Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3: Percikan Pertama
Pengenalan CEO baru selesai dalam waktu satu jam, meninggalkan atmosfer ketegangan di seluruh penjuru kantor. Saat para karyawan mulai membubarkan diri dengan tertib untuk kembali ke meja kerja masing-masing, Aldi menuntun Kirana yang masih tampak melamun dan gelisah ke koridor yang agak sepi dekat lift.
"Kirana, kamu baik-baik saja?" tanya Aldi dengan suara lembut, tatapannya penuh perhatian tanpa ada nada cemburu atau curiga. Dia tahu masa lalu adalah masa lalu, dan dia mempercayai istrinya sepenuhnya.
Kirana tersentak dari lamunannya, menatap Aldi dengan mata yang dipenuhi kecemasan. "Mas... aku... aku bener-bener gak tahu kalau Rendy yang bakal jadi CEO baru di sini. Sumpah, Mas. Kalau aku tahu dari awal, aku—"
"Hei, tenang," potong Aldi sambil tersenyum hangat, mengusap kedua lengan Kirana untuk menenangkannya.
"Kenapa kamu harus minta maaf? Ini urusan profesional kantor. Siapa pun CEO-nya, kita di sini hanya bekerja dengan baik. Kamu gak perlu merasa bersalah atas sesuatu yang gak bisa kamu kendalikan, sayang."
"Tapi Mas, Rendy itu... dia dulu orangnya sangat ambisius. Aku takut kehadirannya di sini bakal bawa masalah buat hubungan kita, atau buat posisi kamu di kantor," bisik Kirana, suaranya sarat akan kekhawatiran yang mendalam.
Sebelum Aldi sempat membalas perkataan istrinya, langkah sepatu kulit yang mantap terdengar menggema di koridor.
Kedua pasangan itu menoleh dan melihat Rendy sedang berjalan ke arah mereka, didampingi oleh sekretaris barunya dan dua orang manajer senior yang tampak sibuk mencari muka.
Begitu jarak mereka dekat, Rendy mengangkat tangannya, mengisyaratkan para pengikutnya untuk berhenti dan menunggu di kejauhan. Dia melangkah maju sendirian mendekati Aldi dan Kirana dengan senyum sinis yang bertengger di wajah tampannya.
"Wah, wah. Lihat siapa yang kita temukan di sini," ujar Rendy, suaranya terdengar meremehkan. Pandangannya langsung tertuju pada Kirana, mengabaikan keberadaan Aldi sepenuhnya di awal. "Lama tidak bertemu, Kirana. Kamu masih secantik dulu, ya. Ternyata rumor yang kudengar benar, kamu bekerja di perusahaan ini sekarang."
Kirana memaksakan diri untuk tersenyum formal, menjaga jarak aman di belakang Aldi. "Selamat pagi, Pak Rendy.
Selamat atas jabatan baru Anda sebagai CEO di PT Nusantara Mandiri."
Rendy tertawa kecil, suara tawanya terdengar sombong.
"Pak Rendy? Ayolah, Kirana. Kita kan pernah punya hubungan yang sangat dekat dulu. Di luar jam kerja resmi, panggil Rendy saja seperti biasa." Pandangan Rendy kemudian bergeser perlahan ke arah Aldi, menelitinya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang merendahkan. "Dan... siapa pria di sebelahmu ini? Jangan bilang ini staf administrasi baru?"
Aldi melangkah maju satu langkah, menatap lurus ke dalam mata Rendy tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Keberadaan Rendy sebagai CEO sama sekali tidak mengintimidasi dirinya yang sejatinya memegang saham pengendali di atas kertas.
"Saya Aldi Pratama, Manajer Keuangan di sini. Dan saya juga suami sah dari Kirana."
Rendy menaikkan sebelah alisnya, ekspresi wajahnya berubah menjadi kombinasi antara terkejut dan ejekan yang kentara.
"Oh? Jadi kamu suaminya Kirana? Pria yang memilih bertahan jadi Manajer Keuangan selama bertahun-tahun tanpa ada peningkatan karier yang signifikan itu?" Rendy terkekeh pelan sambil merapikan manset jasnya yang mahal.
"Kasihan sekali kamu, Kirana. Dulu kamu menolak ikut denganku ke luar negeri, dan sekarang kamu malah berakhir dengan seorang pria yang bahkan untuk membelikanmu perhiasan berlian saja mungkin harus mencicil bertahun-tahun."
"Jaga ucapan Anda, Pak Rendy," suara Kirana meninggi, wajahnya memerah karena marah suaminya dihina seperti itu.
"Pekerjaan dan kehidupan pribadi kami bukan urusan Anda!"
"Tentu saja sekarang jadi urusanku, Kirana," balas Rendy dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Sebagai CEO baru di sini, seluruh aspek di perusahaan ini ada di bawah kendaliku. Termasuk nasib karier suamimu yang 'hebat' ini."
Rendy menatap Aldi dengan pandangan menantang. "Kita lihat saja nanti, jalannya perusahaan ini akan sangat dinamis.
Pastikan laporan keuanganmu tidak ada cacat sedikit pun, Manajer Aldi. Karena di bawah kepemimpinanku, kesalahan kecil saja bisa membuatmu terdepak dari kursi nyamanmu."
Rendy berbalik badan dengan angkuh, memberikan isyarat pada sekertarisnya untuk mengikuti langkahnya menuju ruang CEO yang mewah di lantai paling atas.
Kirana mengepalkan tangannya kuat-kuat, tubuhnya gemetar karena menahan amarah. "Mas... dia keterlaluan banget.
Gimana bisa dia ngomong kayak gitu sama kamu?"
Aldi hanya menatap punggung Rendy yang menjauh dengan tatapan datar penuh arti. Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibir Aldi. Dia tahu, Rendy baru saja menggali lubang kuburnya sendiri di perusahaan ini.
"Biarkan saja, Kirana," ucap Aldi tenang sambil merangkul bahu istrinya. "Orang yang terbiasa melihat dunia dari atas panggung yang dipinjamkan orang lain, biasanya lupa kalau panggung itu bisa runtuh kapan saja. Ayo kembali ke ruangan, pekerjaan kita masih banyak."