Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Meminta Maaf Kepada Besan
Seminggu telah berlalu sejak pernikahan Amora dan Atharazka resmi dilangsungkan.
Tujuh hari mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang. Namun bagi Danendra, satu minggu terakhir terasa begitu panjang dan melelahkan. Sejak malam ketika Jelita pergi meninggalkan rumah tepat sebelum akad berlangsung, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Ada rasa bersalah yang terus mengikuti setiap langkahnya. Sebagai ayah, Danendra seharusnya mampu menjaga putrinya. Ia seharusnya bisa memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Jelita memilih pergi ketika seluruh keluarga sudah bersiap menghadapi hari besar yang telah direncanakan jauh-jauh hari.
Dan yang paling membuat Danendra sulit memaafkan dirinya sendiri adalah keputusan yang diambilnya setelah itu.
Amora.
Anak yang selama ini ia besarkan dan cintai seperti putrinya sendiri akhirnya berdiri di tempat Jelita, menggantikan kakaknya sebagai pengantin perempuan Atharazka.
Keputusan itu memang telah menyelamatkan banyak hal pada saat terakhir. Namun bagi Danendra, tidak ada satu pun alasan yang mampu menghapus kenyataan bahwa ia telah mengambil keputusan besar tanpa memberitahukan pihak keluarga Bagaskara terlebih dahulu.
Karena itulah, setelah berhari-hari mengumpulkan keberanian, hari ini Danendra akhirnya datang ke kantor pusat Askara Group.
Gedung tinggi dengan dominasi kaca itu berdiri megah di tengah kawasan bisnis Jakarta. Pantulan cahaya matahari membuat permukaannya terlihat berkilauan dari kejauhan. Orang-orang keluar masuk melalui pintu utama dengan langkah cepat, sementara kendaraan terus berdatangan dan meninggalkan area gedung.
Namun Danendra sama sekali tidak menikmati pemandangan itu.
Langkahnya terasa berat sejak memasuki lobi. Ia bahkan sempat berhenti beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menuju lift. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika angka di panel lift terus bergerak naik.
Ini bukan pertemuan bisnis seperti biasa. Danendra datang bukan sebagai Direktur Utama D'Endra Group yang sedang membicarakan kerja sama dengan perusahaan besar. Kali ini, ia datang sebagai seorang ayah yang harus mempertanggungjawabkan keputusan keluarganya.
Terlebih lagi, D'Endra Group selama ini memiliki hubungan bisnis yang cukup erat dengan Askara Group. Perusahaan keluarga Bagaskara telah memberikan dukungan finansial dalam jumlah besar kepada perusahaan milik Danendra. Kepercayaan itu tidak berdiri begitu saja. Ada kesepakatan dan hubungan antarkeluarga yang menjadi bagian dari kerja sama tersebut.
Salah satunya adalah rencana pernikahan Jelita dengan Atharazka. Namun semuanya berubah dalam satu malam karena Jelita pergi. Dan Amora lah yang kemudian menggantikannya. Hingga akhirnya kini Amora telah resmi menjadi istri Atharazka.
Begitu lift berhenti di lantai yang dituju, Danendra menarik napas panjang sebelum melangkah keluar.
Sampai akhirnya beberapa saat kemudian, ia sudah duduk di ruang kerja Bima Bagaskara.
Ruangan itu luas dan elegan. Perabotan berwarna gelap mendominasi sebagian besar ruangan, sementara jendela besar di belakang meja kerja memberikan pemandangan gedung-gedung tinggi di kejauhan. Udara pendingin ruangan terasa dingin, tetapi suasana di dalam ruangan jauh lebih dingin daripada itu.
Bima duduk di balik meja kerjanya. Pria berusia 60 tahun itu terlihat tenang dengan kemeja rapi dan ekspresi yang sulit ditebak. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, sementara tatapannya lurus mengarah kepada Danendra.
Tidak ada senyum ataupun sapaan ramah seperti sebelumnya. Danendra tahu betul reputasi Bima Bagaskara. Sebagai salah satu sosok penting dalam dunia bisnis, Bima dikenal tegas dan tidak mudah memberikan toleransi terhadap kesalahan. Ia bukan pria yang suka membuang waktu dengan percakapan panjang jika ada masalah yang harus diselesaikan.
Danendra bahkan sudah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk.
Ia tahu Bima berhak marah. Sangat berhak!
Danendra mengusap kedua telapak tangannya sebentar sebelum akhirnya membuka suara.
“Pak Bima, sebelum kita membicarakan apa pun, saya ingin menyampaikan permintaan maaf.” Suaranya terdengar rendah.
Ia menatap Bima beberapa detik sebelum kembali menundukkan kepala.
