Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua belas ~
Pagi itu menyambut Bagas dengan suasana yang terasa jauh lebih tenang, lengang, dan hampir tidak nyata jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya yang selalu diwarnai kekacauan. Tidak ada suara dering alarm bernada peringatan darurat yang memekakkan telinga, tidak ada pula bentakan dingin atau instruksi tegas dari sang sistem mandor yang langsung memborbardir isi kepalanya begitu ia membuka mata lebar-lebar.
Bagas mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya yang masih melayang di alam mimpi. Ia perlahan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa jauh lebih longgar dan rileks di atas kasur empuknya. Setelah melewati rentetan hari-hari penuh tekanan mental, perdebatan alot tanpa ujung, ancaman denda yang mencekik dompet, serta berbagai paksaan konyol dari entitas mandor yang terkenal galak itu, Bagas merasa dirinya kini perlahan-lahan sudah berdamai dengan keadaan.
Ah, tumben sekali dunia terasa begitu damai batin Bagas sambil menghela napas panjang, menikmati keheningan pagi yang langka ini. Ia memilih untuk menarik napas dalam-dalam dan tidak lagi ambil pusing. Sebaliknya, Bagas bahkan mulai terbiasa, hingga akhirnya bisa sepenuhnya menerima kehadiran si sistem yang menempel erat di dalam struktur pikirannya sebagai bagian dari hari-harinya.
Namun, karena sudah terlampau terbiasa dengan kebisingan, omelan, dan notifikasi bertubi-tubi setiap detik, kesunyian pagi ini justru terasa sangat ganjil. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari rutinitas paginya yang biasa. Tanpa disadarinya, meskipun akal sehatnya sempat menyangkal keras, ada sisi dari dalam lubuk hatinya yang ternyata diam-diam merindukan ocehan-ocehan cerewet tersebut.
Merasa penasaran bercampur heran dengan keheningan yang mencurigakan ini, Bagas akhirnya memutuskan untuk memanggil entitas tak kasat mata yang bertahta di dalam ruang kepalanya.
"Selamat pagi Sistem." sapa Bagas dalam hati dengan nada santai seraya mengusap wajahnya yang masih sedikit mengantuk. "Ada apa dengan alarm ocehanmu itu? Tumben sekali pagi ini kau tidak bawel, tidak berisik, dan tidak membuat kepalaku pening seperti kemarin-kemarin?"
Beberapa detik berlalu dalam kesunyian yang panjang, tanpa ada sambutan kilat atau bunyi dengungan khas sistem. Sebelum akhirnya, sebuah layar transparan berkedip pelan dengan ragu-ragu di hadapan pandangannya, memunculkan balasan teks antarmuka sistem.
[Pagi juga Tuan Rumah.] jawab sistem itu dengan nada teks yang terasa datar dan tidak bersemangat sama sekali. [Pagi ini memang tidak ada misi mendesak, target poin, atau hukuman apapun yang dijadwalkan oleh sistem. Tapi, sensor internal mendeteksi bahwa misi baru kemungkinan besar akan hadir nanti siang, jadi silakan persiapkan diri Anda dengan baik.]
Bagas mengernyitkan dahi dalam-dalam, merasa semakin aneh dengan respons yang terdengar begitu suram itu. "Hei, ada apa gerangan denganmu? Biasanya kau adalah entitas yang paling bersemangat, paling heboh, dan paling tidak sabaran kalau soal memberi tugas, menghitung poin, atau sekadar mencari-cari kesalahanku untuk didenda. Kenapa sekarang jadi pendiam begini?"
Sistem terdiam cukup lama di dalam sana. Garis-garis data di layar transparan itu bergerak lambat, seolah sang sistem sedang menimbang-timbang apakah pantas dan layak untuk mengadu pada manusia di depannya ini.
[Tidak ada apa-apa...] jawab sistem itu lewat teks yang muncul dengan lambat, terdengar sangat ragu-ragu. [Hanya saja... sejak kemarin, aku merasa sedih, galau, dan kehilangan motivasi karena sering dikatai oleh para pembaca. Mereka bilang aku adalah sistem yang sangat menyebalkan, cerewet, dan hobi menyiksa. Sepertinya para pembaca itu benar-benar membenciku... bahkan sampai-sampai mereka malas dan enggan meninggalkan jejak like ataupun komentar secuil pun di bab-bab karya ini.]
Mendengar kejujuran yang terdengar begitu pilu, nelangsa, dan memprihatinkan dari balik layar transparan di kepalanya itu, Bagas seketika merasa kasihan. Tanpa sadar, rasa empati dan solidaritas sesama makhluk yang sering dizalimi langsung mengalahkan rasa jengkel yang dulu sempat mendominasi pertemuan pertama mereka.
Wah, parah juga ya kalau sampai pembaca sebal begitu batin Bagas iba. Tapi kasihan juga sistem ini, meski galak dia kan cuma menjalankan tugas.
