Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIBUR SEMESTER - Part 2
“Jay, masuk-masuk,” sambut Ibun hangat begitu membukakan pintu untuk Jay yang datang bertamu di Sabtu siang hari itu. “Duduk, Jay. Tunggu sebentar ya, Gea masih siap-siap di kamarnya.”
“Ibun, ini aku matiin ya kompornya?” suara pria dari arah dapur.
“Iya, Yon. Matiin aja,” sahut Ibun setengah berteriak. Ia lalu kembali menatap Jay, berkata, “sebentar ya, Jay. Kamu mau minum apa?”
“Gak usah repot, Tante,” jawab Jay sesopan mungkin.
Ibun tersenyum lalu pamit meninggalkan tamunya menuju dapur. Dari sofa ruang tamu, Jay bisa mendengar sayup-sayup obrolan akrab dari arah dalam rumah.
“Kalian mau kemana sih?” tanya Ibun.
“Kata Gea cuma mau makan sushi di tempat yang baru buka itu loh, Bun. Yang Ibun suka lewatin kalo mau ke rumah Nenek.”
Suara denting gelas dan pintu kulkas yang dibuka-tutup sesekali menyelingi obrolan itu, membuat Jay di ruang tamu mulai menerka-nerka siapa pria di dalam sana.
“Oooohh. Ibun udah ke sana dong sama Mama kamu. Enak kok rasanya, sashiminya juga seger.”
“Pacarnya udah dateng ya, Bun?”
“Iya. Kamu kenal, kan?”
“Tau, Bund.”
Fokus Jay buyar ketiga kekasihnya muncul dengan rok model umbrella berwarna beige sepanjang lutut yang dipadukan dengan kaos polos hitam.
“Maaf ya nunggunya lama,” kata Gea sembari mengambil duduk di sebelah Jay, lengkap dengan senyum lebarnya.
“Santai, Ya.”
Tak lama kemudian, Ibun keluar dari dapur membawa nampan berisi gelas berisikan jus
nanas dan wortel dingin. Namun, atensi Jay tidak tertuju pada minuman itu, melainkan pada sosok pria tinggi yang berjalan mengekor di belakang Ibun.
Rahang Jay seketika mengeras. Lyon. Sosok yang fotonya sempat membuat Jay dihujat di akun base kampus. Dan kini, pria itu ada di rumah Gea, tampak teramat akrab bahkan memanggil ibu kekasihnya dengan sebutan ‘Ibun’, bukan Tante.
“Di minum, Jay,” ujar Ibun memecah lamunan Jay.
“Makasih, Tante,” Jay langsung meraih gelas itu dan meminum jus dingin tersebut. Membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.
“Mau kemana sih sampe dandannya cantik begini anak Ibun,” Ibun merangkul dan memberikan kecupan di pelipis Gea.
“Mau makan sushi, Ibun. Ibun mau aku bawain gak nanti pas pulang?”
“Gak usah, Ibun udah nyobain sama Mama Riska.”
“Widih, asik banget.”
“Ya sudah, sana berangkat. Jangan balik kemaleman loh, ya. Papa Aga kan ngajakin makan malem bareng di rumahnya nanti,” pesan Ibun.
Sebagai catatan, Mama Riska dan Papa Aga adalah orang tua Lyon, dimana Papa Aga adalah kakak kandung dari Ibun.
“Iya, Bun,” jawab Gea dan Lyon hampir bersamaan.
Jay meletakkan gelasnya yang sudah kosong.
“Tante, kalo gitu saya pamit dulu ya.”
“Iya. Hati-hati di jalan, Jay.”
Karena tempat makan sushi yang mereka tuju berjarak sekitar dua puluh menit berkendara, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bersama menggunakan mobil Jay. Lyon duduk santai di kursi penumpang belakang, sementara Gea berada di depan menemani Jay yang menyetir.
Sepanjang perjalanan, obrolan santai namun agak canggung bagi Jay. Mereka hanya sebatas apa mereka sudah mengisi KRS dan kapan perkuliahan akan aktif kembali. Hingga akhirnya, mobil Jay terparkir di area restoran sushi tersebut.
Setelah pramusaji mengantarkan pesanan dan berlalu, Gea menatap kedua pria di depannya bergantian.
“Kalian udah kenal belom sih sebelumnya?” tanya Gea memulai misinya.
“Udah, kan tadi udah kenalan, Gea Aster,” jawab Lyon santai sembari menuangkan kecap asin ke
piring kecilnya.
Gea mengendus pelan, lalu melirik Jay yang sejak tadi menunjukkan kerutan samar di alisnya.
“Tujuan aku ngajak kalian jalan itu, biar kalian kenalan,” tutur Gea lambat-lambar.matanya mengunci pandangan Jay. “Ay…Lyon ini sepupu aku. Makanya aku mau kamu kenal deket sama dia, biar gak ada salah sangka lagi di antara kita."
Deg.
Mata Jay membelalak kaget untuk sepersekian detik. Rasa lega yang luar biasa mendadak menjalar di dadanya, meruntuhkan seluruh tembok pertahanan insecure-nya yang ia bangun berhari-hari.
