Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Paras Nirwana di Balik Badai
Jemari itu terlihat sangat kontras. Pucat, lentik, dan tampak begitu rapuh jika dibandingkan dengan kepalan tinju raksasa Li Hao yang diselimuti oleh api emas membara.
Namun, jemari lentik itulah yang kini mencengkeram pergelangan tangan sang tetua klan dengan sangat kokoh.
Seluruh energi kinetik yang sebelumnya memecah udara mendadak mati. Tidak ada suara ledakan besar. Tidak ada benturan yang memekakkan telinga. Hanya ada kesunyian yang dingin.
Li Hao membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa.
Ia mencoba mendorong lengannya maju. Ia ingin menghancurkan apa pun yang menahannya, namun tangannya terasa seperti tertanam di dalam gletser es abadi yang tidak akan pernah mencair.
Suhu udara di sekitar mereka merosot tajam. Kabut tipis berwarna putih yang terasa bersuhu beku mulai memancar dari titik sentuhan jemari itu, merayap perlahan ke arah lengan Li Hao.
Tepat di sebelah Yang Wei, seorang wanita berdiri dengan sangat santai.
Baju lusuhnya yang penuh tambalan berkibar pelan ditiup angin sore, namun penampilannya sama sekali tidak tampak menyedihkan. Wanita itu, Bing Chan, justru memancarkan pesona elok yang luar biasa indahnya.
Bing Chan menatap dingin ke arah pria bertubuh kekar di hadapannya. Tatapannya sedingin es di puncak gunung tertinggi, tanpa ada sedikit pun riak amarah yang meledak-ledak di dalamnya.
"Kau menodai pekaranganku," ucap Bing Chan.
Suaranya terdengar sangat tenang namun meremukkan keberanian siapa pun.
"Dan berani mengarahkan tinju busuk itu pada suamiku?"
Li Hao mengerang tertahan. Suara rintihan pelan keluar dari celah giginya yang rapat.
Urat-urat di lehernya menonjol sangat tebal, berjuang keras menahan rasa nyeri beku yang mulai menjalar masuk ke dalam sumsum tulangnya. Energi emas di sekitar tubuhnya bergetar tidak stabil.
"S-siapa kau..." bisik Li Hao dengan suara gemetar. "... Energi sedingin ini..."
Sesaat kemudian, aura di sekitar halaman itu berubah total. Penampilan Bing Chan yang semula biasa saja kini seolah bertransformasi, memancarkan aura agung yang sangat menekan.
Aura emas milik Li Hao yang semula terlihat begitu perkasa kini hancur berkeping-keping. Seperti vas bunga yang dihantam rata.
Kengerian absolut mulai menggantikan amarah brutal di dalam dada sang tetua klan. Ia menyadari satu hal yang terlambat; ia sedang berhadapan dengan monster sejati.
Di sudut halaman, Yang Chan akhirnya bisa menghirup napas dengan lega.
Tekanan berat yang semula mencekik dadanya lenyap tanpa sisa dalam sekejap mata. Sebagai gantinya, kesejukan murni yang sangat menyegarkan kini menyelimuti seluruh area pekarangan rumah mereka.
Yang Chan perlahan menegakkan tubuhnya, berdiri dari posisi berlututnya di atas tanah yang kering.
Mata pemuda itu melebar sempurna. Ia menatap lekat-lekat pada punggung ibunya, seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun dari kejadian luar biasa di depannya.
Ia memperhatikan dengan sangat detail. Otaknya yang tajam secara refleks mulai membedah setiap pergerakan yang dilakukan oleh ibunya.
Presisi kuda-kuda yang kokoh, pergeseran pinggul yang sangat minimalis, hingga cara Qi mengalir di dalam tubuh ibunya. Semuanya tampak begitu familier di matanya.
Itu adalah versi raksasa nan sempurna dari teknik latihan dasar yang selalu ia pelajari setiap pagi bersamanya.
Yang Chan menelan ludahnya dengan susah payah, merasa tenggorokannya mendadak sangat kering.
'Ternyata... selama ini Ibu menyembunyikan kekuatan sedahsyat ini?' batin Yang Chan, matanya tidak bisa beralih sedikit pun.
"Sirkulasi itu..." gumam Yang Chan nyaris tanpa suara. "... Itu senam pagi Ibu. Tapi skala kepadatannya berada di ranah yang sama sekali berbeda."
Ia terpaku di tempatnya berdiri, merasakan kekaguman mendalam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Misteri besar tentang keluarganya kini mulai terkuak secara perlahan di depan matanya sendiri.
Sementara itu, fokus kembali ke halaman depan di mana pergerakan lembut kembali terjadi.
Jemari lentik Bing Chan mulai bergerak sedikit, memutar pergelangan tangan Li Hao dengan satu gerakan sutil yang sangat tajam dan presisi.
Sebuah kibasan tangan yang tampak begitu anggun dan tanpa beban terjadi berikutnya.
Namun, efek yang dihasilkan sama sekali tidak terbayangkan oleh akal sehat. Tubuh Li Hao mendadak terlempar mundur dengan sangat cepat, layaknya sebuah boneka jerami yang ditiup angin badai.
