Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Tidak Terlihat
Pagi itu, ruang rapat kecil di lantai dua kantor Safa Amanah Tour dipenuhi beberapa kepala divisi.
Di layar proyektor terpampang laporan evaluasi program pemeriksaan kesehatan calon jamaah yang selama beberapa bulan terakhir bekerja sama dengan Klinik Arafah Medika.
Ghazi duduk di ujung meja.
Seperti biasa, ia membiarkan seluruh tim menyampaikan laporan sebelum memberikan tanggapan.
"Alhamdulillah," ujar Kepala Divisi Operasional. "Tidak ada keluhan berarti dari jamaah."
"Justru banyak yang menyampaikan apresiasi terhadap tim medis."
Ghazi mengangguk pelan.
"Lanjut."
Ja'far membuka halaman berikutnya.
"Namun ada satu catatan."
"Silakan."
"Jumlah jamaah meningkat hampir tiga puluh persen dibanding periode sebelumnya."
Ruangan seketika hening.
"Artinya?" tanya Ghazi.
"Artinya beban pemeriksaan di Arafah Medika juga meningkat."
Ja'far menunjuk grafik di layar.
"Dalam beberapa hari terakhir, tim mereka harus menambah jam pelayanan agar seluruh calon jamaah bisa selesai diperiksa sesuai jadwal."
Salah seorang staf berkata,
"Mungkin kita bisa meminta mereka menambah jadwal praktik."
Ghazi menggeleng pelan.
"Bukan."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Bukan mitra kita yang harus menyesuaikan diri."
"Tapi sistem kita."
Ia berdiri, lalu berjalan mendekati layar.
"Mulai bulan depan."
"Jadwal pemeriksaan dibagi menjadi beberapa gelombang."
"Tidak lagi dipusatkan dalam dua atau tiga hari."
Ja'far segera mencatat.
"Lalu?"
"Formulir riwayat kesehatan dikirim kepada jamaah sejak pendaftaran."
"Sehingga dokter tidak menghabiskan waktu untuk mengisi data dasar yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih awal."
Kepala Divisi Operasional mengangguk.
"Itu akan memangkas waktu pemeriksaan."
Ghazi melanjutkan,
"Jamaah lanjut usia mendapat jalur pemeriksaan khusus."
"Mereka tidak boleh menunggu terlalu lama."
Ruangan kembali dipenuhi suara pena yang mencatat.
Tidak ada satu pun instruksi yang terdengar rumit.
Namun semuanya membuat pekerjaan mitra menjadi lebih ringan.
Ja'far memandang sepupunya sekilas.
Ia tahu...
Keputusan itu lahir bukan hanya dari pertimbangan manajemen.
Ada seseorang yang sedang dijaga agar tidak kelelahan.
Meski orang itu mungkin tidak akan pernah mengetahuinya.
***
Rapat selesai menjelang siang.
Para kepala divisi mulai meninggalkan ruangan.
Tinggal Ghazi dan Ja'far.
"Mas."
"Hm?"
"Saya sudah menghubungi Pak Farid."
Ghazi mengangkat kepala.
"Beliau bilang tim Arafah Medika meminta satu kali pertemuan lagi sebelum mengambil keputusan."
Ghazi tersenyum tipis.
"Itu pilihan yang bijak."
"Pak Farid juga bilang..."
Ja'far membuka kembali catatannya.
"Beliau semakin yakin karena mereka tidak tergesa menerima amanah sebesar itu."
Ghazi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Orang yang menjaga amanah memang biasanya lebih banyak bertanya daripada berjanji."
Ja'far mengangguk setuju.
"Lalu mengenai tambahan dana CSR..."
"Siapkan konsepnya."
"Kita fokus pada program pelayanan masyarakat."
"Bukan pembangunan fisik."
"Kalau nanti kerja sama itu jadi berjalan..."
"...masyarakat harus menjadi pihak pertama yang merasakan manfaatnya."
"Baik, Mas."
***
Di waktu yang hampir bersamaan.
Klinik Arafah Medika mulai sedikit lengang setelah antrean pasien pagi terlayani.
Adzra, Nabila, dan Rini kembali berkumpul di ruang rapat kecil.
Di atas meja masih terbuka map dari Yayasan Wakaf Produktif Kesehatan.
Nabila menutup laptopnya.
"Aku sudah menyusun daftar pertanyaan."
Adzra tersenyum.
"Sebanyak itu?"
"Justru karena amanahnya besar."
Nabila menghela napas pelan.
"Aku ingin memastikan kita memahami semuanya sebelum menjawab."
Rini yang sejak tadi menyusun berkas ikut menimpali.
"Pak Farid pasti senang."
"Kok bisa?"
"Soalnya orang yang niat membantu biasanya lebih tenang kalau yang dibantu banyak bertanya."
Ucapan polos itu membuat Adzra dan Nabila saling tersenyum.
Benar juga.
Kepercayaan bukan dibangun dari jawaban yang cepat.
