NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Pengkhianat di Dalam Mansion

Mansion Alvaro kembali dijaga dengan pengamanan berlapis.

Sejak pertemuan di Gereja Saint Raphael, Raven meningkatkan jumlah penjaga di setiap sudut. Tidak seorang pun diizinkan keluar atau masuk tanpa pemeriksaan.

Meski begitu, perasaan tidak tenang masih menghantui dirinya.

Black King seolah selalu selangkah lebih maju.

Di ruang kerja, Raven meletakkan kalung berbentuk mahkota hitam di atas meja.

Leo berdiri di hadapannya sambil membawa laporan terbaru.

"Tuan, kami sudah memeriksa simbol pada kalung itu."

"Hasilnya?"

"Tidak ada organisasi mafia yang menggunakannya."

Raven menghela napas pelan.

"Berarti mereka memang bergerak dari balik bayangan."

Saat itu, Aurora masuk membawa obat untuk luka Raven.

"Lukamu belum benar-benar sembuh."

Raven mengulurkan lengannya tanpa protes.

Aurora tersenyum tipis.

"Syukurlah. Kali ini kau tidak membantah."

"Aku mulai bosan mendengar ceramahmu."

"Itu berarti kau harus cepat sembuh."

Saat Aurora selesai mengganti perban, tiba-tiba seluruh lampu di mansion padam.

Klik!

Ruangan langsung gelap gulita.

"Apa yang terjadi?" tanya Aurora.

Belum sempat ada yang menjawab, suara alarm keamanan menggema di seluruh mansion.

Wiuu... Wiuu...

Leo langsung mencabut pistolnya.

"Sistem keamanan diretas!"

Raven berdiri.

"Semua orang siaga!"

Para penjaga berlari menuju pos masing-masing.

Dalam kegelapan, terdengar suara tembakan dari lantai bawah.

Dor!

Disusul teriakan seseorang.

"Ada penyusup!"

Raven, Leo, dan Aurora segera turun.

Namun pemandangan yang mereka lihat membuat semua orang terdiam.

Salah satu penjaga tergeletak bersimbah darah.

Di dinding belakangnya terdapat simbol mahkota hitam yang digambar menggunakan darah.

Aurora memejamkan mata sejenak.

"Ini peringatan."

Raven mengangguk pelan.

"Bukan."

"Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka bisa masuk kapan saja."

Leo segera memeriksa rekaman kamera pengawas.

Beberapa menit kemudian wajahnya berubah pucat.

"Tuan..."

"Ada apa?"

"Seseorang mematikan listrik dari dalam mansion."

Raven menatap tajam.

"Maksudmu..."

Leo mengangguk.

"...ada pengkhianat di antara kita."

Ruangan mendadak sunyi.

Raven segera memerintahkan seluruh penghuni mansion berkumpul di aula utama.

Lebih dari lima puluh orang berdiri berbaris.

Pelayan.

Penjaga.

Koki.

Sopir.

Semuanya hadir.

Raven berjalan perlahan di depan mereka.

"Mulai hari ini..."

"...tidak ada seorang pun yang boleh meninggalkan mansion."

Beberapa orang tampak gelisah.

Raven memperhatikan setiap wajah.

Ia mencari sedikit saja perubahan ekspresi.

Tiba-tiba seorang penjaga muda terlihat berkeringat dingin.

Raven berhenti tepat di depannya.

"Namamu."

"R-Rio, Tuan."

"Sudah berapa lama bekerja di sini?"

"Dua tahun."

Raven menatapnya beberapa detik.

"Lihat mataku."

Rio berusaha tetap tenang.

Namun tubuhnya semakin gemetar.

Tiba-tiba ia mendorong Raven dan berlari menuju pintu.

"Dia pengkhianat!" teriak Leo.

Beberapa penjaga mengejar.

Rio berhasil mencapai halaman belakang.

Ia hampir melompati pagar ketika...

Dor!

Sebuah peluru menembus dadanya.

Rio terjatuh.

Semua orang berlari menghampirinya.

Namun peluru itu bukan berasal dari anak buah Raven.

Melainkan dari arah bukit di luar mansion.

Seorang penembak jitu telah membungkam Rio.

Aurora segera memeriksa kondisinya.

"Dia masih hidup!"

Rio batuk mengeluarkan darah.

Dengan sisa tenaganya ia menggenggam tangan Raven.

"Aku... minta maaf..."

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Raven.

Rio berusaha berbicara.

"Black..."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, napas Rio terhenti.

Aurora menundukkan kepala.

"Dia sudah meninggal."

Raven mengepalkan kedua tangannya.

Sekali lagi.

Saksi penting kembali dibungkam.

Saat semua perhatian tertuju pada jasad Rio, Elena yang diam-diam keluar dari ruang medis melihat sesuatu di atap mansion.

Sesosok pria berjubah hitam berdiri memandang ke arah mereka.

Hanya beberapa detik.

Pria itu kemudian mengangkat dua jarinya ke arah Raven, seolah memberi salam.

Lalu menghilang ke dalam kegelapan.

Elena langsung membelalakkan mata.

"Itu dia..."

Aurora menoleh.

"Siapa?"

Elena menggigit bibir.

"Aku pernah melihat pria itu..."

"...tepat pada malam mansion Alvaro terbakar dua puluh tahun yang lalu."

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!