“Saya tahu apa yang terjadi menjelang pernikahan Atharazka dan Amora membuat keluarga Bagaskara berada dalam posisi yang tidak menyenangkan. Saya juga sadar, keputusan yang saya ambil malam itu seharusnya tidak dilakukan tanpa sepengetahuan Bapak.”
Bima tidak langsung menjawab. Dan itu membuat Danendra menarik napas dalam.
“Malam sebelum akad, Jelita pergi dari rumah. Kami sudah mencoba mencarinya, tetapi sampai waktu yang semakin dekat dengan akad, dia belum juga kembali. Situasinya benar-benar kacau.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih berat.
“Pada akhirnya, saya mengambil keputusan untuk meminta Amora menggantikannya.”
Tatapan Bima sedikit berubah, meskipun ekspresinya masih sulit dibaca.
“Keputusan itu bukan sesuatu yang saya ambil dengan sembarangan,” lanjut Danendra. “Saya sudah berbicara langsung dengan Atharazka. Saya memastikan dia mengetahui situasinya dan dia menyatakan bersedia. Tetapi saya tetap mengakui kesalahan saya karena tidak menyampaikan semuanya kepada Bapak terlebih dahulu.”
Danendra menundukkan kepala semakin dalam.
“Saya benar-benar minta maaf, Pak.”
Ruangan kembali sunyi. Tidak ada jawaban dari Bima. Danendra bisa mendengar suara pendingin ruangan yang bekerja pelan. Bahkan detik jam yang berada di dinding terdengar begitu jelas dalam kesunyian itu.
Tangannya kembali mengepal di atas paha. Ia sudah membayangkan banyak kemungkinan sebelum datang ke tempat ini.
Bima bisa saja membatalkan kerja sama mereka. Dana yang telah diberikan kepada D'Endra Group mungkin saja ditarik kembali. Bahkan tidak menutup kemungkinan hubungan antara kedua keluarga menjadi buruk.
Danendra sudah menyiapkan diri untuk semua itu. Namun Bima justru menarik napas panjang.
“Danendra.” Suara itu akhirnya terdengar.
Danendra segera mengangkat wajah.
Bima menatapnya lurus.
“Jujur saja, saya sangat marah ketika mengetahui pengantin perempuan Atharazka berubah menjadi Amora.”
Danendra terdiam.
“Saya merasa keluarga saya tidak dihargai,” lanjut Bima. “Semua sudah disiapkan. Kedua keluarga sudah sepakat. Lalu dalam waktu yang sangat singkat, saya mendapat kabar bahwa Jelita tidak ada dan Amora yang menggantikannya.”
Danendra menelan ludah.
“Saya mengerti, Pak.”
“Tapi,” Bima melanjutkan, “saya juga tidak bisa mengabaikan satu hal.”
Danendra menunggu.
“Atharazka sendiri menyetujui pernikahan itu.”
Kalimat tersebut membuat Danendra sedikit mengangkat kepalanya.
Bima bersandar di kursinya.
“Kalau Atharazka menolak, ceritanya tentu berbeda. Saya mungkin sudah menghentikan semuanya malam itu juga. Saya tidak akan membiarkan anak saya menikah dalam keadaan seperti itu.”
Bima terdiam sejenak.
“Dan kalau saya mengetahui sebelum akad berlangsung bahwa semuanya berubah tanpa persetujuan saya, saya bisa saja menarik seluruh dukungan Askara Group terhadap D'Endra Group.”
Wajah Danendra menegang.
“Saya juga bisa membawa masalah ini ke jalur hukum,” lanjut Bima dengan nada datar. “Karena bagaimanapun, ada nama dan reputasi keluarga saya yang ikut dipertaruhkan.”
Danendra hanya mampu mengangguk. Ia tidak berani menyela. Namun beberapa detik kemudian, nada suara Bima sedikit melunak.
“Tapi saya tidak melakukannya.”
Danendra menatapnya.
Bima menghela napas pelan.
“Karena sekarang semuanya sudah terjadi. Atharazka sudah menikah dengan Amora. Dan pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa saya gagalkan begitu saja hanya karena awalnya berbeda dari rencana.”
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan tersebut, Danendra merasakan sedikit kelonggaran di dadanya.
Bima kemudian melanjutkan.
“Amora juga tidak bersalah dalam masalah ini.”
Danendra terdiam.
“Dia bukan orang yang membuat Jelita pergi. Dia bukan orang yang merencanakan semua kekacauan ini. Amora hanya berada dalam situasi yang memaksanya mengambil keputusan besar dalam waktu singkat.”
Danendra menundukkan kepala. Ada rasa hangat yang perlahan muncul di sudut matanya.
Bima menatapnya tajam.
“Jadi saya tidak akan memperlakukan Amora seolah-olah dia perempuan yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga saya.”
Danendra mengangkat wajahnya.
“Sekarang dia adalah istri Atharazka,” kata Bima tegas. “Dan selama pernikahan mereka masih berjalan, Amora adalah menantu saya.”