Melainkan dari keberanian memastikan setiap langkah berada di jalan yang benar.
***
Sore menjelang.
Sinar matahari mulai condong ke barat ketika ponsel Adzra berdering.
Nama yang muncul di layar membuatnya segera mengangkat panggilan.
"Assalamu'alaikum, Pak Farid."
"Wa'alaikumussalam, Dokter Adzra."
Suara Farid terdengar hangat seperti biasa.
"Saya hanya ingin mengonfirmasi."
"Apakah lusa pagi pukul sembilan masih sesuai untuk pertemuan kita?"
"Insyaallah sesuai, Pak."
"Kami sudah menyiapkan beberapa hal yang ingin didiskusikan."
"Alhamdulillah."
"Itulah yang kami harapkan."
Farid berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Dokter..."
"Ya, Pak?"
"Jangan merasa harus menerima amanah ini hanya karena kami datang."
"Kalau setelah dikaji ternyata tim Arafah Medika merasa belum siap..."
"...katakan saja."
"Tidak akan mengurangi rasa hormat kami."
Adzra terdiam beberapa saat.
Kalimat itu justru membuat dadanya terasa semakin berat.
Karena ia tahu...
Kepercayaan yang diberikan tanpa paksaan selalu memiliki bobot yang jauh lebih besar.
"Terima kasih, Pak."
"Kami akan memberikan keputusan terbaik."
"Insyaallah."
Telepon pun berakhir.
Adzra memandang map di hadapannya.
Ia sadar...
Dalam beberapa hari ke depan, salah satu keputusan terbesar dalam perjalanan Arafah Medika akan ditentukan.
Dan di tempat lain...
Tanpa pernah saling mengetahui isi hati masing-masing...
Ada seorang lelaki yang diam-diam sedang berusaha meringankan langkahnya.
Bukan dengan kata-kata.
Melainkan dengan memperbaiki jalan yang akan ia lalui.
***
Dua hari berlalu lebih cepat dari yang dibayangkan.
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman Klinik Arafah Medika.
Rini yang sedang membantu pasien di meja administrasi segera mengenali tamu itu.
"Dok, Pak Farid sudah datang."
Adzra yang baru saja selesai memeriksa pasien terakhir pagi itu mengangguk.
"Silakan persilakan ke ruang rapat."
Beberapa menit kemudian, ruang rapat sederhana di lantai dua kembali diisi oleh orang-orang yang sama.
Farid duduk dengan map hitam yang masih sama seperti pertemuan sebelumnya.
Di hadapannya telah duduk Adzra, dr. Nabila, dan Rini yang membawa notulen rapat.
Farid memandang ketiganya bergantian.
"Saya senang melihat kalian benar-benar menggunakan waktu yang kami berikan."
Nabila tersenyum kecil.
"Terus terang, Pak. Justru setelah membaca semua dokumen, kami semakin banyak pertanyaan."
Farid tertawa pelan.
"Alhamdulillah."
"Artinya kalian tidak gegabah."
***
Nabila membuka catatan yang telah disusunnya selama dua hari terakhir.
"Pertanyaan pertama."
"Bagaimana jika dalam tiga atau lima tahun ke depan rumah sakit belum mampu mencapai titik keberlanjutan operasional?"
Farid tidak langsung menjawab.
Ia justru balik bertanya.
"Menurut Ibu Nabila, apa yang menyebabkan sebuah rumah sakit gagal?"
Nabila berpikir sejenak.
"Biaya operasional."
"Kekurangan tenaga medis."
"Manajemen yang buruk."
Farid mengangguk.
"Semuanya benar."
"Lalu menurut Dokter Adzra?"
Adzra menghela napas pelan.
"Rumah sakit juga bisa gagal ketika kehilangan tujuan awalnya."
Farid tersenyum.
"Itulah jawaban yang ingin saya dengar."
Ia membuka salah satu dokumen.
"Yayasan kami tidak pernah menargetkan keuntungan."
"Yang kami ukur adalah kebermanfaatan."
"Selama pelayanan berjalan baik, tata kelola sehat, dan amanah dijaga..."
"...kami tidak akan meninggalkan mitra kami sendirian."
Kalimat itu membuat suasana ruang rapat terasa sedikit lebih ringan.
***
Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir.
Tentang audit.
Tentang laporan keuangan.
Tentang mekanisme pengawasan.
Tentang perekrutan tenaga medis.
Farid menjawab semuanya dengan tenang.
Tidak sedikit pun terlihat terganggu.
Justru beberapa kali ia memuji ketelitian tim Arafah Medika.
"Saya bersyukur kalian bertanya sejauh ini."
"Karena rumah sakit tidak dibangun hanya dengan semangat."
"Tetapi juga dengan sistem."
***
Hampir dua jam berlalu.
Map-map dokumen mulai dipenuhi catatan kecil.
Nabila yang sejak tadi mencatat jalannya rapat akhirnya memberanikan diri mengangkat tangan.
"Pak..."
Farid menoleh sambil tersenyum.
