Kisah Revalina Hamid atau Adiva Briana Elang , selama terpisah dari keluarga kandungnya. Saudara kembar Adila Dyah Elang yang hilang saat usia 8 tahun tumbuh dengan identitas baru.
Keadaan merubah sifat dan watak mereka. Adiva yang lupa akan Siapa dirinya hidup dengan jati diri baru, sebagai Revalina Hamid Putri dari keluarga Hamid dari istri pertama. Putri yang selalu bikin masalah dengan ayahnya, saudara tirinya dan ibu sambungnya.
Adila anak perempuan yang ceria dan ceplas-ceplos dalam bicara , berubah menjadi pribadi yang pendiam dan introvert, mandiri pendiam, tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak setelah kembaran nya menghilang.
Bagaimana cara takdir bekerja untuk menyatukan anak-anak Raihan dan Raihana. Ikuti juga kisah cinta si kembar menemukan cintanya.
Juga kisah si kembar setelah terpisah dan berkumpul lagi. Juga kisah cinta mereka bersama sahabat-sahabatnya dan tidak ketinggalan kakak si kembar Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Salah Orang
Ayah dan bunda bukan orang yang kekurangan , ayah praktek di 2 rumah sakit besar juga mempunyai klinik meski tidak terlalu besar. Bunda seorang guru di sekolah yayasan milik keluarganya. Tapi mereka juga bukan orang kaya, seperti papa dan mama. Papa meskipun seorang pejabat negara tapi memiliki saham di perusahaan Elang grop , yang sekarang di kelola adiknya Tante Nadila papa bersama adik mama om Radit.
Sedangkan mama mempunyai saham di perusahaan garmen yang di kelola Om Randi. Jadi sangat wajar kalau kakak kembarku tidak pernah memasak. Andai ke dapur juga paling cuma bantu-bantu mama. Berbeda dengan bunda yang mengajarkan bahwa perempuan itu punya kewajiban mengurus rumah tangga. Sehebat apapun perempuan berkarir harus tahu pekerjaan rumah.
"Dil lagi masak apa ?" Tanya seseorang perempuan yang baru muncul.
"Biasa,"Jawabku sambil menahan tawa. Rasanya lucu kalau di panggil bukan nama kita, tapi tetap harus menjawab.
Berbeda dengan nama Reva yang aku pakai saat bersama bunda, yang sudah terbiasa.
"Memang ada yang lucu, kok seperti menahan tawa?"
"Enggak kok,"jawabku canggung.
"Kamu yang aneh , kamu biasanya masak mie instan di waktu malam saat merasa lapar. Tapi malas untuk turun membeli makanan?" Tanyanya penuh selidik.
"Oh lagi pingin saja kok,aku duluan ya!"
"Tumben Dila makanya banyak." Sayup-sayup aku dengar ucapan perempuan tadi sebelum masuk ke dalam kamar.
"Emang salah makan banyak, makan banyak juga masih di katakan kerempeng!" Gerutuku sambil menyuapkan mie goreng ke dalam mulutku.
Setelah selesai makan dan mencuci piring, aku langsung mandi dan bergegas menuju ke perusahaan garmen yang di kelola Om Randi.
"Selamat datang sayang! Kok rambutnya di potong ?" Tanya Om Randi setelah aku masuk dan mengucapkan salam.
"Enggak kok om ini wig!" Jawabku sambil nyengir.
"Bagus deh biar om bisa bedain kalian, melalui rambut."
"Padahal om sendiri juga kembar tapi kok gak bisa bedain orang kembar sih?"
"Haha kamu itu ya, sekarang Om nanya. Seorang dokter memang bisa mengobati dirinya sendiri ? Tidak dia juga membutuhkan bantuan orang lain!"
"Iya deh terserah Om,di mana aku bisa bergabung ?"
"Kenapa tidak minta tolong om Radit. Bukannya Elang grop juga punya anak cabang perusahaan software ya?"