Pria kekar itu melayang di udara, menabrak dan menghancurkan sisa pagar kayu halaman rumah hingga hancur berkeping-keping.
Tidak berhenti di sana, tubuhnya terus melesat hingga menghantam rangka kereta mewah miliknya sendiri. Benturan keras itu membuat kereta tersebut penyok ke dalam dengan sangat parah.
Dua ekor binatang buas mutasi spiritual yang bertugas menarik kereta itu langsung merengek ketakutan. Mereka melangkah mundur dengan gemetar, kehilangan seluruh kebuasan mereka.
Bing Chan sama sekali tidak berniat untuk mengejar lawannya. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan tenang.
Dengan gerakan perlahan, ia merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sebuah saputangan usang yang sudah agak pudar warnanya. Ia mengelap sela-sela jarinya dengan santai, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat kotor.
Ia membuang mukanya ke arah lain, memberikan tatapan yang sangat merendahkan kepada pria yang kini terduduk di tanah berlumpur itu.
"Kembali ke lubangmu, Tetua," ucap Bing Chan dengan nada yang sangat dingin dan tidak terbantahkan. "Jika kakimu melewati batas pagar yang kau hancurkan ini lagi, klanmu akan butuh tetua baru."
Yang Wei yang berada di sampingnya hanya bisa tersenyum miring melihat kekacauan di depannya.
Ia merapikan kerah baju bertambalnya dengan gerakan yang sangat santai, seolah tidak terjadi apa-apa baru saja.
"Anggap ini diskon negosiasi perdana kita, Tuan Besar," celetuk Yang Wei, nadanya terdengar sangat jenaka namun penuh dengan sindiran tajam.
Di dekat reruntuhan kereta, Li Hao berusaha bangkit dengan susah payah.
Wajahnya kini dipenuhi oleh debu tanah dan aliran darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya yang robek. Ia memegangi pergelangan tangannya yang terasa mati rasa total, menatap Bing Chan dengan pandangan yang dipenuhi oleh trauma fisik dan psikologis.
Harga diri klan yang ia bawa dari kota hancur lebur tanpa sisa di pekarangan berlumpur ini.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Li Hao segera memutar paksa keretanya. Derap roda kayu yang berputar cepat berbunyi bising di sepanjang jalan desa, meninggalkan kepulan debu tebal yang perlahan memudar ditiup angin.
Sore hari pun tiba, membawa warna jingga yang hangat di langit desa yang tenang.
Sebuah bunyi derak keras terdengar di halaman depan rumah keluarga Yang yang kini sudah setengah hancur. Yang Wei menginjak salah satu patahan kayu yang berserakan di atas tanah.
Pria itu kemudian mulai menyapunya dengan menggunakan sapu lidi tua, melakukan gerakan-gerakan canggung yang terlihat sangat tidak ahli.
Semua pesona agung dari Paras Nirwana dan hawa sedingin es yang sebelumnya mengelilingi Bing Chan telah menghilang tanpa bekas.
Kini, yang tersisa hanyalah raut wajah lelah dari seorang ibu rumah tangga biasa yang ingin segera menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Ia menghela napas panjang, mengusap noda tanah kering yang menempel di pipinya dengan ujung lengan baju.
Yang Chan berjalan mendekat perlahan, langkah kakinya terasa agak ragu.
Ada ribuan pertanyaan yang rasanya ingin meledak dari ujung lidahnya saat ini. Ia ingin bertanya tentang kekuatan rahasia mereka, tentang klan kultivator besar yang mereka takuti, dan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Namun, begitu melihat ibunya menatap sedih ke arah pagar kayu yang patah dan hancur, pemuda itu memilih untuk menelan kembali semua pertanyaannya rapat-rapat. Ia mengerti ada hal-hal yang sebaiknya dibiarkan tetap menjadi rahasia keluarga untuk saat ini.
"Aduh..." keluh Bing Chan sambil menggelengkan kepalanya perlahan, memandangi puing-puing pagar mereka yang berserakan. "... Babi besar itu benar-benar merusak pagar kita. Ayah, kau harus membetulkannya sebelum malam turun."
Yang Chan segera tersenyum tipis. Ia memutuskan untuk ikut bermain dalam sandiwara manis keluarganya ini.
"Biar aku saja yang membelah kayu barunya, Ibu," sahut Yang Chan dengan nada riang yang dibuat-buat. "Kebetulan alatku baru saja kuasah tadi pagi."
Yang Wei dan Bing Chan saling melempar pandangan penuh arti selama sepersekian detik yang sangat sutil.
Keduanya kemudian menatap ke arah putra mereka dengan senyuman hangat, sebelum Yang Chan diam-diam menyembunyikan senyum penuh pemahaman di wajahnya sendiri.
Ketiganya kemudian mulai bergerak bersama-sama, memunguti sisa-sisa kayu pagar yang berserakan di atas halaman rumah mereka. Menyembunyikan kekuatan naga sejati di balik balutan pakaian petani yang lusuh dan sederhana.