~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
****
Pagi itu, perbukitan Joglo diselimuti kabut tipis yang merayap di antara pepohonan sawo dan jati. Sisa-sisa kegelisahan dari malam sebelumnya seolah masih tertinggal di udara, berpadu dengan aroma tanah basah. Larasati terlelap dengan sangat pulas di atas kasur kapuk, tubuhnya yang kini memikul beban kehidupan baru tampak begitu tenang, seolah tidak terusik oleh dunia luar yang penuh duri.
Raden Mas Baskoro telah terbangun jauh sebelum matahari mencapai puncak tertingginya. Pria itu berdiri di dekat jendela kayu yang terbuka separuh, menatap cakrawala dengan pandangan yang kosong. Ia mengenakan kain sarung tanpa atasan, membiarkan udara dingin pegunungan menyentuh kulit dadanya yang bidang. Meski malam telah memberikan pelepasan, benak Baskoro tetap terjaga—sebuah kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar tidur.
Baru saja ia hendak berbalik menuju kamar mandi, ketukan pelan namun teratur terdengar dari balik pintu ruang kerja pribadinya yang terletak di sisi selasar dalam. Itu ketukan khas Sentot.
Baskoro menghela napas panjang, menutupi dadanya dengan selembar kain, lalu melangkah keluar kamar tanpa mengeluarkan suara, berusaha agar langkah kakinya tidak membangunkan permaisurinya. Begitu pintu ruang kerja ditutup dan dikunci, wajahnya berubah dingin seketika.
"Masuk," perintahnya singkat.
Sentot melangkah masuk dengan kepala menunduk dalam, membawa sebuah gulungan kertas kecil di tangannya. Ia tidak langsung bicara. Keheningan itu sendiri sudah terasa memberatkan.
"Ada apa, Sentot? Pastikan berita ini layak mengganggu pagi tenangku," ujar Baskoro sembari duduk di balik meja jati besarnya yang megah.
Sentot menelan ludah. Ia tahu sang juragan sedang berada dalam suasana hati yang sangat tipis kesabarannya. "Nyuwun sewu, Raden Mas. Hamba diperintah untuk memantau tapal batas bulak barat sesuai instruksi Anda minggu lalu. Pagi ini... hamba melihat sesuatu yang mencurigakan."
Mata Baskoro menyipit. "Katakan."
"Di perbatasan tanah dekat hutan jati, ada sekelompok pengrajin desa yang sedang melakukan distribusi gerabah. Salah seorang di antara mereka... hamba mengenali wajahnya dengan jelas, Raden Mas. Itu pemuda yang Anda temui di pasar distrik beberapa bulan lalu. Bagus."
Nama itu seperti racun yang menyebar ke seluruh aliran darah Baskoro. Rahangnya seketika mengeras, buku-buku jarinya memutih saat ia mencengkeram pinggiran meja. "Bagus? Dia berani menapakkan kaki sedekat itu dengan tanah milikku?"
"Inggih, Raden Mas. Mereka membawa pesanan untuk saudagar di distrik bawah. Namun, posisi mereka berada tepat di jalur distribusi kita yang paling ujung. Mereka tampak sengaja berlama-lama di sana," tambah Sentot hati-hati.
Baskoro tidak langsung meledak. Justru, sikapnya menjadi sangat menakutkan karena ketenangannya yang tidak wajar. Ia berdiri perlahan, matanya menatap tajam ke arah dinding, seolah-olah ia bisa melihat melalui tembok joglo hingga ke ujung perkebunannya.
"Cukup, Sentot. Jangan biarkan siapa pun tahu bahwa kau melapor padaku hari ini. Jika Bagus hanya lewat, biarkan. Tapi jika dia berani melampaui batas, jangan ragu untuk bertindak dengan cara yang paling keras," titah Baskoro.
"Sendika dawuh, Raden Mas."
Setelah Sentot keluar, Baskoro tetap berdiri mematung. Bara cemburu yang baru saja ia padamkan di ranjang semalam kini kembali menyala dengan kobaran yang jauh lebih liar. Bagus—nama itu adalah mimpi buruknya. Pria itu adalah pengingat akan masa lalu Larasati, sebuah bayangan yang ingin ia hapus dari peta hidup permaisurinya.
Baskoro berbalik, langkahnya kini lebih berat dan penuh tekanan. Ia tidak kembali ke rutinitas paginya. Ia justru melangkah lurus menuju kamar utama.
Di dalam kamar, Larasati baru saja terbangun. Ia tengah duduk di depan cermin, menyisir rambut panjangnya yang terurai hingga menyentuh pinggang. Ia merasakan kesegaran yang berbeda pagi ini; ada kedamaian yang mendalam setelah pengakuan cintanya semalam kepada suaminya. Ia berharap hari ini akan menjadi hari yang tenang.
Namun, saat pintu kayu terbuka, suasana hangat di kamar itu lenyap seketika. Baskoro masuk tanpa suara, matanya yang sedingin es langsung mengunci gerak-gerik Larasati.
"Mas Baskoro?" Larasati meletakkan sisirnya, tersenyum kecil. "Anda sudah bangun? Tadi kulo cari di samping, ternyata sudah tidak ada."
Baskoro tidak membalas senyum itu. Ia melangkah maju, sangat dekat, hingga bayangannya menutupi cahaya yang masuk dari celah jendela. Pria itu meraih pergelangan tangan Larasati dengan genggaman yang sangat kuat, menariknya agar berdiri.
"A-ada apa, Mas? Tangan kulo sakit," rintih Larasati kaget.
Baskoro tidak melepaskan tangan itu. Matanya terpaku pada gelang emas pahat melati yang melingkar di pergelangan tangan Larasati. Gelang itu kini memang terasa sangat ketat, seolah menahan denyut nadinya.
"Kamu ingin ke mana, Laras?" tanya Baskoro pelan, namun suaranya sarat akan ancaman yang tersembunyi.
"Kulo... kulo berencana melihat kebun kamboja di selasar belakang, Mas. Katanya ada bunga yang mekar pagi ini," jawab Larasati polos.
Tangan Baskoro yang lain membelai wajah Larasati, namun sentuhannya terasa kaku dan menekan. "Mulai hari ini, tidak ada selasar belakang. Tidak ada bunga kamboja. Tidak ada dunia luar untukmu, Larasati."
Larasati terhenyak. "Mas, maksud Anda apa? Kulo hanya ingin mencari udara segar."
"Udara segar?" Baskoro tertawa pendek, tawa yang penuh sarkasme. "Dunia di luar sana penuh dengan mata-mata yang tidak tahu tempat. Mereka berkeliaran di perbatasan tanahku, mereka membawa bayang-bayang masa lalumu untuk mengusik kedamaian di rumah ini!"
Larasati terdiam. Ia mulai menyadari arah pembicaraan ini. "Apakah... apakah ada berita tentang Bagus lagi, Mas?"
Baskoro melepaskan tangan Larasati dengan kasar, namun ia segera mengurung tubuh gadis itu di antara kedua lengannya yang bertumpu pada meja rias. "Jangan sebut nama itu! Dia ada di sana, Laras. Dia berkeliaran di batas perkebunanku, seolah dia masih punya hak untuk berada di sini. Dan aku yakin, dia tidak akan berada di sana jika dia tidak tahu bahwa kau ada di dalam rumah ini."
"Tapi kulo mboten mengundangnya, Mas! Kulo bahkan mboten tahu dia ada di mana!" Larasati mencoba menjelaskan dengan suara yang mulai gemetar.
"Aku percaya padamu, Laras. Tapi aku tidak percaya pada duniamu," tegas Baskoro. Ia menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh obsesi. "Mulai hari ini, kau adalah permaisuriku yang berharga. Permaisuri harus tetap berada di istananya. Kau tidak akan menginjakkan kaki keluar dari pintu selasar dalam, kecuali bersamaku. Tidak ke desa bawah, tidak ke kebun, tidak ke mana pun."
Larasati menatap mata suaminya, mencari celah keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah dinding tebal ketakutan yang dibungkus dengan perintah posesif. "Mas Baskoro... ini penjara bagi kulo."
Baskoro mendekatkan wajahnya, mengecup kening Larasati dengan cara yang hampir menyakitkan. "Ini adalah perlindungan, Laras. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan embusan angin sekalipun, mencuri perhatianmu dariku. Anak di dalam rahimmu adalah segel takdir kita. Aku akan memastikan kau tetap murni, tetap terjaga, dan hanya menjadi milikku hingga saatnya nanti kau melahirkan."
"Anda takut pada Bagus, atau Anda takut pada kulo?" tanya Larasati memberanikan diri.
Baskoro terdiam. Pertanyaan itu menghantam dadanya tepat di tempat yang paling sakit. Ia tidak menjawab, melainkan hanya mendekap Larasati dengan sangat erat, seolah ingin membenamkan tubuh istrinya ke dalam tubuhnya sendiri.
"Aku takut pada dunia yang tidak bisa aku kendalikan," bisik Baskoro di rambut Larasati. "Dan kamu adalah satu-satunya duniaku yang harus tetap berada dalam genggamanku."
Larasati memejamkan mata. Ia sadar, perdebatan saat ini tidak akan membuahkan hasil. Pria di hadapannya bukan lagi sang juragan yang bijak, melainkan sosok pria yang dihantui oleh ketakutan terdalamnya. Ia merasa sesak, bukan karena ia tidak mencintai Baskoro, melainkan karena ia melihat betapa pria hebat ini masih memiliki jiwa yang begitu rapuh, jiwa yang butuh dipeluk dan disembuhkan, bukan dilawan.
"Jika itu yang membuat Anda tenang, Mas... kulo akan tetap di sini," ucap Larasati lirih, namun dengan nada yang menuntut ketulusan. "Tapi berjanjilah, Mas... jangan biarkan kecurigaan Anda membunuh kebahagiaan di dalam rumah ini. Kita akan menjadi orang tua yang baik, bukan pasangan yang saling mengintai satu sama lain dalam bayang-bayang ketakutan."
Baskoro melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya dengan tatapan yang mulai melunak. "Aku berjanji, Laras. Aku hanya perlu memastikan tidak ada lagi 'pengunjung' dari masa lalu yang berani memandangmu."
Baskoro kemudian berbalik dan mengambil sebuah gelang emas baru dari laci—gelang yang lebih besar, ukiran bunga melati yang lebih detail, yang ia pesan khusus dari perajin kota beberapa bulan lalu sebagai hadiah kehamilan. Ia mengambil tangan Larasati dan memasangkan gelang itu ke pergelangan tangannya yang kini sudah terasa nyaman.
"Ini sebagai penanda," bisik Baskoro. "Kau adalah ratu di joglo ini. Dan ratu tidak perlu turun ke lapangan untuk melihat debu jalanan."
Larasati memandang gelang baru itu. Indah, berkilau, namun baginya, gelang itu terasa seperti rantai emas yang cantik.
"Mas," panggil Larasati saat Baskoro hendak melangkah pergi.
"Ya?"
"Kapan Anda akan percaya pada kulo sepenuhnya? Tanpa perlu penjara, tanpa perlu tembok tinggi?"
Baskoro terdiam di ambang pintu. Punggungnya yang tegap tampak kaku. Ia menoleh sedikit, namun matanya tidak bertemu pandang dengan Larasati. "Ketika dunia di luar sana berhenti menjadi tempat yang kejam bagi orang-orang seperti kita. Tidurlah, Laras. Mbok Sum akan membawakan makananmu ke sini."
Pintu kamar ditutup kembali dengan sentakan yang tidak terlalu keras, namun suara kunci besi yang berputar di luar terdengar nyaring di telinga Larasati. Ia terduduk di tepi ranjang, menatap perutnya yang perlahan membesar. Ia tahu, di balik tembok tak kasat mata yang Baskoro bangun, ia harus berjuang lebih keras lagi. Bukan hanya berjuang melawan kecemburuan suaminya, tetapi juga berjuang agar anaknya kelak tidak lahir di dalam ruang yang dipenuhi rasa takut.
Di luar, gerimis kembali turun. Larasati mendekap perutnya sendiri, membisikkan doa pelan, berharap badai ini akan segera berlalu, sebelum waktunya ia menjadi ibu bagi pewaris joglo yang ia harapkan tumbuh dengan jiwa yang lebih bebas daripada ayahnya.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat