun tetap berusaha tenang, membaur di antara ratusan murid baru lainnya.

Bau rumput lapangan yang basah oleh embun pagi dan suara pengeras suara yang menggema membuat atmosfer hari pertama SMA ini terasa begitu nyata dan tidak akan pernah mereka lupakan.

Bersambung~~~

Haloo semua!!! semoga suka ceritanya ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 🤩😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!