Jadi, rival yang ia cemburui setengah mati sampai membuatnya dihujat netizen kampus ternyata adalah sepupu pacarnya sendiri?
Jay berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya, memaksa sebuah senyuman tenang muncul di bibirnya. “Oh... aku gak tahu kalau kalian ternyata sepupuan,” ujar Jay, mencoba bersikap kasual.
“Nah, makanya ini dikasih tau,” sahut Lyon telak, meletakkan sumpitnya di atas meja. “Siapa tau, ya kan…elo diem-diem cemburu sama gue,” lanjut Lyon dengan nada meledek yang sengaja
menyenggol kejadian beberapa waktu lalu. “Apalagi setelah pernah beberapa kali gue sama Gea masuk base dan bikin banyak orang yang berspekulasi macem-macem,” tambah Lyon to do point. “Sepupu gue ini emang anaknya supel, ramah. Mau ke cewek atau cowok, dia gampang temenan.”
Mendengar sindiran yang terlalu tepat sasaran itu, senyum kaku Jay memudar.
“Iya, tau kok. Terus maksudnya gimana?” tanya Jay dengan nada yang tidak terlalu ramah ditelinga Lyon.
Lyon tidak gentar. Ia justru menatap lurus ke dalam mata Jay dengan sorot menantang.
“Ya, lo sebagai pacarnya juga mesti pinter-pinter atur emosi lo. Jangan gampang kebawa sama api cemburu yang gak jelas.”
Kalimat itu membuat Jay tersenyum miring, egonya kembali terusik.
“Namanya juga pacaran, Sob. Cemburu mah wajar. Ya kan, Ya?”
Gea mengangguk.
“Wajar kalo masih dalam batas wajar,” balas Lyon, tidak mau kalah. “Karena gak sedikit orang yang jadi bego karena cemburu.”
Rahang Jay kembali mengeras, lalu berkata, “maksud lo… gue bego?”
Bukannya tegang, Lyon justru meledakkan tawa renyah yang terdengar sangat puas.
“Ada gak dari kalimat gue tadi itu tertuju langsung ke arah lo? Kok lo malah ngegas?” pancing Lyon santai, menenangkan keadaan dengan gestur tangan. “Santai aja, Bro. Gea nemuin kita gini kan biar kita saling kenal. Dia ini lagi ngejaga perasaan lo, biar lo gak gundah gulana. Karena apa? Karena dia tau lo cemburu sama gue,” jelasnya panjang lebar tanpa saringan. “Gitu aja mesti gue jabarin,” tambahnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengambil sumpitnya dan menyumpit potongan salmon segar ke dalam mulut.
Di bawah meja, Gea segera mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan kiri Jay yang mengepal di paha, menyalurkan kehangatan untuk meredam emosi kekasihnya.
“Aku harap kalian juga bisa temenan ya. Kita kan seumuran, sekampus pula,” ucap Gea lembut dengan tatapan memohon pada Jay.
Ketegangan di wajah kaku Jay perlahan-lahan memudar begitu merasakan kehangatan jemari Gea.
Dia menghembuskan napas panjang, melirik Lyon, sebelum berkata, “tergantung sikap sepupu kamu deh nanti gimana.”
Lyon kembali tertawa lagi mendengar respons defensive tersebut. Begitu juga dengan Gea yang ikut terkekeh geli. Di mata Gea saat ini, Jay yang sedang merajuk menahan gengsi seperti itu justru terlihat sangat menggemaskan, persis seperti anak kecil yang dilarang membeli cotton candy oleh orang tuanya.
...****************...
Malam itu, setelah berganti pakaian rumah yang nyaman, Gea merebahkan tubuhnya di kasur sembari membuka galeri ponsel. Ia tersenyum menatap foto bertiga yang diambil oleh pramusaji restoran sushi tadi siang. Di foto itu, ia duduk di samping Jay dan Lyon duduk di sebrangnya, tampak tersenyum ke arah kamera.
Tanpa pikir panjang, Gea mengunggah foto tersebut ke feeds Instagram miliknya, menambahkan sebuah caption singkat yang manis namun sarat akan penegasan.
@geasters: Akur-akur ya, sepupu kesayangan dan pacar kesayangan. @lyon.ar @jayputra
Unggahan itu seketika memicu gelombang komentar baru di kalangan anak-anak kampus yang mengikutinya. Netizen yang kemarin sempat membuat spekulasi liar di akun base kampus mendadak bungkam total dalam satu malam. Mereka baru sadar betapa bodohnya mereka karena telah menggosipkan dua pria yang ternyata berada di lingkaran sedekat itu.
Di tempat lain, Jay menatap layar ponselnya yang menampilkan unggahan Gea. Ia mengembuskan napas lega melihat kolom komentar yang kini dipenuhi kalimat-kalimat ralat dari teman-teman kampusnya. Harga dirinya yang sempat jatuh kini kembali tegak.
...****************...