"Aku sengaja mencari perusahaan yang tidak bergerak di bidang teknologi. Aku ingi tahu teknologi bagi perusahaan yang tidak bergerak di bidang teknologi. Mengingat sekarang dunia tidak lepas dari sistem elektronik dan teknologi!" Jelasku sedang om Randi hanya mengaguk sebagai pendengar yang baik.
"Tapi penggunaan teknologi di sini hanya mencakup komputer, internet, printer, perangkat seluler, dan aplikasi software. Yang di gunakan untuk membantu mengatur dan memprioritaskan pekerjaan."
"Tidak masalah !" Jawabku sebelum ahkirnya aku di bawa ke bagian IT perusahaan. Hanya ada 4 karyawan semua laki-laki. Mas Santo 40 tahun, mas Sugik 35 tahun,mas Rega 32 tahun dan mas Yono 30 tahun."
Setelah perkenalan singkat Om Randi pergi meninggalkan aku.
"Di sini tidak ada pekerjaan yang menantang, paling rutin ngecek data takut ada pencurian data. Memperbaiki jika ada perangkat lunak yang rusak." Jelas mas Rega.
"Siap bilang waktu aku awal kerja di sini, sistem keamanan pernah di bobol hacker. Aku dengar-dengar saingan bisnis, untungnya saudara kembar pak Randi seorang hacker juga jadi bisa di atasi. Karena itu jangan pernah lengah!" Tegur Santo, yang paling tua di sini.
Aku tidak hanya bertanya untuk mencari informasi dari mereka, tapi aku juga ikut terjun membantu pekerjaan mereka. Meski mereka agak sungkan padaku, mungkin karena aku ponakan pemilik perusahaan.
"Ayo di makan jangan di lihatin,!" tegur Rega padaku. Saat ini kami sedang makan siang dengan makan ketoprak di depan pabrik. Di sini tidak ada catring, ya ada uang makan. Tidak terasa sudah seminggu lebih aku mengenal mereka, sekarang mereka juga sudah tidak sungkan padaku.
"Ah pasti Diva tidak terbiasa makan di pinggir jalan ya,?" tanya Sugik.
"Bukan begitu mas."
"Lalu kenapa gak di makan,?" tanya Santo.
"Itu di depan warung ada suami istri yang berantem." Jawabku membuat mereka langsung melihat kearah yang ku tunjuk.
"Paling juga masalah ekonomi, biasa nikah muda di saat ekonomi belum stabil. Jangan di lihat itu urusan rumah tangga mereka, lebih baik pura-pura tidak melihat !" Ucap Santo membuatku langsung menghabiskan makan ku, sebelum waktu istirahat habis.
"Kenapa kamu di sini, bukannya kamu di suruh mas Arsen menyelidiki keluarga Yogi?" Bisik seorang perempuan tiba-tiba menarik tanganku.
"Yogi ?" Monolog ku.
"Tu lihat dari tadi mas Arsen melotot kearah mu," ucapnya lagi. Tapi matanya melirik kearah pemulung yang sedang memungut botol bekas.
"Kamu kok diam saja sih. Aku ingatkan jangan lupa sore ini kita tangkap basah langsung mereka! Waktunya menjelang magrib, saat semua karyawan pabrik sudah sepi !" Ucapnya lirih, sebelum perempuan itu pergi.
"Gila itu mulut nyerocos terus , gak memberikan kesempatan buatku buat bicara !" Ucapku lirih sambil berlari menyusul, semua tim IT yang sudah berjalan di depanku.
Sepertinya mereka salah orang, sepertinya mereka rekam kerja Dila yang sedang dalam penyamaran. Wah seru kayanya, jarang-jarang bisa lihat kerja polisi secara langsung menangkap penjahat.
"Mau di bantu ,?" tanya Santo mengingat sebentar lagi jam pulang kantor.
"Tidak usah pak aku sudah selesai,kok!"Ucapku sambil mematikan layar komputer di depanku.
"Kami keluar duluan ya,3 menit lagi waktunya pulang !"
