NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Jessica Ong

Hari pertama di apartemen Kemang terasa seperti belajar bernapas ulang.

Meilin bangun tanpa suara kipas tua yang berdecit. Tidak ada tetesan air dari plafon. Tidak ada bau lembap dari ember di sudut kamar. Yang ada hanya cahaya pagi dari jendela besar dan suara Kevin di dapur kecil.

Dia sedang merebus air.

"Kamu bangun?" tanya Kevin tanpa menoleh.

"Hmm."

"Obat dulu sebelum sarapan."

Meilin duduk di lantai, masih dibungkus selimut. "Pacarku galak sekali."

Gerakan tangan Kevin berhenti.

Meilin juga berhenti.

Kata itu keluar terlalu natural.

Pacarku.

Kevin menoleh pelan. Wajahnya tetap tenang, tapi telinganya menunjukkan hal lain.

"Kalau pasiennya patuh, pacarnya tidak perlu galak."

Meilin menunduk menyembunyikan senyum.

Mereka sarapan nasi lembek dan telur kukus yang Kevin buat dengan resep seadanya dari internet. Rasanya jauh dari restoran, tapi lebih baik daripada bubur rumah sakit. Setelah itu Kevin berangkat kerja, meninggalkan instruksi panjang tentang makan siang, obat, dan batas waktu menggambar.

Meilin menjawab semua dengan satu kalimat.

"Iya, Pak Manajer."

Kevin berhenti di pintu. "Jangan panggil Pak."

"Baik, Ko."

Baru setelah pintu tertutup, Meilin tertawa sendiri.

Dia membuka buku sketsa di meja baru dekat jendela. Cahaya alami membuat garis pensilnya lebih bersih. Pesanan yang tertunda akhirnya bisa selesai lebih cepat. Ketika dia mengunggah hasilnya, notifikasi DM masuk hampir bersamaan.

Jessica Ong: Hai, ini kamu yang bikin sketsa pasangan kemarin? Aku lihat dari story temanku. Bisa commission?

Jari Meilin berhenti di atas layar.

Jessica Ong.

Nama itu bukan nama asing.

Dalam "Terjerat Pesona Kota", Jessica Ong adalah tokoh utama wanita. Cantik, pintar, mandiri, dan seharusnya menjadi perempuan yang membuat Kevin membuka hati setelah hidupnya dihancurkan Meilin jahat.

Meilin menatap layar sampai matanya kering.

Tidak.

Tidak mungkin secepat ini.

Dia membuka profil itu. Foto pertama memperlihatkan perempuan berambut panjang sebahu, memakai blazer putih di sebuah acara seni kecil. Senyumnya terbuka, matanya percaya diri, dan caption-nya membahas charity auction untuk pendidikan anak.

Ini dia.

Tokoh utama wanita asli.

Perut Meilin yang baru pulih langsung terasa tidak nyaman.

Dia hampir ingin menutup aplikasi. Tapi itu tidak menyelesaikan apa pun. Dunia novel tidak berhenti hanya karena dia pura-pura tidak melihat.

Meilin membalas dengan jari hati-hati.

Meilin: Halo, Ci Jessica. Bisa. Mau sketsa seperti apa?

Balasan datang cepat.

Jessica Ong: Panggil Jess aja. Aku mau sketsa untuk kartu ucapan acara charity. Bisa ketemu sebentar? Aku kebetulan di Kemang siang ini.

Meilin menatap kata Kemang.

Tentu saja.

Tokoh utama wanita asli berada di Kemang pada hari pertama Meilin pindah ke sini.

Dia menarik napas panjang, lalu mengirim pesan pada Kevin.

Meilin: Ada calon klien namanya Jessica Ong. Aku mau ketemu di kafe bawah apartemen jam 1. Kamu tahu nama itu?

Kevin membalas setelah beberapa menit.

Kevin: Tidak. Kamu kenal?

Meilin menatap layar.

Dia tidak kenal.

Tapi dia tahu.

Meilin: Belum. Aku kabari kalau sudah selesai.

Kevin: Di tempat ramai. Jangan minum yang terlalu asam.

Meilin hampir tertawa meski gugup. Bahkan menghadapi tokoh utama wanita asli, Kevin masih lebih khawatir pada lambungnya.

Jam satu, Meilin turun ke kafe kecil di lantai dasar apartemen. Jessica Ong sudah duduk di dekat jendela, melambaikan tangan begitu melihatnya.

"Meilin?"

"Iya. Jess?"

"Yes. Aduh, gambarmu bagus banget. Aku kira kamu sudah lama buka commission."

Energinya langsung memenuhi meja. Jessica bicara cepat, tapi tidak menekan. Dia menunjukkan konsep acara charity, warna kartu ucapan, dan foto beberapa anak yang wajahnya tidak boleh digambar terlalu detail untuk alasan privasi.

