NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Karin mengembuskan napas panjang. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak.

Tatapannya menyapu wajah Bu Ratna, lalu beralih kepada Vina. Kini ia benar-benar mengerti. Semua ini memang sudah direncanakan.

Sedikit demi sedikit mereka memancing emosinya, lalu berubah menjadi korban begitu ada orang lain yang melihat.

Karin menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali tenang.

Tatapannya tidak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan rasa muak.

"Silakan lanjutkan sandiwara kalian. Cepat atau lambat semua akan berbalik pada kalian juga."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Karin memalingkan wajah.

Ia menatap para pelayan yang sejak tadi berdiri mematung.

"Kalian kembali bekerja! Tidak ada lagi yang perlu ditonton."

Para pelayan saling berpandangan sebelum perlahan kembali ke pekerjaan masing-masing.

Meski begitu, beberapa dari mereka masih sesekali melirik ke arah ruang keluarga.

Karin kemudian menoleh kepada Arga.

"Arga, tolong bawakan belanjaanku ke kamar."

Arga mengangguk hormat.

"Baik, Nyonya."

Ia kembali menggenggam seluruh tas belanja yang sejak tadi berada di tangannya, lalu berjalan beberapa langkah di belakang Karin menuju lantai dua.

Tatapan Vina tidak lepas dari punggung keduanya hingga benar-benar menghilang di balik belokan tangga.

Begitu suasana kembali sepi, senyum lembut yang sejak tadi menghiasi wajah Vina langsung lenyap. Sorot matanya berubah dingin. Ia menoleh kepada Bu Ratna.

"Bu, Karin ternyata mulai menyadari kalau kita sengaja memancing emosinya."

Bu Ratna sama sekali tidak terlihat panik. Ia justru tersenyum tipis sambil meraih cangkir teh di atas meja.

"Biarkan saja."

Vina mengernyit.

"Ibu tidak khawatir?"

Bu Ratna menggeleng pelan.

"Untuk apa? Dia memang tahu kita sedang memancing emosinya. Tapi para pelayan tidak tahu. Mereka hanya melihat Karin membentak, sementara kita berusaha menenangkan. Yang akan mereka ingat adalah pemandangan terakhir, bukan bagaimana semuanya dimulai."

Vina perlahan ikut tersenyum.

"Berarti langkah pertama kita berhasil."

Bu Ratna mengangguk puas.

"Bisa di bilang begitu. Benihnya sudah mulai tumbuh. Mulai hari ini kita lakukan hal yang sama setiap kali ada kesempatan. Sedikit demi sedikit, semua orang akan percaya kalau Karin memang berubah menjadi wanita yang emosional dan sulit mengendalikan diri."

Vina duduk di samping Bu Ratna.

"Kalau semua orang sudah percaya... baru kita jalankan rencana berikutnya."

Bu Ratna menyipitkan mata.

"Kita buat seolah-olah dia ada hubungan dengan Arga."

Vina mengangguk mantap.

"Aku sengaja mulai membawa nama Arga hari ini. Besok atau lusa, aku akan mengulanginya lagi. Tidak perlu menuduh mereka secara langsung. Cukup lontarkan pertanyaan-pertanyaan kecil. Lama-kelamaan orang akan mulai berpikir sendiri."

Bu Ratna tersenyum puas.

"Itulah yang kita inginkan. Fitnah yang paling mudah dipercaya bukanlah fitnah yang dipaksakan. Melainkan fitnah yang membuat orang merasa menemukan kesimpulannya sendiri."

Vina terkekeh pelan.

"Semakin sering Arga terlihat di dekat Karin... Semakin mudah orang menghubungkan keduanya."

Bu Ratna menatap ke arah tangga.

"Arga terlalu polos. Dia tidak akan pernah menyadari kalau setiap langkahnya sedang diperhatikan. Dan kepolosannya itulah yang akan menghancurkan Karin."

Vina menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Kasihan sekali. Dia bahkan tidak tahu kalau dirinya sedang dijadikan bidak."

Bu Ratna tersenyum dingin.

"Biarkan saja. Yang penting, pada saat waktunya tiba, semua orang sudah percaya bahwa Karin memang berubah. Setelah itu... kita tinggal memberi dorongan kecil. Sisanya, orang-orang akan menghancurkan Karin dengan mulut mereka sendiri."

Keduanya saling bertatapan. Lalu tersenyum penuh kemenangan.

Sementara itu, di Kamar Karin...

Arga meletakkan seluruh tas belanja di atas meja kamar.

"Semuanya sudah saya letakkan, Nyonya."

Karin mengangguk pelan.

"Terima kasih, Arga."

Arga membungkukkan badan.

"Kalau tidak ada lagi yang diperlukan, saya permisi."

"Tunggu sebentar."

Langkah Arga langsung terhenti. Ia kembali menghadap Karin.

"Iya, Nyonya?"

Karin terdiam cukup lama. Pikirannya masih mengulang setiap ucapan Bu Ratna dan Vina di ruang keluarga.

Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa nama Arga sengaja dijadikan awal dari sebuah permainan.

Tatapannya perlahan beralih kepada pria muda yang berdiri dengan hormat di hadapannya.

"Arga, mulai hari ini kita harus lebih berhati-hati."

Arga tampak bingung.

"Apakah terjadi sesuatu, Nyonya?"

Karin mengangguk pelan.

"Barusan mereka sengaja menyeret namamu ke dalam pembicaraan. Itu bukan sekadar sindiran. Mereka sedang merencanakan sesuatu."

Wajah Arga langsung berubah serius.

"Maksud Nyonya?"

"Mereka ingin membuat hubungan kita terlihat lebih dari sekadar majikan dan sopir."

Arga langsung menundukkan kepala.

"Kalau begitu mulai besok saya tidak akan mengantar Nyonya lagi. Biar sopir lain saja yang menggantikan saya."

Karin segera menggeleng.

"Jangan..Kita tidak boleh mengikuti permainan mereka. Kalau tiba-tiba kamu menjauh dariku, mereka justru akan merasa berhasil."

Arga tampak semakin bingung. "Lalu apa yang harus saya lakukan, Nyonya?"

Karin menatapnya dengan serius.

"Lakukan pekerjaanmu seperti biasa. Bersikaplah sewajarnya. Tapi mulai sekarang, lebih berhati-hatilah. Jangan memberi mereka sedikit pun kesempatan untuk memutarbalikkan keadaan."

Arga mengangguk mantap.

"Saya mengerti, Nyonya. Saya akan lebih berhati-hati."

Karin mengembuskan napas panjang. Entah mengapa... Perasaannya mengatakan bahwa semua ini baru permulaan.

1
Thewie
terlalu bertele tele.
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!