"Silahkan,"jawabku. Setelah mereka pergi, meninggalkan aku seorang diri di ruangan ini. Aku merapikan meja dan mengeluarkan laptop pribadiku untuk meneruskan menulis tesis ku. Hingga terdengar lantunan Shalawat tahrim dari masjid terdekat, menandakan sebentar lagi adzan magrib. Aku matikan laptopku dan berjalan keluar pabrik. Saat sampai di luar terdengar adzan magrib, aku berjalan keluar menuju masjid terdekat berniat untuk melakukan sholat jamaah.
Dor dor Suara letusan petasan atau senjata api aku tidak tahu. Membuatku menghentikan langkahku dan mencari sumber suara. Saat aku melihat orang berlari kearahku.
"Jangan mendekat !" Semua begitu cepat hingga aku tidak bisa menghindari, saat tanganku di tarik dan aku di jadikan sandra, dengan pisau di leher.
Ya Allah aku tadi cuma iseng bilang ingin melihat secara langsung, kerja polisi menangkap penjahat. Bukan beneran sampai di jadikan sandra segala. Apa ini yang di maksud ucapan adalah doa, tapi aku tadi cuma membatin tidak berucap.
"Jika kamu melukai atau membunuhnya,hukumanmu akan bertambah berat. Jadi lepaskan dan serahkan dirimu sekarang jug!"
"Haha memang aku percaya,taruh senjata kalian atau aku bunuh perempuan ini!
Wah seru mendebarkan sampai jantungku berdetak kencang, tapi aku gak mau mati. Mikir Diva ,mikir Diva, anggap ini kamu lagi bermain jangan takut. Masak papa mu jendral anaknya mental tempe! Bismillahirrahmanirrahim !
Aku pejamkan mata sebelum menginjakkan kaki lelaki di belakangku sekuat mungkin. Sambil menyodokkan sikuku ke perutnya.
Ssst sialan pisaunya melukai leherku. Hanya dalam hitungan detik ,begitu lelaki yang menyandraku jatuh langsung di kepung 3 orang membawa senjata.
"Ya ampun Dila darah yang keluar dari lehermu banyak sekali !"Ucap perempuan yang tadi siang nyerocos padaku.
"Tidak apa-apa !" Ucapku sambil menekan leherku dan melepas kancing kemejaku.
"Pakai ini buat menghentikan darahmu." Ucap laki-laki yang tadi mengancam penjahat tadi,sambil menyerahkan jaket yang dia pakai.
"Tidak perlu," ucapku sambil melepaskan kemejaku. Tenang aku masih memakai kaos tanpa lengan ko,buat dalaman.
Terdengar decakan lelaki dan perempuan di depanku.
"Ayo ke rumah sakit,naik motor saja biar tidak terjebak macet !" Ucap lelaki yang tadi aku tolak jaketnya, menarikku ke atas motonya. Aku hanya pasrah, bahkan saat sampai di rumah sakit aku juga masih diam, saat dia sibuk mengurus administrasi.
"Lukanya lumayan dalam, jadi kami jahit."
"Bisa langsung pulang, gak dok?" Tanyaku kepada dokter yang sedang mengobati ku.
"Sekarang sudah bisa langsung pulang tapi ambil obat dulu, nanti saya resepkan !" Ucap dokter itu sebelum pergi meninggalkan aku.
Begitu dokter pergi aku ambil tas ranselku dan berjalan keluar.
POV. Arsen
Setelah pengintaian selama satu Minggu, ahkirnya tertanggal juga. Meski ada salah satu anak buahku yang terluka.
"Bagaimana dok?" Tanyaku pada dokter yang mengobati Dila , setelah aku mengurus administrasi Dila .
"Darahnya sudah berhenti, karena cukup dalam jadi kami jahit. Saya resepkan obat untuk penghilang rasa nyeri dan salep biar luka cepat kering !" Ucap dokter itu sambil berjalan ke meja kerjanya.
"Ini resepnya tolong ditebus sebelum pulang !"
"Terima kasih dok !"
.