Meilin mendengarkan, awalnya tegang, lalu perlahan lupa bahwa dia sedang duduk di depan tokoh utama wanita asli.

Jessica ternyata mudah disukai.

Tidak manis palsu. Tidak sok sempurna. Dia tahu apa yang dia mau, tapi juga bertanya apakah deadline-nya masuk akal. Ketika Meilin menjelaskan harga, Jessica tidak menawar.

"Naikkan sedikit," kata Jessica justru.

Meilin berkedip. "Apa?"

"Ini untuk acara charity, tapi bukan berarti artisnya dibayar murah. Aku punya budget. Kamu kasih harga terlalu aman."

Kalimat itu mengingatkan Meilin pada Kevin.

Jangan pasang harga terlalu murah.

Tanpa sadar, Meilin tersenyum.

"Pacarmu yang ngajarin?" tebak Jessica.

Meilin hampir tersedak air putih. "Kelihatan?"

"Kelihatan dari mukamu pas lihat angka. Ada wajah seseorang yang terngiang di kepala."

Meilin tidak tahu harus menjawab apa.

Saat itu Kevin masuk ke kafe.

Dia seharusnya masih di kantor. Meilin langsung berdiri setengah.

"Ko? Kenapa..."

"Meetingku diundur. Aku beli makan siang."

Matanya bergerak dari Meilin ke Jessica dengan sopan. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada tatapan tertahan seperti adegan takdir dalam novel. Hanya penilaian singkat, memastikan Meilin aman.

Jessica langsung tersenyum. "Ini pacarnya?"

Wajah Meilin panas. "Iya. Kevin."

"Jessica Ong. Panggil Jess." Jessica mengulurkan tangan.

Kevin menjabat singkat. "Kevin."

Selesai.

Hanya itu.

Tidak ada cahaya aneh. Tidak ada musik latar dari takdir. Tidak ada mata Kevin yang terpaku pada Jessica seperti yang seharusnya terjadi di novel.

Jessica bahkan langsung kembali menatap Meilin.

"Mei, nanti kalau kamu bisa, aku mau lihat portofolio lain. Kamu punya style yang cocok buat event kecil. Oh, dan jangan lupa revisi maksimal berapa kali, tulis di invoice ya."

Mei.

Panggilan itu keluar begitu natural sampai Meilin terdiam.

Kevin melihatnya. "Kamu baik-baik saja?"

Meilin mengangguk cepat. "Iya."

Jessica menyipitkan mata. "Kamu masih pucat. Sakit?"

"Baru keluar rumah sakit."

"Apa? Terus kenapa turun meeting klien?" Jessica langsung menatap Kevin. "Kamu tidak larang?"

Kevin, yang biasanya tidak suka diinterogasi, justru menjawab datar, "Aku sudah batasi di tempat ramai dan dekat unit."

"Bagus. Kalau dia bandel, kabari aku."

Meilin menatap Jessica, lalu Kevin, lalu kembali ke Jessica.

Ini tidak ada di novel.

Tokoh utama wanita asli seharusnya menjadi pusat takdir Kevin. Tapi perempuan di depannya justru lebih tertarik memarahi Kevin agar menjaga Meilin.

Jessica menepuk meja. "Deal ya. Aku transfer DP sekarang. Setelah kamu sehat, kapan-kapan kita ngopi lagi. Tanpa bahas kerja juga boleh."

"Ngopi?" tanya Meilin.

"Atau teh. Kamu kan baru sakit." Jessica mengedip. "Aku butuh teman perempuan yang bisa diajak ngomong soal seni tanpa pura-pura ngerti."

Meilin merasakan sesuatu di dadanya lepas perlahan.

Mungkin dia tidak harus takut pada Jessica.

Mungkin di dunia ini, Jessica bukan ancaman.

Mungkin dia bisa menjadi teman.

Ketika Jessica pergi, Kevin duduk di kursi seberang Meilin dan meletakkan kotak makan di meja.

"Dia menyenangkan," kata Kevin.

Meilin menatapnya tajam.

Kevin mengangkat alis. "Apa?"

"Tidak apa-apa."

"Kamu cemburu?"

Meilin langsung tersedak udara.

Kevin membuka kotak makan dengan tenang. "Makan dulu sebelum cemburu."

"Aku tidak cemburu."

"Hmm."

Nada itu terlalu tahu.

Meilin menggigit bibir, lalu langsung ingat larangan Kevin dan berhenti.

Kevin melihatnya. Sudut bibirnya bergerak sedikit.

Di meja kafe kecil itu, dengan DP dari Jessica masuk ke e-wallet dan Kevin duduk di depannya, Meilin akhirnya memahami satu hal.

Alur cerita mulai berubah.

Dan kali ini, perubahan itu tidak terasa seperti ancaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!