"Iya, Dokter Nabila."
"Kalau boleh jujur..."
"Saya justru takut."
Ruangan mendadak hening.
Nabila menundukkan kepala sejenak.
"Selama ini kami hanya klinik."
"Kalau pasien ramai, kami masih bisa saling membantu."
"Kalau ada yang kurang, kami belajar bersama."
"Tapi rumah sakit..."
"...terdengar sangat besar."
Farid memandang perempuan itu dengan penuh penghargaan.
"Boleh saya bertanya?"
"Silakan, Pak."
"Sudah berapa tahun Ibu bersama Arafah Medika?"
"Hampir sejak klinik ini berdiri."
"Waktu pertama kali membuka klinik..."
"Apakah Ibu juga takut?"
Nabila tersenyum malu.
"Iya."
"Takut sekali."
"Lalu kenapa tetap bertahan?"
Nabila melirik Adzra.
"Karena kami percaya sama tujuan yang ingin dibangun."
Farid mengangguk mantap.
"Nah."
"Rumah sakit nanti juga seperti itu."
"Bukan karena gedungnya lebih besar."
"Tetapi karena tujuan baiknya diperbesar."
Kalimat itu membuat Rini perlahan menganggukkan kepala.
Ketakutan memang belum hilang.
Namun setidaknya, kini ia tahu bahwa rasa takut bukan alasan untuk berhenti melangkah.
***
Sebelum rapat berakhir, Farid mengeluarkan sebuah amplop putih.
"Saya membawa sesuatu."
Adzra menerima amplop itu dengan heran.
"Ini apa, Pak?"
"Bukan kontrak."
"Bukan pula surat keputusan."
Adzra membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya terdapat satu lembar kertas.
Bertuliskan:
"Membangun rumah sakit itu mudah.
Membangun orang-orang yang menjaga rumah sakit itulah yang sulit."
Di bagian bawahnya terdapat tanda tangan pendiri Yayasan Wakaf Produktif Kesehatan.
Farid berkata pelan,
"Kalimat itu selalu kami berikan kepada setiap mitra."
"Supaya mereka tidak pernah lupa..."
"...bahwa bangunan hanyalah alat."
"Yang menentukan keberkahannya adalah manusia-manusia yang menjaganya."
Adzra membaca kembali kalimat itu.
Entah mengapa, dadanya terasa bergetar.
***
Farid berdiri.
"Saya rasa semua pembahasan sudah selesai."
"Kami tidak akan meminta jawaban hari ini."
"Tapi..."
Ia menatap Adzra.
"Kalau boleh, saya ingin mendengar satu hal."
"Apa itu, Pak?"
"Setelah dua kali pertemuan..."
"...apa yang paling membuat Dokter ragu?"
Ruangan kembali sunyi.
Adzra tidak segera menjawab.
Beberapa saat kemudian ia berkata perlahan,
"Saya tidak ragu pada proyek ini."
Farid mengangguk.
"Saya ragu pada diri saya sendiri."
Nabila menoleh.
Rini ikut memandang Adzra.
"Saya takut..."
"...kepercayaan sebesar ini ternyata lebih besar daripada kemampuan kami."
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Farid justru tersenyum.
"Dulu..."
"Waktu pertama kali menerima amanah memimpin Yayasan ini..."
"...saya juga mengucapkan kalimat yang sama."
Adzra mengangkat wajah.
Farid melanjutkan,
"Jangan mencari keyakinan bahwa kalian sudah mampu."
"Tetapi pastikan kalian selalu mau belajar ketika belum mampu."
"Itulah yang membedakan orang yang menjaga amanah..."
"...dengan orang yang mengejar kedudukan."
Kalimat itu menancap dalam hati seluruh orang yang berada di ruangan.
***
Setelah Farid berpamitan, suasana kembali lengang.
Tidak ada sorak gembira.
Tidak pula euforia.
Yang ada justru keheningan.
Nabila memecahnya lebih dulu.
"Semakin didengar..."
"...semakin terasa besarnya tanggung jawab ini."
Adzra mengangguk pelan.
Ia memandang lembar kalimat yang masih berada di tangannya.
"Membangun rumah sakit itu mudah. Membangun orang-orang yang menjaganya itulah yang sulit."
Tanpa sadar ia tersenyum.
"Boleh jadi..."
"Allah belum sedang menyiapkan rumah sakitnya."
"Tetapi sedang menyiapkan kita."
Kalimat itu membuat Nabila dan Rini saling berpandangan.
Mungkin benar.
Amanah besar tidak datang ketika seseorang merasa siap.
Melainkan ketika Allah mulai membentuknya agar pantas memikulnya.
Di luar gedung klinik, matahari semakin meninggi.
Sementara di tempat lain, tanpa diketahui Adzra...
Seseorang sedang mulai mengumpulkan keberanian yang selama sepuluh tahun tak pernah berhasil ia temukan.
Dan takdir...
diam-diam sedang memperpendek jarak di antara mereka.
**Bersambung**