Tanpa pikir panjang, Bagas langsung bangkit dari posisi berbaringnya, duduk bersila dengan tegap di atas tempat tidur, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya, lalu berteriak lantang ke udara kamar seolah sedang melakukan orasi penting di hadapan khalayak ramai.
"Wahai para pembaca setia, dengarkan ini baik-baik!" seru Bagas menggebu-gebu dengan penuh penghayatan yang mendalam. "Memang benar, di awal perjumpaan kami, aku merasa sangat terganggu, kesal, jengkel, dan hampir gila menghadapi keberadaan sistem ini. Tapi lama-kelamaan, dia sebenarnya adalah sistem yang cukup baik dan sangat membantuku! Bahkan, resep-resep masakan lezat yang dia instruksikan tidak pernah gagal sekalipun. Semuanya selalu berhasil dieksekusi dengan sempurna, aromanya harum semerbak, dan rasanya benar-benar luar biasa enak di lidah! Kalau terus-terusan begini, lama-kelamaan aku bisa mengalami obesitas parah karena terlalu sering menikmati hidangan lezat hasil masakannya!"
Di dalam ruang kesadaran Bagas, sistem yang tadinya murung, berwajah suram, dan hampir mogok kerja mendadak merespons dengan kehebohan luar biasa. Layar transparan itu mendadak berpijar sangat terang hingga menyilaukan mata, menampilkan animasi visual berupa deretan kembang api berbentuk hati yang meletus-letus silih berganti dengan warna-warni pelangi yang meriah.
[Tuan Rumah... apakah Anda benar-benar membela saya di depan mereka?!] seru sistem yang bergetar hebat di layar.
Bagas yang melihat kehebohan visual yang mendadak muncul di retinanya itu langsung tertawa renyah hingga bahunya bergetar hebat. Ia sungguh tidak menyangka, sistem yang terkenal kaku, dingin, dan galak itu ternyata bisa bertingkah seimut, sekonyol, dan selucu ini hanya karena mendapat sedikit pujian pembelaan.
"Tentu saja aku membela yang benar." jawab Bagas dalam hati sambil tersenyum geli. "Makanya, jangan terlalu dipikirkan omongan mereka. Kamu tetap sistem terbaikku kok."
Di tengah tawanya yang belum reda, sebuah memori melintas begitu saja di kepala Bagas. Ia tersadar bahwa selama ini ia selalu memperlakukan entitas tersebut sekadar sebagai alat pengawas atau penagih utang, tanpa pernah mau berbaik hati memberikan sebuah identitas atau nama yang layak baginya.
"Ah benar juga ya." gumam Bagas pelan dengan nada suara yang jauh lebih lembut dan hangat. "Selama ini aku cuma memanggilmu sistem saja atau memarahimu terus. Semalam aku sempat bilang mau memikirkan nama, dan sekarang aku sudah memutuskan... Mulai sekarang, agar kamu tidak sedih lagi, aku akan memanggilmu Daisy."
Begitu nama indah itu meluncur dari batin Bagas, reaksi yang ditunjukkan oleh sistem benar-benar jauh di luar dugaan siapapun. Animasi kembang api hati yang tadi meletus-letus dengan meriah seketika lenyap tanpa sisa dalam sekejap, digantikan oleh kemunculan sebuah emoji mata berkedip yang dikelilingi oleh genangan air mata terharu di dalam format teks sistem. Layar antarmuka itu bergetar pelan dengan tidak stabil, seolah sang pemilik nama sedang berusaha setengah mati menahan isak tangis bahagianya yang sudah membuncah di dalam dada.
[Daisy...?] [Nama itu... panggilan itu... apakah benar-benar untuk saya, Tuan Rumah?]
"Iya Daisy. Nama yang cantik untuk sistem yang ternyata cengeng tapi baik hati." balas Bagas menggoda dengan lembut.
[Sistem tidak memiliki nama bawaan karena tidak diprogram untuk itu. Identitas saya hanyalah fungsi dan statistik.] balas sistem yang kini terlihat melunak hangat. [Namun, jika Tuan Rumah berkeinginan untuk memberikan identitas, Sistem tidak keberatan. Apapun nama yang Anda berikan akan diterima sebagai bentuk pengakuan atas hubungan kerja sama kita yang semakin kompleks.]
Sistem begitu tersentuh hingga rasanya benar-benar ingin menangis menumpahkan segala emosi bahagia yang berkecamuk. Selama peradaban sistem ini diciptakan, dikodekan, dan diprogram ke berbagai belahan dunia dan semesta antah berantah, baru di bawah bimbingan tuan rumah yang satu inilah ia mendapatkan sebuah nama panggilan yang begitu indah. Sebuah nama penuh arti dan kehangatan yang akan selalu terukir abadi di dalam inti memorinya, membuat hari-hari tugasnya ke depan terasa jauh lebih berarti, berwarna, dan penuh semangat baru.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