Danendra tidak langsung mampu menjawab.
“Pak…”
“Tidak perlu terlalu memikirkan masalah yang sudah terjadi,” potong Bima. “Saya sudah mengambil keputusan. Saya menerima Amora.”
Kali ini, Danendra benar-benar tidak mampu menyembunyikan kelegaannya.
Selama seminggu terakhir, ia terus memikirkan bagaimana reaksi keluarga Bagaskara terhadap Amora. Ia takut anaknya hanya akan dianggap sebagai pengganti yang tidak diinginkan. Ia takut Amora akan diperlakukan berbeda karena statusnya sebagai anak angkat. Namun kenyataannya ternyata Bima memilih untuk menerima.
Danendra mengembuskan napas panjang.
“Terima kasih, Pak Bima.”
Suaranya sedikit bergetar.
“Terima kasih karena Bapak masih mau menerima Amora sebagai bagian dari keluarga Bagaskara. Saya sungguh menghargai keputusan Bapak.”
Bima tidak menunjukkan banyak reaksi. Namun tatapan kerasnya sedikit melunak.
“Saya menerima Amora bukan karena kasihan.”
Danendra mengangguk.
“Saya menerima dia karena sekarang dia adalah istri anak saya. Selama dia menjalankan perannya dengan baik, saya tidak punya alasan untuk memperlakukannya berbeda hanya karena dia anak angkat di keluarga Atmojo.”
“Baik, Pak.”
“Danendra.”
“Iya?”
“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.”
Danendra segera mengangguk.
“Saya mengerti.”
“Urus masalah keluargamu dengan baik. Jangan sampai urusan pribadi kembali menyeret perusahaan dan keluarga lain ke dalam masalah.”
“Saya akan bertanggung jawab, Pak.”
Bima menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata singkat.
“Buktikan.”
Danendra mengangguk dalam.
“Saya akan buktikan.”
Percakapan itu kemudian perlahan berakhir. Tidak ada lagi pembahasan panjang mengenai Jelita. Tidak ada juga perdebatan tentang keputusan yang sudah terlanjur diambil. Keduanya sama-sama memahami bahwa apa yang telah terjadi tidak mungkin diputar kembali.
Yang bisa dilakukan sekarang hanyalah memastikan agar kesalahan yang sama tidak kembali terjadi.
Danendra berdiri dari kursinya.
“Kalau begitu, saya pamit, Pak.”
Bima mengangguk. “Hati-hati.”
Danendra berjalan menuju pintu. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Bima kembali terdengar.
“Dan satu lagi.”
Danendra menoleh.
“Jaga Amora.”
Tatapan Bima kali ini berbeda. Masih tegas, tetapi tidak lagi sedingin sebelumnya.
“Dia mungkin bukan anak kandungmu, tapi selama ini dia tetap kamu besarkan. Sekarang dia sudah menjadi bagian dari keluarga saya. Saya tidak ingin melihat dia terluka karena masalah yang seharusnya tidak perlu terjadi.”
Danendra terdiam sesaat. Kemudian ia mengangguk mantap.
“Saya pastikan Amora tidak akan terluka lagi, Pak.”
Bima tidak mengatakan apa-apa lagi. Danendra akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia berhenti sebentar di koridor. Napas yang sejak tadi terasa tertahan akhirnya dilepaskan perlahan.
Beban besar yang selama berhari-hari menekan dadanya sedikit demi sedikit terasa terangkat.
Setidaknya, Amora tidak perlu khawatir mengenai penerimaan keluarga Bagaskara. Setidaknya, Bima tidak menyalahkan anak itu.
Danendra berjalan menuju lift dengan langkah yang jauh lebih ringan dibandingkan ketika ia datang.
Ketika akhirnya keluar dari gedung Askara Group, udara Jakarta yang panas langsung menyambutnya. Ia berhenti di depan gedung dan mendongak ke langit yang terlihat luas di antara gedung-gedung tinggi.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, ia merasa bisa bernapas dengan lebih lega. Masalah antara keluarga Atmojo dan keluarga Bagaskara memang belum tentu benar-benar selesai seluruhnya.
Tapi setidaknya satu hal sudah jelas. Bima telah memilih untuk menerima Amora.
Dan mulai hari ini, hubungan kedua keluarga itu tidak lagi sekadar berdiri di atas kepentingan bisnis. Mereka telah terikat oleh sebuah hubungan yang jauh lebih personal.
Besan.
Danendra tersenyum tipis sebelum akhirnya berjalan menuju mobilnya.
Di dalam hati, ia hanya memiliki satu harapan sederhana.
Semoga Amora bisa menemukan kebahagiaannya sendiri di tengah pernikahan yang sejak awal tidak pernah ia rencanakan.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen kritik sarannya ya🫶
Terima Kasih 🥰❤️