NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Riyan masih terduduk lemas di atas trotoar dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri. Air matanya hampir saja menetes menembus debu semen yang menempel di pipinya.

Angka digital transparan di sudut matanya terus berkedip merah tanpa ampun, berganti menjadi: [17 Jam : 10 Menit : 05 Detik].

Angka waktu itu terus berkurang, berbanding terbalik dengan saldo rekeningnya yang justru makin membengkak mirip adonan kue diberi ragi instan.

'Kenapa... kenapa pemerintah tiba-tiba bikin jalan tol di atas tanah sampah itu?! jerit Riyan dalam hati, meratapi nasibnya yang tidak pernah bisa miskin.

Suara halus dari mesin mobil mewah yang berhenti di sampingnya membuat Riyan menoleh perlahan. Kaca jendela sedan hitam metalik itu telah turun sepenuhnya. Di dalam sana, Kezia Zevan menatapnya.

Namun, kali ini, tatapan mata elang yang tadinya penuh kecurigaan dan rasa dingin itu telah berubah total. Ada secercah kilatan rasa terkejut, takjub, dan... rasa hormat yang mendalam di sepasang manik hitamnya.

Kezia membuka pintu mobil, lalu melangkah turun dengan keanggunan yang sama seperti beberapa jam lalu di pasar. Bedanya, kali ini dia melangkah mendekati Riyan tanpa pengawalan ketat di sisinya, seolah-olah dia sudah tidak menganggap Riyan sebagai ancaman berbahaya, melainkan sebagai seorang kolega bisnis tingkat tinggi.

"Luar biasa," ucap Kezia, suaranya yang merdu terdengar bergetar kecil karena rasa kagum yang tertahan.

"Aku benar-benar meremehkanmu, Riyan Sadewa."

Riyan mendongak dengan wajah melas.

"Nona... tolong lah, gua lagi pengen sendirian. Kepala gua mau pecah. Jangan ajak gua ngomongin konspirasi lagi."

Kezia terkekeh tipis, sebuah pemandangan yang pasti akan membuat para jajaran direktur Zevan Group pingsan di tempat karena sang Ratu Es terkenal tidak pernah tersenyum di depan publik. Dia melipat tangannya di bawah dada, menatap Riyan yang masih berlutut di trotoar.

"Kamu masih ingin berpura-pura di depanku setelah apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Kezia dengan nada menyelidik yang kini terdengar lebih santai.

"Tiga puluh menit yang lalu, mata-mata dari divisi finansialku melaporkan bahwa kamu baru saja membeli tanah sengketa di Bandung Timur seharga lima miliar rupiah. Nilai yang sangat tidak masuk akal untuk tanah sampah yang legalitasnya hancur lebur."

"Nah! Bener kan? Itu tanah sampah! Gua emang bego kan beli tanah itu?" sahut Riyan cepat, berharap Kezia mengamini kebodohannya agar jiwanya sedikit tenang.

"Bego?"

Kezia menaikkan satu alisnya.

"Dua menit setelah transaksi pembelianmu selesai, Kementerian langsung merilis pers rilis darurat mengenai cetak biru Tol Trans-Jawa yang baru. Dan secara ajaib, tanah yang kamu beli dengan harga murah itu menjadi titik pusat simpang susun dan rest area utama. Negara akan membayar ganti rugi sebesar lima puluh miliar kepadamu."

Kezia menarik napas dalam-dalam, matanya berbinar penuh gairah bisnis.

"Taktik yang sangat mengerikan, Riyan. Kamu sengaja membiarkan dirimu dikejar wartawan di pasar untuk mengalihkan perhatian publik, sementara tanganmu yang lain bergerak cepat menyapu bersih aset yang akan diambil alih negara."

"Kamu pasti punya 'orang dalam' tingkat menteri atau bahkan lebih tinggi di pemerintahan pusat untuk bisa tahu bocoran regulasi itu sedetik sebelum diumumkan!"

Riyan megap-megap seperti ikan kekeringan. Orang dalam kementerian opo?! batinnya berteriak histeris. Gua cuma punya 'Sistem kurang ajar' di dalam otak gua yang hobinya bikin gua kaya mendadak!

"Sekarang aku paham kenapa kamu menolak ikut denganku tadi," lanjut Kezia tanpa memberikan kesempatan bagi Riyan untuk membantah.

"Kamu sedang terburu-buru mengejar tenggat waktu penutupan transaksi tanah itu sebelum pengumuman resmi keluar, kan? Sungguh sebuah spekulasi tanah negara tingkat jenius."

"Bahkan ayahku sekalipun tidak akan berani mengambil risiko membeli tanah sengketa secepat itu."

Riyan menegakkan tubuhnya perlahan, lalu berdiri sambil menepuk-nepuk celana jinsnya yang kotor karena debu jalanan. Dia menatap Kezia dengan pandangan putus asa.

"Nona Kezia... kalau gua bilang gua gak tahu apa-apa soal jalan tol itu, dan gua beneran cuma pengen rugi lima miliar, lu percaya kagak?"

Kezia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kata 'Jangan bercanda'.

"Tentu saja tidak. Pengusaha yang memiliki ratusan miliar di rekeningnya tidak ada yang sebodoh itu. Tindakanmu hari ini telah membuktikan bahwa kamu adalah ancaman sekaligus peluang terbesar bagi Zevan Group di Bandung."

Kezia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Riyan kembali bisa menghirup aroma parfum mewahnya yang memabukkan.

Kezia mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam pekat dengan tulisan berlapis emas murni di atasnya: Kezia Zevan - Chief Executive Officer Zevan Group.

"Keluarga Zevan menghargai orang-orang jenius sepertimu. Malam ini, keluargaku mengadakan perjamuan makan malam privat di resor kami di Lembang."

"Ayahku, sang kepala keluarga, ingin bertemu langsung dengan pria yang sukses melakukan manuver finansial paling gila minggu ini," kata Kezia sambil menyelipkan kartu nama itu secara paksa ke dalam saku kaus oblong Riyan yang agak robek.

Riyan melirik kartu nama di sakunya dengan tatapan ngeri. Perjamuan makan malam? Ketemu kepala keluarga rahasia? Waduh, urusannya makin ribet!

"Saya gak bisa datang, Nona. Saya sibuk," tolak Riyan jujur.

Dia harus menggunakan sisa waktunya yang tinggal belasan jam untuk mencari cara membuang duit triliunannya, bukan malah makan malam mewah bersama orang kaya.

Kezia tidak terpengaruh oleh penolakan Riyan. Dia berbalik arah, berjalan kembali menuju mobil sedannya dengan langkah kaki yang penuh percaya diri. Sebelum masuk ke dalam mobil, dia menoleh sedikit ke arah Riyan.

"Kamu harus datang, Riyan Sadewa. Di dunia ini, menolak undangan dari Keluarga Zevan bukanlah pilihan yang bijak bagi kelangsungan bisnismu. Sampai jumpa nanti malam," ucap Kezia final.

Pintu mobil tertutup rapat, dan sedan mewah itu perlahan melaju membelah jalanan Dago, meninggalkan Riyan yang kembali termenung sendirian di trotoar.

[Denting Sistem! Misi Utama Diperbarui!]

[Saldo Terkini Inang: 3,45 Triliun Rupiah (Termasuk kalkulasi keuntungan masa depan dan penalti sosial).]

[Peringatan: Jika Inang menghadiri perjamuan makan malam Keluarga Zevan tanpa menghabiskan minimal 500 Miliar Rupiah terlebih dahulu, Sistem akan mendeteksi pembentukan aliansi bisnis dan mengunci saldo Anda secara permanen (Memicu Kematian Mendadak karena status investasi jangka panjang).]

Riyan langsung meloncat kaget mendengar suara Sistem.

"Heh! Kok main kunci-kunci aja sih?! Jadi kalau gua ke sana masih kaya, gua mati?!"

[Benar. Silakan gunakan sisa waktu Anda dengan bijak, Inang.]

Riyan menyeka keringat dingin yang kembali bercucuran di pelipisnya. Target membuang uangnya sekarang naik tingkat menjadi setengah triliun rupiah dalam hitungan jam. Dia tidak bisa lagi menggunakan taktik receh seperti memborong isi pasar tradisional atau membeli angkot butut.

Dia harus mencari tempat di mana uang sebesar itu bisa menguap dalam sekejap tanpa meninggalkan bentuk fisik atau keuntungan apa pun.

Mata Riyan mendadak berbinar saat dia mengingat sebuah industri yang terkenal sebagai tempat paling efektif untuk membakar uang para konglomerat di seluruh dunia dalam waktu singkat tanpa jaminan hasil: Industri Hiburan dan Rumah Produksi Film Sampah!

Bener banget! batin Riyan girang. Gua bakal bikin film fiksi ilmiah paling ampas dalam sejarah perfilman Indonesia! Gua bakal sewa sutradara paling payah, aktor paling kaku, dan bikin efek visual CGI yang lebih jelek dari editan anak SD. Duit setengah triliun pasti langsung ludes buat sewa alat dan gaji kru, dan filmnya dijamin gak bakal laku di bioskop! Dengan begitu, gua bakal rugi total tanpa sisa aset!

Sambil menggenggam erat ponsel retaknya, Riyan langsung berlari menuju halte bus terdekat untuk mencari kantor rumah produksi film independen terdekat di Bandung.

Pertarungan Riyan melawan kekayaan paksa dari Sistem baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih absurd.

1
Fajar Fathur rizky
bikin wanita itu jatuh cinta kepada mcnya thor
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!