Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 - Disukai dengan Sungguh-Sungguh
Arman benar-benar mengambil nomor antrean.
Itu yang membuat seluruh ruang tunggu klinik hampir kehilangan kemampuan berpikir.
Laki-laki dengan mobil mewah, sopir, dan nama besar itu duduk di kursi plastik biru yang biasa dipakai pasien batuk. Di sebelahnya, Pak Hasan yang hendak kontrol tekanan darah duduk kaku seperti sedang berada di samping pejabat. Bu Rini berdiri di pintu dengan alasan membeli obat maag, padahal obat maag sudah ia beli kemarin.
Ratna memanggil pasien sesuai urutan.
Ia sengaja tidak mendahulukan Arman.
Arman juga tidak meminta didahulukan. Ia duduk tenang, sesekali melihat poster pencegahan DBD yang warnanya sudah pudar.
Sari pergi dengan wajah terbakar setelah Arman duduk. Ia tidak pamit. Ia hanya melangkah keluar cepat, disusul tatapan semua orang.
Ketika giliran Arman tiba, Ratna memanggil datar, "Nomor tujuh."
Arman masuk ke ruang periksa.
Ratna menutup tirai, bukan pintu. Ia tahu kampung ini. Kalau pintu tertutup, cerita akan tumbuh kaki dan tangan.
"Keluhannya apa, Pak?"
Arman duduk di kursi pasien. "Sulit tidur."
Ratna mengambil tensimeter. "Sejak kapan?"
"Beberapa tahun."
"Kalau beberapa tahun, kenapa baru periksa di klinik kecil saya?"
"Karena baru sekarang menemukan dokter yang membuat saya ingin menjawab jujur."
Ratna berhenti sebentar, lalu melanjutkan memasang manset tensi di lengan Arman.
"Pak Arman, kalau Bapak datang untuk menggoda, tarif konsultasi saya naik."
Arman tersenyum. "Berapa?"
"Lebih mahal dari rumah sakit Bapak."
"Kalau begitu saya bangkrut."
Ratna menahan senyum.
Tekanan darah Arman sedikit tinggi, tetapi tidak mengkhawatirkan. Ratna bertanya soal pola makan, tidur, pekerjaan, obat rutin. Arman menjawab singkat tetapi jelas. Ia tidak seperti pasien laki-laki lain yang menolak mengaku kurang tidur atau terlalu banyak kopi.
"Bapak terlalu banyak bekerja," kata Ratna.
"Itu diagnosis?"
"Itu teguran."
"Lebih menakutkan."
Ratna menulis catatan kecil. "Kurangi kopi setelah sore. Jalan pagi kalau bisa. Kalau sulit tidur berat, periksa lebih lengkap ke dokter spesialis. Jangan hanya datang ke klinik kampung untuk alasan tidak jelas."
Arman menatapnya. "Alasan saya cukup jelas."
Ratna mengangkat wajah.
"Saya ingin bertemu Ibu."
Di luar tirai, seseorang batuk terlalu keras. Mungkin Bu Rini.
Ratna meletakkan pulpen.
"Pak Arman."
"Ya?"
"Saya sedang menggugat cerai."
"Saya tahu."
"Saya masih istri orang secara hukum."
"Saya tahu."
"Saya baru dikhianati."
"Saya juga tahu."
"Kalau Bapak tahu semua itu, seharusnya Bapak menjaga jarak."
Arman diam sesaat.
"Saya bisa menjaga sikap. Tapi kalau menjaga jarak berarti pura-pura tidak ingin mengenal Ibu, saya tidak yakin bisa."
Ratna menatapnya.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada panas. Tidak ada rayuan murahan. Justru karena tenang, ia terdengar lebih berbahaya.
"Kita baru bertemu dua kali."
"Tiga, kalau hari ini dihitung."
"Itu bukan hal yang bisa dibanggakan."
"Saya tidak membanggakan. Saya hanya menghitung."
Ratna hampir menghela napas.
"Pak Arman, usia saya enam puluh."
"Saya enam puluh enam."
"Saya tinggal di kamar belakang klinik."
"Saya melihatnya."
"Saya punya tiga anak dewasa, cucu, gugatan cerai, suami yang marah, perempuan yang mengancam, dan tetangga yang tidak punya pekerjaan selain menguping."
"Saya punya tiga anak dewasa, cucu, perusahaan yang terlalu banyak, ibu yang masih suka mengatur, dan karyawan yang menganggap saya tidak boleh punya hidup pribadi."
Ratna terdiam.
Arman melanjutkan, "Kita sama-sama membawa koper, Bu Ratna. Bedanya koper saya mungkin lebih mahal. Isinya tetap berat."
Ratna memandang laki-laki itu dengan perasaan sulit.
Ia ingin menolak mentah-mentah. Ia ingin berkata jangan main-main dengan perempuan tua yang baru terluka. Namun Arman tidak tampak sedang main-main. Itu justru membuatnya gelisah.
"Apa yang Bapak inginkan dari saya?"
"Saat ini? Izin untuk mengantar Ibu makan siang."
"Tidak."
"Baik."
Jawaban cepat itu membuat Ratna bingung.
Arman berdiri. "Kalau begitu saya bayar konsultasi."
"Pak Arman."
"Ya?"
"Bapak menyerah semudah itu?"
"Saya menghormati jawaban Ibu. Itu berbeda dengan menyerah."
Ratna tidak tahu harus berkata apa.
Ia menulis resep vitamin ringan dan saran pemeriksaan lanjutan, lalu menyerahkannya.
"Ini bukan obat tidur."
"Saya tahu."
"Jangan harap saya memberi obat hanya karena Bapak sulit tidur akibat kebanyakan memikirkan perusahaan."
"Kalau saya sulit tidur karena memikirkan Bu Ratna?"
Ratna menatapnya tajam.
Arman mengangkat tangan sedikit. "Baik. Saya bayar."
Setelah Arman keluar, ruang tunggu mendadak pura-pura sibuk. Pak Hasan menatap lantai. Bu Rini memegang rak obat. Bu Tati yang entah sejak kapan duduk di pojok langsung mengusap kening cucunya yang tidak demam.
Arman membayar sesuai tarif, bahkan menunggu Ratna memberi kembalian.
"Tidak perlu kembali," katanya.
Ratna menatapnya.
Arman langsung mengoreksi, "Maksud saya, untuk kas klinik."
"Kas klinik juga menerima uang sesuai tagihan."
Ia menyerahkan kembalian.
Arman menerimanya.
"Terima kasih, Bu Dokter."
Sebelum pergi, ia berkata cukup pelan, tetapi masih terdengar orang dekat, "Saya akan datang lagi kalau Ibu tidak melarang."
Ratna menjawab, "Pasien boleh datang kalau sakit."
"Kalau rindu termasuk sakit?"
Bu Rini tersedak.
Ratna memejamkan mata sebentar.
"Pak Arman."
Arman tersenyum. "Baik. Saya pergi."
Mobil hitam itu meninggalkan gang dengan sangat lambat, seolah memberi waktu bagi semua orang untuk melihat.
Begitu mobil hilang, Bu Rini meledak.
"Bu Dokter! Itu tadi apa?"
"Pasien."
"Pasien kok bilang rindu?"
"Mungkin tekanan darahnya naik."
Pak Hasan tertawa pertama. Lalu yang lain ikut tertawa, gugup dan heboh.
Namun tawa itu tidak sampai ke rumah utama.
Bambang berdiri di balik jendela ruang tamu, melihat mobil Arman pergi. Wajahnya gelap. Di tangannya, rokok terbakar sampai hampir mengenai jari.
Sari menelepon berkali-kali sejak siang, tetapi ia tidak mengangkat.
Di kepalanya, kalimat Sari saat di klinik terus berputar.
Mana mungkin orang seperti dia serius dengan perempuan kampung umur enam puluh.
Lalu laki-laki itu datang.
Masuk ke klinik Ratna.
Duduk antre seperti pasien biasa.
Membela Ratna di depan Sari.
Bambang merasakan sesuatu yang panas naik dari perut ke dada. Bukan cinta. Bukan penyesalan. Lebih mirip rasa tidak terima.
Ratna adalah istrinya.
Atau setidaknya, masih istrinya di mata hukum.
Selama puluhan tahun, perempuan itu ada di rumah. Pendiam, patuh, tidak banyak tuntutan. Bambang boleh keluar, pulang malam, bertemu siapa pun, dan Ratna tetap ada.
Sekarang tiba-tiba ada laki-laki lain yang melihatnya.
Bambang mematikan rokok dengan kasar.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Sari.
Sari: Bang, kamu lihat sendiri? Dia juga punya laki-laki. Jangan mau disalahkan terus.
Bambang membaca pesan itu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa terhibur oleh Sari.
Ia justru merasa makin marah.
Bukan karena Ratna salah.
Tapi karena Ratna mungkin benar-benar bisa pergi.
Dan mungkin, ada orang lain yang akan membukakan pintu untuknya.
Di klinik, Ratna menyimpan uang konsultasi Arman ke laci seperti uang pasien lain.
Tangannya berhenti sebentar di atas laci itu.
Ia sadar ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa senang. Bukan karena Arman kaya, bukan karena Sari dipermalukan, bukan karena tetangga akan membicarakannya sampai malam.
Ia senang karena seseorang bertanya apakah rindu termasuk sakit, sementara selama bertahun-tahun bahkan sakitnya yang nyata pun sering dianggap berlebihan.
Ratna menutup laci pelan.
"Jangan bodoh," gumamnya pada diri sendiri.
Namun senyum kecil tetap muncul sebelum ia sempat menahannya.
Senyum itu cepat hilang ketika ia mendengar dua pasien berbisik di luar.
"Kalau Bu Dokter benar disukai orang kaya, Pak Bambang pasti panas."
"Panaslah. Dulu istrinya disia-siakan. Sekarang dilirik orang besar."
Ratna pura-pura tidak mendengar, tetapi pipinya tetap terasa hangat.
Ia tidak ingin hidupnya berubah menjadi tontonan baru. Dulu ia ditonton sebagai istri yang dikhianati, sekarang mungkin akan ditonton sebagai janda tua yang didekati orang kaya.
Tetapi di antara dua tontonan itu, ada satu perbedaan.
Kali ini, ia bisa memilih apakah ingin membuka pintu atau menutupnya.
Pilihan itu membuatnya takut.
Tetapi rasa takut yang datang bersama pilihan terasa berbeda dari rasa takut karena terjebak.
Yang pertama masih memberi ruang untuk bernapas.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan